
Pukul 7:00 pagi.
Kini Saila tengah berada di dapur, memanggang roti dan membuat susu untuk sarapan paginya dengan Leon, sedangkan Leon tengah mandi di dalam kamar mandinya. Tadinya Leon menyuruh Saila menunggunya selesai mandi baru ia akan membuatkan Saila sarapan pagi. Namun, Saila merasa tidak enak pada Leon yang selalu memasak untuk dirinya.
Meskipun ia tidak bisa memasak makanan enak seperti Leon, namun ia merasa senang bisa membuatnya. Roti panggang dan susu yang ia buat bisa mengurangi rasa tidak enaknya pada Leon. Saila pun meletakkan sarapan yang ia buat di atas meja makannnya. Ia berdiri dengan meletakkan kedua tangannya di pinggang, melihat masakannya yang ia letakkan tadi.
“Semuanya beres. Semoga saja Mas Leon bisa terima masakanku.” Gumamnya sambil tersenyum menatap masakannya di atas meja.
Tiba – tiba pintu Apartemennya berbunyi. Seseorang tengah datang bertamu di Apartemennya itu. Saila pun menoleh ke arah pintunya dari kejauhan, yang tentunya jauh dari dapurnya. Ia kemudian mengangkat kepalanya melihat jam dinding yang menempel di tembok, tepat di depannya itu.
“Siapa yang datang pagi – pagi begini?”
Pintunya kembali berbunyi beberapa kali. Saila pun melepaskan celemek yang ia kenakan, kemudian meletakkannya di kursi yang ada di depannya. Ia melangkahkan kakinya untuk membuka pintu apartemennya.
Setelah berada di depan pintu, Saila membuka pintu apartemennya untuk melihat siapa yang ada di balik pintu itu?
Dan yang datang ternyata Alexa, sekertaris pribadi Leon. Ia baru saja datang dari Prancis dan langsung mendatangi Leon di Apartemen pribadinya. Ia berdiri menatap Saila dengan ekspresi kaget melihat Saila yang ia kira adalah Sila, mantan kekasih Leon, wanita yang sangat ia benci. Ia berdiri di sana sambil memegang koper yang ada di sampingnya.
“Maaf ... nona, nona cari siapa?” tanya Saila sesaat setelah membuka pintunya. Saila bicara dengan ramah pada Alexa saat itu.
“Kenapa kau bisa ada di sini, Sila?” tanya Alexa mengerutkan keningnya melihat Saila. Ia tidak menjawab pertanyaan Saila, namun bertanya hal lain. Alexa penasaran dengan kehadiran Saila di Apartemen Leon. Ia tampak tak suka melihat Saila di sana.
Saila diam ketika mendengar nama Sila dari mulut Alexa. “Apa wanita ini juga mengira kalau aku adalah Sila?” dalam hati Saila.
Alexa kembali bertanya, “Aku sedang bertanya padamu. Kenapa kau bisa di Apartemen Leon?”
Saila mengangkat kembali bola matanya melihat Alexa.
“Maaf nona, saya bukan Sila tapi Saila. Dan saya berada di sini karena-
“Minggir,” ucap Alexa memotong kalimat Saila. Ia tidak suka dengan Saila sampai ia tidak mau mendengar penjelasan dari Saila.
Ia bahkan mendorong tubuh Saila ke samping dengan tangan kanannya, menyuruh Saila minggir dari hadapannya.
Alexa berjalan melewati Saila sambil menarik kopernya masuk ke dalam Apartemen Leon. Saat berada di dalam, Alexa meletakkan kopernya di sembarang tempat, kemudian mencari keberadaan Leon.
“Leon ... kau dimana?” Panggil Alexa. Ia berjalan sambil celingak celinguk melihat semua ruangan Apartemen milik Leon.
__ADS_1
Alexa tidak menemukan Leon dimana – mana? Ia pun berjalan menuju kamar pribadi Leon untuk mencari lelaki tampan itu. Namun, Saila berjalan cepat menghalangi Alexa untuk masuk ke dalam. Ia dengan cepat berdiri di depan pintu kamarnya untuk menghadang Alexa.
“Minggir, aku mau bertemu dengan Leon. Siapa kau berani melarangku? Kau itu bukan siapa – siapa disini. Aku sudah kenal sejak lama dengan Leon di banding denganmu?” Alexa terus mengoceh sambil menatap Saila yang ia kira adalah Sila, dengan wajah amarahnya. “Cepat minggir!”
Saila tidak mau minggir dari sana. Ia tetap berdiri menghalangi Alexa masuk.
“Saya istrinya, Nona. Saya tidak peduli tentang hubungan Anda dengan Mas Leon. Biarpun Anda punya hubungan baik, tapi Anda tetap tidak bisa masuk sembarangan di kamar pribadi orang. Ini melanggar privasi!” tegas Saila dengan serius menatap Alexa.
“Kau menantangku ya, Sila. Kau pikir, karena kau pacaran dengan Leon satu tahun yang lalu, kau bisa seenaknya padaku. Jangan mimpi terlalu tinggi. Aku sudah tahu siapa kau sebenarnya. Kau hanya wanita yang suka gonta ganti pasangan. Aku sengaja terbang kesini setelah tahu siapa kau yang sebenarnya, supaya Leon tidak menginginkanmu lagi? Cepat minggir sana!” Alexa kembali mendorong Saila ke samping membuat Saila hampir jatuh ke lantai.
