
Suara langkah kaki terdengar di telinga Ben dan Sila. Mereka langsung menoleh satu sama lain, saling melihat dengan ekspresi kaget mereka. Ben buru – buru berdiri untuk menyembunyikan tangga yang di naiki Leon tadi, kemudian berusaha untuk bersembunyi bersama Sila. Mereka baru saja mau melangkah untuk mencari persembunyian mereka, namun orang yang berjalan ke arah mereka sudah berdiri tegak di belakangnya.
“Sila ... apa yang kau lakukan disini?” tanya pria tersebut yang ternyata adalah Tuan Bima.
Seketika Ben dan Sila menghentikan langkahnya, kemudian menoleh ke arah suara yang bicara pada mereka.
Ben dan Sila terkejut melihat Tuan Bima dan kedua pengawal rumah berdiri di hadapan mereka berdua.
“A-ayah ...!” balas Sila dengan kaget.
“Sedang apa kau di belakang kamar Saila?” tanya Tuan Bima kembali melihat anaknya dengan serius.
“A-aku sedang mencari ... antingku! Ya, antingku!” jawab Sila dengan suaranya yang terdengar gagap.
“Lalu ... pria yang bersamamu siapa?” tanya Tuan Bima kembali dengan suara tegasnya.
Sila menunjuk ke arah Ben.
“D-dia pelayan rumah. Maksudku orang yang mendekorasi pestanya, Yah,” jawab Sila yang masih gagap karena ketakutan pada Tuan Bima.
“Jangan berbohong pada Ayah, Sila. Kau tidak pintar berbohong!” kata Tuan Bima dengan tegas.
“Tidak Yah, aku tidak bohong,” jawab Sila.
“Kalian berdua masuk ke dalam!” perintah Tuan Bima pada Ben dan Sila. Wajahnya terlihat emosi melihat Sila dan Ben di depannya. Itu karena ia sudah tahu kalau Sila sedang berbohong padanya.
Ben dan Sila hanya bisa menuruti perintah dari Tuan Bima tanpa bicara lagi. Mereka berdua langsung masuk ke dalam bersama Tuan Bima dan kedua pengawalnya tadi.
Setelah berada di dalam, Tuan Bima langsung duduk di sofa sambil menyilangkan kedua kakinya. Ia diam sejenak menatap Ben dan Sila secara bergantian. Ia berpikir kalau pria yang bersama Sila adalah pacarnya lagi. Tuan Bima tidak bisa mengenali siapa Ben yang menutupi kepalanya dengan topi.
Dan saat itu, Sila dan Ben berdiri kaku sambil menundukkan kepalanya di depan Tuan Bima.
Ben memiringkan kepalanya, kemudian berbisik pada Sila, “Hai, apa aku juga akan di pukuli ayahmu sama seperti Leon?”
Sila menoleh, melihat Ben dengan kesal. “Jangan tanya. Pikirkan alasan terbaikmu saja kalau kau tidak mau di pukuli. Kita sekarang sudah ketahuan!” bisik Sila.
“Apa yang kalian bisikkan?” tanya Tuan Bima yang melihat tingkah kedua orang itu.
“Tidak ayah!” Sila kaget dan segera menjawab ucapan ayahnya sambil menundukkan kepalanya dengan ekspresi ketakutan.
__ADS_1
“Sila ... apa pria yang bersamamu sekarang adalah pacarmu lagi, hah? Apa kau sadar kalau kau akan bertunangan besok? Dan kau masih bermain – main dengan pria lain! Apa kau tidak puas membuat saudaramu menanggung perbuatanmu itu? Sekarang kau mau mempermalukan ayah lagi dengan bertemu diam – diam di belakang rumah!” kata Tuan Bima marah dengan suaranya yang terdengar keras.
