
Setelah Saila dan Riana bicara pada Sila, mereka berdua memaksa Sila menemui Zidan kembali yang masih berada di pantai bersama Leon dan Ben. Dan ketiga pria itu, kini duduk berjejer di pinggir pantai memandang laut pantai dengan pandangan datar mereka.
Terdengar teriakan dari Riana yang membuat mereka bertiga langsung berdiri. Zidan berlari menghampiri Riana, Sila dan Saila.
Saat Zidan sudah berada di depan Sila, Saila dan Riana meninggalkan kedua orang itu untuk memberikan mereka kesempatan bicara. Mereka berdua berjalan menghampiri Leon dan Ben.
Sementara Sila berdiri diam menatap Zidan dengan ekspresi datarnya, kemudian berkata: “Aku minta maaf sudah menamparmu tadi!”
“Kau sudah mau bicara padaku?” tanya Zidan tersenyum senang.
“Iya, seharusnya aku tidak memperlakukanmu seperti itu tadi. Aku minta maaf!” kata Sila meminta maaf.
“Tidak masalah Sila. Selama kau mau bicara padaku. Aku tidak masalah dengan itu,” balas Zidan.
Sila melepaskan cincin tunangan di tangannya, kemudian menarik tangan Zidan dan meletakkan cincinnya di tangan Zidan.
Zidan terkejut melihat Sila memberikannya cincin tunangannya, begitu juga dengan ke empat orang yang menyaksikan adegan mereka. Yang tadinya tersenyum melihat Zidan dan Sila, mereka seketika menghentikan senyum bahagianya saat Sila memberikan cincinnya pada Zidan.
“Sila, apa yang kau lakukan? Kenapa kau melepaskan cincinmu dan memberikannya padaku?” tanya Zidan yang terlihat bingung.
“Aku mau membatalkan pertunangan kita. Aku tidak mau menikah denganmu. Maafkan aku!” kata Sila menatap serius Zidan.
“Tapi, kenapa Sila? Kenapa kau tiba – tiba jadi begini?” tanya Zidan yang seketika berwajah sedih di depan Sila.
“Kak Zidan, kau pantas mendapatkan wanita yang bisa mencintaimu, tapi bukan aku. Jadi kumohon, hentikanlah!” jawab Sila sambil tersenyum menatap Zidan.
Sila membalikkan tubuhnya membelakangi Zidan untuk meninggalkan Zidan, namun Zidan menahannya dengan menarik tangannya.
“Sila, kau bilang kau menerimaku meskipun kau tidak mencintaiku, tapi kenapa kau berubah sekarang? Aku tidak setuju dengan keputusanmu. Aku tidak akan membatalkan pertunangan kita!” kata Zidan dengan tegas. Saat itu, Sila masih berdiri membelakangi Zidan, yang tangannya masih di pegang oleh Zidan.
Sila menoleh, kemudian berkata: “Setuju tidak setuju. Aku tetap tidak mau menikah denganmu!”
__ADS_1
“Apa kau begini, karena David, hah. Kau tidak mau menikah denganku, karena kejadian itu, kan, Ya, kan?” tanya Zidan yang tidak terima dengan keputusan Sila.
Sila menghela nafasnya dengan kasar. Rasanya ia sudah tidak tahan dengan Zidan yang tidak mengerti dengan posisinya.
“Ya, karena dia. Semuanya karena dia. Aku tidak mau menikah denganmu, karena aku tidak butuh rasa kasihanmu itu!” teriak Sila menatap Zidan dengan marah. “Aku tidak butuh dikasihani. Kau bisa mendapatkan gadis yang jauh lebih baik. Gadis yang bisa memberikan apapun yang kau inginkan. Kalau kau terus bersamaku, kau tidak akan bisa mendapatkan apapun dariku. Tidak ada, Kak Zidan. Tidak ada hal baik yang bisa kau temukan dariku!” kata Sila yang seketika menjatuhkan air matanya.
Zidan langsung memeluk tubuh Sila dengan erat saat ia melihat Sila menangis, namun saat itu Sila tidak membalas pelukan dari Zidan. Ia hanya berdiri kaku dengan tangisan yang jatuh di kedua pipinya.
“Sila, aku tidak butuh gadis manapun. Tidak masalah kau seperti apa sekarang. Aku tetap bersedia bersamamu. Dan aku tetap disisimu bukan karena aku kasihan dengan keadaanmu, tapi karena aku mencintaimu. Aku tidak mau orang lain. Aku mencintaimu dengan tulus, Sila!” Zidan melepaskan pelukannya, kemudian memegang kedua bahu Sila, menatapnya dalam – dalam. “Tolong, jangan anggap aku pria serendah itu, aku bukan David, Sila. Aku Zidan, orang yang tulus mencintaimu. Dan alasanku mencintaimu, karena kau adalah Sila. Meskipun, kau selalu mempermasalahkan dirimu yang sekarang, tapi aku tidak pernah masalah dengan hal itu!” lanjut Zidan.
