SILA DAN SAILA

SILA DAN SAILA
Gelisah


__ADS_3

Yasmin melangkah maju mendekati anaknya, kemudian memegang kedua tangan anaknya.


"Kenapa kau tiba - tiba mau ke tempat bibimu sayang. Bukannya kau sendiri yang mau tinggal di sini menemani ibu?" tanya Yasmin menatap mata putrinya.


"Aku merindukan mereka. Aku juga ingin kuliah di sana bu seperti Sila," jawab Saila.


"Tapi ... kau sudah berjanji pada ibu untuk tinggal disini sayang," kata Yasmin.


Bima ikut bicara. "Saila ... ayah tidak bisa mengizinkanmu untuk ke luar negri. Kalau kau tidak mau bertunangan dengan Zidan. Ayah akan bicara pada keluarga mereka untuk menunda pertunanganmu sampai kau setuju kembali."


"Ayah ... aku ingin kuliah di tempat bibi Angela. Tolong izinkan aku ke sana. Lagi pula di sana ada Sila. Kumohon!" ucap Saila memohon pada ayahnya.


Bima menghela nafasnya melihat wajah putrinya yang terlihat kasihan memohon padanya. "Baiklah ... ayah akan izinkan."


Seketika Yasmin menoleh melihat suaminya. "Sayang ... kenapa kau izinkan Saila pergi?" tanya Yasmin tak setuju dengan keputusan suaminya.


"Tunggu dulu. Aku belum selesai bicara," jawab Bima menatap istrinya dengan serius. Ia kemudian melangkah maju mendekati anak istrinya itu. Ia memegang bahu kiri putrinya. "Ayah mengizinkanmu pergi setelah kau memikirkan keputusanmu itu. Ayah akan memberikanmu waktu satu bulan untuk memikirkannya. Setelah kau yakin dengan keputusanmu. Ayah sendiri yang akan mengantarmu ke sana."


"Terima kasih, Yah," jawab Saila.


Bima hanya membelai kepala putrinya dengan lembut. "Naiklah ke kamarmu!"


"Baik," jawab Saila sambil menganggukkan kepalanya dengan sopan.


Saila pun naik ke kamarnya sesaat setelah ia berpamitan dengan ayah dan ibunya. Ia dengan cepat melangkah naik ke atas kamarnya tanpa melihat lagi ke arah kedua orang tuanya.


Setelah berada di depan kamarnya, ia langsung membuka pintu kamarnya, berjalan masuk ke dalam dengan langkah kaki cepat menuju kamar mandinya. Di dalam kamar mandi, Saila melepaskan kemeja Leon yang ia pakai, kemudian melemparkan baju kemeja itu di sembarang tempat. Ia menyalakan air showernya, membiarkan air mengalir di tubuhnya.


Ia menggosok - gosok seluruh badannya dengan kasar sampai kulitnya kemerahan. Ia merasa jijik dengan tubuhnya sekarang yang di penuhi dengan bekas ****** dimana - mana. Seketika air matanya jatuh tak tertahankan mengingat semua kejadian tadi siang yang di lakukan padanya. Begitu tak berharganya ia yang sekarang jika melihat seluruh tubuhnya yang sudah di nikmati oleh lelaki yang tidak ia kenal.


"Hiks ... hiks ... hiks ... hiks ... ." Suara tangisan tiba - tiba saja ia keluarkan. Ia sangat menderita sekarang, tidak tahu harus mengatakan pada siapa rasa sakitnya itu. Ia ingin mengatakan semuanya pada ibunya, namun ia merasa tak tega kalau ibunya sampai tahu yang barusan ia alami. Pasti ibunya akan merasa sedih melihatnya.

__ADS_1


Ia ingin sekali menghilang dari sini, menghilang dari orang - orang yang mengenalnya. Hidup dimana tidak ada yang mengenalnya.


Dosa apa yang sudah ia lakukan sampai tuhan memberikannya hukuman yang kejam seperti ini. Selama hidupnya ia sangat menjaga dirinya, menjaga sikapnya, menjaga nama baik keluarganya, namun yang ia dapat adalah penderitaan yang tak bisa ia terima.


Ia terus menangis di sana tanpa henti. Membiarkan hatinya merasa lega. Ia harus kuat demi keluarganya. Ia tidak boleh tumbang demi masalah yang ia alami sekarang. Ia akan menahan rasa sakitnya itu demi keluarganya.


