
Zidan kini sudah berada di dalam mobilnya bersama Sila. Sebelum ia menjalan kan mobilnya tadi, Zidan menutup mata Sila dengan kain terlebih dahulu baru ia melajukan mobilnya. Ia berencana membawa Sila ke suatu tempat yang memang ia rencanakan sejak kemarin.
Beberapa saat kemudian, mobil Zidan telah sampai di sebuah taman bunga yang sudah Zidan dekorasi indah. Ia berencana melamar Sila di tempat itu.
Zidan segera turun dari mobilnya, kemudian berjalan ke samping mobil sebelah membantu Sila keluar dari mobilnya.
“Kita mau kemana sih sebenarnya?” tanya Sila saat ia sudah keluar dari mobil Zidan, dan berdiri di depan Zidan.
“Itu masih rahasia. Kau akan tahu saat kita sampai di sana,” jawab Zidan.
“Oke. Aku turuti kemauan. Awas kalau kau membuatku kesal lagi!” Ancam Sila dengan bibirnya yang cemberut.
“Memangnya aku selalu membuatmu kesal? Perasaan tidak pernah!” tanya Zidan sambil menuntun Sila masuk ke dalam taman bunganya.
“Itu karena kau tidak peka. Kalau saja kau pria yang peka, kau pasti tahu," balas Sila.
"Jangan cemberut begitu. Lain kali aku akan lebih perhatikan lagi!" kata Zidan.
"Terus sampai kapan aku harus jalan dengan mata tertutup begini?” keluh Sila yang terlihat tidak sabaran.
“Sabar dong Sila. Sebentar lagi kita akan sampai,” jawab Zidan yang terus memegang tangan Sila, menuntunnya berjalan lurus ke depan.
Sila pun diam ketika Zidan membalas ucapannya, namun beberapa detik kemudian, Sila kembali mengeluh dengan berkata: “Kak Zidan, kapan kita sampai?”
“Nah ... kita sudah sampai sekarang,” jawab Zidan yang seketika menghentikan langkahnya bersama Sila.
Zidan kemudian berdiri di belakang Sila, dan mulai melepaskan penutup mata Sila dengan pelan. Sila membuka matanya pelan – pelan, mengedipkan beberapa kali agar ia bisa melihat jelas yang ada di depannya. Wajahnya seketika berubah saat ia melihat pemandangan indah di depannya. Bahkan Sila menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena syok melihat tulisan will you marry me yang terlihat sangat jelas di depan matanya.
Zidan yang tadi berada di belakang Sila berjalan cepat dan berlutut dengan satu kaki di depan Sila sambil menyodorkan sebuah buket bunga mawar, kemudian berkata: “Will you marry me!”
Sila terdiam kaku di depan Zidan dengan wajahnya yang semakin kaget, ketika Zidan mengungkapkan keinginannya itu.
Setelah diam sejenak, Sila mulai menggerakkan tangannya meraih bunga di tangan Zidan.
“Aku terima bunganya, tapi masalah nikah, aku belum siap,” jawab Sila tanpa basa - basi.
__ADS_1
Seketika Zidan menarik sudut bibirnya yang tersenyum. Tampak di wajahnya kalau ia kecewa mendengar jawaban dari Sila.
Zidan pun kembali berdiri di depan Sila, kemudian berkata: “Kenapa? Apa kau masih tidak percaya padaku?”
“Bukan begitu. Aku hanya belum siap untuk menikah muda. Kak Zidan juga pasti ingin menjadi jaksa hebat seperti paman. Aku juga ingin mengejar cita – citaku. Perjalanan kita masih panjang. Menikah memang penting bagi setiap orang, tapi akan lebih baiknya kalau kita mengejar cita – cita kita masing – masing bukan, baru setelah itu kita menikah. Dan aku sudah memikirkan ini setelah semua kejadian yang kulewati,” jawab Sila menatap mata Zidan dengan wajahnya yang terlihat serius.
Zidan terlihat semakin kecewa mendengar penjelasan dari Sila. Ia terdiam tak percaya kalau Sila bisa menolak lamarannya.
“Kak Zidan, aku sama sekali tidak menolak untuk menikah denganmu. Hanya saja, aku butuh waktu. Kau juga butuh waktu. Kita berdua masih muda. Aku mau saat kita menikah nanti, kita sudah menjadi orang yang jauh lebih baik dari sekarang!” lanjut Sila.
