
“Kak Leon mau bicara apa?” tanya Sila menatap Leon serius.
“Aku mau berterima kasih, karena kau tidak menyalahkan Saila atas semua yang sudah terjadi!” ucap Leon.
“Nggak perlu berterima kasih, karena itu memang bukan salah Saila!” ucap Sila.
Leon tersenyum, kemudian menggerakkan bibirnya untuk bicara. “Aku tetap harus berterima kasih biarpun kau tidak suka. Kalau saja kau tidak membuat dia mengerti, mungkin dia terus menyalahkan dirinya sendiri. Setelah kau datang ke Apartemen waktu itu. Dia sudah mulai membuka hatinya untuk menerima pernikahan ini. Dan juga menerima kehadiranku dalam hidupnya. Aku sangat berterima kasih atas semua yang kau lakukan padanya!” jelas Leon.
“Nggak masalah Kak Leon. Aku senang kalau kalian bahagia. Dan aku minta maaf kalau aku pernah menyakitimu,” ucap Sila.
“Iya, itu hanyalah masa lalu Sila. Kau hanya perlu melihat ke depan, jangan menengok ke belakang. Dan aku sudah memaafkanmu dan melupakan semuanya saat aku menikahi Saila, saat aku jatuh cinta pada saudarimu. Aku juga sangat berterima kasih karena kau merestui Saila bersama denganku. Kau sungguh gadis yang baik, Sila!” ucap Leon.
Sila tersenyum di depan Leon, kemudian memalingkan wajahnya ke samping tak ingin memperlihatkan matanya yang berkaca – kaca. Ia menahan air matanya di sana agar tidak jatuh di pipinya.
“Apa kau baik – baik saja?” tanya Leon melihat Sila yang tidak menunjukkan wajahnya. Ia merasa sedikit khawatir dengan Sila.
Sila kembali menatap Leon.
“Aku baik Kak Leon. Aku akan melangkah ke depan. Aku akan berusaha untuk tidak mengingat masa lalu seperti yang kau bilang. Dan aku juga mau berterima kasih karena Kak Leon sudah memaafkanku, dan menganggapku sebagai gadis yang baik!”
“Iya, semoga kau bisa mendapatkan cinta yang kau inginkan, Sila. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu!” ucap Leon sambil tersenyum melihat Sila.
“Iya ... terima kasih Kak Leon,” balas Sila.
“Kalau begitu, aku pergi ya. Saila pasti sudah lama menunggu di luar!” pamitnya.
“Iya, silahkan!”
Leon pun membalikkan badannya dan melangkah meninggalkan Sila di sana, namun baru dua langkah ia berjalan, tiba – tiba ia menghentikan langkahnya, kemudian berbalik menoleh Sila.
“Oh, ya Sila. Ada satu lagi yang mau kukatakan padamu!” ucap Leon.
“Apa itu?” tanya Sila serius.
“Kau itu masih muda, umurmu masih 20 tahun, dan kau tidak sama seperti Saila yang buru – buru untuk menikah. Kau tidak punya masalah yang mengharuskan kau untuk menikah. Jangan paksa dirimu untuk menikah jika memang kau tidak suka. Itu saja yang mau kukatakan. Semoga kau bahagia. Jaga dirimu baik – baik ya!” ucap Leon sambil tersenyum.
“Terima kasih Kak Leon. Aku pasti akan bahagia sama seperti kau dan Saila,” balas Sila.
Leon kembali berbalik dan melangkah meninggalkan Sila di sana, sedangkan Sila buru – buru menaiki tangga menuju kamar pribadinya. Ia segera masuk ke dalam kamarnya, dan menutup pintu kamarnya dengan rapat. Ia menyandarkan tubuhnya di pintu kamar, kemudian menangis di sana.
Memang sejak tadi, Sila ingin menangis saat Leon mengatakan semua itu padanya, saat Leon mengakui Saila sebagai wanita yang ia cintai, namun ia berusaha menahan air matanya di depan Leon.
“Tenang saja Kak Leon. Aku pasti akan bahagia, aku pasti bahagia sama seperti dirimu. Hiks ... hiks ... hiks ... aku pasti bahagia,” gumam Sila sambil menangis.
__ADS_1
Sila kemudian menjatuhkan dirinya di lantai. Ia memegang kedua lututnya sambil menundukkan kepalanya, dan menangis keras, mengeluarkan semua rasa sakit di dalam hatinya.
“Meskipun begitu, aku tidak akan pernah menyesali pertemuan kita dulu. Aku bahkan bahagia. Yang kusesali hanya kesalahan yang ku perbuat padamu sampai Saila ikut terseret. Aku sangat menyesal. Berbahagialah Kak Leon!” gumamnya kembali dengan tangisan yang masih membanjiri pipinya.
Sila memang mau melepaskan semua masa lalunya, sama seperti Leon, namun hatinya tetap susah untuk melupakan hubungan cintanya dengan Leon. Butuh waktu untuk bisa berpindah ke lain hati. Tidak seperti Leon yang sudah mencintai Saila.
Sementara Leon dan Saila.
Kini mereka sudah ada di perjalanan pulang ke Apartemennya. Mereka pulang setelah berpamitan pada Tuan Bima dan Yasmin.
