SILA DAN SAILA

SILA DAN SAILA
Salah Besar


__ADS_3

Kini Leon tengah sibuk di dapurnya untuk memasak sendiri tanpa di temani pembantunya di sana. Ya, Villa itu memang tidak memiliki satu pun pelayan, tampak sangat sepi. Ia memasak banyak makanan di sana untuk ia makan bersama Saila.


Ditengah - tengah kesibukannya itu, datanglah sahabatnya yang bernama Ben. Ben berjalan masuk ke dalam Villa dengan langkah kaki yang tergesa - gesa. Ia langsung menghampiri Leon ketika ia mendengar suara orang bernyanyi di dapur.


"Lalalalala ... ." Terdengar suara nyanyiannya kalau ia tampak senang, menikmati kesibukannya memasak.


"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Ben saat ia sudah berada di dapur, tepat di depan meja dapur yang menghalangi antara ia dan Leon.


Leon menoleh sebentar ke arah Ben, kemudian fokus kembali dengan masakannya.


"Kau tidak lihat kalau aku sedang masak," jawaban Leon yang tampak enggan untuk menjawab pertanyaan sahabatnya.


"Aku mau mengatakan sesuatu, tentang gadis yang kau temui di restoran."


"Dia sekarang ada di kamarku," Balas Leon, kemudian menoleh melihat Ben. "Ada apa dengannya?" tanya Leon mengerutkan keningnya.


"Siapa yang ada di kamarmu?" tanya Ben memperjelas apa yang ia dengar dari Leon. Ia belum tahu kalau Saila berada di dalam Villa itu.


Leon menjawab, "Sila ... ."


"Apa?" Ben tampak terkejut mendengar Saila ada di kamar Leon.


Leon menoleh. "Kenapa kau kaget begitu?" tanya Leon sambil memicingkan matanya melihat Ben.


"Kau yakin, gadis yang ada di kamarmu adalah Sila," Ben bertanya pada Leon sambil mengerutkan keningnya.


Leon langsung menghentikan kesibukannya, kemudian menoleh ke arah Ben, menatap sahabatnya dengan serius.


Kedua tangannya bertumpu di meja dapur yang menghalanginya dari Ben. "Apa maksudmu itu?" tanya Leon.


"Aku sengaja datang ke sini setelah tahu tentang berita yang aku dapatkan dari seseorang," jawab Ben.


"Berita apa?" tanya Leon.


Ben langsung meyodorkan HP-nya di depan Leon. "Lihat lah ... ."


Leon meraih HP Ben, membuka layarnya, kemudian melihat apa yang ada di sana?


Seketika wajahnya terkejut sesaat setelah melihat apa yang ada layar HP Ben.

__ADS_1


Ia kemudian mengangkat bola matanya melihat Ben. "Darimana kau mendapatkan ini?" tanya Leon mengerutkan keningnya. Ia masih belum yakin 100 persen ketika melihat data - data Sila di layar HP Ben.


"Saat kau bertengkar dengan seorang pria di restoran karena Sila. Aku mencoba mencari tahu latar belakang gadis itu. Dan ternyata Sila yang selama ini kau cari adalah anak dari pengusaha kaya terkenal disini. Dia punya saudara kembar bernama Saila dan adik laki - laki!" jelasnya dengan serius menatap Leon.


Leon kaget mendengar penjelasan Ben, ditambah data yang ia lihat di layar HP Ben. Ia terdiam di sana, mencerna semua yang ia dengar itu. Tiba - tiba ia teringat ketika Saila mengatakan padanya kalau ia bukanlah Sila melainkan Saila saudara kembar Sila.


Ia kembali mengangkat bola matanya melihat Ben, mereka sama - sama saling melihat.


"Ada apa?" tanya Ben saat melihat ekspresi Leon.


"Sepertinya aku sudah salah orang," jawab Leon.


"Apa maksudmu?" tanya Ben.


"Oh My God!" Dengan ekspresi yang masih kaget, matanya sampai melotot mengingat Saila. Ia tersadar kalau ia habis memperkosa gadis muda itu.


"Ada apa?" tanya Ben yang semakin penasaran.


"Gadis yang sudah aku tiduri bukan Sila, tapi Saila," jawab Leon.


Ben langsung berdiri dari tempat duduknya. "Kau bilang apa tadi?" tanya Ben lagi lagi memperjelas yang ia dengar.


Melihat ekspresi Leon, Ben langsung mengerti. Ia ikut menghela nafasnya melihat Leon, kemudian kembali bicara.


"Kau sudah gila ya. Kau melakukan itu pada gadis muda!" seru Ben.


"Aku sangat membencinya saat aku mendengar, kalau dia lebih memilih pria lain dibandingkan aku. Tapi aku malah melakukan kesalahan yang sangat besar. Aku malah meniduri orang yang salah," Jelas Leon.


