SILA DAN SAILA

SILA DAN SAILA
Aku bisa memberikanmu senyuman


__ADS_3

Kini mobil Leon berhenti di sebuah jalanan sepi. Dimana tidak banyak orang yang lalu lalang di sana?


Saat Leon tidak sengaja bertemu dengan Sila di kampus tadi, Leon sempat bicara biasa dengan Sila. Sampai akhirnya Sila permasalahkan Leon yang membohongi dirinya tentang statusnya dulu yang seorang pria miskin.


Leon terpaksa harus membawa Sila meninggalkan kampus saat melihat Sila sudah mulai meninggikan suaranya.


Namun alasan utama Leon membawa Sila pergi tanpa Saila, karena Leon ingin menjelaskan semuanya pada Sila terlebih dahulu, membuat Sila mengerti akan situasinya sekarang yang sudah menikah dengan Saila, menjelaskan pada gadis 20 tahun itu tentang kesalahan yang sudah ia lakukan pada Saila.


Leon tidak mau menghancurkan hubungan persaudaraan mereka karena kesalahan yang ia lakukan.


***


Sila terlihat heran melihat Leon menghentikan mobilnya ditempat sepi.


“Kak Leon, kenapa kamu membawaku ke sini?” tanya Sila melihat Leon yang saat itu tidak menatapnya.


Leon langsung keluar dari mobilnya tanpa menanggapi ucapan Sila, kemudian berjalan menghampiri pintu mobil sebelah yang diduduki Sila. Ia membuka pintu mobilnya, menarik tangan Sila keluar dari mobilnya.


Mereka berdua berdiri berhadapan, saling menatap satu sama lain.


“Disini kau bisa bebas berteriak dan mengatakan semua yang mau kau katakan!” ucap Leon menatap Sila dengan serius.


“Aku bertanya tadi. Kenapa Kak Leon membawaku bicara disini?” tanya Sila yang masih penasaran dengan jalan pikiran Leon, tidak mengerti, kenapa ia di bawa kesini, di tempat sepi?


“Aku membawamu kesini karena tidak suka bertengkar di depan banyak orang. Kalau disini, kau bisa berteriak semaumu tanpa di perhatikan orang lain. Aku juga memberimu kesempatan untuk mengatakan yang mau kau katakan sekaligus meluruskan kesalahpahaman yang terjadi di antara kita setahun lalu. Dan aku juga ingin menjelaskan sesuatu padamu!” jelas Leon.


“Apa yang Kak Leon mau jelaskan padaku?” tanya Sila penasaran.


“Sebelum aku jelaskan. Kau bicara dulu yang mau kau katakan tadi!” pinta Leon.


Sila menghela nafasnya sambil memejamkan matanya di sana, mencoba menenangkan dirinya sebelum meminta maaf pada Leon tentang kesalahannya dimasa lalu.


Setelah tenang, Sila kembali menatap serius Leon yang berdiri menunggu penjelasannya.


“Kak Leon!” Sila memanggil nama Leon, kemudian diam sejenak dengan perasaan gugup jika Leon tidak menerima permintaan maafnya, dan kesalahannya di masa lalu. Ekspresinya juga takut jika lelaki dewasa di depannya itu tidak mau menerimanya lagi.


“Katakan, Sila!” pinta Leon.


Sila kembali menggerakkan bibirnya untuk bicara pada Leon, menatap Leon dengan penuh tatapan sedih.


“Aku minta maaf, karena sudah meninggalkanmu dulu. Aku benar – benar salah dan egois. Aku sangat menyesal sudah berbuat seperti itu. Tolong maafkan aku Kak Leon!" ucap Sila meminta maaf, menyesali perbuatannya.


Saat itu, Sila menatap Leon yang tampak diam melihatnya dengan ekspresi yang tidak bisa Sila tebak.

__ADS_1


"Apa kita bisa kembali seperti dulu?” Lanjut Sila bertanya pada Leon, saat Leon diam membisu tak membalas ucapannya tadi.


Tiba - tiba sudut bibir Leon bergerak. Ia tersenyum sinis setelah mendengar ucapan Sila, bukan tersenyum sinis karena mendengar Sila meminta maaf, namun karena ucapan Sila yang ingin kembali padanya. Bagaimana bisa gadis itu dengan mudah meminta kembali padanya? Pikirnya.


Leon menghentikan senyum sinisnya.


“Aku bisa memaafkanmu dan berusaha melupakan masa lalu, Sila. Tapi, aku tidak bisa kembali padamu atau pun kembali seperti di masa lalu,” jawab Leon melihat Sila.


“Kenapa?" tanya Sila sambil memegang kedua lengan Leon. "Apa karena kesalahanku yang sudah meninggalkanmu? Kak Leon sudah memaafkanku, kan?” Dengan tatapan sedihnya melihat Leon.


Leon diam, tak tahu harus mengatakan apa? Tidak tahu harus memulai dari mana menjelaskan keadaannya yang sekarang?


“Kak Leon, saat aku tahu tentang kebohonganmu itu, aku bisa terima. Tapi, kenapa kau tidak bisa menerima kesalahanku dimasa lalu, dan kembali seperti dulu?” lanjut Sila kembali yang tidak terima penolakan Leon.


“Apa kau permasalahkan saat aku bohong, tentang kehidupanku yang miskin?” tanya Leon.


“Iya, Kak Leon membohongiku kalau Kak Leon itu miskin dan tidak punya apa – apa selama enam bulan kita pacaran. Kalau saja aku tidak mencari Kak Leon beberapa bulan yang lalu, mungkin sampai sekarang aku tidak tahu tentang Kak Leon. Seharusnya kita impas, bukan?” ucap Sila.


Leon kembali tersenyum sinis dengan kepala sedikit menunduk.


