
Prancis, Kota Paris.
Saat ini, Bima dan keluarganya sudah berada di sebuah rumah bergaya Eropa yang dulu menjadi rumahnya. Namun kini rumah itu sudah Bima berikan pada Angela sebagai kado pernikahannya beberapa tahun yang lalu. Bima dan keluarganya tengah duduk di Ruang Keluarga setelah sarapan pagi beberapa saat yang lalu.
Bima ingin membicarakan tentang masalah pindahan Sila ke Indonesia yang ia rencanakan sejak ia dan istrinya terbang ke Prancis, Kota Paris, dimana Sila kuliah?
Tentu saja Sila belum tahu hal itu. Sila hanya tahu kalau ayah, ibunya akan datang menjemputnya kembali ke Indonesia untuk waktu yang lama. Setelah puas liburannya di Indonesia, Sila berencana kembali ke Prancis untuk melanjutkan kuliahnya.
Dan kini semua orang duduk untuk mendengar yang ingin di bicarakan Bima pada putrinya. Bima tidak hanya ingin bicara tentang masalah pindahan Sila, namun masalah perjodohan Sila dan Zidan yang sudah di rencanakan Bima dan Yasmin.
Bima dan Yasmin memang tidak mau memaksakan hubungan percintaan anak – anaknya, namun karena masalah Saila yang hamil di luar nikah membuat mereka khawatir tentang masa depan Sila, apalagi Bima mendengar kabar kalau Sila sering bergonta – ganti pasangan hanya dalam beberapa bulan saja. Itu semua membuat Bima dan Yasmin khawatir tentang Sila yang akan bernasib sama seperti Saila, hamil di luar nikah dengan kekasihnya.
Bima pun memulai pembicaraan mereka dengan masalah kuliah Sila terlebih dahulu.
“Sila ... ayah mengajakmu duduk di sini bersama yang lain, karena mau membicarakan tentang kuliahmu di sini,” ucap Bima menatap serius anaknya.
“Loh ... kenapa dengan kuliahku? Kemarin aku, kan, sudah mengurus semuanya, Yah. Aku mengambil cuti satu bulan di kampus!” jawab Sila dengan wajannya yang bingung mendengar kata – kata ayahnya.
“Ayah sudah mengurus semua masalah kuliahmu. Kau akan kuliah di kampus yang sama dengan Saila!” jelas Bima dengan serius menatap putrinya.
“Loh ... kenapa begitu? Aku sudah senang kuliah di sini, Yah. Kenapa harus pindah lagi?” tanya Sila penasaran.
“Pokoknya ayah sudah mengambil keputusan kalau kamu harus pindah kuliah. Tidak ada kata penolakan yang ayah dengar darimu!” tegas Bima pada anaknya.
“Baiklah ... terserah ayah saja kalau mau seperti itu,” jawab Sila dengan wajahnya yang cemberut. Ia memalingkan wajahnya ke samping tanpa mau melihat ayahnya, karena merasa kesal dengan keputusan ayahnya itu.
“Satu lagi,” ucap Bima kembali bicara pada anaknya.
__ADS_1
Sila kembali menoleh melihat ayahnya yang saat itu, duduk di sofa tepat di depannya. “Apa lagi?” tanya Sila dengan wajahnya yang masih kesal.
“Ayah dan ibu berencana menjodohkanmu dengan Zidan,” ucap Bima dengan serius.
Sila langsung berdiri. “Apa?” Dengan wajahnya yang syok mendengar ucapan ayahnya.
“Sila ... duduklah. Jangan berdiri begitu. Biarkan ayahmu bicara dulu!” perintah Angela sambil menarik tangan Sila untuk duduk kembali di sampingnya.
Sila menoleh melihat bibinya, kemudian kembali duduk dengan wajahnya yang masih kesal.
“Kenapa ayah menjodohkanku dengan Zidan? Bukannya Zidan itu ayah jodohkan dengan Saila?” tanya Sila mengerutkan keningnya melihat ayahnya sesaat setelah ia duduk kembali di sofa.
“Kau tahu sendiri, kan. Kalau Saila sudah menikah dengan pacarnya. Jadi ayah dan ibumu berencana menjodohkanmu dengan Zidan!” ucap Bima.
“Tapi ... aku tidak suka di jodohkan, Yah, Bu!" ucap Sila melihat ayah dan ibunya secara bergantian. "Aku sudah punya pilihan sendiri. Aku mencintai dia. Dan dia juga mencintaiku!” Lanjut Sila menegaskan kata – katanya di depan kedua orang tuanya.
“Aku pasti akan mempertemukan ayah dan ibu, tapi bukan sekarang waktunya," jawab Sila.
"Lalu kapan. Kau tahu kalau ayah tidak suka menunggu?" tanya Bima kembali.
"Berikan Sila waktu beberapa bulan, Yah. Jangan pindahkan kuliahku dulu ke Indonesia. Aku hanya mau tinggal satu bulan di sana baru kembali ke sini lagi untuk bertemu dengannya. Aku mohon!” ucap Sila memohon pada ayahnya.
