
Pukul 8:00 pagi.
Sila baru saja selesai siap – siap untuk pergi ke kampusnya. Ia datang menghampiri Saila di kamarnya sebelum berangkat ke kampus.
Ia mengetuk pintu kamar Saila tiga kali, kemudian berkata: “Saila, apa aku boleh masuk?”
“Ya, masuk saja. Pintunya tidak dikunci!” Terdengar suara pelan dari dalam kamar Saila.
Sila pun membuka pintu kamar Saila. Saat membuka pintu kamarnya, Sila melihat Saila tengah duduk diam di pinggir jendela menatap keluar jendela kamarnya. Wajah Saila terlihat tak bersemangat. Ia terus menatap luar jendela tanpa menoleh melihat Sila yang kini duduk di sampingnya.
Sila yang duduk di sofa, tepat di samping Saila, merasa kasihan melihat saudara kembarnya yang merindukan suaminya. Saila bahkan tidak bisa menghubungi suaminya sejak kemarin. Dan kerjanya hanya duduk termenung menatap luar jendela kaca kamarnya.
“Apa kau memikirkan Kak Leon lagi?” tanya Sila.
Saila tidak menjawab. Ia hanya terdiam kaku tanpa menoleh melihat Sila.
Sila yang melihat itu ikut merasakan kesedihan yang di rasakan Saila. Ia menghela nafasnya sambil mengangkat kepalanya, menahan air mata yang ingin jatuh ke pipinya, namun air mata itu tetap saja jatuh di pipinya. Ia tidak tahan melihat Saila duduk diam dengan kesedihan yang tak pernah pergi dari wajahnya.
Sila menarik nafasnya pelan, membuangnya, kemudian kembali bicara pada Saila.
“Empat hari lagi pesta pertunanganku dan Kak Zidan diadakan. Ayah sengaja mempercepat pestanya. Aku janji padamu, selama empat hari itu, aku pasti akan berusaha bawa Kak Leon di hadapanmu. Aku dan ibu akan meyakinkan ayah tentang Kak Leon. Kau tenang saja. Jadi jangan siksa dirimu seperti ini. Kumohon Saila!” kata Sila sedih.
Saila masih diam tak mau bicara. Bahkan ia masih tak menoleh melihat Sila. Itu membuat Sila semakin sedih.
“Saila ... jangan diam saja. Bicara padaku. Hatiku sedih kalau kau diam begini!” kata Sila.
Masih tidak ada jawaban dari Saila. Ia masih terdiam kaku menatap luar jendela kamarnya. Ia sangat sedih dipisahkan dengan Leon sampai ia tidak punya tenaga untuk bicara pada siapapun.
Tak lama kemudian, datang seorang pelayan yang langsung masuk ke dalam kamar Saila saat pelayan itu melihat pintu kamar Saila terbuka lebar.
Ia masuk membawa sarapan pagi untuk Nona Mudanya itu karena suruhan dari Nyonya Yasmin.
“Nona, saya membawa sarapan untuk Nona Saila!” kata pelayannya menatap Sila.
“Berikan padaku!” pinta Sila mengulurkan kedua tangannya untuk meraih nampang yang di pegang pelayannya itu.
“Baik,” balasnya sambil membungkukkan setengah badannya di depan Sila.
__ADS_1
“Pergilah!” perintah Sila.
“Baik nona. Permisi!” pamit si pelayannya sambil membungkuk hormat di depan Sila dan Saila.
Setelah pelayannya pergi, Sila kembali fokus pada Saila.
“Ini sarapanmu. Kau belum makan kan?” kata Sila menyodorkan piring di depan Saila, namun Saila masih terdiam kaku tanpa menoleh melihat Sila.
Sila menundukkan kepalanya dengan sedih. Ia tidak tahu harus mengatakan apa pada saudara kembarnya itu agar menoleh melihatnya. Ia terdiam sejenak sambil menghela nafas pelan, kemudian kembali mengangkat kepalanya melihat Saila.
“Saila, sebenarnya aku dan Kak Ben berencana membawa Kak Leon kesini saat pestanya nanti. Kak Ben menghubungiku pagi tadi untuk membiarkannya masuk ke rumah bersama Kak Leon, tapi aku dan dia belum tahu kapan kami bisa membawa Kak Leon bertemu denganmu. Aku juga sudah berjanji padanya untuk mempertemukanmu dengan Kak Leon. Jadi sampai hari itu tiba, kau harus menjaga tubuhmu supaya tetap sehat. Bayimu juga harus sehat. Kalau kau sakit, Kak Leon pasti sangat khawatir!” jelas Sila.
