SILA DAN SAILA

SILA DAN SAILA
Malu - malu


__ADS_3

Keesokan paginya....


Sila yang terbangun mulai membuka matanya perlahan – lahan, menatap langit – langit kamar pengantinnya. Ia menoleh ke samping kanannya dan melihat Zidan masih tertidur pulas di sampingnya dengan tangan Zidan yang berada di atas perutnya, memeluk tubuhnya. Ia pun mengangkat tangan Zidan dari perutnya, dan memindahkannya ke kasur.


Ia berniat bangun dari tempat tidurnya, namun ketika ia menggerakkan tubuhnya untuk bangun, ia merasakan perih di barang miliknya. Ia duduk di tepi tempat tidurnya, meraih jubah mandinya untuk ia pakai menutupi tubuhnya yang telanjang itu. Ia duduk terdiam memikirkan keadaannya sekarang yang berbeda ketika ia di nodai David.


Bagaimana bisa ia tidak merasakan sakit apapun ketika David melakukan itu padanya, namun saat melakukannya dengan Zidan terasa sangat sakit, bahkan ia mengeluarkan air matanya.


Zidan ikut terbangun dan mulai membuka matanya pelan – pelan. Ia mengucek - ucek matanya yang masih mengantuk melihat Sila yang duduk diam di tepi tempat tidurnya. Ia pun bangun dari kasur dengan keadaan setengah telanjang dan langsung memeluk Sila dari belakang membuat Sila tersadar dengan lamunannya.


“Apa yang kau pikirkan?” tanya Zidan sambil menghujani ciuman dibahu Sila.


“Aku tidak memikirkan apa – apa. Hanya sedikit lelah saja,” jawab Sila.


"Tapi, kau seperti sedang memikirkan sesuatu," kata Zidan.


"Aku benar - benar tidak memikirkan apapun," jawab Sila.


“Oh begitu. Aku pikir ada sesuatu yang mengganggumu. Oh, ya. Aku mau memberitahumu sesuatu!” kata Zidan.


“Apa?” tanya Sila sambil menggerakkan tubuhnya berhadapan dengan Zidan.


“Jangan pernah mengingat masa lalu yang pernah membuatmu menderita. David sama sekali tidak pernah menodaimu sayang,” ucap Zidan.


Sila tampak kaget. “Maksudnya?”


“Aku ini adalah pria yang pertama kali merenggut kesuciuanmu itu!” kata Zidan dengan nada sedikit menggoda, bahkan tersenyum membanggakan dirinya di depan Sila.


“Kak Zidan, jangan bercanda. Kata - katamu itu tidak lucu sama sekali!” ketus Sila dengan ekspresi cemberutnya.

__ADS_1


“Aku tidak bercanda. Aku serius sayang. Apa kau mau coba lagi dan membandingkan rasanya saat aku melakukannya?” kata Zidan.


Sila tampak malu – malu di depan Zidan, bahkan memalingkan wajahnya ke samping. Ia baru menyadari perbedaan dirinya saat bersama David dan saat bersama Zidan saat ini. Ia tidak merasakan sakit ketika bersama David. Ia sangat bahagia sekarang, ternyata David tidak pernah menodainya, dan ia melakukannya pertama kali dengan Zidan.


Ia tersenyum tipis menyembunyikan rasa bahagianya pada Zidan. Ia malu dan gengsi jika harus menunjukkan wajah bahagianya itu di depan Zidan.


 “Hei, kenapa kau menghindar? Ayo kita lakukan lagi seperti tadi malam!” kata Zidan ketika Sila tidak mengatakan apapun dan hanya memalingkan wajahnya.


“Jangan melakukannya lagi. Aku sudah tahu kok,” jawab Sila yang tak mau menatap langsung wajah Zidan.


“Benarkah?” tanya Zidan yang langsung menarik kepala Sila agar melihat wajahnya.


“I-iya,” jawab Sila yang masih tampak malu – malu.


Zidan kembali memeluk tubuh Sila dari belakang, kemudian berkata: “Hari ini kita akan berangkat honeymoon bersama Saila dan Leon, tapi sebelum kita pergi, kita habiskan waktu kita dikamar ini ya.”


“Kalau disini terus aku bosan,” jawab Sila.


“Aku tidak bisa bermain gitar Kak Zidan,” jawab Sila.


“Terus, apa gunanya gitar di kamarmu itu?” tanya Zidan menunjuk gitar milik Sila.


“Hanya sekedar pajangan saja. Aku tidak pernah memainkannya,” jawab Sila.


“Kalau gitu biar aku yang mengajarimu. Tunggu disini sebentar. Oke!” pinta Zidan.


"Iya," jawab Sila.


Zidan pun turun dari tempat tidurnya, dan berjalan masuk ke dalam ruang ganti kamar Sila mencari jubah mandi yang akan ia pakai.

__ADS_1


Saat Zidan berada di dalam, Sila langsung tertawa kegirangan, namun berusaha menutupi tawanya dengan kedua tangannya menutupi mulutnya, agar tidak terdengar oleh Zidan. Tawanya itu adalah tawa bahagia yang sempat tertunda dan ia tahan ketika ia baru tahu kenyataan mengenai David.


"Ternyata aku tidak melakukannya dengan si brengsek itu!" gumam Sila yang terus terkekeh sendiri.


Sila kembali duduk tegak dan menghentikan tawanya ketika ia melihat Zidan berjalan keluar dari ruang gantinya.


"Ada apa?" tanya Zidan sambil berjalan mengambil gitar milik Sila. Ia seperti merasakan ada hal aneh pada Sila.


"Tidak ada apa - apa," jawab Sila dengan santai.


Zidan kembali berjalan kembali ke arah kasur setelah mendapatkan gitar Sila. Ia naik di sana dan duduk tepat di samping Sila.


“Ini gitarnya!” kata Zidan menyerahkan gitarnya pada Sila.


Sila pun meraihnya dan mulai memainkannya di sana bersama Zidan. Mereka berdua asyik bermain gitar, bahkan sangat menikmati momennya itu.



"Sila ... aku mencintaimu!" ungkap Zidan menatap dalam - dalam mata Sila.


Sila tersenyum, kemudian berkata: "Aku juga mencintaimu, Kak Zidan. Sangat mencintaimu!"


Mereka berdua pun berciuman setelah mengungkapkan perasaan mereka masing - masing.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2