
Pelayan Restoran kini memisahkan Sila dan Alexa yang sejak tadi berkelahi di sana, sedangkan Saila sudah duduk di kursi Restoran memegang perutnya, menahan rasa sakit di perutnya. Saat itu, Sila tidak menyadari keadaan Saila, karena ia sibuk dengan masalahnya sendiri.
Ben yang ternyata berada di sebuah ruangan di Restoran itu, merasa risih dengan keributan yang ada di luar.
Hingga akhirnya ia penasaran dengan apa yang terjadi di luar ruangannya? Memang sebelum Sila dan Saila datang, Ben sudah berada di Restoran untuk meeting dengan kliennya bersama Alexa. Ia pun berjalan keluar ruangan untuk mengetahui masalah yang terjadi di luar.
Dan saat di luar ruangannya itu, Ben sangat terkejut melihat Alexa dan Sila berdiri dengan beberapa pelayan yang memegang mereka. Ia segera menghampiri Sila dan Alexa yang belum ia ketahui dengan siapa Alexa bertengkar? Apa Sila atau Saila?
“Ada apa ini?” tanya Ben saat ia sudah berdiri di depan Sila dan Alexa.
Seketika Saila berdiri dari tempat duduknya saat melihat Ben di depannya.
“Kak Ben!” panggil Saila.
Ben langsung menoleh melihat Saila.
“Saila!” Ben mengerutkan keningnya melihat Saila yang juga ada di sana.
Ia menghampiri Saila saat ia melihat ada yang tidak beres dengan Saila yang terus memegang perutnya. “Saila, ada apa denganmu?” tanya Ben khawatir.
“Perutku sangat sakit,” jawab Saila.
“Apa?” Ben kaget mendengar jawaban Saila. “Tunggu sebentar, oke!”
Saila mengangguk.
Ben segera mengambil ponsel di saku celanannya.“Aku akan menghubungi Leon sebentar untuk datang menjemputmu sekarang. Kau duduk saja dulu, oke!” lanjut Ben.
Saila kembali mengangguk. “Iya.”
Saila kembali duduk di kursinya tadi menunggu Ben selesai menelfon.
Ben pun menghubungi Leon untuk segera datang melihat istrinya. Saat mendengar kabar Saila dari Ben, Leon segera meninggalkan kantornya menuju Restoran tanpa peduli dengan rapatnya. Bahkan kepanikannya itu, ia tidak sempat mengatakan apa – apa pada orang – orang yang sedang rapat dengannya. Dan langsung berlari keluar meninggalkan mereka.
Sementara Sila yang sadar dengan keadaan Saila, kini membungkuk di depan Saila. Memegang kedua bahu Saila dengan ekspresi khawatirnya.
“Saila, kau kenapa?” tanya Sila.
“Perutku sakit, Sila!” jawab Saila.
“Kenapa bisa sakit?” tanya Sila.
“Perutku tidak sengaja terbentur meja,” jawab Saila.
“Apa?” Sila terkejut. “Kenapa bisa? Apa ada yang mendorongmu?” tanya Sila.
Saila tidak menjawab pertanyaan Sila. Ia hanya menoleh melihat Alexa. Dan saat itu, Sila tahu kalau Saila sakit pasti karena Alexa.
Sila ikut menoleh melihat Alexa, menatapnya dengan tajam.
“Pasti kau yang mendorongnya, kan?” tanya Sila pada Alexa.
__ADS_1
Alexa hanya memalingkan wajahnya dengan sinis. Wajahnya menandakan kalau ia sama sekali tidak peduli dengan Saila.
Dan itu membuat Sila semakin marah pada Alexa. Ia kembali berdiri melihat Alexa.
“Kau berani mendorong, Saila. Apa kau tidak punya hati?” teriak Sila.
Alexa sama sekali tidak menanggapi Sila. Dan hanya berwajah sinis di sana.
Sementara Ben yang selesai menghubungi Leon, dan mendengar ucapan Sila, membuat Ben sangat terkejut. Ia segera menghampiri Saila untuk membawanya ke Rumah Sakit. Pikirnya kalau kandungan Saila ada masalah setelah mendengar ucapan Sila tentang Alexa.
“Saila, ayo ke Rumah Sakit dulu. Leon akan menyusulmu nanti!” pinta Ben.
“Aku mau menunggu Mas Leon,” jawab Saila.
“Tapi, perutmu sakit. Kalau terjadi apa – apa pada bayimu, bagaimana?” ucap Ben khawatir.
Sila menoleh. “Saila, kita ke Rumah Sakit dulu, oke!” sambung Sila.
“Baiklah!” jawab Saila.
Ben pun memegang lengan Saila untuk membantunya berdiri dari tempatnya, kemudian menggendongnya.
Baru beberapa langkah, mereka sudah melihat kedatangan Leon yang baru saja masuk ke dalam Restoran.
Leon berlari menghampiri Saila yang masih dalam gendongan Ben.
Leon langsung meraih tubuh istrinya dari gendongan Ben.
“Dia didorong Alexa, sampai perutnya terbentur meja, Kak Leon,” sahut Sila dengan ekspresi khawatirnya.
Leon kaget mendengar ucapan Sila. Dan wajahnya semakin khawatir. Karena ke khawatirannya itu, ia tidak ingin menanyakan lebih lanjut masalah yang sebenarnya terjadi. Ia hanya fokus dengan istrinya.