“Tidak Pak, eh ... Om, mak-sud saya Tuan. Saya bukan pacar Sila, tapi orang yang menyukai Saila, eh ... maksudnya teman Saila!” sahut Ben sambil tersenyum paksa di depan Tuan Bima. Ia terlihat sangat gugup sampai ia tidak bisa mengatur kata – katanya sendiri. Ia sedikit ketakutan melihat tatapan tajam Tuan Bima yang terus memandangnya sampai ia sendiri canggung dan gagap bicara pada Tuan Bima.
“Jay ...!” panggil Tuan Bima tanpa mengalihkan pandangannya pada Ben, menatap pria itu dengan tajam.
Jay segera menghampirinya. “Ya tuan.”
“Panggil Saila kemari!” perintah Tuan Bima.
“Baik tuan.” Jay segera jalan untuk memanggil Saila. Baru beberapa langkah untuk menaiki tangga, namun Saila sudah berjalan cepat menuruni tangga menghampiri mereka semua.
“Ayah ...!” teriak Saila memanggil ayahnya dari arah tangga. Ia dan Leon sudah tahu kalau Ben dan Sila tertangkap basah tadi sampai Saila terpaksa turun membantu mereka.
Seketika mereka menoleh melihat Saila yang berjalan mendekati mereka.
“Ayah ... Kak Ben memang temanku. Dia datang untuk melihat keadaanku disini, tapi karena dia takut masuk, jadi dia lewat belakang. Ayah jangan memarahinya!” jelas Saila.
Saat bicara pada ayahnya, ia sesekali melirik Ben yang tersenyum padanya, memberikannya kode untuk tetap tenang.
“Dia temanmu atau teman suamimu, Saila?” tanya Tuan Bima menatap serius anaknya. Ia seketika tersadar saat mendengar ucapan Saila. Ia menyadari Ben yang merupakan teman Leon.
Mereka bertiga langsung terkejut mendengar perkataan Tuan Bima. Mereka ternyata tidak bisa membohongi Tuan Bima yang sudah tahu rencana mereka.
“Baik tuan,” jawab Jay sambil membungkukkan badannya di sana. Jay segera menaiki tangga menuju kamar Saila untuk memanggil Leon yang masih berada di dalam.
Sementara Ben, Sila dan Saila sangat khawatir karena mereka sudah ketahuan, bahkan Tuan Bima mengetahui kalau Leon ada di kamar. Mereka tidak tahu harus mengatakan apa lagi di depan Tuan Bima, dan hanya diam ketakutan.
Tak lama kemudian, Jay turun dari tangga bersama Leon. Tampak di wajah Leon, kalau ia sangat malu karena sudah ketahuan oleh ayah mertuanya, bahkan sangat malu sekarang di bandingkan kemarin, karena ia seperti pria pengecut yang menemui istrinya dari belakang, bukan lewat dari pintu depan. Ayah mertuanya pasti menganggapnya sebagai pria yang pengecut. Pikirnya.
“Ayah ... aku minta maaf. Aku melakukan kesalahan lagi, tapi aku melakukannya hanya ingin melihat keadaan Saila!” kata Leon menundukkan kepalanya dengan wajahnya yang merasa bersalah. Ia langsung meminta maaf pada ayah mertuanya saat ia sudah berdiri di depan Tuan Bima.
“Berani sekali kau menentangku. Kau bahkan membawa temanmu kemari. Kau sama sekali tidak peduli dengan yang kukatakan kemarin!” tegas Tuan Bima.
“Bukan begitu ayah. Aku sama sekali tidak-
“Diamlah. Kalian semua bersekongkol untuk mempermainkanku ya!” kata Tuan Bima marah. Ia langsung memotong ucapan Leon.
Sila langsung maju, kemudian berkata: “Ayah ... mereka tidak salah. Aku yang salah. Aku yang mengajak mereka datang kemari. Aku tidak tega melihat Saila hanya duduk termenung di kamarnya!”
