
Sila melangkah cepat mencari dimana dapur rumah Saila berada. Saat menemukan dapurnya, ia melihat Leon tengah sibuk memasak makanan di dapurnya.
Sila menghentikan langkahnya di depan dapur, menatap Leon yang tengah sibuk itu. Ia berdiri di depan pembatas meja dapur yang membatasi antara dirinya dengan Leon.
“Dia masih belum berubah. Mengerjakan semuanya sendiri.” dalam hati Sila menatap Leon.
Seketika Leon berbalik untuk meletakkan makanan yang ia masak di meja dapurnya itu.
Leon sedikit kaget melihat Sila berdiri diam di sana. “Sila ... kenapa kau disini?” tanya Leon.
Sila ikut kaget karena tidak sadar Leon berbalik. Ia langsung menggerakkan bola matanya melihat ke arah lain.
“Saila mau minum teh susu. Aku mau buat untuknya,” jawab Sila.
“Nggak usah. Biar aku saja yang buat. Aku bisa membuatnya sendiri. Kau ngobrol saja dengan Saila di kamar!” ucap Leon sambil tersenyum.
“Tapi Saila yang memintanya sendiri. Biar kubuat dulu susunya, baru kesana!” balas Sila.
“Oke. Terserah kau kalau mau buat sendiri!” balas Leon.
Sila kemudian melangkah masuk ke dalam dapur, dan mulai sibuk membuat teh susu untuk Saila, sedangkan Leon kembali dengan kesibukannya sendiri tanpa mengganggu Sila di sana.
Sila merasa canggung berduaan dengan Leon di dapur. Rasanya ia ingin cepat menyelesaikan kesibukannya itu, dan pergi dari dapurnya.
Bagaimana Sila tidak canggung dengan Leon? Leon itu orang yang dicintainya, dan sekarang malah menjadi saudara iparnya.
Meskipun Sila tidak punya niat untuk merebut Leon dari Saila, namun tetap saja dia merasa canggung jika berdekatan dengan Leon. Lelaki yang pernah menjadi pacarnya, bahkan hampir dilamar oleh Leon.
Berbeda dengan Leon. Leon terlihat santai dan biasa saja. Sama sekali tidak canggung. Mungkin karena Leon sudah melupakan cintanya pada Sila, dan hanya menganggap Sila sebagai saudara iparnya sendiri.
Sila pun selesai membuat teh susunya, dan ia ingin kembali ke kamar Saila. Ia memegang gelas susunya, kemudian berbalik untuk pergi. Namun, tanpa sengaja ia menabrak Leon yang tiba – tiba saja berjalan ke arahnya. Gelas susu yang ia pegang langsung jatuh ke lantai dan pecah berserakan.
“Maaf ... aku nggak sengaja!” Sila meminta maaf di depan Leon. Wajahnya terlihat syok saat melihat susu mengenai pakaian Leon.
“Nggak apa – apa,” balas Leon sambil membersihkan susu yang mengenai dirinya dengan tangannya.
Sila kemudian berjongkok untuk membersihkan gelas yang ia jatuhkan tadi.
Ia memungut gelas kacanya di sana. “Auw!” Tanpa sengaja pecahan gelas mengenai jari telunjuknya.
__ADS_1
Leon dengan cepat berjongkok. “Apa yang kau lakukan?” tanya Leon saat melihat Sila memungut gelas kacanya sampai tangannya terluka.
“Aku mau bersihkan kacanya,” balas Sila.
Leon kembali berdiri, kemudian berjalan mengambil kotak obat yang letaknya dekat di dapurnya itu. Ia kembali mendekati Sila, kemudian menarik tangan Sila untuk mengobatinya. Namun seketika Sila menarik tangannya dari Leon.
Leon sedikit kaget saat Sila menarik tangannya yang baru saja di pegangnya. Ia hanya bisa menghela nafasnya di depan Sila. “Ini kotak obatnya.” Menyerahkan kotak obat di depan Sila. “Kau harus cepat mengobati tanganmu itu. Jangan sampai infeksi!” ucap Leon.
“Terima kasih!” Sambil meraih kotak obat di tangan Leon.
“Kau temani Saila saja. Biar aku yang buat teh susunya!” perintah Leon sambil memungut pecahan kacanya itu menggunakan tangannya sendiri.
Sila langsung berdiri tanpa membalas ucapan Leon lagi. Ia meninggalkan dapurnya dengan tangannya yang terluka, sedangkan Leon masih berjongkok di sana membersihkan gelas kacanya tadi.