“Aku akan bawa Saila ke Rumah Sakit. Kau urus masalah disini!” perintah Leon pada Ben, sahabatnya.
“Baiklah!” jawab Ben.
“Aku akan ikut ke Rumah Sakit!” sahut Sila.
Leon segera pergi dari Restoran sambil menggendong Saila. Dan Sila hanya mengikutinya dari belakang. Mereka menaiki mobil yang di kendarai Pak Herman.
Sementara Ben masih ada di Restoran untuk menyelesaikan masalah yang di sebabkan Alexa dan Sila.
***
Beberapa menit kemudian, mobil yang di kendarai Pak Herman sampai di Rumah Sakit. Leon turun dari mobil, kemudian menggendong Saila. Ia berlari masuk ke dalam Rumah Sakit diikuti Sila yang ikut di belakangnya.
Leon berteriak mencari dokter untuk menangani istrinya. Dan karena teriakan dan kepanikannya itu membuat seisi Rumah Sakit terkejut melihatnya. Mereka semua ikut panik melihat Leon yang berlari mencari dokternya.
Beberapa perawat dan dokter berlari menghampirinya sambil membawa brankar untuk Saila. Mereka berpikir kalau mereka kedatangan pasien gawat darurat. Leon langsung menempatkan tubuh istrinya di atas brankar. Ia mengikuti dimana para perawat membawa Saila sambil memegang tangan istrinya.
“Tidak apa – apa Saila. Kau pasti baik – baik saja. Bayi kita pasti akan selamat. Tahan ya sayang!” ucap Leon berusaha menenangkan istrinya yang ketakutan.
__ADS_1
Para perawat itu pun membawa Saila ke Ruang IGD. Dokter tidak membiarkan Leon masuk ke dalam. Leon hanya menunggu di luar bersama Sila.
Leon terus mondar – mandir di depan IGD sambil menggigit bibirnya, merasa sangat khawatir jika terjadi sesuatu dengan istri dan bayinya, sedangkan Sila berusaha menghubungi kedua orang tuanya untuk memberitahu keadaan Saila.
Beberapa menit kemudian, dokter yang menangani Saila keluar dari Ruang IGD.
Leon dan Sila segera menghampiri dokternya untuk menanyakan keadaan Saila.
“Dok, bagaimana keadaan istri dan bayi saya?” tanya Leon dengan wajah gugupnya.
Dokter yang menangani Saila terdiam sejenak menatap Leon sambil menghela nafasnya setelah mendengar pertanyaan Leon.
“Tuan, istri dan bayi Anda baik – baik saja!” jawabnya.
Leon seketika bernafas lega, begitu juga dengan Sila.
Dokter yang berdiri di depannya itu tersenyum melihat Leon dan Sila. Itu karena ia mengingat kejadian tadi, ketika Leon berteriak dengan paniknya, seakan membawa pasien yang gawat darurat.
Leon kembali melihat si dokternya.
“Tapi dok, perut istri saya terbentur meja. Apa kandungannya benar – benar tidak ada masalah?” tanya Leon penasaran.
“Tidak ada tuan. Bayinya sangat sehat. Mungkin benturannya tidak terlalu keras. Dan juga istri Anda sama sekali tidak mengalami pendarahan yang mengakibatkan masalah pada bayinya,” jawab dokter itu.
“Lalu kenapa istri saya kesakitan, dok? Anda tidak lihat wajahnya tadi!” ucap Leon yang masih belum yakin dengan keadaan Saila.
“Begini, saya jelaskan ya, tuan. Kehamilan istri Anda masih ada di tahap trimester pertama. Dan dimasa kehamilan seperti ini, rahim sepenuhnya dilindungi oleh panggul. Jadi kalau hanya terbentur di meja itu tidak masalah. Kecuali kalau benturannya sangat keras, atau terjatuh dengan keras, itu pasti akan menyebabkan keguguran pada istri Anda. Tapi, kenyataannya berbeda. Setelah saya periksa tadi bayinya baik – baik saja. Berarti benturannya tidak parah. Kalau masalah istri Anda yang kesakitan, itu wajar tuan. Dan saya sudah memberikan obat untuknya. Anda tenang saja!” jelas dokternya.
“Terima kasih dok!” balas Leon sambil menghela nafasnya, merasa sangat lega mendengar istrinya baik – baik saja.
“Tapi, saya tetap peringatkan pada Anda untuk berhati – hati ke depannya, tuan. Jangan sampai hal seperti ini terulang kembali. Kali ini tuhan masih memberikan kesempatan pada istri dan bayi Anda! Tidak tahu ke depannya, bagaimana?” jelas dokternya.
“Baik. Akan saya ingat baik – baik!”
“Dan istri Anda tetap akan di rawat selama beberapa hari disini. Saya akan memantau keadaan bayinya. Jika bayinya tetap baik selama beberapa hari, maka saya akan ijinkan untuk pulang!” lanjut dokternya itu.
“Baik dok! Sekarang ... apa saya bisa masuk ke dalam untuk melihat istri saya?” tanya Leon.
“Silahkan!” balas dokternya.
Leon pun segera masuk ke dalam ruangan IGD diikuti Sila yang juga ingin melihat keadaan Saila.
.
.
.
Bersambung.
.
__ADS_1