SILA DAN SAILA

SILA DAN SAILA
Melahirkan


__ADS_3

Dokter Kandungan Saila mulai membantu Saila mengejan setelah ia memeriksa keadaan pembukaannya tadi.


“Nyonya, ini sudah waktunya untuk Anda mengejan. Ambil nafas dalam - dalam dulu, lalu keluar, kan, perlahan – lahan. Sekarang lakukan seperti yang saya katakan tadi. Silahkan mulai dorong pelan - pelan, Nyonya!” kata Dokter kandungannya sambil membantu Saila untuk mengeluarkan bayinya.


“Aakkhh ... aakhhh ... huff ...huff ... aakkhh!” Saila mulai mengejan dengan pelan seperti yang dikatakan dokternya.


 “Bagus, sekali lagi nyonya. Dorong sekali lagi!” pinta dokternya kembali.


“Aakkhh ... aakhhh ... huff ...aakkhh!” Saila mengejan kembali, membuat Leon yang berada di sampingnya ikut mengejan seperti yang di lakukan istrinya.


Saat itu, Leon berdiri di samping kanan Saila, memegang erat tangan kanan istrinya dan tangan kirinya mengusap lembut kepala istrinya.


“Ya ... bagus ... dorong sekali lagi, Nyonya!” kata dokternya kembali memberikan arahan pada Saila.


“Haaa ... haaa ... Dok, aku sudah tidak kuat lagi. Rasanya sakit sekali. A-aku tidak tahan. Aakhh ... aakkhh ... huff ... haaaa!” Saila lagi – lagi mengejan dengan wajahnya yang sudah mulai kelelahan.


“Sabar nyonya. Tinggal sedikit lagi bayinya akan keluar!” balas dokternya mencoba menenangkan Saila.


Leon yang sejak tadi mengusap kepala Saila semakin khawatir melihat bayinya tidak kunjung keluar, apalagi Saila sepertinya sudah tidak sanggup lagi, dan mengeluh kesakitan.


“Dok ... sampai kapan istriku begini?” tanya Leon yang tampak sangat khawatir dan tidak sabaran.


“Sabar tuan, sedikit lagi!” balas Dokter kandungannya melihat Leon, kemudian kembali fokus pada bayi Saila yang sudah tampak di depannya. “Ayo nyonya, sekali lagi, lakukan dengan sekuat tenaga!”


“Aaaakkhhh ... aakhhh Huff ... huff ...Aaahkk!” Saila kembali mengejan dengan sekuat tenaga.

__ADS_1


“Ya bagus ... sekali lagi. Dorong sekali lagi!” kata dokternya.


"Aaakkhhh ... aakhhh ....aakhhh!" Saila kembali mengejan dengan kuat.


Dan terdengar suara tangisan bayinya yang membuat Leon langsung bernafas lega, begitu juga dengan Saila yang merasa lega.


“Sudah ... bayinya sudah lahir, Nyonya!” kata dokternya menatap Saila.


Seketika Saila meneteskan air matanya dengan nafasnya yang masih tidak teratur karena kelelahan.


Akhirnya ia bisa melalui persalinan normalnya tanpa hambatan. Ia menangis di pelukan suaminya yang saat itu langsung memeluk dirinya.


“Terima kasih sayang. Kau membuatku takut. Aku tidak menyangka kalau kau bisa sekuat ini!” kata Leon yang ikut meneteskan air matanya melihat istrinya tadi yang berjuang nyawa demi bayi mereka.


“Aku berhasil Mas Leon. Aku berhasil melahirkannya dengan kekuatanku sendiri. Bayi itu aku yang melahirkannya!” kata Saila yang masih menangis di pelukan suaminya.


“Iya, aku tahu. Kau memang gadisku yang hebat!” puji Leon sambil mengelus kepala istrinya dengan lembut.


Dokter kandungannya tadi berjalan menghampiri Leon sambil menggendong bayinya mungil itu.


Ia baru saja selesai membersihkan semua yang menempel di tubuh mungil bayi itu, termasuk darah dan lapisan berwarna putih yang menutupi kulit lembut bayinya. Dan tak lupa juga ia memisahkan tali pusat dari tubuh si bayi.


“Tuan, Nyonya, selamat ... bayinya laki  - laki dan sangat sehat!” kata dokter kandungannya menunjukkan bayinya itu di depan Leon dan Saila.


Leon tampak bahagia melihat bayi mungilnya itu, bahkan tidak ada yang bisa melukiskan rasa bahagianya sekarang. Ia sudah menjadi seorang ayah dari bayi mungil itu. Begitu juga dengan Saila yang tersenyum sambil meneteskan kembali air matanya memegang pipi mungil bayinya.

__ADS_1


“Dok ... apa saya boleh memegangnya?” kata Saila yang ingin sekali merangkul bayinya.


“Tentu saja Nyonya,” jawab dokternya sambil membantu membaringkan bayinya di atas dada Saila.


Saila langsung merangkul bayinya, menciumnya dengan lembut, dan mengusap punggung bayinya, begitu juga dengan Leon yang tidak berhenti menatap bayinya dengan senyuman bahagianya.


Sementara di luar ruangan persalinannya itu. Tuan Bima dan Nyonya Yasmin tidak sabar untuk melihat cucu pertama mereka, bahkan Tuan Bima mondar – mandir ke sana kemari sambil melihat ke dalam ruangannya menunggu dokter kandungannya keluar memperlihatkan cucu pertamanya.


“Sayang duduklah dulu. Kau malah membuatku pusing kalau kau mondar mandir begitu!” kata Nyonya Yasmin.


“Sudah sejak tadi aku mendengar cucuku menangis, tapi kenapa dokternya itu tidak membawa cucuku keluar. Aku mau melihatnya. Seharusnya aku yang pertama kali melihatnya!” keluh Tuan Bima.


“Iya, mungkin Leon masih menggendong bayinya. Biarkan saja dulu dia puas menggendong bayinya. Dia juga baru pertama kali kan, sayang!” kata Nyonya Yasmin yang berusaha memberikan pengertian pada suaminya.


Tuan Bima tidak menanggapi lagi ucapan istrinya, dan masih mondar mandir di depan ruang persalinan sambil menatap ke dalam ruangan.


***


Beberapa saat kemudian, Dokter Kandungannya keluar dengan menggendong bayi pertama Leon.


Ia menunjukkan bayinya itu pada Tuan Bima dan semua keluarganya di sana.


Tampak senyuman kebahagiaan di wajah Tuan Bima dan yang lainnya melihat bayi mungil yang lucu itu. Begitu bahagianya ia melihat cucu pertamanya, bahkan ia tertawa keras ketika cucunya itu memegang erat jari telunjuknya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2