“Tidak bisa Sila. Ayah sudah mengambil keputusan kalau kau harus pindah kuliah. Kalau dia memang mencintaimu, suruh saja dia datang bertemu ayah dan ibumu. Dan ayah akan memberikanmu waktu satu bulan. Kalau dia tidak muncul di hadapan ayah. Ayah akan mengadakan pertunanganmu dengan Zidan!” tegas Bima yang memang harus mengambil keputusan untuk Sila.
Sila hanya bisa diam kaku ketika mendengar ucapan ayahnya yang tak ingin di bantah lagi. Wajahnya terlihat kesal, namun ia tidak bisa membantah ayah dan ibunya. Dengan terpaksa ia harus menerima keputusan ayahnya yang akan membawanya kembali kuliah di negara kelahirannya. Saat Yasmin menyadari ekspresi anaknya yang tidak terima keputusan suaminya, ia pun berdiri melangkah mendekati anaknya. Ia langsung duduk di samping Sila.
Yasmin memegang kedua tangan putrinya, menggenggamnya dengan lembut. “Sila ... ayah dan ibu mengambil keputusan ini hanya untuk kebaikanmu sayang. Kami hanya ingin kau dan Saila bahagia. Itu saja. Tidak ada orang tua yang tega menjerumuskan anak – anaknya. Ayah dan ibu hanya ingin yang terbaik untukmu dan Saila, begitu juga dengan masa depan Ansel!” jelas Yasmin membuat anaknya mengerti.
__ADS_1
“Iya, aku mengerti. Aku akan menuruti semua keputusan ayah dan ibu,” jawab Sila sambil tersenyum melihat ibunya. Ia terpaksa menggerakkan bibirnya untuk tersenyum agar ibunya tidak merasa khawatir dengannya.
Yasmin menghela nafasnya sambil tersenyum, merasa lega mendengar ucapan anaknya yang akhirnya mengerti dengan keputusan ayahnya.
“Naik lah ke kamarmu. Nanti sore kita akan kembali ke Indonesia. Ayah dan ibu masih mau mengobrol sebentar dengan Bibi Angela!” perintah Yasmin menyuruh anaknya naik ke atas.
“Baik,” balas Sila.
Sila pun berdiri dari tempat duduknya, kemudian pamit pada semua orang untuk kembali ke kamarnya. Ia berjalan menaiki tangga menuju lantai 2, kamarnya. Setelah berada di kamarnya, ia langsung menutup pintunya dengan kesal, kemudian melemparkan tubuhnya di kasur.
Ia terdiam sejenak di sana memikirkan keputusan ayah dan ibunya, kemudian kembali bangun dari tempat tidurnya. Ia duduk di tepi tempat tidur sambil membuka laci meja nakasnya, mengambil sebuah bingkai foto. Ia menatap bingkai foto yang ia pegang sambil menghela nafasnya dengan kasar.
“Kak Leon, maafkan aku. Aku menyesal sudah meninggalkanmu satu tahun yang lalu. Sekarang kau berada di mana? Kenapa aku tidak bisa menemukanmu selama beberapa bulan ini” Gumamnya sambil menatap fotonya bersama Leon.
Ya, selama Sila berpisah dengan Leon. Sila pernah memacari dua pria, namun ia sama sekali tidak bisa melupakan kasih sayang yang di berikan Leon padanya. Meskipun Leon dulu tidak membebaskannya bergaul dengan lelaki manapun, namun hanya Leon lah lelaki yang begitu perhatian dan memanjakan dirinya.
Dan selama beberapa bulan ini, Sila mencari keberadaan Leon, namun ia sama sekali tidak menemukan keberadaan Leon di sini. Entah dimana Leon sekarang? Pikirnya. Bahkan ia sempat bertemu dengan Alexa, namun Alexa tidak mau memberitahukan keberadaan Leon dimana? Hal itu membuat Sila sangat putus asa. Kalau saja ia di berikan kesempatan untuk bertemu dengan Leon lagi. Ia ingin sekali meminta maaf pada Leon atas kesalahan yang sudah ia lakukan dengan meninggalkan Leon tanpa pesan.
Bahkan ia rela berlutut di hadapan Leon jika itu memang di perlukan. Namun, ia tambah putus asa ketika ia harus menuruti ayah dan ibunya untuk pindah kuliah di negaranya, apalagi kalau harus bertunangan dengan Zidan yang sama sekali tidak ia cintai.
Penyesalannya terhadap Leon memang sangat membuat hatinya sangat sakit. Apalagi ketika ia sadar kalau hanya Leon lah lelaki terbaik di banding lelaki yang selama ini ia pacari. Itu menurut hati Sila sekarang. Penyesalan memang datangnya belakangan seperti yang terjadi pada Sila.
.
.
Bersambung.
__ADS_1