SILA DAN SAILA

SILA DAN SAILA
Aku bersedia


__ADS_3

“Sila, kau belum menjawab pertanyaan ayah tadi. Dimana pacarmu yang mau kau kenalkan pada ayah dan ibumu?” tanya Bima kembali.


“Dia ... dia!” ucap Sila dengan gagap sambil menatap Leon dan Saila secara bergantian. Dan saat itu, Saila dan Leon tidak berani mengangkat kepalanya melihat Tuan Bima dan Sila. Mereka hanya sibuk menghabiskan makanannya masing – masing.


“Dia apa, Sila? Kalau bicara yang jelas. Jangan sepotong begitu. Ayah tidak suka kalau kau banyak alasan lagi seperti dulu!” sambung Bima yang kesal dengan ucapan anaknya yang tidak jelas.


Seketika Sila diam tak tahu harus mengatakan apa pada ayah dan ibunya? Ia hanya menundukkan kepalanya di sana. Rasanya ia serba salah di depan mereka kalau harus berbohong, namun ia juga tidak mau kalau ayah dan ibunya tahu siapa pacar yang ingin ia kenalkan pada kedua orang tuanya?


“Ya tuhan. Kenapa ayah malah membahas ini di depan Saila dan Kak Leon? Aku malu sekali. Masa aku harus bilang kalau pacarku sudah menikah sekarang. Bisa – bisa ayah mengatai – ngatai Kak Leon sebagai lelaki yang tidak bertanggung jawab, apalagi di depan mereka!” dalam hati Sila.


“Sila!” panggil Bima saat melihat Sila hanya diam kaku di depannya.


Sila langsung tersadar dengan pertanyaan ayahnya tadi yang belum ia jawab. Ia kembali menatap ayahnya dengan serius.


“Dia dan aku sudah tidak bersama lagi, Yah,” jawab Sila. Sila kembali menundukkan kepalanya, karena malu di hadapan Leon dan Saila.


“Kau sudah tidak bersama lagi. Berarti dia yang meninggalkanmu duluan?” tanya Bima menatap putrinya dengan serius. Ia sampai berhenti makan, dan hanya fokus pada Sila.


Sila tidak menjawab ucapan ayahnya. Ia tidak tahu harus bilang apa pada ayahnya? Ia masih menundukkan kepalanya, sibuk mengacak – ngacak makanan di piringnya dengan sendok dan garpu yang ia pegang.


“Laki – laki macam apa dia berani meninggalkanmu begitu saja? Apa dia tidak tahu kau anak siapa? Katakan siapa pria yang kau cintai itu? Ayah akan memberikannya pelajaran, karena sudah membuatmu begitu!” lanjut Bima dengan marah.


Ia sangat marahmendengar anak kesayangannya di tinggalkan seorang pria. Bagaimana bisa seorang Anak pengusaha kaya dan terhormat di tinggalkan begitu saja. Dimana harga diri keluarganya?


“Uhuk ... uhuk ... uhuk!” Seketika Leon batuk – batuk saat mendengar ucapan ayah mertuanya yang sangat marah dengan lelaki yang di maksud Sila.


Saila dengan sigap mengambil gelas di depannya, dan membantu Leon minum di sana.


“Mas Leon baik – baik saja?” tanya Saila sambil mengusap – usap punggung suaminya. Saila terlihat sangat khawatir dengan suaminya.


“Iya, aku baik sayang. Jangan khawatir!” jawab Leon sambil tersenyum melihat istrinya.


Saat Leon tersedak, Bima, Yasmin dan Sila langsung menoleh ke arahnya. Pandangan Bima dan Yasmin terlihat bingung.


“Apa makanannya tidak enak sampai Sila dan Nak Leon tersedak dari tadi?” sahut Yasmin menatap Leon dengan heran.


“Makanannya enak kok, Ibu Mertua. Saking enaknya aku sampai tersedak,” jawab Leon sambil tersenyum paksa di depan ayah dan ibu mertuanya.


Yasmin kemudian menoleh ke arah suaminya.

__ADS_1


“Sayang, kamu tidak usah bahas masalah pacar Sila dulu. Kita selesaikan dulu makan malamnya  baru kita bicarakan kembali. Kasihan anak - anak!” ucap Yasmin memberi pengertian pada Tuan Bima.


Bima menghela nafasnya dengan kasar. “Haaa ... aku tidak bisa menahannya sayang. Aku sangat marah mendengar putriku diperlakukan begitu. Kalau aku tahu dan menemukan orangnya. Aku pasti akan membunuhnya. Huh ... berani sekali dia sama anakku!” ucap Tuan Bima kesal.


Dan saat itu, Leon langsung menelan ludahnya mendengar ucapan ayah mertuanya yang akan membunuhnya. Leon ketakutan mendengar perkataan ayah mertuanya.


Kalau ayah mertuanya ingin memukulnya habis - habisan, ia akan terima, tapi kalau sampai membunuhnya atau memisahkannya dengan Saila, bagaimana? Pikirnya.


Begitu juga dengan Sila dan Saila yang hanya menundukkan kepalanya tanpa menatap langsung ayahnya. Mereka juga ketakutan sama seperti Leon. Kalau sampai kebohongan mereka terbongkar, ayahnya pasti akan mengamuk.


