
Leon terdiam kaku melihat Saila dengan pakaian tidur sexinya itu. Ia bahkan menelan ludahnya saat melihat tubuh istrinya yang terlihat jelas.
Sementara Saila dengan cepat menutupi dadanya dengan kedua tangannya saat Leon terus menatap dirinya.
“Ini bukan yang Mas Leon pikirkan. A-aku pakai baju begini karena ... karena,” ucap Saila gagap sampai tak tahu harus mengatakan alasan apa pada suaminya? Ia menundukkan kepalanya saat ia tidak bisa memberikan alasan yang jelas di depan Leon.
"Aku harus bilang apa?" dalam hati Saila.
Leon tersenyum saat mendengar ucapan istrinya, apalagi ketika Saila hanya bisa diam malu di depannya. Leon kemudian melonggarkan dasinya sambil menatap Saila.
“Karena apa?” tanya Leon sambil melangkah pelan mendekati Saila sesaat setelah ia melonggarkan dasi di lehernya. Ia melangkah pelan menghampiri Saila di sana.
Saila berjalan mundur ke belakang ketika Leon berjalan mendekatinya. Ia dengan cepat membalikkan badannya membuka lemari pakaian untuk mengambil pakaian gantinya disana, namun Leon langsung menutup kembali lemari pakaian Saila sampai membuat Saila kaget dan membalikkan kembali badannya menghadap Leon. Ia menutup dadanya dengan kedua tangannya saat Leon memajukan kepalanya.
“Mas Leon, aku mau mengambil pakaianku!” pinta Saila sambil melihat Leon dengan ekspresi malunya.
Leon meraih rambut Saila, memainkannya di sana, kemudian bicara pada Saila. “Kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Karena apa kau memakai baju begini?”
Saila menundukkan kepalanya dengan wajah malunya di hadapan Leon. Ia tidak mungkin mengatakan kalau Sila menyuruhnya berpakaian seperti itu untuk menunjukkan pada Leon.
“Ya tuhan. Kenapa aku tidak tahu kalau dia sudah pulang. Dan alasan apa yang harus kukatakan padanya. Aku malu sekali.” Dalam hati Saila.
Leon kembali bicara saat melihat Saila terdiam malu.
“Dari tingkahmu yang diam ini. Aku bisa menebak kalau kau sengaja menggodaku. Ya, kan?” tanya Leon dengan ekspresi senyum tipisnya di depan Saila.
Saila langsung mengangkat kepalanya melihat Leon. “Mas Leon, jangan salah paham. Ini tidak seperti yang Mas Leon pikirkan. Aku hanya mencobanya saja tidak ada maksud apa – apa. Sungguh,” jawab Saila dengan panik.
Leon kembali menatap tubuh istrinya dari bawah ke atas, kemudian bicara kembali pada Saila.
“Tidak usah malu begitu. Lagian aku sudah melihat semuanya setiap inci bagian tubuhmu itu,” ucap Leon.
Saila sudah sangat malu di hadapan Leon. Wajahnya memerah saat mendengar ucapan Leon yang menggodanya.
Leon kemudian melepaskan kanci lengan bajunya di sana sambil terus menatap istrinya dengan senyuman nafsunya.
Saila tampak kaget saat melihat Leon membuka kanci kemejanya. “Ma-Mas Leon mau apa?” tanya Saila.
“Ya tentu saja melepaskan bajuku,” jawab Leon.
__ADS_1
Saila ketakutan melihat Leon ingin membuka baju kemejanya. Ia dengan sigap mendorong pelan tubuh suaminya, kemudian berlari untuk keluar dari sana, namun dengan cepat, Leon menangkap tangan Saila membuat Saila kaget.
“Kau mau kemana?” tanya Leon.
“Ma-Mas Leon ... aku mau ke kamar mandi,” jawab Saila sambil berusaha melepaskan tangannnya dari Leon.
“Setelah menggodaku. Kau mau melarikan diri dariku,” kata Leon.
“Aku benar – benar tidak menggodamu,” jawab Saila.
Leon langsung menarik tubuh Saila, kemudian menggendongnya ala bridal style.
“Mas Leon mau apa? Turunkan aku!” pekik Saila dengan ekspresi paniknya. Ia merasa kalau Leon akan melakukan sesuatu padanya.
Leon tidak menanggapi istrinya, ia hanya berjalan santai keluar menuju tempat tidurnya. Saat berada di tempat tidur, Leon meletakkan Saila dengan pelan, kemudian menatap wajah Saila yang sudah berada di bawahnya.
“Mas Leon, aku sungguh tidak memakai baju ini untukmu. Aku mencobanya karena Sila yang memberikannya!” jelas Saila yang membuat Leon terdiam sejenak. Wajah Leon sedikit kaget saat mendengar nama Sila di bibir istrinya.
“Sila ... .” Leon menyebut nama Sila, memperjelas yang ia dengar dari Saila.
