SILA DAN SAILA

SILA DAN SAILA
Dia mencintaimu


__ADS_3

Di kamar Sila.


Sila dan Saila sudah berada di dalam kamarnya, mereka berdiri berhadapan, menatap satu sama lain.


“Kau mau bicara apa?” tanya Sila penasaran.


“Sila, aku tahu kalau kau tidak suka dengan Kak Zidan. Kau tidak pernah menyukainya. Lalu kenapa sekarang kau setuju menikah dengan Kak Zidan. Apa kau melakukan semuanya karena aku?” tanya Saila sambil memegang kedua lengan Sila, menatap Sila dengan sedih.


Sila terlihat diam menatap Saila.


“Sila, cepat katakan. Jangan diam saja!” lanjut Saila.


Sila melepaskan kedua tangan Saila dari lengannya, kemudian memegang kedua tangan Saila.


“Aku melakukannya bukan karena kau. Itu sama sekali tidak ada hubungannya denganmu, Saila,” jawab Sila.


“Tapi aku bisa melihat dari matamu, kalau kau tidak mencintai Kak Zidan. Aku bisa melihatnya, Sila. Tolong jangan siksa dirimu sendiri. Aku mohon. Aku akan semakin bersalah kalau kau seperti ini!” jelas Saila dengan sedih.


Sila melepaskan tangannya dari kedua tangan Saila, kemudian berjalan dua langkah sambil membelakangi Saila.


Sila menghentikan langkahnya saat sudah menjauh dari Saila. Ia berdiri membelakangi Saila di sana.


“Saila, aku akan jujur padamu. Aku memang tidak mencintai Kak Zidan, tapi ayah dan ibu sudah mengambil keputusan untuk menjodohkanku dengannya. Pilihan ayah dan ibu pasti adalah yang terbaik. Lagi pula aku tidak pintar dalam memilih pasangan. Dulu aku pikir kalau aku gadis yang bisa melihat sifat orang dengan mudah, tapi ternyata tidak!” Sila kembali membalikkan badannya berhadapan dengan Saila.


“Aku salah, aku gadis yang tidak tahu apa – apa, dan hanya mementingkan diriku sendiri tanpa peduli dengan perasaan orang. Yang aku pikirkan hanya kebahagiaanku saja, dan aku menyesali semua itu. Jadi kumohon, jangan merasa bersalah terus pada orang egois sepertiku, Saila. Aku tidak suka kalau kau begitu!” lanjut Sila.


“Sila!” Saila seketika menangis sedih di depan saudara kembarnya.


“Aku tahu apa yang kau pikirkan selama ini? Kau selalu berpikir kalau kau mengambil Leon dariku, benar, kan? Tapi yang salah adalah aku Saila. Dan selama beberapa hari ini aku berpikir, kalau Kak Leon bukan lagi orang yang aku harapkan!”


“Tapi kau mencintainya bukan?” tanya Saila.


“Aku memang mencintainya, tapi buat apa aku bersama orang yang tidak mencintaiku, Saila. Aku hanya akan tambah sakit hati kalau aku memaksakan diriku bersama orang yang sudah melupakanku. Kami berdua sudah tidak ada kemungkinan untuk bersama. Dia sudah menjadikanku masa lalunya, begitu juga denganku. Ketika aku berniat meninggalkannya dulu. Aku sudah menganggap dia mantan pacarku. Dan aku bahkan menjalin hubungan dengan orang lain setelah meninggalkan Kak Leon. Aku bersedia menikah dengan Kak Zidan, karena aku sudah lelah. Akan lebih baik kalau aku menikah dengan orang yang di pilihkan ibu dan ayah!” ucap Sila. Sila kemudian memegang kedua bahu Saila yang terlihat menangis sedih di depannya.


“Saila, jangan pedulikan aku. Aku tidak apa – apa. Aku hanya mau kau bahagia dan tidak sedih karena diriku. Aku hanya mau kita berdua bisa bahagia. Dan kau bisa mencintai Kak Leon. Aku bisa melihat di matanya kalau dia mencintaimu, Saila!” jelas Sila dengan matanya yang berkaca – kaca menatap Saila.


“Tidak Sila, dia tidak mencintaiku. Dia hanya kasihan karena sudah memaksaku sampai aku hamil begini. Dia masih mencintaimu!” ucap Saila yang masih menangis di depan Sila.

__ADS_1


“Kau salah. Dia tidak mencintaiku, Saila. Aku bisa lihat dari sikapnya kalau dia mencintaimu. Kak Leon memang bukan pria seperti lelaki di luar sana yang mengungkapkan perasaannya. Dia hanya menunjukkan dari sikapnya saja. Dan aku melihat semua itu dari sikapnya padamu. Dia bukan orang yang suka berpura – pura melakukan hal yang tidak dia sukai!” jelas Sila.


Saila langsung memeluk erat saudari kembarnya.


“Sila, kenapa kau berkorban seperti ini? Aku tidak mau kalau kau begini!” ucap Saila menangis di pelukan Sila.