"Jadi sejak awal kau memang mau melakukannya pada gadis yang kau kira Sila," tanya Ben kembali.


Leon mengangguk. "Aku tidak suka dia lebih memilih pria lain," jawab Leon.


Ben menggeleng - gelengkan kepalanya tanpa melihat Leon. "Kau benar - benar sudah gila!" seru Ben. Ia kemudian melihat Leon. "Terus, apa yang akan kau lakukan sekarang?"


"Aku tidak tahu, aku sangat bingung. Pantas saja dia bilang tidak kenal denganku. Ternyata dia bukan Sila tapi Saila. Ya tuhan," ucap Leon.


"Menurutku, kau sebaiknya bertanggung jawab pada anak orang. Dia masih muda Leon, tapi kau malah menghancurkan masa depannya."


"Aku tahu, aku salah. Salah besar," ucap Leon sambil menunduk, merenungi kesalahannya sejenak.

__ADS_1


Tak lama kemudian, ia kembali menatap Ben sahabatnya. "Lalu apa yang harus kulakukan padanya. Aku sama sekali tidak mencintai siapapun selain Sila?" tanya Leon.


"Kau harus menikahinya. Jangan lari dari masalah. Kau sendiri yang sering mengatakan kalau setiap kesalahan harus dipertanggung jawabkan. Sekarang kau harus bertanggung jawab padanya, meskipun kau tidak mencintainya," jawab Ben.


Leon menghela nafasnya dengan kasar. "Aku benar - benar bersalah pada gadis itu. Aku tidak tahu harus mengatakan apa?" Leon sangat menyesal dengan semua yang sudah terjadi, namun itu sudah terlanjur. Itu kesalahannya sendiri yang tidak mencari tahu baik - baik.


"Anggap saja dia adalah Sila. Mereka kan kembar, wajah mereka susah untuk dibedakan," ucap Ben.


"Hei, walaupun wajah sama, tapi sifat tidak mungkin sama. Gadis itu juga tidak suka padaku. Dia punya tunangan sendiri!" seru Leon.


"Kau pikir dia masih bisa bersama dengan tunangannya sekarang setelah kau menodainya. Gadis itu pasti hancur akibat perbuatanmu itu," balas Ben.


Leon tampak diam mendengar ucapan Ben. Ia tidak bisa mengatakan apa - apa lagi pada sahabatnya itu, mengingat kalau ia memang salah, ditambah ia salah mengenali orang. Ia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya pada Saila.


Sementara dari dalam kamar Leon, Saila sudah berpakaian dengan kemeja Leon yang ia kenakan. Itu karena ia tidak bisa memakai pakaiannya yang sudah di robek Leon. Ia mencoba kabur dari sana setelah ia menemukan jendela kamar Leon. Ia keluar dari kamar Leon dengan melompat melalui jendela kamarnya. Untung saja, kamar yang di tempati Saila berada di lantai satu, jadi ia tidak terlalu susah untuk kabur dari sana.


Ia berusaha lari sesaat setelah ia berhasil keluar dari kamar Leon. Ia mempercepat larinya ketika ia sudah berada di luar Villa Leon dengan wajahnya yang khawatir jika saja Leon menemukannya.


Leon masih bicara dengan Ben di dapurnya tanpa menyadari kalau Saila sudah tidak ada di kamarnya.


"Baiklah, aku coba bicara pada gadis itu dulu. Kau tunggu saja di sini!" kata Leon sambil menepuk - nepuk bahu sahabatnya.


"Oke!" Balas Ben.


Leon pun melepaskan celemeknya, kemudian melemparkannya di meja, tepat di depan Ben. Ia keluar dari dapur, kemudian melangkahkan kakinya menuju kamarnya dimana Saila berada. Saat berada di depan pintu kamar, Leon terdiam sejenak mencoba mengatur nafasnya, menariknya dengan pelan lalu membuangnya secara perlahan. Ia membuka pintu kamarnya sesaat setelah ia berdiri terdiam di depan pintu. Ketika masuk ke dalam kamar, ia melihat sekeliling kamar mencari keberadaan Saila.


"Dimana gadis itu. Siapa ya namanya tadi?" Sambil berpikir. "Saila kan." Gumamnya sambil berjalan mencari Saila.


Leon pun memanggil Saila dengan nama aslinya. "Saila ... Saila ... ." Ia tidak melihat keberadaan Saila. Leon menoleh ke arah jendela. Ia melihat jendela kamarnya terbuka lebar. Ia berjalan ke arah jendela, lalu tersadar kalau Saila sudah kabur dari sana. "Sial ... dia sudah pergi. Bagaimana aku harus bicara padanya?" Gumamnya.


Leon hanya bisa berdiri menatap luar jendela sambil memejamkan matanya disana.


.


.


.


Barsambung.

__ADS_1


__ADS_2