SILA DAN SAILA

SILA DAN SAILA
Aku tidak mau pisah denganmu


__ADS_3

Hidup satu atap dengan Saila membuat Leon sudah terbiasa dengan gadis itu. Bahkan Leon bisa melupakan masa lalunya dengan Sila karena hadirnya Saila dalam hidupnya, meskipun ia baru mengenal Saila selama dua bulan ini.


Selama ini Leon diam bukan karena ia tidak peduli dengan perasaan Saila, namun karena Leon tidak mau di anggap sebagai pria yang mudah pindah ke lain hati oleh Saila.


Dan Hari ini Leon harus memperjelas hubungan pernikahannya itu bukanlah main – main pada Saila, agar Saila tidak mengungkit lagi kata pisah padanya atau pun pada Sila.


Leon menatap Saila yang kini duduk di sofa bersamanya.


“Saila, tolong dengarkan aku baik - baik!” pinta Leon.


Saila mengangguk. “Iya.”


“Jangan pernah katakan pada Sila kalau kita akan pisah!” pinta Leon menatap serius istrinya, memegang tangan istrinya di sana.


“Kenapa Mas Leon? Bukannya itu sudah kita rencanakan?” tanya Saila bingung.


“Karena aku tidak pernah berencana pisah denganmu,” jawab Leon.


“Loh ... bukannya dulu kita pernah membahas masalah ini waktu Mas Leon mengajakku menikah, dan Mas Leon setuju, kan?” tanya Saila.


Leon menghela nafasnya menatap Saila yang masih bingung tentang kata – katanya tadi, kemudian menggerakkan bibirnya menjawab pertanyaan istrinya itu.


“Saila, dengarkan baik – baik!” Menatap mata Saila dalam – dalam. “Sejak awal aku mengajakmu menikah, aku sudah memikirkan baik – baik untuk hidup bersamamu dan bayi yang kau kandung itu, tanpa berencana untuk pisah. Yang merencanakan untuk pisah itu adalah kamu. Aku menyetujui permintaanmu itu, agar kau setuju untuk menikah. Dan aku juga sudah janji pada kedua orang tuamu, kalau aku akan bertanggung jawab padamu dan bayi kita selamanya. Tidak ada niatku untuk pisah. Sekali pun tidak pernah. Lagi pula ... aku bukan pria muda lagi, Saila. Aku tidak suka bermain – main hanya untuk mencari cinta atau kesenangan!” jelas Leon dengan serius.


Saila sedikit kaget dan bingung mendengar penjelasan suaminya. “Mas Leon tidak mau pisah denganku?” tanya Saila kembali.


“Iya, aku tidak mau pisah denganmu dan anak kita nanti. Anak itu juga harus memiliki orang tua yang lengkap, Saila. Aku tidak mau anak itu tidak bisa merasakan kasih sayang ayah dan ibunya!” jelas Leon.


“Mas Leon, anak ini masih milikmu meski kita pisah. Dia tetap memiliki seorang ayah dan ibu,” ucap Saila.


“Aku tahu Saila. Dia masih punya ayah dan ibu jika kita pisah, tapi kau mungkin tidak pernah merasakan jika kau harus berpisah dengan ayahmu. Ayahmu hanya ada di akta kelahiranmu tapi tidak bisa menemanimu bermain jika kau menginginkannya atau pun dia tidak ada jika kau membutuhkannya. Aku merasakan itu semua." Menatap Saila dengan tatapan lembutnya.


"Biar kuceritakan sedikit kisahku. Ibu dan ayah punya ikatan pernikahan, tapi mereka hidup seperti orang asing. Dan ayah lebih memilih kesenangannya dengan wanita yang dia cintai ketimbang anak dan istrinya sendiri. Aku merasakan kesedihan ibu setiap saat, setiap waktu. Aku tidak mau kau dan anak kita mengalami seperti yang aku dan ibu rasakan. Jadi, jangan hanya memikirkan orang lain, tapi pikirkan anak yang tidak berdosa itu jika dia besar nanti dia tidak bisa merasakan kasih sayang kedua orang tuanya!” Lanjut Leon. Saat itu, Saila menatap Leon dengan tatapan kasihan mendengar kisah sedih suaminya.

__ADS_1


“Lalu bagaimana dengan Sila, Mas Leon? Kalian berdua saling mencintai bukan?” tanya Saila.


Leon memejamkan matanya sejenak, kemudian kembali menatap Saila.


