SILA DAN SAILA

SILA DAN SAILA
Pertunangan Sila dan Zidan


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertunangan Sila dan Zidan. Para tamu pun sudah mulai berdatangan dari berbagai kalangan bisnis Tuan Bima.


Leon yang sudah mulai tinggal di Kediaman Mahesa, ikut menyambut para tamu yang datang di luar pintu masuk rumahnya. Ia berdiri di sana di temani Ken, asisten Tuan Bima.


Dari luar rumah, terlihat Ben yang baru saja selesai memarkirkan mobilnya, kemudian turun dari mobil dan masuk ke dalam mendatangi sahabat, sekaligus atasannya itu.


Ia langsung berdiri di samping Leon, kemudian memiringkan kepalanya ke samping Leon.


“Hai, kenapa kau berdiri di sini tanpa Saila. Mana istrimu itu?” bisik Ben.


“Saila ada di dalam. Dia tidak perlu menemaniku disini,” jawab Leon.


 “Kau seperti pengawal rumah ini saja. Berdiri disini menyambut tamu. Demi obsesimu agar ayah mertuamu menyukaimu, kau rela berdiri seperti orang bodoh!” kata Ben sambil terkekeh mengejek Leon.


Leon langsung menoleh, menatap tajam Ben, kemudian berkata: “Apa tidak ada yang bisa kau lakukan selain bercanda? Memangnya kau tidak lihat kalau aku ini sekarang memberikan contoh pada si Zidan itu!”


“Contoh apa?” tanya Ben.


“Ya contoh, menjadi menantu idaman keluarga ini? Memang apa lagi? Apa salah kalau aku melakukan ini?” ketus Leon melirik Ben.


“Tidak ada yang salah, Leon. Tapi, pakaianmu yang salah. Harusnya kau tidak memakai jas hitam yang sama seperti pengawal rumah ini. Saat aku baru datang tadi, aku pikir kau seorang pengawal disini!” kata Ben kembali mengejek.


“Sudahlah. Jangan menggangguku. Kau masuk saja ke dalam!” pinta Leon mendorong Ben.


“Baiklah. Aku masuk menemui Saila dulu,” balas Ben.


Ben pun masuk ke dalam setelah bicara pada Leon. Ia datang menghampiri Sila dan Saila yang kini duduk di sofa besar yang berada jauh dari tempat Leon.


Saat ia sudah ada di sana, Ben langsung duduk di tengah antara Sila dan Saila. Ia langsung menggeser tubuh Sila yang membuat Sila terpaksa menggeser tubuhnya ke samping dengan wajahnya yang terlihat kesal.


“Apa – apaan sih nih orang?” gumam Sila kesal melirik Ben yang seakan tidak melihat keberadaannya. Saat itu, Ben memang sengaja tidak menganggap Sila yang duduk di samping kanannya. Ia hanya melihat ke arah Saila yang duduk di samping kirinya.


“Hai, bagaimana kabarmu akhir – akhir ini? Tadi malam aku tidak sempat menanyakan kabarmu!” tanya Ben menatap Saila.


“Baik ... tadi malam aku juga lupa minta maaf sama Kak Ben. Gara – gara kami, Kak Ben jadi susah,” jawab Saila sambil tersenyum.


Ben meletakkan tangannya di atas kepala Saila, kemudian berkata: “Tidak masalah, asalkan kalian bahagia. Aku bisa melakukan apapun, bahkan dipukuli ayahmu juga kuterima!”


Sila yang berada di samping kanannya, langsung menyilangkan kedua tangannya di bawah dadanya, melirik Ben dengan kesal. “Cih ...!”


Namun, Ben dan Saila tidak menanggapinya sama sekali. Mereka asyik mengobrol satu sama lain.


Sila yang tidak bisa melihat wajah Saila, karena terhalang punggung Ben, terpaksa memiringkan kepalanya agar bisa melihat wajah Saila.

__ADS_1


“Saila!” panggil Sila pada saudara kembarnya itu.


“Ya,” balas Saila.


“Apa kau tidak tahu kalau orang ini suka padamu?” tanya Sila yang seketika membuat Ben kaget melihatnya.


Namun Saila terlihat biasa saja mendengar hal itu dari bibir saudarinya.


“Tahu kok,” jawab Saila.


Ben langsung menatap Saila, kemudian berkata: “Kau tahu Saila?”


“Tentu saja aku tahu. Kalau Kak Ben tidak suka, Kak Ben tidak mungkin bicara padaku. Ya, kan,?” kata Saila menatap serius Ben.


Ben seketika kaget dan malu di depan kedua gadis itu. Ia langsung memegang kepalanya, menutupi sebagian wajahnya di depan Sila dan Saila.


“Haiss ... tidak usah malu begitu. Saila saja terlihat santai!” sahut Sila melirik Ben.


“Kenapa sih dengan kalian berdua? Kak Ben bukan hanya suka padaku, tapi juga pada Sila. Kita semua, kan teman. Yaaa ... tentu saja sama – sama suka!” sahut Saila yang melihat kedua orang itu bertingkah tak biasa di depannya.


Ben mengangkat kepalanya melihat Saila dengan ekspresi kaget, begitu juga dengan Sila. Dan seketika Ben tertawa keras di sana. Ia lupa kalau gadis yang ada di samping kirinya itu adalah gadis polos. Gadis yang tak tahu apa – apa. Tawa Ben itu membuat para tamu melihat ke arah mereka.