Sila melihat Zidan dengan matanya yang berkaca – kaca memandang wajah Zidan, kemudian berkata: “Apa kau tidak waras. Apa kau bodoh?”
“Ya, kau benar. Aku bodoh, tidak waras. Semua itu, karena dirimu. Jadi, apa kau bersedia menerima orang bodoh dan tidak waras ini. Mungkin, tidak ada lagi gadis yang bisa menerima orang bodoh dan tidak waras sepertiku yang hanya mencintai Sila seorang!” kata Zidan.
Sila semakin menangis mendengar ucapan Zidan. Ia tidak menyangka kalau lelaki yang ada di depannya sekarang bisa sabar menghadapinya. Bahkan masih mencintainya, meskipun ia tidak bisa memberikan apapun pada Zidan.
Sila pun memeluk Zidan dengan erat. Ia begitu tersentuh dengan ketulusan cinta Zidan padanya.
“Kenapa kau memelukku? Apa ini artinya, kau bersedia menerimaku?” tanya Zidan yang masih bingung dengan tingkah Sila.
Zidan langsung tersenyum bahagia, mengangkat tubuh Sila, kemudian berputar – putar di sana dengan tawanya yang seketika pecah.
“Hei, apa yang kau lakukan? Aku pusing. Cepat turunkan aku!” teriak Sila yang semakin memeluk erat tubuh Zidan, karena ketakutan kalau dirinya sampai jatuh.
Zidan menghentikan aksinya, kemudian menurunkan Sila di depannya.
“Maaf ... maaf ... aku begitu senang sampai aku melakukan ini!”
“Iya, tapi kau membuatku pusing,” jawab Sila.
Zidan kembali memegang kedua bahu Sila, menatapnya dengan penuh cinta, kemudian berkata: “Sila, aku sangat berterima kasih, karena kau bersedia menerimaku!”
__ADS_1
“Harusnya aku yang berterima kasih, karena kau mencintai gadis sepertiku. Terima kasih Kak Zidan!” balas Sila sambil tersenyum.
Zidan memegang pipi Sila, dan berkata: “Aku tidak perlu rasa terima kasihmu. Selama kau berada disisiku. Aku tidak memerlukan apapun. Dan seperti yang pernah kukatakan. Kalau aku akan berusaha membuatmu mencintaiku!”
Sila kembali memeluk Zidan dengan erat. Merasakan ketulusan cinta dari Zidan. Ia yakin, kalau suatu hari hatinya pasti akan di penuhi dengan nama Zidan.
Sementara ke empat orang yang menyaksikan mereka sejak tadi ikut tersenyum bahagia. Saila dan Leon saling berpelukan melihat Sila dan Zidan berpelukan.
Ben yang melihat keempat orang yang saling berpelukan hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar. Ia kemudian menoleh melihat Riana yang terus menatap Sila dan Zidan dengan wajahnya yang tersenyum.
“Kau pasti mau memeluk seseorang, kan, melihat mereka berpelukan?” tanya Ben melihat Riana.
“Iya, seandainya aku membawa pacarku. Aku juga pasti ikut memeluknya!” jawab Riana yang terus memandang Sila dan Zidan dengan wajahnya yang tak pernah berhenti tersenyum.
“Kalau begitu, kau peluk saja aku. Kebetulan tidak ada yang bisa kupeluk!” kata Ben yang kembali bercanda, mencairkan rasa canggungnya berada di antara kedua pasangan yang sudah bahagia.
Riana menoleh, menatap tajam Ben, kemudian berkata: “Kak Ben itu seperti pria murahan saja!”
“Aku hanya bercanda padamu. Aku juga tidak sembarang memeluk orang. Kau itu sama seperti Sila. Haaaa .... bicaranya pedas. Hanya Saila yang bicaranya lembut. Hais ... tidak ada yang bisa di ajak bercanda disini!” kata Ben menggeleng – gelengkan kepalanya.
Riana tidak lagi menanggapi ucapan Ben, dan kembali menatap Sila dan Zidan.
Sementara Saila dan Leon yang bahagia melihat Sila dan Zidan, datang menghampiri mereka berdua.
Saila langsung memeluk Sila dengan erat. Ia sangat bahagia bisa melihat Sila akhirnya kembali normal, bahkan ia tidak menyangka kalau Sila bisa menerima Zidan kembali.
Setelah berpelukan, mereka kembali ke pinggir pantai untuk menikmati indahnya pantai sore hari. Mereka tertawa bahagia, bermain air, dan saling melempar air satu sama lain. Tidak ada lagi wajah sedih di wajah mereka, hanya ada tawa bahagia yang menghiasi wajah mereka masing – masing.
.
.
__ADS_1
.
.