SILA DAN SAILA

SILA DAN SAILA
Aku tidak akan pergi


__ADS_3

Setelah melihat mobil ibu mertuanya melaju meninggalkan Rumah Sakit. Leon segera bangun dari tempatnya, kemudian buru – buru menuju mobilnya untuk menyusul Saila di Rumah Kediaman Mahesa. Ia harus meminta maaf pada ayah dan ibu mertuanya. Ia tidak mau menunda - nunda waktu kalau menyangkut masalah dirinya dan Saila.


Ia dipenuhi rasa ketakutan, namun bukan ketakutan karena akan dipukuli atau di habisi ayah mertuanya, melainkan takut kalau sampai Tuan Bima tidak memaafkannya dan malah memisahkannya dari Saila. Membayangkannya saja membuat ia semakin takut. Ia menyetir mobilnya dan melajukan mobilnya dengan cepat. Rasa paniknya itu membuat ia semakin melajukan mobilnya menuju Kediaman Mahesa.


Tak lama kemudian, mobil Leon telah sampai di depan pagar Kediaman Mahesa. Ia membunyikan klakson mobilnya agar pintu pagar Kediaman Mahesa terbuka, namun pintu pagar itu sama sekali tidak terbuka, sampai akhirnya ia turun dari mobilnya dan berlari ke arah pintu pagar rumah Kediaman Mahesa.


Ia menghampiri pengawal yang tengah berjaga di sana, untuk meminta masuk ke dalam. Leon memegang pintu pagar besi hitam yang membatasi dirinya dengan pengawal Rumah Mahesa.


“Apa kau bisa membuka pagarnya sekarang? Aku ingin bertemu dengan Saila dan ayah!” kata Leon dengan serius.


“Maaf Tuan Leon. Tuan Besar tidak membiarkan siapapun masuk. Kami hanya menjalankan perintah dari tuan!" balas pengawalnya itu.


Dari arah dalam rumah, terlihat Sila yang berlari menghampiri Leon di luar pintu pagar.


“Pak, tolong buka pagarnya. Biarkan dia masuk!” perintah Sila saat ia sudah berdiri di depan pagar rumahnya.


“Tapi nona,  Tuan besar-


“Aku bilang buka ya buka. Apa kau tidak dengar?” bentak Sila memotong ucapan pengawalnya.


“Baik!” Pengawal itu segera membuka pintu pagarnya, dan Leon pun langsung masuk ke dalam .


Baru beberapa langkah Leon masuk, tiba – tiba langkahnya terhenti saat melihat Tuan Bima berjalan menghampirinya bersama asistennya.


“Siapa yang mengizinkanmu masuk ke rumah?” tegas Tuan Bima sambil berjalan menghampiri Leon dan Sila.


“Ayah ... aku yang menyuruhnya masuk!” jawab Sila.


“Sila ... beraninya kau membantah ayahmu ya. Aku sudah bilang, kalau siapapun tidak boleh masuk


ke dalam rumahku. Kau melawanku karena laki – laki bejat itu!” teriak Tuan Bima dengan marah.


Seketika Sila menunduk ketakutan di depan ayahnya dengan tangannya saling menggenggam.


Leon yang melihat Sila menunduk, merasa bersalah pada gadis itu. Ia kembali berjalan satu langkah, kemudian berkata: “Ayah, jangan salahkan Sila. Aku yang memaksa masuk. Aku ingin bertemu dengan Saila!”


“Diam kau. Apa aku bicara padamu? Aku sedang bicara pada anakku! Siapa kau?” teriak Tuan Bima.


Leon kaget mendengar teriakan ayah mertuanya. Seketika ia kembali berlutut di depan Tuan Bima, memohon pengampunan seperti yang ia lakukan tadi pada ibu mertuanya.

__ADS_1


“Ayah ... aku datang kesini untuk meminta maaf atas kesalahanku. Aku sudah berbohong. Tolong maafkan kesalahanku. Tapi, aku benar - benar mencintai Saila. Semua janji yang pernah kukatakan itu sungguh – sungguh!” ucap Leon meminta maaf pada ayah mertuanya dengan ekspresi rasa bersalahnya.


“Berdiri kau!” perintah Tuan Bima dengan tegas.


Leon terdiam sejenak menatap ayah mertuanya dengan heran. Apa ayah mertuanya sudah memaafkan dirinya? Pikirnya. Leon pun mulai menggerakkan tubuhnya untuk berdiri.


Seketika pukulan Tuan Bima di wajah Leon langsung mendarat membuat pria bertubuh atletis itu tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya. Itu karena ia tidak siap menerima pukulan dari Tuan Bima.


Saat itu, Sila kaget melihat ayahnya memukul Leon sampai Leon terjatuh. Ia secara refleks menutup mulutnya dengan mata lebarnya.


“Berdiri!” perintah Tuan Bima kembali.


Leon kembali berdiri tegak di depan ayah mertuanya. Dan lagi – lagi Tuan Bima memukul wajahnya, namun kali ini Leon tidak jatuh lagi. Ia sudah bisa menyiapkan tubuhnya menerima pukulan ayah mertuanya, membiarkan Tuan Bima melampiaskan semua amarahnya.


Sila maju memegang lengan ayahnya, menahannya untuk tidak memukul Leon.