Bima pun menghabiskan makan malamnya tanpa bicara lagi, begitu juga dengan yang lainnya.


Selesai makan malam, Tuan Bima dan Keluarganya berkumpul di Ruang Keluarga, bersantai di sana. Sekalian ia mau membahas tentang masalah Sila.


Bima dan Yasmin duduk berdua di sofa besar berhadapan dengan sofa yang diduduki Leon, Saila dan Sila.


“Sila!” panggil Tuan Bima.


Sila yang duduk di samping Saila, langsung mengangkat kepalanya melihat ayahnya.


“Ya, Yah,” jawab Sila.


“Karena kita sudah duduk santai begini. Ayah akan melanjutkan pembicaraan kita yang tertunda tadi. Dan kebetulan Leon dan Saila juga sudah disini!” ucap Tuan Bima.


“Sila ... saudaramu sekarang sudah menikah, bahkan sudah hamil. Jadi ayah juga mau kau menikah secepatnya. Tidak bermain – main diluar sana. Ayah tidak suka kalau kau terus bebas seperti itu. Lupakan pacarmu itu. Dia pria yang tidak pantas kau nikahi. Lebih baik kau menikah dengan Zidan. Ayah sudah mengenal Zidan sejak dia masih kecil. Dia anak yang baik. Bahkan kedua orang tuanya juga baik!” jelas Tuan Bima.


“Kenapa sih ayah sangat ngotot menikahkanku dengan Zidan. Dulu ayah menjodohkannya dengan Saila, sekarang malah menjodohkan dia denganku?” tanya Sila penasaran.


“Dia keponakan Paman Andre, sahabat ibumu. Sifatnya pasti seperti Paman Andre. Ayah yakin sekali kalau Zidan pria yang bertanggung jawab dan baik, sama seperti pamannya. Dan ayah ingin sekali kalau kau menikah dengannya!” jelas Tuan Bima menatap anaknya serius.


“Iya sayang, ibu dan ayah hanya ingin kau mendapatkan pria yang baik yang bisa menjagamu kelak, kalau kita sudah tidak ada!” sambung Yasmin.


Sila terdiam sejenak dengan kepala sedikit menunduk.


“Kau bersedia menikah dengan pilihan ayah dan ibumu, kan?” lanjut Tuan Bima kembali bertanya pada anaknya.


Sila masih terdiam menunduk. Kedua tangannya saling menggenggam dengan erat. Ia merasa gugup, apa yang harus ia jawab pada ayahnya. Dan Saila seketika memegang tangan Sila yang membuat Sila langsung mengangkat kepalanya melihat Saila.


“Sila!” panggil Saila, kemudian menggeleng – gelengkan kepalanya, menyuruh Sila untuk tidak menyetujui keinginan ayah dan ibunya jika memang Sila tidak mau.

__ADS_1


Namun, Sila memasang wajah tersenyum pada saudara kembarnya itu, menunjukkan pada Saila kalau ia baik – baik saja, kemudian menoleh ke arah kedua orang tuanya.


Sila memejamkan matanya sejenak, menarik nafasnya pelan, kemudian membuka matanya kembali menatap ayah dan ibunya. “Aku bersedia. Aku bersedia menikah dengan pilihan ayah dan ibu!”


Sila dengan terpaksa harus menerima keinginan ayah dan ibunya, hanya untuk membuat Saila tidak menghawatirkan dirinya dan tidak merasa bersalah padanya.


“Kau menyetujui perjodohanmu dengan Zidan?” tanya Tuan Bima kembali memastikan apa yang ia dengar.


“Iya, Yah. Aku bersedia menikah dengannya,” balas Sila.


Tuan Bima dan Yasmin terlihat bahagia saat Sila menyutujui keinginannya. Mereka berdua tersenyum bahagia satu sama lain melihat Sila menerima perjodohannya dengan Zidan.


Sementara Saila merasa sedih melihat Sila yang terpaksa menerimanya.


“Sila!” panggil Saila dengan suara pelan, dan dengan tatapan sedihnya melihat Sila yang seakan memaksakan hal yang tidak ia inginkan. Ia menatap Sila sambil memegang erat tangan Sila.


Sila menoleh, kemudian menepuk – nepuk tangan Saila yang memegang tangannya, memberitahukan pada Saila kalau ia baik – baik saja.


Saila kemudian menoleh ke arah ayah dan ibunya.


“Ayah, ibu. Apa aku boleh bicara berdua dengan Sila dulu dikamar?” tanya Saila meminta persetujuan ayah dan ibunya.


“Tentu saja. Bicaralah!” balas Tuan Bima yang tidak merasakan ada hal aneh pada kedua anaknya. Itu karena ia merasa sangat senang dengan Sila yang menerima Zidan.


Saila pun berdiri dan menarik tangan Sila pergi dari sana menuju kamar Sila, sedangkan Tuan Bima dan Yasmin mulai mengobrol dengan Leon yang sejak tadi hanya diam menyaksikan obrolan ibu dan ayah mertuanya itu.


.


.


.


Bersambung


.


.


Hai sayang2ku. Aku usaha'in up date tiap hari ya biar cepat kelar ceritanya. Hehehe.....

__ADS_1


Jangan lupa VOTE, LIKE And KOMENTNYA ya buat Sila dan Saila.


Terima kasih


__ADS_2