__ADS_1
“Diam kau!” teriak Tuan Bima menatap Sila dengan tatapan amarahnya. “Ini semua berawal darimu. Kalau saja aku tidak mengijinkanmu sekolah di luar negri dan bebas diluar sana. Kejadian ini tidak akan terjadi. Kau sudah melewati batas, Sila!”
Dari arah lantai atas, Nyonya Yasmin berlari menuruni tangga menghampiri mereka.
“Sayang, apa lagi yang kau lakukan?” kata Nyonya Yasmin saat ia sudah berdiri di depan suaminya.
“Lihatlah perbuatan anak – anakmu itu. Mereka bersekongkol melawanku!” jawab Tuan Bima dengan tegas.
Nyonya Yasmin menghela nafasnya, kemudian berkata: “Sayang ... bukannya kau bilang kalau kau mengijinkan menantumu tinggal bersama Saila. Jangan seperti ini. Biarkan saja mereka tinggal bersama!”
“Aku memang bilang seperti itu, tapi lihatlah sekarang. Bagaimana aku bisa membiarkan anakku bersama pria seperti dia?” tegas Tuan Bima menunjuk Leon.
“Tapi ... Saila sekarang sedang hamil. Dia membutuhkan suaminya. Kau hanya membuat Saila semakin stress kalau begini. Dan besok Sila akan tunangan. Lupakanlah amarahmu itu demi kebahagiaan anak - anak!” kata Nyonya Yasmin memberi pengertian pada Tuan Bima dengan suaranya yang terdengar pelan, namun tegas.
Tuan Bima langsung berdiri dari tempat duduknya dengan ekspresi marah yang masih ia tunjukkan.
Ia melirik ke empat orang yang tengah berdiri diam di depannya, “Huh ...!” Setelah melirik mereka dengan ekspresi marahnya, ia kemudian melangkah meninggalkan mereka menuju lantai 2 tanpa bicara lagi.
Dan Nyonya Yasmin langsung menghela nafasnya saat suaminya pergi dari sana. Ia merasa lega, akhirnya suaminya tidak memperpanjang masalahnya lagi, namun tetap saja Tuan Bima masih tidak suka dengan Leon.
Sementara ke empat orang yang berdiri seperti orang bodoh merasa heran dan bingung melihat situasinya sekarang. Mereka saling melihat satu sama lain.
Saila kemudian melangkah maju menghampiri ibunya, kemudian berkata: “Ibu, apa ayah masih marah atau tidak?”
Saat mendengar Saila, Nyonya Yasmin menoleh melihat mereka semua, kemudian berkata: “Leon, tinggalah disini untuk beberapa hari ke depan. Ayahmu tidak mengijinkan Saila keluar dari rumah ini sampai dia melahirkan!”
“Baik bu,” jawab Leon.
“Ibu, apa ini artinya ayah mengijinkanku bersama Mas Leon?” sahut Saila yang bertanya kembali pada ibunya.
“Iya, tapi ayahmu tidak membiarkanmu tinggal berdua dengan Leon. Kau dan Leon harus tinggal di rumah ini. Kalau Leon bersedia tinggal di rumah ini, itu artinya kalian bisa sama – sama sayang. Dan itu syarat dari ayahmu kemarin ketika ibu bicara padanya!” jelas Nyonya Yasmin.
“Aku bersedia bu. Selama ayah mengijinkanku bersama Saila, dimana pun aku akan tinggal?” sahut Leon membalas ucapan ibu mertuanya. Ia terlihat senang karena ayah mertuanya mengijinkannya bersama Saila, meskipun ia harus tinggal di Kediaman Mahesa.
Saila langsung memeluk ibunya dengan bahagia. “Terima kasih bu. Terima kasih banyak, ibu sudah membantu kami!” kata Saila antusias.
Sila yang melihat itu langsung bernafas lega, begitu juga dengan Ben yang melihat itu. Ia ikut bahagia melihat Saila dan sahabatnya bersama kembali.
.
__ADS_1
.
.