
Sila dan Saila menuruni tangga menghampiri suami mereka masing – masing. Sila datang ke arah Leon, dan Saila menghampiri Zidan.
Kedua lelaki itu langsung ingin mendaratkan ciumannya, namun kedua gadis kembar itu pura – pura melihat ke arah lain, karena tidak ingin menerima ciuman yang bukan ciuman dari suaminya.
Hal itu membuat suami mereka bingung. Leon dan Zidan pun saling melihat satu sama lain, memberikan kode kalau ada sesuatu yang terjadi antara mereka. Dan mereka mencurigai kalau yang ada di depannya seakarang bukanlah istrinya.
Untuk membuktikannya, mereka berdua pun merangkul istri mereka yang tertukar itu, dan langsung merasakan bau khas istri mereka yang membuat mereka sadar kalau yang berdiri bersama mereka bukanlah istrinya.
Leon dan Zidan kembali saling melihat satu sama lain, dan mereka saling melempar senyum licik. Mereka berdua berkomunikasi hanya dengan melempar ekspresi masing – masing tanpa bicara, dan mereka sudah mengerti satu sama lain. Wajah kedua lelaki itu seakan merencanakan sesuatu pada kedua gadis kembar yang sedang mengerjainya itu.
Leon dan Zidan yang tadinya merangkul istrinya yang tertukar, langsung melepaskan rangkulannya, kemudian memegang tangan Sila dan Saila.
“Ayo sayang. Kita pergi. Ini sudah waktunya!” ajak Leon menarik tangan Sila keluar dari Villa.
Begitu juga dengan Zidan yang menarik tangan Saila keluar dari Villa. Kedua lelaki itu sudah mengetahui duluan kalau yang mereka bawa bukanlah istrinya, namun mereka sama – sama tersenyum licik tadi seakan ingin mengerjai kedua gadis kembar itu.
Sila dan Saila naik mobil bersama dengan mobil yang di kendarai Leon, karena Leon memang sudah tahu daerah Kota Prancis melebihi siapapun. Leon berencana membawa mereka ke sebuah Restoran mewah yang sering ia kunjungi dulu.
Saat itu, Sila duduk di depan tepat di samping Leon, sedangkan Saila duduk di belakang bersama Zidan.
“Mas- Kak Leon ... kita mau kencan dimana?” tanya Saila yang hampir saja memanggil suaminya dengan panggilan biasa yang ia lakukan. Dan itu membuat Leon pura - pura tidak tahu, begitu juga dengan Zidan.
__ADS_1
“Aku akan bawa kalian di tempat yang bagus,” jawab Leon, kemudian memegang pipi Sila dengan mesra, membuat Saila sedikit cemburu.
Saila langsung cemberut melihat Leon memegang pipi Sila, kemudian berkata: "Kak Leon fokus menyetir saja. Kalau bermesraan di jalan nanti kita bisa kecelakaan."
"Oh ... oke. Aku fokus," jawab Leon sambil melihat Saila di cermin kaca tengah mobilnya.
“Kenapa sayang, wajahmu kok terlihat tidak suka begitu. Biarkan saja mereka mesra - mesra. Kita, kan juga bisa?” sahut Zidan yang menyadari perubahan wajah Saila. Saat itu, Zidan membelai rambut Saila membuat gadis yang duduk di samping Leon ikut cemburu. Ia melihat mereka dari cermin kaca tengah mobil Leon.
Tak lama kemudian mereka telah sampai di sebuah Restoran. Leon langsung memarkirkan mobilnya di parkiran Restoran kemudian segera turun dari mobil, begitu juga dengan ketiga orang yang berada di mobil.
Mereka pun bersama – sama masuk ke dalam Restoran yang terlihat sepi itu.
“Kok sepi sih?” tanya Saila yang saat itu berdiri di samping Zidan.
“Tentu saja sayang. Aku senang kalau sepi begini,” jawab Sila yang berdiri di samping Leon.
“Ya sudah. Ayo kita ke sana. Aku sudah memesan meja terpisah supaya kita bisa menikmati momen kencan ini,” kata Leon kembali menarik tangan Sila ke arah meja yang sudah ia pesan.
Sementara Zidan menarik tangan Saila ke arah meja, tepat di samping kanan meja Leon dan Sila.
Mereka duduk di sana menunggu koki Restoran menyediakan makan siang yang memang sudah mereka pesan ketika Leon dan Zidan memesan tempat itu.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian.
Koki Restorannya sudah datang menghampiri mereka berempat dengan membawa banyak makanan di troli yang ia dorong bersama kedua pelayan Restorannya.
Koki Restorannya itu pun menyajikan makanan mereka di atas meja, kemudian pergi meninggalkan mereka, membiarkan kedua pasangan itu menikmati momen romantisnya.
Zidan yang sudah mengetahui kalau ia dan Leon sedang di kerjai istri – istri mereka, mulai mengikuti permainannya dengan bertingkah mesra di depan Saila. Ia menyuapi Saila beberapa makanan, bahkan membantu Saila mengusap bibirnya yang sedikit berantakan karena makanan yang ia makan.
Tentu saja Saila hanya pasrah menerima perlakuan Zidan padanya dengan tersenyum palsu seakan bahagia dengan sikap Zidan padanya, namun tidak dengan kedua orang yang duduk di meja, tepat di samping kiri meja Zidan dan Saila.
Kedua orang itu menatap tajam Zidan dan Saila, bahkan tidak fokus dengan makanan mereka masing – masing.
“Sialan si Zidan. Apa dia tidak tahu kalau yang duduk bersamanya sekarang adalah istriku, bukan istrinya. Perasaan tadi di rumah dia memberiku kode seakan dia tahu kalau kedua wanita ini sedang mempermainkan suaminya,” batin Leon yang tidak terima sikap Zidan pada istrinya yang terlalu mesra menurutnya.
Begitu juga dengan Sila yang terus menatap mereka dengan api cemburu yang membuatnya melupakan kalau Leon tengah duduk di depannya.
Zidan kembali bersikap mesra pada Saila, namun kali ini Zidan berniat mencium kening Saila untuk membuat Sila cemburu yang akhirnya akan mengungkapkan permainannya itu.
“Sayang ... aku boleh, kan menciummu?” tanya Zidan pada Saila.
“Apa?” Saila terkejut.
__ADS_1
Zidan tidak lagi bertanya, dan langsung berdiri memajukan tubuhnya untuk mencium pucuk kepala Saila.
“Kak Zidaaaannnn!” teriak Sila sambil berdiri secara refleks melihat Zidan dengan tatapan tajam.