“Iya, dia sudah kembali dari Prancis, dan dia memberikanku kado seperti ini. Dia menyuruhku memakai ini lalu melakukan panggilan VC dengannya untuk menunjukkan padanya. Aku sama sekali tidak ada niat untuk menunjukkannya pada Mas Leon, sungguh!” jelas Saila dengan serius.
Karena kesal, Leon kembali berdiri, kemudian berjalan meninggalkan Saila. Tepat di depan pintu kamarnya, Leon menghentikan langkahnya.
“Cepat ganti pakaian jelekmu itu. Dan jangan sembarangan menunjukkan tubuhmu itu pada orang lain!” tegas Leon dengan kesal.
“Iya,” balas Saila sambil bangun dari sana.
Leon kembali melangkah untuk keluar dari kamarnya, sedangkan Saila tampak tidak enak hati saat Saila sadar melihat ekspresi kekesalan suaminya.
“Mas Leon pasti kesal karena aku tidak katakan padanya lebih awal tentang Sila yang sudah kembali.” Gumam Saila. Ia kemudian menghela nafasnya dengan pelan sesaat setelah mengatakan itu.
Sementara Leon sudah berada di luar kamarnya. Ia berada di dapur dengan wajahnya yang masih kesal.
Ia sibuk memasak makan malamnya di sana.
“Cih ... dia lebih suka menunjukkan tubuhnya itu pada orang lain dari pada suaminya sendiri. Membuatku kesal saja.” Leon mengomel sendiri, merasa tidak terima dengan istrinya yang seakan tak mau berhubungan dengannya. Apalagi ia marah karena Saila rela berpakaian begitu untuk saudaranya bukan suaminya sendiri. Menambah kekesalan dan kecemburuan Leon.
***
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Leon baru saja selesai memasak untuk ia makan berdua dengan Saila. Ia meletakkan semua makanannya di atas meja makannya, kemudian kembali melangkah menuju kamar pribadinya untuk memanggil Saila.
Baru saja Leon ingin membuka pintu kamarnya, namun Saila sudah lebih dulu membuka pintu kamarnya sampai mereka berdua hampir bertabrakan.
"Mas Leon ... ." Saila menatap suaminya dengan kaget.
“Ayo makan. Aku sudah masak makan malamnya!” ajak Leon.
“Iya,” balas Saila.
Leon kembali berjalan menuju meja makannya diikuti Saila dari belakang. Tampak di wajah Saila merasa tidak enak hati dengan Leon saat melihat wajah Leon yang tidak tersenyum padanya. Pikirnya, kalau Leon masih marah karena masalah Sila yang ia sembunyikan.
Saat berada di meja makan, Saila hanya berdiri di dekat kursi tanpa mau duduk di sana, sedangkan Leon sudah duduk di kursinya.
Leon mengangkat kepalanya, menatap Saila yang berdiri di sana. “Kenapa kau tidak duduk? Apa kau tidak suka dengan makanannya?” tanya Leon.
Saila mengangkat kedua tangannya dengan cepat. “Tidak ... tidak. Bukan itu.”
“Terus apa?” tanya Leon.
“Aku mau minta maaf sama Mas Leon.”
“Minta maaf apa?” tanya Leon.
“Tadi siang aku tidak beri tahu Mas Leon, kalau aku datang ke rumah ayah dan ibu untuk bertemu dengan Sila. Aku sengaja, karena belum siap kalau Sila harus tahu kita menikah. Tapi ... kalau Mas Leon mau menemui Sila, tidak apa – apa. Kita bisa jelaskan padanya bersama – sama, kalau kita menikah hanya karena kesalahan. Biar Sila tidak salah paham pada kita. Dan Mas Leon bisa kembali lagi dengan Sila!” jelas Saila.
Leon tambah kesal mendengar perkataan terakhir Saila yang menyuruhnya kembali pada Sila, seakan sudah tidak tahan hidup dengannya. Ia bahkan memalingkan wajahnya tak melihat Saila sambil menghela nafasnya dengan kasar di hadapan Saila. Bahkan selera makannya tiba - tiba saja hilang.
“Kau makan lah sendiri. Aku sudah tidak selera makan. Aku mau mandi!” ucap Leon sambil berdiri dari tempat duduknya.
Leon berjalan masuk ke dalam kamarnya, sedangkan Saila masih berdiri di sana dengan wajah sedih melihat Leon masih marah dengannya.
“Aku sudah minta maaf, tapi kenapa dia masih marah?” Gumam Saila. Saila menghela nafasnya. “Saila ... seharusnya kamu katakan sejak awal padanya kalau Sila sudah kembali. Kamu benar - benar gadis bodoh.” Gumamnya sambil memukul - mukul kepalanya, merasa dirinya sangat bodoh.
Saila kemudian menghentikan aksinya. "Aku harus bicara lagi pada Mas Leon supaya dia tidak marah denganku."
.
.
__ADS_1
Bersambung