
Saila masuk ke dalam kamarnya untuk bicara kembali pada Leon. Saat di dalam, ia duduk di tepi tempat tidurnya menunggu Leon selesai mandi.
Tak menunggu lama, Leon keluar dari kamar mandi. Ia berdiri di depan pintu kamar mandi, menatap Saila sambil mengusap rambut basahnya dengan handuk kecil yang ia pegang.
Saat itu, Saila berdiri di sana melihat Leon dengan tatapan bersalahnya, karena sudah membuat Leon semakin marah, bahkan membuat Leon tidak makan malam.
Leon kemudian melangkah masuk ke dalam Ruang Ganti tanpa peduli dengan Saila yang berdiri menatapnya di samping tempat tidur. Dan Saila dengan cepat mengikuti Leon masuk ke dalam Ruang Ganti untuk kembali minta maaf pada suaminya.
Saila berdiri diam di belakang Leon, memperhatikan Leon yang sibuk memilih pakaian santainya.
Leon menoleh ke belakang, melihat Saila. “Kau mau bilang apa lagi?” tanya Leon menatap serius Saila.
“Aku tidak akan bilang apa – apa lagi sama Mas Leon tentang Sila. Aku cuma mau bilang, kalau kata – kataku tadi membuat Mas Leon marah, aku minta maaf!” ucap Saila meminta maaf dengan kepala menunduk di depan Leon, merasa bersalah pada Leon sudah membahas tentang Sila.
“Saila ... .” panggil Leon.
“Ya,” jawab Saila sambil mengangkat kepalanya melihat Leon.
“Saat kau minta maaf. Kau harus membedakan orang lain dan suamimu sendiri,” ucap Leon.
“Maksud Mas Leon?” tanya Saila bingung. Ia tidak mengerti apa yang di katakan Leon?
Leon membungkuk dan memajukan kepalanya tepat di depan wajah Saila. “Saat kau punya salah pada orang lain. Kau hanya perlu minta maaf padanya. Tapi saat kau berbuat salah pada suamimu. Kau harus menunjukkan sikap tulusmu, bukan hanya kata maaf yang kau katakan!” jelas Leon dengan serius.
“Jadi ... apa yang harus kulakukan pada Mas Leon?” tanya Saila kembali.
Leon menegakkan tubuhnya di depan Saila sambil memalingkan wajahnya ke samping. Di sana Leon tersenyum tipis tanpa di ketahui Saila. Leon merasa menang ketika Saila menanyakan tentang apa yang harus ia lakukan? Ia merasa harus memanfaatkan situasinya sekarang.
Leon kembali menatap wajah Saila dari mata, hidung sampai bibirnya dengan tatapan maksud lain pada istrinya itu, sedangkan Saila menatap Leon dengan tatapan polos, tak tahu apa – apa maksud dari Leon.
Leon kemudian menarik tubuh Saila dengan tangan kirinya sampai tubuh Saila menempel di dadanya, dan tangan kanannya menarik kepala Saila sampai akhirnya Leon mencium bibir Saila.
Tangan Saila berada di dada Leon, menahan tubuhnya di sana sambil memegang erat baju mandi Leon ketika Leon mencium bibirnya.
Karena panik, Saila berusaha melepaskan bibirnya dari bibir Leon dengan menarik kepalanya ke samping.
__ADS_1
“Apa yang Mas Leon lakukan?” tanya Saila tanpa bertatapan muka dengan suaminya. Kepalanya menunduk ke samping, menghindar dari Leon.
“Jadi ... kau masih tidak tulus meminta maaf padaku,” tanya Leon dengan pura – pura kesal di hadapan Saila.
Saila dengan cepat mengangkat kepalanya menatap suaminya. “Maksud Mas Leon. Aku harus melakukan ini sebagai bentuk permintaan maaf, begitu?” tanya Saila yang masih belum mengerti maksud dari ucapan Leon.
“Tentu saja. Kau harus membuat suamimu senang sampai aku memaafkanmu. Tapi sekarang, kau malah membuatku semakin kesal,” ucap Leon menatap Saila serius.
Leon kemudian melepaskan tubuh Saila darinya dengan wajahnya yang masih belum tersenyum pada Saila. Ia membalikkan badannya kembali menghadap lemari pakaiannya, pura – pura kesal di hadapan Saila. Leon ingin kalau istrinya mengambil inisiatif sendiri menciumnya tanpa paksaan sama sekali.
Karena Saila merasa bersalah, dan tidak mau kalau Leon terus marah seperti itu. Dengan terpaksa ia mau melakukan permintaan Leon untuk menciumnya.
Saila menghela nafasnya sambil memejamkan matanya, kemudian mengangkat kepalanya menatap punggung Leon dari belakang.
