
Pukul 8:00 pagi.
Saila baru saja turun dari mobil suaminya. Ia berjalan untuk masuk ke dalam kampus, namun panggilan Leon tiba – tiba menghentikan langkahnya.
“Ada apa Mas?” tanya Saila.
“Jangan lupa dengan semua yang kukatakan tadi di mobil! Kamu tidak boleh dekat dengan pria atau pun membiarkan seorang pria menyentuhmu! Kau mengerti, kan?” ucap Leon sambil mengeluarkan kepalanya di jendela mobilnya.
“Iya, aku mengerti. Mas Leon sudah mengatakan itu ratusan kali,” jawab Saila dengan ekspresi kesalnya melihat Leon, bibirnya cemberut di sana.
“Masuklah!” perintah Leon.
“Iya,” jawab Saila.
Saila kembali melangkah untuk masuk ke dalam kampusnya.
"Tunggu sebentar!" Lagi - lagi Leon memanggil Saila, membuat Saila kembali menghentikan langkahnya di sana.
"Ada apa lagi?" tanya Saila dengan wajahnya yang sudah kesal dengan Leon.
"Mana ciumannya?" pinta Leon sambil memajukan kepalanya keluar dari jendela kaca mobilnya.
"Tadi waktu aku mau turun dari mobil, Mas Leon kan sudah mencium keningku. Mas Leon sudah lupa ya?" tanya Saila.
"Disini belum, Saila." Leon menunjuk - nunjuk pipi kanannya dengan jari telunjuknya, menunjukkan di depan Saila.
"Kenapa aku harus mencium Mas Leon disitu?" tanya Saila mengerutkan keningnya, merasa aneh dengan permintaan Leon.
"Ya, tentu saja harus kau lakukan. Masa cuma aku yang menciummu sih. Harusnya kamu juga mencium suamimu. Kalau orang - orang lihat, mereka pasti menyangka, kalau cuma aku yang mencintaimu, sedangkan kamu tidak!" jelas Leon.
Saila menghela nafasnya dengan kasar sambil memutar bola matanya ke arah lain, karena kekesalannya melihat tingkah Leon yang banyak maunya itu. Ia kemudian memajukan badannya untuk mencium pipi Leon di sana dengan ekspresi yang enggan untuk melakukannya, namun beda halnya dengan Leon yang sangat senang dan menikmati momennya itu.
Saila kembali menegakkan tubuhnya di samping mobil Leon, menatap Leon dengan bibir cemberutnya.
Ya, meskipun Saila tidak mau melakukannya, namun dengan terpaksa Saila harus menuruti permintaan Leon saat Leon mengatakan, kalau semua yang dilakukannya demi hubungannya yang tidak di curigai orang lain.
"Sudah. Aku boleh masuk sekarang, kan?" tanya Saila.
"Gadis pintar!" puji Leon.
Saila memalingkan wajahnya. "Huh ... ."
"Masuklah!" perintah Leon sambil tersenyum manis melihat wajah istrinya yang cemberut. Seakan suka melihat Saila berwajah cemberut di depannya.
__ADS_1
Saila hanya diam tanpa membalas ucapan Leon atau pun melihat Leon.
Sementara Leon menutup kembali jendela kaca mobilnya, dan menyalakan mobilnya meninggalkan Saila yang masih berdiri di sana.
“Dia bawel banget sih. Banyak maunya.” Kesal Saila sambil menatap mobil Leon yang melaju meninggalkan kampusnya.
Memang sejak di perjalanan menuju kampus, Leon selalu mengingatkan Saila tentang statusnya yang sudah menikah. Tidak pantas bagi Saila untuk dekat dengan seorang pria manapun. Dan sejak Saila meminta maaf dengan cara mencium Leon, Leon sudah mulai menunjukkan sifat aslinya yang posesif itu.
***
Dari kejauhan terlihat Sila yang berjalan menghampiri Saila.
“Saila,” panggil Sila.
Saila menoleh ke belakang ketika mendengar panggilan dari saudarinya.
“Sila ... kau sudah datang sejak tadi?” tanya Saila saat Sila sudah berdiri di depannya.
“Aku baru saja datang 5 menit yang lalu sama Kak Zidan,” jawab Sila.
“Terus ... mana Kak Zidan? Kenapa kau tidak bersama dengannya?” tanya Saila sambil melihat ke belakang, apakah ada Zidan di sana?
“Dia sedang memarkirkan mobilnya di parkiran kampus. Dan aku melihatmu disini saat aku mau masuk ke dalam kampus, jadi aku datang menghampirimu,” jawab Sila.
“Kau di antar suamimu ya?” tanya Sila sambil berjalan masuk ke dalam bersama Saila.