Sila yang menyadari kalau tawa Ben itu membuat para tamu terganggu, langsung menutup mulut Ben dengan tangannya. “Aduh ... hentikanlah. Jangan tertawa. Mereka semua melihat ke arah sini!”


Sementara Saila yang duduk di samping kiri Ben, terlihat bingung melihat mereka berdua. Ia tidak tahu apa yang membuat Ben tertawa?


Zidan yang baru saja tiba, segera menghampiri mereka yang duduk di sofa. Ia terlihat sedikit cemburu melihat kedekatan Sila dan Ben di sana.


“Sila ... apa aku boleh duduk disini?” tanya Zidan ketika ia sudah berdiri di depan Sila.


“Duduklah!” balas Sila.


Zidan langsung duduk di samping kiri Sila, yang seketika menggeser tubuh Ben dengan kasar. Saila yang merasa tidak nyaman dengan tempat duduknya yang berdesak – desakan, membuatnya terpaksa berdiri dan berpindah ke sofa sebelah.


“Saila, kenapa kau pindah?” tanya Ben.


“Kalian semua sangat aneh. Disini, kan banyak tempat duduk, tapi malah duduk berdesak – desakan begitu!” kata gadis polos itu dengan serius menatap mereka semua secara bergantian.


Ben berdiri dari tempat duduknya, dan melirik Zidan sejenak, kemudian pindah duduk di samping Saila.


“Begini bagus, kan. Kita tinggal minta seseorang untuk foto!” kata Ben saat ia sudah duduk di samping Saila. Ia tersenyum senang di sana.


“Foto apa maksudnya?” tanya Saila sambil mengerutkan keningnya, merasa bingung dengan ucapan Ben.

__ADS_1


“Ya tuhan, Saila. Tentu saja foto berpasangan. Kau dan aku. Sila dan tunangannya itu,” jawab Ben.


“Kak Ben melupakan Mas Leon ya!” kata Saila serius.


“Jangan cari Mas Leonmu. Dia sedang berusaha menjadi menantu idaman sekarang. Dia menyuruhku untuk menggantinya menjadi suami idaman untukmu!” balas Ben tersenyum menatap Saila.


“Dia juga bilang begitu tadi. Kalau dia mau menjadi menantu yang baik, katanya. Padahal aku bilang tidak perlu melakukan itu!” kata Saila.


“Sudah. Jangan pedulikan suamimu. Dia sudah bahagia di sana!” balas Ben yang kembali bercanda pada Saila.


Saila hanya bisa tersenyum menatap suaminya dari kejauhan.


Sementara Zidan yang duduk di samping Sila, mencoba untuk bicara pada Sila tentang pertunangannya.


“Sila, kalau kau mau membatalkan pertunangannya. Waktunya masih sempat. Kau bisa bilang padaku. Aku yang akan bicara pada paman nanti!” kata Zidan.


Sila menghela nafasnya dengan pelan, kemudian menoleh melihat Zidan.


“Karena kau membahas ini, jadi aku mau katakan sesuatu padamu juga!” ucap Sila.


“Apa?” tanya Zidan penasaran.


“Tadi malam aku sudah memikirkannya baik - baik sampai aku tidak tidur semalaman!” Sila kemudian memegang tangan Zidan yang membuat Zidan kaget menatap Sila. “Meskipun aku tidak bisa mencintaimu sekarang, tapi aku bersedia menerimamu menjadi tunanganku. Ini sama sekali bukan paksaan dari siapapun, tapi dari hatiku sendiri yang meminta padamu. Apa kau bisa sabar menghadapiku yang seperti ini?” lanjut Sila menatap Zidan dengan tatapan lembutnya.


Zidan terdiam menatap Sila. Ia tidak menyangka kalau Sila akhirnya menerima pertunangannya tanpa ada paksaan apapun. Meskipun Sila masih belum mencintainya, tapi dengan menerimanya sebagai pasangannya saja sudah membuatnya sangat senang. Tinggal menunggu waktu saja sampai Sila bisa menyerahkan hatinya untuk dirinya.


Setelah terdiam, Zidan kemudian memeluk Sila. Dan Sila membalas pelukan Zidan sambil tersenyum. Kejadian semalam ketika Sila di hubungi David membuat ia berpikir tentang Zidan yang mencintainya. Ia tidak akan lagi terpuruk dalam cinta yang tidak bisa hilang dihatinya. Ia sudah lelah, dan lebih memilih Zidan, meskipun ia masih belum bisa melupakan Leon.


Waktu menuju pertunangannya pun sudah tiba. Mereka semua berdiri dan berjalan menuju tengah – tengah pesta bersama - sama.  Leon yang sejak tadi ada di luar kini sudah berdiri di samping istrinya bersama Ben. Begitu juga dengan Tuan Bima dan Nyonya Yasmin beserta keluarga Zidan dan para tamu.


Sila dan Zidan kemudian melakukan acara tukar cincin, tanpa ada hambatan apapun. Tepuk tangan para tamu dan keluarga membuat acara pertunangannya semakin meriah. Semua tamu yang menghadiri pestanya memberikan selamat pada mereka berdua setelah menyaksikan acara tukar cincinnya.


.


.


Bersambung.


.


.


Acara tunangannya mulus – mulus ajah, tapi ke depannya yang Ngga mulus. Sabar ya, jangan ada yang pada mewek nanti. Saila dan Leon sudah bahagia. Mereka sudah aman dalam kardus, nggak akan di ganggu lagi.

__ADS_1


.


.


__ADS_2