“Mas Leon,” panggil Saila.
Leon menoleh ke belakang. Dan sebuah ciuman mendarat di pipi Leon saat ia menoleh melihat Saila.
Deg ... deg ... deg.
“I-itu ... aku sudah melakukannya. Mas Leon sudah tidak marah lagi, kan?” tanya Saila dengan kepala menunduk, namun bola matanya sesekali melihat Leon. Saila sangat malu saat mencium suaminya sampai ia bicara gagap pada Leon.
Leon masih terdiam sambil menelan ludahnya, kemudian mengeluarkan nafasnya dengan pelan berusaha mengatur nafasnya.
Ia kembali menatap Saila, kemudian menarik kepala Saila untuk melampiaskan perasaan dan nafsunya yang masih ingin mencium istrinya. Leon memegang pinggang Saila secara perlahan sampai tubuh Saila menempel padanya. Ciumannya semakin dalam di bibir Saila. Ia mencium Saila dengan lembut sampai gadis itu ikut menikmatinya.
Saat itu, Saila tidak lagi menolak ciuman dari Leon. Ia menerima ciuman suaminya sambil memegang erat gaun tidurnya dengan kedua tangannya, menahan jantungnya yang ikut berdetak kencang merasakan ciuman lembut Leon.
Beberapa menit kemudian, Leon sudah puas mencium lembut bibir istrinya. Ia melepaskan ciumannya, kemudian menatap wajah Saila. Saila hanya menurunkan bola matanya, merasa malu bertatapan langsung dengan Leon.
“Lain kali kalau kau punya salah. Kau harus melakukan ini, atau aku tidak akan pernah memaafkanmu!” jelas Leon.
Saila mengangkat bola matanya melihat Leon. “Jadi ... Mas Leon sudah tidak marah lagi,” tanya Saila.
Leon melepaskan tubuh Saila, kemudian kembali menghadap lemari pakaiannya. Ia tersenyum senang di sana bisa mencium Saila dengan memanfaatkan keadaannya yang marah tadi. Ia merasa menang sudah mendapatkan yang ia inginkan tanpa paksaan darinya atau pun dari Saila, bahkan Saila ikut menikmatinya. Leon memang harus secara perlahan mendekatkan dirinya dengan Saila, mengingat gadis itu terlalu polos. Apalagi Saila memang belum pernah menjalani sebuah hubungan sebelumnya.
__ADS_1
“Mas Leon,” panggil Saila kembali ketika tidak mendapat jawaban dari suaminya.
Leon menggerakkan sedikit kepalanya, melirik Saila. “Lumayan ... aku sedikit senang. Aku memaafkanmu, tapi ... aku masih kesal denganmu.”
Saila tersenyum senang ketika Leon memaafkannya, namun ia masih sedikit bersalah ketika ia tidak bisa meredakan kekesalan suaminya.
Leon kembali bicara pada Saila.
“Keluar lah. Aku mau berganti pakaian dulu!” perintah Leon.
“Ah ... .” Saila masih hanyut dalam pikiran bersalahnya.
Leon menoleh. “Ooo ... jadi kau suka melihatku telanjang ya.” Goda Leon.
Saila kaget dengan ucapan suaminya. “Aku pergi, aku akan keluar. Mas Leon bisa santai pakai baju,” jawab Saila dengan cepat setelah mendengar ucapan suaminya tadi.
Saila berjalan cepat meninggalkan suaminya yang berdiri tersenyum menatap kepergiannya, namun Saila tidak menyadari senyuman dari suaminya itu.
Saat di luar kamar ganti, Saila memegang dadanya sambil mengeluarkan nafasnya perlahan – lahan, kemudian memegang bibirnya yang habis di cium Leon. Entah kenapa ia merasa malu dan gugup ketika mengingat ciumannya tadi? Dan memang jantungnya masih berdetak deg ... deg, saat mengingat ciuman lembut dari Leon.
Saila menggeleng – gelengkan kepalanya, menghilangkan pikirannya yang terus mengingat kejadian tadi. “Saila ... apa sih yang kau pikirkan?”
Saila kemudian mengingat kata – kata suaminya tadi. “Jadi, kalau aku punya salah, aku harus melakukan ciuman permintaan maaf supaya dia memaafkanku, begitu. Apa itu tidak sedikit berlebihan?” Gumamnya kembali yang merasa aneh dengan sikap Leon.
.
.
.
Bersambung.
.
Hai sayang2ku. Besok SDS libur dulu ya. Sabar menunggu sampai up date lagi. Maunya sih up date tiap hari tapi dunia nyata membuatku sangat sibuk. Jadi harus libu hari jum at. Semoga kita semua di berikan kelancaran setiap urusan dan kesehatan untuk bisa beraktivitas. Amin.
__ADS_1