
Hari ini Sila dan Saila berangkat ke Prancis untuk honeymoon bersama – sama dengan pasangan mereka. Saila sempat menolak untuk pergi karena bayinya masih beberapa bulan, namun karena seluruh keluarga juga berniat untuk liburan sama – sama, Saila setuju untuk pergi.
Apalagi Sila ingin sekali bisa liburan bersama saudara kembarnya itu. Terpaksa Saila menuruti keinginan saudara kembarnya. Ia dan Leon berangkat ke Prancis dengan membawa bayi mereka ke sana, bahkan membawa perawat untuk membantunya menjaga bayi mungilnya.
.
.
.
Kini mereka sudah berada di Prancis setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan. Mereka tinggal di Villa milik keluarga Mahesa, yang letaknya dekat pinggir laut, sedangkan keluarganya yang lain berada di rumah keluarga Leon. Mereka sengaja tinggal di sana karena mau memberikan kedua pasangan itu waktu untuk bersama.
Mereka baru sampai satu hari yang lalu, dan hari ini Sila dan Saila berencana double date bersama pasangan mereka masing - masing.
“Sila, apa kau di dalam?” tanya Saila sambil mengetuk ngetuk pintu kamar Sila.
“Masuk saja Saila!” teriak Sila yang ada di dalam kamarnya.
Saila pun masuk ke dalam kamar Sila setelah mendengar suara dari saudara kembarnya. Ia berjalan cepat menghampiri Sila yang tengah duduk berdandan di depan cermin kaca kamarnya, kemudian memberikan pakaian miliknya pada Sila.
__ADS_1
“Apa ini?” tanya Sila bingung.
“Itu gaun pemberian Mas Leon yang rencananya akan ku pakai. Sekarang kau yang harus memakainya,” jawab Saila.
“Kenapa kau menyuruhku memakai baju pemberian suamimu?” tanya Sila.
Saila langsung membisikkan sesuatu di telinga Sila yang membuat Sila berdiri syok.
“Apa kau bilang? Kau sudah gila ya. Darimana kau mendapat ide seperti itu!” kata Sila dengan nada suaranya yang terdengar keras.
“Ide dari Kak Ben. Katanya Kak Zidan dan Mas Leon tidak bisa mengenali kita kalau kita bertukar posisi. Aku sangat kesal Kak Ben mengatakan kalau suamiku tidak bisa mengenaliku, jadi aku penasaran dan ingin mencobanya!” kata Saila yang terpengaruh dengan kata – kata Ben.
“Tentu saja. Aku memikirkan ini sepanjang hari. Ah sudahlah ... lakukan saja seperti yang kukatakan. Aku juga mau mengerjai kedua pria yang selalu membanggakan kesetiaannya itu!” kata Saila dengan tampangnya yang sangat percaya diri dengan rencana konyolnya pada suaminya dan suami Sila.
Saila menghela nafasnya, kemudian berkata: “Oke ... baiklah, kita ganti pakaian sekarang.”
Sila pun masuk ke dalam ruang gantinya untuk berganti pakaian dengan pakaian Saila, begitu juga dengan Saila yang ikut berganti pakaian dengan pakaian Sila.
Selesai berganti pakaian, mereka berdua keluar bersama – sama dengan penampilan mereka yang tertukar.
__ADS_1
“Terus, apa yang akan kau lakukan kalau mereka menyadari kita sedang mengerjainya?” tanya Sila.
“Tidak masalah. Itu berarti Kak Ben salah. Tapi kau harus menjadi diriku, begitu juga aku, aku akan berusaha seperti dirimu,” jawab Saila yang begitu ingin membuktikan ucapan Ben.
“Oke baiklah, ayo sekarang kita keluar, Kak Zidan dan suamimu pasti sudah mengomel – ngomel di bawah karena kita sangat lama,” kata Sila.
“Iya,” jawab Saila.
Sila dan Saila pun keluar dari kamar, dan berjalan ke bawah dengan meniru gaya yang bukan dirinya. Di bawah sudah terlihat Leon dan Zidan sedang duduk di sofa menunggu kedatangan para istrinya itu. Mereka berdua tengah asyik mengobrol merencanakan tempat mana yang akan mereka kunjungi untuk menghabiskan waktunya bersama istri - istri mereka.
.
.
Bersambung
.
.
__ADS_1