SILA DAN SAILA

SILA DAN SAILA
Bingkai foto


__ADS_3

Kini Leon dan Saila duduk di Ruang Keluarganya bersama dengan Bima dan Yasmin. Mereka berdua ingin berpamitan pada Bima dan Yasmin untuk pindah ke Apartemen yang Leon tempati.


“Jadi kau berencana untuk membawa Saila tinggal bersamamu?” tanya Bima dengan serius menatap menantu laki – lakinya.


“Iya om, om dan tante tenang saja. Kami berdua akan selalu berkunjung ke sini setiap hari sabtu,” jawab Leon.


“Memangnya kau tidak suka tinggal disini?” tanya Bima kembali menatap Leon dengan mengerutkan keningnya.


“Bukan seperti itu om. Saya dan Saila kan sudah menikah, jadi kami berencana untuk membangun keluarga kecil kami sendiri. Bukan karena saya dan Saila tidak suka tinggal disini,” jawab Leon dengan wajahnya yang khawatir. Ia khawatir kalau ayah mertuanya salah paham maksud dirinya yang ingin tinggal di Apartemennya sendiri bersama Saila.


Bima terlihat menghela nafasnya dengan pelan melihat menantunya dengan tatapan serius.


“Baiklah! Kau boleh tinggal di Apartemen milikmu bersama Saila, tapi aku tidak mau mendengar ada masalah yang terjadi di antara kalian. Aku tidak suka mendengar keributan apapun. Kalau ada masalah, selesaikan dengan baik. Dan jangan lupa dengan janjimu itu, kalau kau tidak akan membuat Saila sedih, apalagi sampai mengeluarkan air matanya,” jelas Bima dengan serius.


“Baik om, saya selalu ingat dengan janji saya ....” Jawab Leon sambil menganggukkan kepalanya mendengar ucapan ayah mertuanya itu.


“Leon ... kau sudah menjadi menantu kami. Jangan memanggil om dan tante lagi ya. Panggil ayah dan ibu seperti Saila,” sahut Yasmin sambil tersenyum melihat menantunya.


“Baik tante ... eh ... ibu,” jawab Leon membalas ucapan Yasmin sambil tersenyum pada mertua perempuannya itu.


Yasmin kemudian mengalihkan pandangannya pada Saila. “Saila ....”


“Ya bu,” jawab Saila.


“Pergilah bereskan barang – barangmu di atas. Ajak juga suamimu ke atas,” pinta Yasmin.


“Baik bu.”


Saila pun mengajak suaminya untuk naik ke atas kamarnya mengambil semua barang – barang miliknya. Mereka berdua berdiri dari tempat duduknya, kemudian berjalan untuk meninggalkan Ruang Keluarganya.


Namun, baru beberapa langkah, Bima tiba – tiba saja memanggil putrinya kembali.


“Saila ....” Panggilnya.


Saila menghentikan langkahnya, kemudian menoleh ke arah ayahnya, begitu pula dengan Leon yang ikut menoleh melihat ayah mertuanya itu.


“Ada apa, Yah?” tanya Saila.

__ADS_1


“Sore nanti ayah dan ibumu berencana ke Prancis untuk menjemput Sila kembali ke sini, sekalian mengantar Ansel sekolah di tempat bibimu. Jadi mungkin ayah dan ibu tidak akan ada disini selama beberapa hari,” jelas Bima pada anaknya.


“Baik, Yah.” Saat itu, Saila sesekali melirik suaminya ketika mendengar kata – kata ayahnya tentang Sila. Ia ingin tahu apa yang di rasakan Leon? Takutnya Leon merasa tidak nyaman mendengar Sila akan kembali, karena sekarang Leon sudah menikah dengan dirinya.


Tampak di wajah Leon biasa saja. Tidak menunjukkan ekspresi kaget atau pun senang, namun Saila sama sekali tak menyadari hal itu.


“Naiklah ke atas!” Perintah Bima kembali sesaat setelah mendengar jawaban anaknya.


"Baik," jawab Saila.


Saila kembali melanjutkan langkahnya diikuti suaminya dari belakang. Saat Saila berjalan menuju lantai 2 kamarnya, ia memikirkan tentang Sila. Bagaimana kalau Sila kembali dan mengetahui kalau kekasihnya sudah menikah dengannya, bahkan hamil anaknya?


Pasti hati Sila akan hancur. Ia sama sekali tidak berniat untuk mengambil Leon dari Sila, namun keadaan yang memaksanya untuk bersama Leon. Apa yang harus ia lakukan kalau Sila kembali?


Bagi Saila, persaudaraannya dengan Sila lebih penting dari apapun. Bahkan ia akan memberikan apapun yang ia miliki selama hubungannya dengan Sila tidak retak. Apalagi Leon adalah kekasih Sila, bukan kekasihnya. Ia sama sekali tidak berhak merebut kekasih saudaranya.


