SILA DAN SAILA

SILA DAN SAILA
Aku seperti orang bodoh dimatamu


__ADS_3

Saila masih duduk menangis menatap Sila, saudara kembarnya. Air matanya tak henti – hentinya jatuh di kedua pipinya.


“Sila ... Sila!” Saila kembali memanggil saudaranya, menatapnya dengan pandangan sedih.


Sila menggerakkan bola matanya melihat Saila sejenak, kemudian menarik tangannya yang di pegang Saila.


Saila sedikit kaget ketika Sila menarik tangannya sendiri.


Sila kemudian berusaha untuk berdiri di depan Saila yang masih berjongkok di lantai.


Saat berdiri, Sila menatap kesal Saila yang berlutut di depannya, tak mau berdiri.


“Berdiri!” perintah Sila dengan nada sedikit tegas di depan Saila.


Saila hanya mengangkat kepalanya melihat Sila.


“Sila, apa yang kau lakukan?” sahut Zidan yang terlihat takut melihat ekspresi Sila.


Sila mengangkat tangannya di depan Zidan. “Jangan ikut campur!” Menyuruh lelaki itu untuk diam.


Zidan pun akhirnya diam, sedangkan Sila kembali menatap Saila.


“Aku bilang berdiri!” perintah Sila kembali dengan tegas.


Saila berusaha berdiri dengan pelan di depan Sila. Dan saat itu, Sila hanya menatap diam saudara kembarnya tanpa mengatakan apa – apa.


“Sila, aku minta maaf kalau aku menyakitimu, tapi aku tidak berniat mengambil Kak Leon darimu. Tolong jangan benci aku! Hiks ... hiks ... hiks ... aku menikah dengan Kak Leon hanya karena aku hamil. Aku sama sekali tidak mencintainya. Percaya padaku! Aku sama sekali tidak cinta sama Kak Leon. Dan aku hanya pura – pura mengakui Kak Leon sebagai pacar di depan ayah dan ibu, karena takut ayah marah besar pada Kak Leon. Tolong percaya padaku!” jelas Saila dengan tangisannya yang pecah.


Saila bahkan memanggil suaminya dengan sebutan kakak agar Sila tidak menganggap mereka berdua dekat.


Plak ...


Seketika tamparan mendarat di pipi Saila saat Saila selesai bicara panjang lebar.


A’... Terdengar suara Saila yang kesakitan menerima tamparan dari Sila, namun ia sama sekali tidak memegang pipi bekas tamparannya itu.


Zidan maju dan langsung memegang kedua bahu Saila. “Sila, apa yang kau lakukan? Kenapa kau menampar Saila? Dia tidak salah, yang harus kau salahkan adalah lelaki yang membuat kalian jadi begini!” Zidan sangat marah dengan Sila yang menampar Saila.


“Jangan ikut campur, Kak Zidan!” Mengalihkan pandangannya pada Zidan “Aku menamparnya, karena dia sudah menganggapku seperti orang bodoh!” Menatap Saila dengan marah.

__ADS_1


Saila menunduk menerima amarah saudara kembarnya. Apapun yang akan di lakukan Sila, akan ia terima, selama Sila tidak membenci dirinya.


Sila maju mendekati Saila, kemudian memegang dagu Saila, mengangkatnya sampai mereka saling bertatapan.


“Kau bilang aku adalah saudaramu, bukan? Kau bilang kau menyayangiku, kau percaya denganku, tapi kenapa kau menganggapku seperti orang bodoh, Saila. Kenapa? Hah!” teriak Sila dengan keras. “Aku dengan antusiasnya menceritakan diriku dan Kak Leon. Dan kau malah menyembunyikannya dariku. Tega sekali kau, Saila!”


Sila melepaskan genggamannya, menatap Saila dengan amarahnya. Seketika air matanya keluar menatap wajah saudara kembarnya itu.


“Maafkan aku. Aku tidak ingin kau sakit hati kalau kau tahu semuanya, Sila. Aku takut kau membenciku. Tolong maafkan aku!” ucap Saila diiringi suara tangisannya.


“Sekarang bagaimana? Aku sudah tahu semuanya. Kau sudah gagal membuatku tidak sakit hati. Dan aku malah semakin membencimu!” Sila kembali maju, memegang kedua bahu Saila, menatapnya dengan mata merah berkaca – kaca.


“Kau tahu kenapa? Karena sejak awal kau tahu hubunganku dengan Leon, tapi kau malah menyembunyikannya dariku, menganggapku seperti orang bodoh yang tidak tahu apa - apa!” Lanjut Sila sambil menggeleng – gelengkan kepalanya, tangisannya pecah di depan Saila. “Apa hatiku selemah itu, Saila, sampai kau mengira aku membencimu, karena Leon?” lanjut Sila.


Sila sangat marah pada Saila. Bagaimana bisa Saila berpikir kalau ia akan membencinya, karena pernikahannya dengan Leon? Itu pun pernikahan karena sebuah kesalahan semata.