“Iya,” jawab Saila sambil tersenyum pada Sila. “Oh, ya. Kenapa kau tidak memakai mobil sendiri ke kampus. Kau kan suka sekali mengendarai mobil sendiri?” tanya Saila penasaran.
“Tentu saja itu semua karena ayah yang tidak mengijinkanku pakai mobil sendiri. Dia memberikanku pilihan, di berikan pengawal pribadi atau di antar Kak Zidan. Tentu saja aku pilih di antar Kak Zidan. Dari pada harus di kawal sama orang – orang berbaju hitam dan kaku itu. Aku tidak suka dengan mereka!” jelas Sila dengan wajahnya yang kesal mengingat ayahnya yang memaksa kan kemauannya sendiri.
“Kenapa ayah sampai melarangmu naik mobil sendiri. Ayah kan tidak pernah melarangmu selama ini?” tanya Saila yang semakin penasaran.
Sila menoleh melihat Saila yang saat itu berjalan di sampingnya. “Ayah takut kalau aku akan hamil sepertimu.”
Saila sedikit kaget, merasa bersalah dengan Sila. “Maaf kan aku ya. Ini semua gara – gara aku!” ucap Saila yang meminta maaf pada saudarinya itu.
Sila menghela nafasnya ketika mendengar Saila meminta maaf dengan wajahnya yang terlihat bersalah.
“Jangan merasa bersalah begitu. Aku tidak pernah menyalahkanmu tentang yang terjadi. Hanya ayah saja yang terlalu khawatir dan tidak percaya denganku,” ucap Sila sambil memegang bahu Saila diikuti senyuman di bibir Sila pada saudari kembarnya itu.
“Iya,” jawab Saila.
“Ayo ... temani aku melapor ke ruangan dosen dulu. Kata Kak Zidan, aku harus melapor dulu sebelum masuk ke kelas!” ucap Sila menarik tangan Saila, menyuruhnya menemani ke ruangan dosennya.
__ADS_1
“Ok,” jawab Saila.
Mereka berjalan menyelusuri lorong kampus menuju ruangan dosen yang di maksud Sila.
Saat berjalan beberapa langkah, tiba – tiba seorang murid pria menabrak Saila yang membuat Saila hampir jatuh. Jika saja tidak ada Sila yang langsung memegang lengannya, Saila pasti akan jatuh ke lantai. Meskipun tidak jatuh, namun, lengan Saila sakit akibat benturan dari pria itu.
Pria tadi kembali berjalan tanpa peduli dengan Saila yang ia tabrak. Hal itu membuat Sila marah dan kesal.
“Hei ... apa kau tidak bisa jalan pakai mata?” teriak Sila dengan keras saat melihat lelaki itu berjalan menjauhinya.
Lelaki tadi langsung menoleh ke belakang melihat Sila dan Saila. Bukannya ia meminta maaf pada Saila, namun ia diam menatap Sila dan Saila secara bergantian, bingung melihat mereka yang begitu mirip.
“Kau itu kurang ajar sekali ya. Habis menabrak orang langsung pergi saja. Apa kau tidak punya sopan santun?” Sila kembali berteriak dengan wajahnya yang emosi melihat lelaki yang ada di depannya.
“Sila ... sudah lah. Jangan teriak – teriak begitu. Dia tidak sengaja menabrakku tadi,” sahut Saila mencoba menenangkan Sila.
“Kau tidak lihat dia langsung pergi saat dia menabrakmu. Kalau tidak kuteriaki, dia tidak mungkin kembali,” ucap Sila dengan nada suaranya yang terdengar kesal.
Sila kembali menatap si pria didepannya itu. "Apa lagi yang kau tunggu? Cepat minta maaf padanya!" teriak Sila dengan marah.
Kedua tangannya memegang pinggangnya sambil melototi si pria di depannya itu.
Lelaki tadi tersadar mendengar teriakan Sila. “Maaf nona, saya tidak sengaja. Saya terburu – buru masuk kelas. Saya pikir, saya tidak menyakiti Anda tadi, makanya saya langsung pergi!" Dengan cepat ia meminta maaf di depan Sila dan Saila, menatap kedua gadis itu secara bergantian.
“Biarpun kau tidak sengaja dan merasa tidak menyakiti orang yang kau tabrak, tapi kau tetap harus meminta maaf padanya. Jangan pergi begitu saja. Bikin kesal saja!” tegas Sila.
“Sila, sudah lah,” ucap Saila menenangkan saudari kembarnya yang tidak berhenti marah.
“Sekali lagi saya minta maaf, Nona!” ucap si pria itu dengan rasa bersalahnya.
“Cih ... pergi sana!” perintah Sila dengan nada tinggi pada lelaki yang berdiri di depannya itu.
Lelaki tadi kembali melangkah meninggalkan Sila dan Saila.
.
.
.
Bersambung
.
__ADS_1
.