Setelah hatinya merasa lega, ia menghentikan tangisannya, menghapus air matanya dengan kedua tangannya. Meskipun masih ada tertinggal perasaan yang menyakitkan di dalam hatinya, namun setelah menangis, ia merasakan sedikit ada rasa lega.


Ia menghentikan air showernya mengalir, kemudian meraih baju mandi yang ada di lemari kecil di belakang punggungnya.


Ia memakai baju mandinya, lalu keluar dari dalam kamar mandinya. Ia melangkah menuju kasurnya, dan langsung melempar tubuhnya di kasur. Saila memejamkan matanya di sana, menghela nafasnya beberapa kali. Tak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Namun, ia akan tetap kelihatan baik - baik saja di depan kedua orang tuanya.


Sementara di tempat lain, Leon terlihat mondar - mandir di ruang tamunya. Di sana Ben tengah duduk di sofa mleihat sahabatnya itu gelisah memikirkan Saila yang tiba - tiba saja kabur tanpa sepengetahuannya.


"Hei ... apa kau bisa duduk diam dulu? Aku pusing melihatmu mondar - mandir begitu!" kata Ben yang sejak tadi memperhatikan Leon mondar - mandir di depannya.


"Aku bingung. Apa yang harus ku lakukan pada gadis itu?" tanya Leon pada sahabatnya.


"Diamlah! Kalau kau tidak bisa membantuku, sebaiknya kau diam saja. Aku pusing apa yang harus kulakukan sekarang?" kata Leon sambil memegang kepalanya tak tahu harus melakukan apa?


"Aku kan sudah bilang padamu untuk menikahinya. Apa lagi yang kau pikirkan sekarang? Meskipun kau meniduri wanita lain, kau tetap harus tanggung jawab dengan perbuatanmu itu!" tegas Ben melihat Leon.


"Maksudku ... apa yang harus kulakukan dulu?" tanya Leon bingung menatap sahabatnya.


"Kalau kau mau tanggung jawab. Sebaiknya kau bertemu Saila dulu. Bicarakan baik - baik dengan dia," jawab Ben.


"Bagaimana aku harus bertemu dengannya. Dia pasti takut denganku?" tanya Leon.


"Aku akan membantumu untuk bisa bertemu dengannya," jawab Ben.


"Kapan?" tanya Leon.

__ADS_1


"Tunggu saja kabar dariku. Kau jangan mendesakku dong. Aku juga perlu waktu untuk menghubunginya," jawab Ben.


"Ini karena aku takut kalau dia tiba - tiba hamil, bagaimana?" kata Leon dengan wajah khawatir menatap sahabatnya.


"Pakai logika lah. Kau baru melakukannya tadi. Masa sudah hamil saja," jawab Ben.


"Aku sekarang khawatir kalau sampai gadis itu melukai dirinya sendiri gara - gara aku," ucap Leon.


"Tenang saja. Aku pasti akan mempertemukan kalian secepatnya. Kau harus susun kata - katamu yang baik supaya dia tidak takut padamu," kata Ben dengan santai menjawab ucapan Leon.


"Oke!" Leon pun tersenyum melihat Ben ketika ia membalas kata - kata Ben.


Ben berdiri dari tempat duduknya, kemudian memegang bahu Leon. "Aku pulang dulu. Istirahat lah!"


"Oke ... terima kasih sudah membantuku," ucap Leon sambil tersenyum pada sahabatnya.


"Tidak masalah," balas Ben sambil menepuk - nepuk bahu Leon. "Aku pergi ... ."


Ben pun melangkah meninggalkan Leon yang masih berdiri di tempatnya tadi, sedangkan Leon duduk di sofa sesaat setelah Ben berjalan keluar rumahnya. Ia duduk di sana dengan perasaan gelisahnya, memikirkan masalahnya itu. Ia sangat bersalah pada Saila, gadis yang sudah ia kira sebagai Sila. Meskipun tidak ada rasa cinta, atau memiliki perasaan sedikit pun pada Saila, namun rasa tanggung jawabnya mendorongnya untuk bisa menikahi gadis itu. Tetapi yang membuatnya gelisah adalah Saila, bagaimana jika Saila merasa hancur seperti yang di katakan sahabatnya Ben. Bagaimana jika gadis itu bunuh diri gara - gara dirinya? Entah lah, perasaan bersalahnya itu membuat ia tidak bisa tenang.


Ia menyandarkan tubuhnya di sofa. "Semoga gadis itu baik - baik saja." Gumamnya sambil memegang kedua kepalanya, meremas rambutnya di sana memikirkan Saila.


.


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2