Sila kemudian menepuk – nepuk dadanya. “Aku memang sedih, tidak terima, sakit hati mendengar kau menikah dengan Leon. Tapi entah kenapa? Aku lebih sakit hati saat saudaraku sendiri sengaja menyembunyikan masalah sebesar ini padaku, bahkan ada kaitannya denganku. Hatiku sesak, Saila. Hatiku sesak. Aku seperti orang bodoh dimatamu!” Menatap Saila dengan mata merahnya, karena amarah.


Bagaimana Sila tidak sakit hati dengan saudara kembarnya itu? Saila menyembunyikan semuanya dan menanggungnya seorang diri. Bahkan yang Sila tahu sejak dulu, kalau Saila sangat menyukai Zidan sejak kecil, namun tiba – tiba Saila mengalami hal yang menurut Sila, menyakitkan. Sila sangat kecewa dengan Saila yang menganggap tali persaudaraannya selama ini dianggap remeh oleh Saila.


 “Sila ... hiks ... hiks ... maafkan aku!” Saila terus menangis di depan Sila.


“Sila!” Saila memanggil Sila dengan suaranya yang terdengar gemetar, memegang kedua tangan Sila, menatapnya dengan penuh kesedihan dan air mata.


“Aku bilang pergi!” teriak Sila sambil mendorong Saila.


Zidan maju mendekati Saila, memegang tubuh Saila.


“Saila, kau keluar dulu. Biar aku yang bicara dengan Sila!” pinta Zidan.


Saila mengangguk dengan tangisan yang masih tidak berhenti.


Saila pun berjalan pelan meninggalkan kamar Sila sambil menangis sedih, sedangkan Zidan masih berdiri di depan Sila yang memalingkan wajahnya ke samping tak ingin melihat Saila yang keluar kamarnya.


Saat Saila sudah tidak terlihat di kamar Sila, Zidan maju, kemudian memegang kedua bahu Sila.


“Sila, sebenarnya apa yang membuatmu marah pada Saila. Kau seharusnya tidak menyalahkan Saila. Yang harus kau benci adalah lelaki yang membuat kalian seperti ini?” ucap Zidan menatap Sila dengan serius.


Sila menoleh menatap Zidan. “Aku tidak tahu harus bagaimana menghadapinya Kak Zidan? Aku sudah membuatnya terluka. Hatiku sangat sesak kalau melihatnya seperti itu!”

__ADS_1


Sila kemudian menjatuhkan tubuhnya, berjongkok di lantai memegang kedua lututnya dengan kepala menunduk. Ia menangis di sana.


“Aku yang menghancurkan hidupnya. Aku bersalah pada Saila, tapi aku juga benci dan marah padanya. Aku benci dengannya, karena tidak jujur padaku dan memilih diam menganggapku seperti orang bodoh. Aku tidak tahu harus melakukan apa padanya?” Lanjut Sila.


Tangisan Sila semakin pecah di hadapan Zidan. Ia merasa bersalah pada Saila, merasa benci dengan ketidak jujuran Saila, merasa dianggap kasih sayangnya pada saudara kembarnya begitu lemah. Semua perasaan itu membuat hati Sila sangat kacau.


Zidan menghela nafasnya, kemudian berjongkok memeluk Sila yang menangis di depannya.


Sementara Saila yang berjalan pelan dari Rumah Besarnya, merasa pusing dan lemah di sekucur tubuhnya. Rasanya ia tidak bisa mengangkat kedua kakinya untuk berjalan.


Diluar terlihat mobil Leon yang baru saja tiba. Leon segera keluar dari mobilnya saat melihat Saila berjalan keluar dari dalam rumah.


“Saila!” panggil Leon sambil berlari menghampiri istrinya.


Saila tersenyum menatap suaminya dengan pandangan yang mulai kabur.


“Mas Leon!” Suara Saila terdengar pelan dan lemah.


Ia tidak bisa lagi menahan tubuhnya yang membuat tubuhnya hampir jatuh, dan dengan sigap, Leon menangkap tubuh Saila.


“Saila, ada apa denganmu?” tanya Leon dengan ekspresi paniknya memegang tubuh istrinya.


“Tidak apa – apa. Aku cuma mengantuk,” jawab Saila kembali tersenyum melihat wajah Leon. Ia tersenyum, karena tidak ingin Leon khawatir dengannya.


Seketika Saila memejamkan matanya dengan kepala yang jatuh di dada Leon. Ia tidak sadarkan diri, karena kelelahan.


“Saila ... apa yang terjadi denganmu? Bangun ... Saila, bangun!” Leon menepuk – nepuk pipi istrinya untuk membangunkan istrinya itu, namun Saila tak kunjung bangun.


Leon segera menggendong Saila, kemudian masuk ke dalam mobilnya. Ia melajukan mobilnya dengan cepat meninggalkan Kediaman Mahesa.


.


.


.


Bersambung


.

__ADS_1


.


__ADS_2