Karena melamun memikirkan Sila, kakinya sampai tersandung di tangga. Dengan sigap Leon menangkap tubuhnya dari belakang sampai tak sengaja bibirnya menyentuh bibir Saila. Leon dengan cepat mengangkat kepalanya, menatap Saila yang kaget melihat dirinya. Mereka saling bertatapan sejenak yang membuat jantung Leon berdegup kencang.


“Ma-Mas Leon, sampai kapan kau akan begini. Tolong lepaskan aku?” tanya Saila dengan suaranya yang terdengar gagap saat melihat Leon diam tanpa melepaskan tubuhnya. Ia terlihat canggung ketika Leon terus menatapnya tanpa mengalihkan pandangan darinya.


“Eghem!” Leon masih terlihat canggung dan malu. Karena malu melihat Saila, ia lebih memilih memalingkan wajahnya ke samping, menghindari tatapan Saila darinya.


Saila menunjukkan ekspresi biasa di depan Leon, padahal ia juga malu ketika bibir mereka bersentuhan tadi, apalagi Leon yang terus menatapnya. Itu karena menurut Saila, hal itu hanya hal biasa. Tak perlu ia pusingkan, apalagi ia dan Leon hanya menikah karena janinnya saja.


Ia kembali bicara ketika melihat Leon yang hanya diam tanpa mengatakan apapun. “Mas Leon ... ayo ke kamar. Katanya mau membantuku mengambil barang – barangku.” Ajak Saila pada Leon.


Leon menoleh ke arah Saila. “Oh, oke.”


Saila kembali melanjutkan langkahnya menuju kamarnya diikuti Leon dari belakang.


“Kenapa dia biasa saja ekspresinya. Apa dia tidak canggung saat aku tidak sengaja menciumnya tadi. Apa dia benar – benar tidak ada perasaan padaku?” Dalam hati Leon.


Ia terlihat tidak suka dengan ekspresi yang di tunjukkan Saila padanya tadi. Hanya ekspresi biasa yang di tunjukkan Saila. Tidak seperti dirinya yang canggung dan deg deg kan.


Mereka berdua pun sampai di depan kamar. Saila memegang gagang pintunya, kemudian membukanya dengan cepat. Ia masuk ke dalam kamarnya bersama dengan Leon.


Saat masuk ke dalam kamar, Leon melihat seluruh ruangan kamar milik istrinya. Dindingnya di penuhi cat warna merah muda, berbeda sekali dengan karakter Sila yang suka dengan warna biru dan hitam.

__ADS_1


“Saila ....” Panggil Leon.


Saila menoleh melihat Leon. “Ya.”


“Kau suka dengan warna pink ya?” tanya Leon.


Saila pun ikut melihat dinding kamarnya yang di penuhi dengan warna merah muda.


“Iya, suka. Tapi bukan hanya warna pink saja. Aku suka semua warna yang lembut,” jawab Saila.


Leon tersenyum melihat istrinya, kemudian melangkah ke arah foto yang ada di atas meja nakas saat ia sadar dengan foto yang terpajang di sana, tepat di samping tempat tidur Saila.


Ia meraih bingkai fotonya melihat foto Saila, Sila, Riana dan Zidan. Di dalam foto terlihat Saila memegang lengan Zidan, sedangkan Sila hanya berdiri tersenyum dengan santai bersama dengan Riana.


Leon pun menunjuk Saila di dalam foto, merasa penasaran, siapa yang ada di dalam foto memeluk lengan Zidan?


“Apa ini kau?” tanya Leon.


Saila mendekat melihat foto yang di tunjuk Leon. “Iya, ini aku dan Kak Zidan. Ini foto di ambil saat Sila mau berangkat keluar negri,” jawab Saila sambil tersenyum melihat fotonya. Ia kemudian menunjuk foto Sila. “Ini Sila dan Riana. Kami berempat berteman sejak kecil. Sila sedikit tomboi tapi cantik dan baik. Mas Leon beruntung bisa bertemu dengan Sila. Dia pintar bergaul.”


Leon tidak melihat foto Sila, namun ia fokus melihat foto istrinya dengan Zidan. Ada rasa tidak suka dalam dirinya ketika melihat foto itu. Tidak tahu kenapa ia merasa kesal sendiri, meskipun foto itu di ambil beberapa tahun yang lalu? Apalagi ketika Saila tersenyum sambil mengusap fotonya dengan Zidan, wajahnya sangat kesal. Ia kemudian merebut bingkai foto yang di pegang Saila dan melemparnya ke kasur.


Saila langsung terkejut melihat Leon saat Leon merebut bingkai fotonya.


“Tidak usah melihatnya lagi. Kita sudah terlambat. Cepat ambil barang – barangmu baru kita pergi.” Pinta Leon dengan wajahnya yang kesal.


“Oh ... oke.” Saila dengan cepat berjalan menuju Ruang Gantinya. Ia melihat kekesalan yang ditunjukkan Leon padanya, namun ia merasa kalau Leon kesal karena ia sangat lambat membereskan barangnya.


.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2