Bagaimana bisa Sila menyamakan kesalahannya sendiri dengan kebohongan Leon, yang menurut Leon itu hal kecil tidak bisa disamakan dengan keegoisan Sila yang meninggalkannya begitu saja?


Ia terdiam sejenak, kemudian menghentikan senyum sinisnya, dan kembali menatap Sila.


“Apa kau tahu? Apa yang sudah kulakukan demi mencarimu selama ini? Kau tidak tahu, kan?” lanjut Leon. Leon sudah mulai kesal dengan Sila.


“Biar kujelaskan semuanya. Saat kau pergi, aku sudah menyiapkan kejutan untuk melamarmu. Aku bahkan menyiapkan pesta untukmu. Dan saat itu, aku mau mengatakan tentang kebohonganku padamu, Sila. Tapi, kau pergi begitu saja tanpa mengucapkan apapun. Dan selama ini aku mencarimu kemana - mana seperti orang gila? Aku bahkan membuat kesalahan besar pada seseorang. Sekarang kau muncul, dan dengan mudahnya kau katakan mau kembali. Wah ... Sila, kau benar – benar gadis yang egois!” ucap Leon yang marah dengan Sila.


“Aku sungguh minta maaf karena sudah meninggalkan Kak Leon. Aku minta maaf, aku menyesal. Aku sungguh menyesal. Aku tidak sadar kalau aku sangat mencintai Kak Leon. Aku minta maaf!” ucap Sila menyesali perbuatannya pada Leon.


Seketika, Sila meneteskan air matanya saat mengucapkan penyesalannya pada Leon, apalagi saat melihat ekspresi dingin Leon padanya.


“Seperti yang kukatakan tadi. Aku memaafkanmu, tapi aku tidak bisa kembali lagi denganmu, Sila!”  tegas Leon.


“Kenapa? Bukannya Kak Leon mencariku selama ini. Aku sudah ada di hadapanmu sekarang. Lalu apa yang membuat Kak Leon tidak mau menerimaku kembali?” tanya Sila dengan wajahnya yang sudah di penuhi air mata.


Leon memejamkan matanya sejenak, mencoba menenangkan emosinya, kemudian menatap kembali Sila disana.


“Sila, sejak kau pergi. Aku memang selalu mencarimu untuk tahu alasan kau pergi. Tapi ... selama satu bulan ini, aku tidak memikirkan itu lagi. Aku berpikir kalau kau kembali di hadapanku seperti sekarang ini, aku bisa memaafkanmu, aku bisa memberikanmu senyuman, tapi tidak bisa memberikanmu sebuah pelukan lagi seperti dulu!” jelas Leon menatap Sila.


Seketika kepala Sila menunduk dengan isak tangisnya yang semakin membanjiri pipi mungilnya.


Sila kemudian berlutut di depan Leon, memohon belas kasihan dari lelaki tampan itu untuk memaafkannya dan menerimanya kembali. Ia sangat mencintai Leon. Karena rasa cintanya itu sampai ia membuang rasa gengsinya didepan Leon.

__ADS_1


“Sila ... apa yang kau lakukan?” teriak Leon yang kaget melihat Sila berlutut di hadapannya.


“Kak Leon, maafkan aku. Aku salah, maafkan aku!” Sila terus memohon pada Leon diiringi isak tangisnya di depan Leon.


Leon terlihat tidak tega melihat gadis yang dulu mengisi hatinya berlutut di hadapannya. Ia memejamkan matanya sejenak, kemudian berjongkok di depan Sila, lalu memegang kedua bahu gadis sexi itu.


“Sila ... aku memaafkan semua yang kau lakukan dan akan melupakan masa lalu. Tapi, aku benar – benar tidak bisa kembali denganmu!” jelas Leon dengan nada pelan dan lembut di depan Sila.


Kali ini nada bicara Leon terdengar lembut dan tatapannya tidak lagi dingin seperti tadi, agar gadis yang ada di depannya itu merasa tenang dan tidak sedih.


Sila mengangkat kepalanya menatap Leon. “Kenapa?” tanya Sila dengan air mata yang membanjiri pipinya.


Leon menghapus air mata di kedua pipi Sila, kemudian kembali memegang bahu Sila, menatap serius wajah Sila.


“Aku sudah membuat kesalahan besar pada seseorang. Dan aku harus mempertanggung jawabkan kesalahanku padanya!” tutur Leon.


Sila hanya menatapnya dengan tatapan bingung, tidak mengerti apa yang di maksud Leon?


Leon kembali melanjutkan ucapannya ketika ia melihat Sila menatapnya dengan bingung.


“Sila, aku tidak bisa memberikan yang kau minta itu.”


“Kenapa tidak bisa Kak Leon?” tanya Sila yang semakin penasaran.


 “Karena aku sudah menikah!”


Sila syok mendengar pengakuan Leon. Matanya melotot tak percaya.


“Tidak mungkin. Kak Leon pasti membohongiku, kan. Iya, kan?” tanya Sila tidak percaya dengan pengakuan Leon.


“Aku serius. Aku tidak membohongimu, Sila. Aku sudah menikah,” jawab Leon dengan tatapan sedih dan kasihan pada Sila.


Rasanya Leon tidak tega kalau harus menghancurkan hati gadis yang pernah ia cintai itu, namun ia harus mengatakan semuanya pada Sila.


.


.


.


Bersambung


.

__ADS_1


Hai sayang2ku. Thanks you ya yang sudah vote, like and komen. Maaf ya aku ngga bisa balas komen kalian cm bisa baca, intip2 satu2 kalau lagi ngga mood nulis. Biar semangat nulis lagi buat kalian.🤗😍. Love you se-lapangan buat kalian😘😘😘😘


__ADS_2