Untung saja Saila dengan sigap memegang gagang pintu kamarnya, yang membuatnya kembali berdiri tegak.
Setelah Saila berdiri tegak, Leon tiba – tiba keluar dari kamarnya dengan pakaiannya yang sudah rapi.
Leon kaget melihat Alexa yang berdiri di hadapannya. “Alexa ... kenapa kau bisa ada di sini?”
Alexa langsung melemparkan tubuhnya pada Leon, memeluk Leon dengan erat. Ia sangat senang melihat Leon setelah sekian lama tidak bertemu.
Saat itu, Saila terkejut melihat tingkah Alexa yang langsung melempar tubuhnya pada Leon, begitu pun dengan Leon yang ikut kaget. Leon merasa risih dengan tingkah Alexa.
“Alexa, cepat lepaskan aku!” Perintah Leon. Ia berusaha melepaskan kedua tangan Alexa yang melingkar erat di lehernya. Saat itu, Leon melirik Saila yang berdiri diam melihat mereka berdua. Khawatir kalau Saila sampai salah paham dengan Alexa dan dirinya.
Karena kesal dengan Alexa, Leon pun dengan kasar melepaskan tangan Alexa, lalu mendorong tubuh Alexa jauh darinya.
“Leon, apa – apaan sih kau?” Alexa kesal melihat Leon kasar padanya.
“Kau yang apa – apaan? Jaga sikapmu itu. Jangan melebihi batasmu, Alexa!” tegas Leon.
Alexa kemudian mengalihkan pandangannya pada Saila yang sejak tadi berdiri memperhatikannya. Ia sangat malu dan marah melihat Saila memandangnya saat ia di perlakukan kasar oleh Leon. Alexa merasa kalau Saila sedang menertawakannya.
“Terus, kenapa dia ada di sini? Apa kau terkena rayuannya lagi sampai kau menerimanya kembali?” tanya Alexa menatap Saila dan Leon secara bergantian.
“Sebaiknya aku pergi. Mas Leon bicara dulu dengannya,” sahut Saila. Saila merasa tidak enak kalau harus berdiri di sana, mengganggu pembicaraan mereka. Kalau ia pergi, Leon dan Alexa bisa bicara dengan leluasa.
Leon menarik tangan Saila ketika ia melihat Saila berjalan meninggalkan tempatnya.
“Kau mau kemana?” tanya Leon melihat istrinya.
__ADS_1
“Aku mau ke kampus, Mas,” jawab Saila.
“Biar aku yang mengantarmu ya. Tunggu sebentar,” ucap Leon.
“Tapi Mas Leon kan punya tamu. Mas Leon temani dulu tamunya. Aku bisa jalan sendiri kok,” balas Saila.
“Oke. Kita pergi sekarang,” kata Leon.
“Leon, kau mau kemana? Aku belum selesai bicara denganmu. Kenapa kau lebih peduli dengannya. Dia sudah meninggalkanmu setahun lalu, bukan?” sahut Alexa dengan marah melihat Leon yang ingin meninggalkannya sendiri di sana.
Leon menghela nafasnya dengan kasar setelah mendengar pertanyaan Alexa.
“Dia bukan Sila, tapi Saila. Saudara kembar Sila. Jadi untuk ke depannya, kau harus menjaga ucapanmu di depannya, karena dia sudah menjadi istriku,” jelas Leon sesaat setelah ia menghela nafasnya. Tatapannya dingin pada Alexa.
Alexa sangat syok mendengar penjelasan dari Leon kalau wanita yang ada di depannya adalah Saila bukan Sila, apalagi ketika Leon mengatakan kalau Saila adalah istrinya.
“Dia bukan Sila!” Alexa mengulang kembali ucapan Leon, memperjelas yang ia dengar dari mulut Leon.
“Iya,” balas Leon.
“Dan kau sudah menikahinya!” Dengan wajahnya yang masih kaget.
“Iya,” balas Leon.
“Jangan bercanda, Leon. Kenapa kau sampai menikah tidak bilang padaku? Apalagi menikah dengan saudara Sila. Apa kau sadar dengan yang kau katakan itu?”
Saila tampak penasaran tentang siapa sebenarnya Alexa ini? Namun, ia hanya bisa diam di sana tanpa mau ikut campur masalah Leon dan Alexa.
Sementara Leon yang mendengar kata – kata Alexa hanya menghela nafasnya tanpa membalas ucapan Alexa lagi. Karena saat itu, Leon tak ingin membuat Saila menunggu lama, apalagi tak mau berdebat dengan Alexa tentang masalah pernikahannya, ia pun mengambil HP-nya, kemudian menghubungi Ben untuk mencarikan tempat tinggal untuk Alexa, sekalian menjemput Alexa di Apartemen miliknya.
Setelah menghubungi Ben, sahabatnya. Leon menyuruh Alexa menunggu Ben menjemputnya. Sementara ia akan mengantar Saila ke kampus. Saat itu, Alexa tak bisa membantah karena melihat wajah dingin Leon padanya, apalagi mendengar Leon menegaskan kata – katanya.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.