Saat berjalan menuju kamar Saila, Sila menatap tangannya yang terluka. Seketika ia mengingat masa lalunya dengan Leon disaat ia terluka seperti itu.
Leon tidak sama lagi dengan yang dulu. Dulu jika ia terluka, Leon pasti kekeh memaksa untuk mengobati luka kecilnya, tidak membiarkan dirinya mengobati lukanya sendiri, namun sekarang tidak sama lagi. Leon bahkan tidak sepanik dulu.
Sakit ditangan Sila sekarang tidak sebanding dengan rasa sakit hatinya jika mengingat itu semua. Kenapa tuhan tidak membiarkannya melupakan masa lalunya, seperti Leon yang sudah melupakan cintanya?
Apa ia punya banyak dosa sampai tuhan membuatnya tidak bisa melupakan Leon, yang sekarang menjadi suami Saila. Sungguh memalukan baginya yang masih mencintai Leon, mencintai suami saudara kembarnya sendiri.
Sila kemudian meletakkan kotak obatnya di sembarang tempat, lalu masuk ke dalam kamar Saila. Di sana sudah terlihat Riana dan Saila saling bercanda. Ia berjalan mendekati Saila, dan duduk di samping Saila.
“Mana teh susuku?” tanya Saila.
“Ada sama Kak Leon. Nanti dia yang bawakan kesini,” jawab Sila.
“Oh!” balas Saila sambil tersenyum.
Tak lama kemudian, Leon menyusul masuk ke dalam kamarnya. Ia membawa pesanan susu istrinya tadi. Ia berjalan menghampiri mereka. Dan saat itu, Sila langsung berdiri membiarkan Leon duduk di tempat yang ia duduki.
Leon pun duduk di tepi tempat tidurnya, menyodorkan gelas susu di depan istrinya sambil tersenyum.
Saila menatap sejenak susunya. “Mas Leon yang buat ya?” tanya Saila.
Leon mengangguk. “Iya, aku nggak sengaja menjatuhkan susu yang dibuat Sila tadi, jadi ku buat ulang. Nggak apa – apa, kan?” tanya Leon khawatir dengan susu buatannya. Ia khawatir kalau Saila menolak dan tidak suka.
Saila pun meraih gelas susunya. “Nggak apa - apa,” jawab Saila sambil tersenyum. Ia meminum susu yang di buatkan Leon sambil menatap Leon, Sila, dan Riana secara bergantian.
__ADS_1
Tiba – tiba Saila tidak sengaja melihat luka kecil di tangan Sila.
“Sila, kenapa tanganmu?” tanya Saila.
Sila langsung menarik tangannya ke belakang punggung, menyembunyikannya di sana.
Sila menggelengkan kepalanya. “Ini hanya luka kecil kok. Nggak sakit. Aku sudah mengobatinya tadi. Jangan khawatir!” ucap Sila diikuti senyum manis dibibirnya menatap Saila.
Leon memegang atas kepala istrinya dengan lembut. “Sudah, jangan khawatir. Sila nggak apa – apa. Aku sudah memberikannya obat tadi. Cepat minum susumu itu!” ucap Leon. Leon berkata seperti itu agar Saila tidak khawatir dan stress melihat Sila yang terluka.
“Iya,” balas Saila sambil tersenyum.
Riana dan Sila merasa canggung melihat mereka berdua yang terlihat mesra, sampai mereka sama – sama memalingkan wajahnya melihat ke arah lain.
Leon kemudian menoleh ke arah Sila dan Riana.
“Aku sudah masak makan siang di luar. Kita makan siang dulu,” ucap Leon.
“Iya,” balas Riana sambil tersenyum.
Sementara Sila hanya tersenyum tak membalas ucapan Leon.
Leon berdiri dari tempatnya, kemudian meraih tangan Saila. “Ayo. Kita makan dulu!” ajak Leon.
Saila menarik tangannya dari tangan Leon. “Aku bisa jalan sendiri. Nggak usah di pegang begitu!” tolak Saila. Tidak membiarkan Leon menuntunnya keluar dari kamarnya. Ia merasa tidak enak hati kalau berpegangan tangan di depan Sila dan Riana.
Namun, Leon kembali menarik tangan Saila, dan menggenggamnya dengan erat sampai Saila tidak bisa melepaskan tangannya lagi.
Ia menarik tangan istrinya keluar dari kamarnya. Dan saat itu, Saila sempat melirik Sila yang seketika memasang senyum di depannya. Sila tersenyum memperlihatkan di depan Saila kalau ia terlihat senang dan bahagia.
.
.Bersambung.
.
.
.
__ADS_1