SILA DAN SAILA

SILA DAN SAILA
Curhatan Sila


__ADS_3

Pukul 12:00 siang.


Sila terlihat duduk di taman belakang rumahnya, menikmati secangkir capucino buatan pelayannya. Ia melamun memikirkan jawaban apa yang akan ia berikan pada Zidan?


Sementara Saila yang baru saja dari dapurnya, menanyakan keberadaan Sila pada salah satu pelayannya. Setelah pelayannya mengatakan keberadaan Sila di taman belakang rumahnya, Saila pun segera menghampiri Sila di sana.


“Sila!” panggil Saila yang membuat Sila menoleh ke belakang.


“Kau belum pergi ke kantor Kak Leon?” tanya Sila.


“Aku baru saja menyuruh koki masak makan siang untuk Mas Leon! Oh, ya. Kau tidak ke kampus?” kata Saila sambil menarik kursi di depan Sila, kemudian duduk di sana sambil meletakkan ponsel yang ia pegang ke atas meja.


“Aku libur hari ini,” jawab Sila.


“Terus, kenapa mukamu jadi lesu begitu? Apa kau sakit?” tanya Saila mengerutkan keningnya melihat Sila.


“Aku tidak sakit. Aku hanya memikirkan Kak Zidan. Kemarin Kak Zidan melamarku,” jawab Sila.


“Benarkah. Terus ... terus ... bagaimana? Kau bilang, iya, kan?” tanya Saila yang seketika antusias menatap Sila di depannya.


“Kau semangat sekali. Aku itu belum memberikannya jawaban,” jawab Sila.


“Kenapa?” tanya Saila.


“Aku belum siap untuk menikah,” jawab Sila yang sesekali meminum capucino di depannya.


Saila menghela nafasnya dengan wajahnya yang berubah tidak semangat mendengar ucapan Sila.

__ADS_1


“Sila, kenapa kau belum siap menikah. Apa kau berencana mencari yang lain lagi? Kau tidak mungkin meninggalkan Kak Zidan lagi, kan? Dia itu sangat mencintaimu. Dia pria yang sangat baik!” kata Saila yang menatap Sila dengan wajah kesalnya.


Saila kesal, karena berpikir kalau Sila masih belum berubah, yang mencari pria lain lagi.


“Bukan begitu, aku ingin menyelesaikan kuliahku dulu dan mengejar cita – citaku menjadi fotografer, baru menikah.Tapi aku bingung dengan Kak Zidan. Kenapa dia seperti memaksaku untuk menikah?” kata Sila dengan serius menatap Saila.


“Sila, sebenarnya Kak Zidan itu tidak mau kalau kau sampai hamil di luar nikah!” kata Saila.


“Maksudnya?” balas Sila yang tidak mengerti ucapan Saila.


“Maksudku, dia takut kalau kau sampai hamil anak David sebelum kau menikah dengan Kak Zidan. Dan yang paling Kak Zidan takut, kan, kalau kau memutuskan hubunganmu dengannya gara – gara kehamilanmu itu,” jawab Saila.


Sila yang tadi duduk bersandar di kursi, langsung menegakkan tubuhnya di depan Saila, menatap Saila dengan serius.


“Benarkah. Jadi dia berpikir kalau aku akan meninggalkannya kalau aku hamil, begitu?” tanya Sila kembali.


“Iya,” jawab Saila.


“Kau mau menemui Kak Zidan?” tanya Saila.


“Iya, aku mau menemuinya sekarang dan bicara padanya tentang hal ini. Kau juga pergilah temui suamimu!” kata Sila.


Sila pun buru - buru berjalan meninggalkan Saila yang masih duduk di kursinya. Ia berlari cepat keluar dari rumahnya untuk mendatangi Zidan di kampusnya sekarang.


Sementara Saila yang masih di tempatnya itu, tiba - tiba gelisah memikirkan ucapannya pada Sila.


“Apa aku sudah mengatakan hal yang benar pada Sila? Sila tidak akan bertengkar sama Kak Zidan gara – gara mendengar ucapanku tadi, kan? Bagaimana kalau Sila minta putus lagi?” gumam Saila.

__ADS_1


Pikirnya kalau Sila akan minta putus lagi dengan Zidan seperti yang selalu di lakukan Sila pada pacar - pacar masa lalunya.


Saila pun mengambil ponsel di atas mejanya dan segera menghubungi Leon.


“Halo Saila!” suara Leon di balik telfon.


“Mas Leon, bagaimana ini? Hiks ... hiks ... hiks!” seketika Saila menangis dengan suara manjanya di telfon, membuat Leon panik.


“Ada apa sayang?” tanya Leon. Terdengar suaranya yang sangat panik mendengar Saila menangis.


“Hiks ... hiks ... hiks ...!” Saila tambah menangis di balik telfon layaknya anak kecil membuat Leon semakin panik.


“Kau tunggu di sana. Aku akan pulang!” kata Leon yang langsung mematikan ponselnya setelah ia bicara seperti itu pada Saila. Karena kepanikannya itu, membuat ia tidak bisa lama - lama bicara pada Saila, dan berniat melihat Saila langsung.


“Halo, Mas Leon!” kata Saila yang masih belum menyadari panggilannya sudah mati.


Ia menatap ponselnya, melihat layar ponselnya disana, kemudian berkata: “Hah ... mati begitu saja tidak bilang – bilang. Mas Leon nyebelin. Aku masih mau bicara sudah di matikan. Tahu ah ... aku masuk ke dalam saja lihat makananya sudah jadi atau tidak.”


Saat itu, ekspresi Saila berubah biasa, ia tidak lagi menangis seperti yang ia lakukan ketika bicara pada Leon di telfon seakan ia hanya pura - pura menangis, namun sebenarnya tidak, itu karena Saila memang sering mengalami perubahan mood selama kehamilannya, apalagi kalau ia berhadapan dengan Leon. Sifatnya akan semakin tambah manja, dan menjadi - jadi.


Saila pun menghapus air matanya itu, dan berdiri dari tempat duduknya, kemudian masuk ke dalam rumahnya untuk mengecek makanan yang di masak koki rumahnya.


.


.


Bersambung

__ADS_1


.


.


__ADS_2