Saila menggerakkan kepalanya menoleh melihat Sila saat mendengar semua ucapan Sila. Ia langsung meraih piring yang di pegang Sila di tangannya.
“Aku akan makan!” kata Saila dengan ekspresi datarnya.
Sila tersenyum, kemudian berkata: “Masalah ayah, kau tidak perlu khawatir. Kata ibu, ayah pasti akan membiarkan Kak Leon bersamamu. Tunggu sampai ayah merasa tenang. Oke!”
“Iya,” jawab Saila sambil mengangguk pelan.
“Kalau gitu, aku pergi ya. Aku harus ke kampus hari ini. Aku akan pulang cepat untuk menemanimu lagi disini!” pamitnya pada Saila
Sila pun akhirnya berjalan meninggalkan Saila yang mulai menyentuh sarapannya itu. Saat memegang gagang pintu dan membuka pintunya, Sila berhenti sejenak menatap Saila yang sudah memakan sarapannya. Ia tersenyum melihat saudara kembarnya di sana.
Setelah puas menatap Saila, Sila kembali melangkah keluar dan menutup pintu kamar Saila.
Sila segera turun dari lantai 2 rumahnya menuju meja makannya. Ia duduk di meja makan tepat di depan ibunya.
“Kau dari kamar Saila, sayang?” tanya Nyonya Yasmin.
“Iya bu,” jawab Sila.
“Apa dia sudah makan sarapan yang di bawakan pelayan tadi?” tanya Yasmin kembali.
“Sudah bu!” jawab Sila.
“Kalau gitu sarapanlah baru ke kampus!” perintah Yasmin sambil tersenyum melihat anaknya.
__ADS_1
“Baik,” balas Sila sambil menganggukkan kepalanya.
Sila pun meraih sarapan rotinya di piring kemudian memakannya. Ia sesekali melirik ayahnya yang masih marah pada dirinya.
Sementara Bima yang sejak tadi duduk di sana, hanya sibuk dengan makanan yang diberikan istrinya. Ia sama sekali tidak bicara pada anak kembarnya itu, karena merasa masih kecewa dengan Sila. Bahkan ia tidak mengangkat bola matanya untuk melihat anaknya.
Tak lama kemudian, Sila selesai sarapan. Ia langsung berpamitan dengan ayah dan ibunya untuk pergi ke kampus. Ia pergi dari rumahnya di antar oleh Pak Herman supir pribadinya itu.
Selama beberapa menit, mobil Pak Herman sampai di depan kampus. Pak Herman memasukkan mobilnya ke dalam parkiran kampus. Saat mobilnya sudah berhenti di parkiran kampus, Sila turun dari mobil kemudian berjalan masuk ke dalam kampus.
Dari luar Gedung Kampus, terlihat seorang pria memandang Sila dari kejauhan. Ia tampak tersenyum sinis karena bisa menemukan Sila kembali.
“Sila ...!!” Teriak pria tersebut dengan keras.
Seketika Sila menoleh melihat suara teriakannya. Dan ia langsung syok saat melihat pria tersebut.
“Dia ...!" kata Sila kaget melihat pria tersebut. "Kenapa orang itu ada disini?” lanjut Sila sambil memandangnya dengan ketakutan.
Sila berjalan mundur dengan pandangan ketakutan melihat lelaki yang sudah berlari ke arahnya. Ia pun ikut berlari masuk ke dalam kampus untuk menghindarinya. Dan saat di dalam kampus, ia tidak sengaja menabrak tubuh Zidan sampai ia terjatuh.
“Sila, ada apa denganmu?” tanya Zidan yang heran melihat Sila ketakutan.
Ia segera membantu Sila bangun dari sana.
“A-aku tidak apa – apa!” jawab Sila dengan gagap. Ia sesekali menoleh ke belakang untuk melihat apa lelaki yang merupakan pacarnya itu masih mengejar dirinya.
“Kau tidak apa – apa, tapi kenapa wajahmu pucat begitu?” tanya Zidan khawatir.
“Aku benar – benar tidak apa – apa Kak Zidan. Apa kau tidak bisa mengerti?” kata Sila dengan suaranya yang terdengar keras.
Itu karena ia sangat ketakutan di tambah ia tidak mau Zidan tahu tentang masalahnya, sampai membuat ia sangat kesal pada Zidan.
.
.
Bersambung.
__ADS_1
.
.