“Ayah, jangan pukul lagi. Aku mohon maafkanlah Kak Leon!” kata Sila memohon sambil menangis.


Tuan Bima menoleh ke salah satu pengawalnya. “Hei kau, bawa nona kalian masuk ke dalam!” perintah Tuan Bima.


Dengan cepat, kedua pengawalnya langsung menarik paksa Sila masuk. Tentu saja Sila menuruti mereka meskipun ada sedikit perlawanan darinya. Itu karena ia tidak bisa melawan kedua pengawal yang memegangnya dan memaksanya masuk ke dalam.


Tuan Bima tidak peduli dengan teriakan anaknya. Ia kembali menatap dingin Leon yang masih berdiri di depannnya dengan wajah Leon yang terlihat memerah, karena bekas pukulan darinya. Ia kemudian menoleh ke samping, melihat asistennya.


“Ken, usir dia dari sini. Aku tidak mau melihat dia berada di sini, apalagi di sekitar anak – anakku!” tegas Tuan Bima.


“Baik tuan.” balas Ken sambil membungkuk.


Ken melangkah mendekati Leon, dan memegang lengan Leon untuk menarik paksa Leon keluar dari sana.


"Ayo, kau harus pergi dari sini!" kata Ken menarik paksa tangan Leon.


Namun Leon tidak ingin bergerak, tidak ingin pergi dari rumah Kediaman Mahesa sebelum ayah mertuanya memaafkan kesalahannya.


“Ayah, aku tidak akan pergi dari sini. Aku akan berlutut disini sampai aku bertemu dengan Saila. Ijinkan aku bertemu dengan Saila, Ayah!” ucap Leon memohon.


Bruukk ... pukulan keras dari Tuan Bima kembali mendarat di wajah Leon, namun lelaki berumur 33 tahun itu berusaha untuk menjaga tubuhnya agar tetap tegak. Hanya kepalanya yang seketika bergerak ke samping saat menerima pukulan ayah mertuanya, bahkan darah yang keluar dari sudut bibirnya tidak ia sentuh. Ia biarkan begitu saja.


“Berani sekali kau memerintahku!” kata Tuan Bima yang sangat marah dengan Leon. Ia sudah sangat muak dengan menantu laki – lakinya itu.

__ADS_1


Seketika Leon kembali berlutut di depan Tuan  Bima meminta pengampunan. Ia tidak akan pergi dari rumah itu sebelum Tuan Bima memaafkannya dan menerimanya kembali. Ia tetap kekeh pada pendiriannya.


Tuan Bima semakin geram. Bagaimana bisa ada lelaki yang sangat keras kepala seperti Leon, bahkan pukulannya tidak mempan pada lelaki itu. Leon masih tetap kekeh untuk berada di sana.


Tuan Bima terus menatap Leon dengan dingin, kemudian berkata: “Mulai hari ini kau harus meninggalkan putriku. Pria sepertimu tidak pantas bersama anakku!”


Leon tertegun mendengar ucapan ayah mertuanya, ia tidak menyangka kalau Tuan Bima benar – benar sangat membencinya sampai mau memisahkannya dari Saila.


“Ayah, aku tidak akan pernah meninggalkan Saila. Dan aku tidak akan pernah pergi dari sini sebelum mendapat pengampunan darimu. Maafkan aku, ayah. Tolong jangan pisahkan aku dengan Saila. Aku sangat mencintainya!”


“Pergi dari sini. Jangan muncul di hadapanku lagi. Pergi kau!” teriak Tuan Bima dengan tegas.


“Aku tidak akan pergi!” jawab Leon dengan wajah kesedihan yang ia tunjukkan di depan ayah mertuanya.


“Apa kau ingin mati?” kata Tuan Bima.


Leon terdiam menunduk tak menjawab ucapan ayah mertuanya. Apapun yang terjadi, ia akan tetap berada di sana sampai ayah mertuanya membiarkannya bertemu dengan Saila, sampai Tuan Bima memaafkannya dan membiarkannya bersama Saila.


Tuan Bima semakin geram dengan Leon yang sangat keras kepala sampai ia sendiri tidak bisa menahan amarahnya untuk kembali memukul menantunya itu.


“Ken, berikan tongkat bisbolku. Aku akan memberi pelajaran pada anak kurang ajar ini!” perintah  Tuan Bima.


Ken langsung mengangkat kepalanya, melihat Tuan Bima dengan ekspresi kaget, kemudian berkata: “Tuan!” Ken sudah tahu kalau Tuan Bima sudah meminta barangnya itu, maka ia sudah semakin marah.


“Apa kau tidak mendengarku? Dia ingin mati! Aku harus mengabulkan permintaannya!” kata Tuan Bima.


Sementara di lantai 2.


Saila terus menggedor – gedor pintu kamarnya, meminta untuk dikeluarkan dari kamarnya.


“Ibu, ayah. Buka pintunya. Apa yang terjadi? Kenapa kalian tidak ada yang menjawabku?” teriak Saila.


Tiba – tiba pintu kamar Saila terbuka. Ia melihat ibunya sudah berdiri tepat di hadapannya.


“Ibu ... kenapa ayah tidak mengijinkanku pulang ke rumah Mas Leon. Mas Leon pasti sangat khawatir. Aku mau bertemu dengannya bu. Aku tiba - tiba khawatir dengan Mas Leon!” kata Saila dengan sedih.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2