Zidan menghela nafasnya dengan pelan mencoba mengatur perasaan kecewanya itu, kemudian berkata: “Sila ... sebagian orang memang kadang ingin menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Begitu juga dengan kau dan aku. Aku pun sama, selalu ingin menjadi orang yang jauh lebih baik, misalnya jadi jaksa hebat yang kau bilang. Tapi ... untuk menikah, kita tidak perlu menunggu saat itu tiba. Asalkan kedua orang sudah siap, maka
semuanya itu tidak penting. Dan aku mendukung apapun yang kau lakukan. Aku tidak akan menghalangi karirmu. Tolong pikirkan baik – baik sayang. Jangan langsung menolakku seperti ini!”
Zidan berusaha membujuk Sila. Jika saja Zidan tidak takut kalau Sila sampai hamil gara – gara David, ia pasti akan mudah menyetujui penolakan Sila, dan memberikannya waktu sampai yang diinginkan Sila. Namun, karena Zidan takut Sila hamil di luar nikah, Zidan menanggapi penolakan Sila dengan panjang lebar, bahkan menyuruh Sila untuk memikirkannya kembali. Kalau sampai Sila hamil sebelum menikah dengannya, Sila pasti akan memutuskan hubungannya lagi.
Sila terdiam sejenak sambil menghela nafasnya ketika ia selesai mendengar ucapan Zidan, kemudian berkata: “Oke ... aku pikirkan kembali. Berikan aku waktu beberapa hari. Aku benar – benar tidak bisa memberikan jawabanku sekarang!”
Mendengar semua ucapan Zidan membuat Sila sedikit berubah, meskipun ia masih belum menjawab Zidan, namun setidaknya ia bisa memikirkan kembali lamaran dari Zidan.
“Iya, terima kasih,” balas Sila.
“Tapi ... kau tidak mungkin menolak semua yang sudah kurencanakan, kan? Aku sudah menyiapkan acara makan siang berdua kita di taman bunga ini!” kata Zidan sambil tersenyum menatap Sila.
“Tentu saja tidak kutolak. Sejak tadi aku memang lapar sekali. Gara – gara menunggumu di kampus aku sampai tidak ada kesempatan untuk makan,” balas Sila.
“Oke, ayo kita duduk di sana. Semua makanan yang kau sukai sudah kusediakan!” ajak Zidan menarik tangan Sila ke arah meja yang sudah ia persiapkan beserta dengan berbagai makanan di
atasnya.
“Wah ... banyak sekali!” seru Sila. Saat itu ia duduk di kursi yang sudah di tarik Zidan sambil menatap makanannya dengan wajahnya yang terlihat sangat senang.
Zidan berjalan ke arah kursi di depan Sila, kemudian duduk di sana sambil tersenyum melihat Sila yang menyukai semua yang ia siapkan.
“Apa kau suka?” tanya Zidan.
__ADS_1
“Tentu saja aku suka. Ini pertama kalinya aku makan di tempat seperti ini. Rasanya menyenangkan sekali bisa makan sambil melihat bunga – bunga indah di sekitar sini,” jawab Sila sambil melihat sekeliling nya, memandang bunga yang ada di taman bunga itu.
“Aku senang kalau kau suka. Tadinya aku sedikit khawatir kalau kau sampai tidak suka dengan semua ini,” kata Zidan.
“Tidak, aku sangat suka kok. Pemandangan disini juga indah,” balas Sila.
“Ya sudah. Ayo makan ... ini kue kesukaanmu, kan?” kata Zidan sambil menyendok kue ke piring Sila.
“Iya, terima kasih!” balas Sila sambil tersenyum melihat Zidan.
Sila pun mulai makan kue yang di berikan Zidan, sedangkan Zidan hanya diam tersenyum melihat Sila menikmati makanannya. Saking senangnya Sila menyukai kejutannya, ia bahkan bisa kenyang hanya dengan melihat Sila menyuap demi suap kue ke dalam mulutnya.
Sila yang asyik makan, tersadar dengan pandangan Zidan padanya sampai ia menghentikan dirinya yang terus menyendok kue ke dalam mulutnya.
“Ada apa? Kenapa kau tidak makan?” tanya Sila.
“Ah!" Zidan terlihat kaget ketika mendengar ucapan Sila, lamunannya langsung buyar. "Tidak ada apa –
apa. Aku hanya senang kalau melihatmu makan,” jawab Zidan.
“Kau juga makan dong. Masa Cuma aku doang. Tidak asyik ah!” kata Sila.
“Oke, baiklah. Aku makan,” balas Zidan yang mulai mengambil salah satu makanan di atas meja ke piringnya.
Mereka berdua pun mulai menikmati makan siang romantisnya bersama - sama di taman itu sambil sesekali mengobrol dan tersenyum.
.
.
Bersambung.
.
.
__ADS_1