Saila menatap wajah suaminya tanpa mengalihkan pandangannya di sana. Ia tersenyum melihat Leon yang serius menyetir mobilnya.
“Kenapa aku merasa kalau Mas Leon sangat tampan saat dia serius menyetir begini?” dalam hati Saila.
Ia terus tersenyum melihat Leon.
Saila mengerutkan keningnya sambil menyentuh bibirnya. “Oh, ya!” dalam hati Saila.
Ia menatap ke depan, kemudian diam kembali memikirkan kata – kata Sila.
“Apa benar yang di katakan Sila, kalau Mas Leon suka padaku? Apa benar kalau dia tidak suka mengungkapkan perasaannya lewat kata – kata? Bukannya kalau cinta atau menyukai seseorang itu, harus katakan padanya. Aku bingung dengan pikiran Mas Leon. Pantas saja dulu Sila bilang, kalau yang duluan mengungkapkan perasaannya adalah Sila bukan Mas Leon. Masa aku juga harus begitu. Aku, kan belum pernah katakan cinta pada seorang pria. Tidak tahu caranya bagaimana? Dan aku juga malu kalau sampai Mas Leon menolak dan bilang dia tidak suka padaku. Aku pasti sangat malu!” dalam hati Saila.
Saila kembali menatap suaminya dengan serius.
“Kalau kau mau mengungkapkan perasaan sukamu padaku. Katakan saja, jangan di pendam begitu!” ucap Leon sesekali melirik Saila sambil tersenyum.
“Apa?” Saila terkejut mendengar ucapan suaminya.
“Bagaimana dia bisa tahu apa yang kupikirkan?” dalam hati Saila.
Leon menoleh melihat Saila.
“Sejak tadi kau terus melihat wajahku sambil tersenyum. Baru kali ini kau seperti ini. Dan aku berpikir kalau kau pasti mau bilang sesuatu. Apa kau sudah sadar kalau aku ini tampan? Dan kau sudah jatuh cinta padaku. Hem ... katakan saja langsung. Jangan curi – curi pandang begitu!” goda Leon sambil tersenyum.
Saila memalingkan wajahnya ke arah jendela kaca mobil. Menyembunyikan wajah malunya di sana.
“A-aku sama sekali tidak begitu!” balas Saila.
“Oooo ... jadi kau masih menyukai Zidan?” tanya Leon dengan serius.
Saila langsung menoleh melihat suaminya dengan wajahnya yang terlihat khawatir mendengar ucapan Leon. “Nggak kok. Aku sukanya sama Mas Leon!” Saila langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya, menahan bibirnya yang baru saja mengungkapkan isi hatinya. Matanya sampai melotot, tidak menyangka kalau ia bisa mengatakan perasaannya.
Dan itu semua karena rasa khawatirnya dengan kesalahpahaman Leon pada dirinya dan Zidan, yang membuat Saila sampai tidak sadar mengatakan perasaan sukanya pada Leon.
__ADS_1
Leon ikut memalingkan wajahnya ke samping, ikut malu mendengar ungkapan perasaan Saila. Jantungnya berdetak cepat mendengar Saila menyukai dirinya. Ia menggenggam erat stir mobilnya, merasa tidak tahan dengan perasaannya.
Leon memutar stir mobilnya, kemudian menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Saat mobilnya sudah berhenti, ia langsung membuka sabuk pengamannya.
“Kenapa Mas Leon berhenti disini?” tanya Saila bingung.
“Aku tidak bisa menahannya sampai di rumah,” jawab Leon sambil terus melihat istrinya.
Leon kemudian memajukan tubuhnya ke arah Saila setelah melepaskan sabuk pengamannya.
“Mas Leon mau apa?” tanya Saila.
“Saila, harusnya aku mengatakan ini di tempat yang bagus dan romantis, bukan di pinggir jalan seperti ini, tapi aku sudah tidak bisa menahannya lagi, jantungku tidak bisa tahan!” ucap Leon.
“Memangnya Mas Leon mau bilang apa?” tanya Saila.
Leon menarik nafasnya dengan pelan sambil menurunkan bola matanya. Ia kembali melihat Saila, kemudian menarik kepala Saila sampai wajah Saila sangat dekat dengan wajahnya.
Namun Saila memutar bola matanya, karena malu melihat mata Leon secara langsung.
“Saila, tatap aku!” pinta Leon.
Saila kembali menatap mata Leon.
“Dengarkan baik – baik yang kukatakan ya!” pinta Leon.
Saila mengangguk. “Iya,”
“Aku ... mencintaimu ... Saila!” ungkap Leon dengan kata – katanya yang terdengar lambat, namun jelas.
Saila merasakan detak jantungnya berdetak cepat ketika Leon mengungkapkan perasaannya. Dan seketika Leon langsung mencium bibir Saila dengan lembut, begitu juga Saila yang ikut mencium bibir Leon saat bibir lelaki itu mendarat di bibirnya.
Leon menarik belakang kepala Saila agar ia bisa memperdalam ciumannya, sedangkan Saila mulai melingkarkan kedua tangannya di leher Leon, memeluk leher Leon sampai ciuman mereka semakin bergairah.
.
.
.
Bersambung
.
__ADS_1
.