“Saila ... Sila itu gadis yang cantik dan baik. Sudah ada pria yang mungkin sudah menunggunya, tapi itu bukan aku. Aku dan dia tidak berjodoh. Aku tidak punya niat untuk kembali padanya. Itu sudah menjadi masa laluku dengannya,” jawab Leon.


Ya, jika saja Leon punya niat untuk kembali pada Sila. Leon pasti akan menemui Sila ketika ia tahu kalau Sila sudah kembali. Namun, ia cuek – cuek saja mendengar kabar Sila dari istrinya.


Saila menundukkan kepalanya di depan Leon. Seketika air matanya jatuh di kedua pipi mungilnya. Ia sedih memikirkan perasaan Sila yang tersakiti jika ia bersama dengan Leon selamanya.


Ia kemudian mengangkat kepalanya, melihat Leon.


“Mas Leon, kalau aku tidak pisah seperti perjanjian awal kita. Aku akan menjadi wanita yang berdosa pada Sila. Dia adalah saudaraku. Tidak mungkin aku menghianatinya untuk bersamamu!” ucap Saila sedih melihat suaminya.


Leon memegang kedua pipi Saila, kemudian mengangkatnya sampai mata Saila menatap matanya.


“Dengarkan aku! Kau sama sekali tidak berdosa pada Sila. Kau tidak menghianatinya. Jika ada orang yang berdosa, itu adalah aku, Saila. Bukan kamu. Itu bukan salahmu!” ucap Leon.


“Hiks ... hiks ... hiks ... hiks!” Seketika Saila mengeluarkan suaranya menangis di hadapan Leon.


“Jangan menangis! Aku tidak tahan melihatmu menangis begini!” pinta Leon menenangkan Saila, mengusap punggung istrinya dengan lembut.


“Aku harus bagaimana menghadapi Sila kalau Mas Leon seperti ini? Aku harus mengatakan apa padanya?” tanya Saila dengan perasaannya yang di penuhi dilema antara suaminya dan saudari kembarnya, diiringi dengan isak tangisnya di pelukan Leon.


“Kau tidak perlu melakukan apapun. Kau cukup berdiri diam di belakangku saja. Biar aku yang menghadapi semuanya. Hem,” kata Leon dengan suaranya yang terdengar lembut.


Saila mengangguk di pelukan suaminya tanpa membalas ucapan Leon lagi. Leon semakin memeluk istrinya dengan erat, merasakan kehangatan gadis itu di pelukannya. Ia memeluk Saila lama sampai gadis itu kembali tenang.


Beberapa menit kemudian, Leon melepaskan pelukannya dari Saila dan kembali menatap Saila sejenak sambil tersenyum. Setelah itu, Leon membawa istrinya untuk istirahat di kamar, kemudian ia mandi di dalam kamar mandinya.


Saat Leon mandi, Saila mengambil ponselnya untuk menghubungi Kediaman Mahesa.


Suara Telfon

__ADS_1


“Halo!” Salah satu pelayan rumah mengangkat panggilannya.


“Ini aku, Saila.”


“Nona Muda. Akhirnya Anda menelfon juga,” ucap pelayannya itu.


“Ada apa?” tanya Saila penasaran.


“Saya tidak tahu apa yang terjadi pada Nona Sila. Sejak tadi dia mengurung dirinya di kamar dan tidak mau keluar kamar. Kami berusaha mengetuk pintunya tapi nona malah mengunci pintunya dan tidak mau bicara dengan kami!” jelasnya dengan suaranya yang khawatir.


“Apa ayah dan ibu belum kembali?” tanya Saila.


“Belum nona.”


“Aku akan kesana sekarang. Kau coba cek lagi di kamar Sila!” perintah Saila.


“Baik nona.”


Panggilannya pun di tutup. Saila terlihat sangat khawatir mendengar kabar Sila dari salah satu pelayannya. Apalagi kedua orang tuanya sekarang tidak berada di rumah.


Ya, Bima dan Yasmin kini berada di sebuah pulau menghabiskan liburannya berdua. Mereka memang selalu berlibur setiap tahun. Dan tahun ini mereka lakukan lagi.


.


.


.


Bersambung.


.


Hai sayang2ku🤗. Maaf ya kalau up datenya satu2. Maklumi si Ratu pemimpi ini, sibuk banget di RL. Kalau nggak terlalu sibuk, aku pasti up date 2 episode atau lebih seperti kemarin, tapi mungkin ngga selalu ya sayangku.

__ADS_1


Jangan lupa like, Votenya jika kalian suka dengan ceritaku ini.


Terima kasih. Love emmuah buat kalian semua.😘😘😘😘


__ADS_2