“Hei, kau pikir aku berkorban. Aku Sila, tidak akan pernah berkorban pada siapapun. Aku hanya merasa kalau Kak Leon itu sudah tidak tampan lagi dimataku. Apalagi dia itu sudah tua. Kalau aku yang bersamanya, aku pasti akan ikut keriput. Jadi akan lebih bagus kalau kau saja yang mengurus lelaki tua itu!” goda Sila pada saudari kembarnya. Ia sengaja mengatakan candaan pada Saila agar Saila bisa tertawa dan tidak menangis. Dan agar Saila tidak menghawatirkan dirinya yang sebenarnya sangat terluka.


“Sila ... hiks ... hik ... hik ... kau masih bisa bercanda di saat aku sedih begini. Kau tega sekali!” ucap Saila yang semakin memeluk erat tubuh Sila.


“Sudah lah. Jangan dibahas lagi!” ucap Sila.


Saila hanya mengangguk di sana dengan tangisan yang masih membanjiri pipinya.


“Maafkan aku Saila, kalau aku sudah membuatmu menderita. Aku memang terpaksa menerima Kak Zidan, karena tidak mau kalau kau merasa bersalah padaku. Dengan begitu kau bisa merasa tenang. Apalagi kau menderita selama ini karena perbuatanku. Dan aku harus mengambil tindakan dengan menikahi Kak Zidan agar aku bisa menebus semua kesalahan yang aku lakukan padamu!” dalam hati Sila yang merasakan sakit di hatinya.


Seketika air matanya jatuh di pipinya, namun dengan cepat ia menghapusnya kembali agar Saila tidak tahu kalau ia sedang menangis.


Sila dan Saila memang saling menyayangi satu sama lain sejak mereka kacil. Dan di balik itu semua, ada peran ibu dan ayahnya yang membuat tali persaudaraan mereka menjadi kuat. Yasmin dan Bima selalu mengajarkan mereka sejak kecil untuk saling menyayangi satu sama lain, dan lebih mengedepankan tali persaudaraan mereka di banding hal lain.


Sila melepaskan pelukannya, kemudian memegang bahu Saila sambil menatap Saila sambil tersenyum.


“Tapi ... kau tidak patah hati, kan, kalau aku menikah dengan Zidan?” tanya Sila sambil tersenyum. Terlihat di wajahnya kalau ia sekarang sedang menggoda Saila, bercanda dengan saudara kembarnya itu.


“Apa sih kamu? Aku sudah melupakan Kak Zidan. Sekarang dia adalah tunanganmu!” ucap Saila.


“Kalau kau melupakan Kak Zidan, berarti kau menyukai Kak Leon ya?” tanya Sila sambil tersenyum melihat Saila.


Saila seketika menunduk malu di hadapan saudara kembarnya. Rasa sukanya pada Leon telah di ketahui Sila, dan itu membuat Saila malu di depan Sila.


“Sudah lah. Jangan katakan kalau kau malu. Karena tanpa kau beritahu pun, aku bisa lihat dari matamu kalau kau suka padanya,” ucap Sila.


Saila hanya diam mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tak ingin menunjukkan wajah malunya di depan Sila.


“Ayo kita keluar!” lanjut Sila sambil menarik tangan Saila keluar dari kamarnya.


Mereka berjalan menuruni tangga untuk kembali ke Ruang Keluarganya menemui kedua orang tuanya. Dan saat di lantai bawah, mereka berpapasan dengan Leon yang memang mau menyusul Saila.

__ADS_1


“Mas Leon kenapa kesini?” tanya Saila.


“Aku menyusul kalian. Ayah dan ibu mau bicara sebentar denganmu sebelum kita pulang,” jawab Leon.


“Oh. Baiklah. Kita ke sana!” ucap Saila.


Ia kemudian berjalan untuk menghampiri ayah dan ibunya, namun tangannya seketika di pegang Leon.


“Ada apa?” tanya Saila menoleh ke arah Leon.


Leon maju satu langkah, kemudian memegang atas kepala Saila. “Apa boleh aku bicara dengan Sila sebentar?” tanya Leon sambil tersenyum menatap istrinya.


“Boleh kok. Silahkan kalau Mas Leon mau bicara. Tidak apa – apa. Aku menemui ayah dan ibu dulu,” jawab Saila.


Leon pun mengangguk di depan Saila.


Saila menoleh ke arah saudara kembarnya. “Sila, aku temui ayah dan ibu dulu ya. Kau dan Mas Leon bisa menyusul nanti!” ucap Saila.


“Baiklah!” balas Sila.


Saila pun melangkah pergi meninggalkan Sila dan Leon yang berdiri di depan tangga saling berhadapan.


Terlihat di wajah Saila kalau dia sedikit penasaran dengan apa yang mau di bicarakan Leon pada Sila? Apa mungkin Leon tidak suka kalau Sila dan Zidan bertunangan? Dan Leon berniat menyuruh Sila untuk membatalkannya. Mengingat kalau Sila adalah wanita yang ia sukai sampai Leon pernah mencarinya kemana – mana?


.


.


.


Bersambung.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2