SILA DAN SAILA

SILA DAN SAILA
Jangan membuatku takut


__ADS_3

Setelah bicara dengan pelayan Rumah Kediaman Mahesa, Saila mondar – mandir di depan kamar mandi suaminya, menunggu Leon selesai mandi untuk meminta izin pada suaminya. Namun, Leon tak kunjung keluar dari kamar mandi, sedangkan Saila sudah tidak sabar untuk melihat keadaan Sila di Rumah Besarnya.


“Mas Leon ... Mas Leon!” Saila memanggil – manggil Leon di depan pintu kamar mandinya.


Tidak ada balasan dari dalam kamar mandi. Hanya suara air shower jatuh yang terdengar sangat jelas di telinga Saila.


“Mas Leon!” Saila kembali memanggil suaminya. Lagi – lagi Leon tidak mendengar panggilan istrinya, karena pada saat itu, Leon hanya mendengar suara shower air tanpa mendengar jelas suara panggilan Saila, apalagi Leon fokus memikirkan dirinya tadi yang akhirnya bisa mengatakan pada Saila kalau dirinya tidak ingin pisah. Perasaannya sedikit lega.


Dengan perasaan khawatir Saila membuat ia harus menemui Sila sekarang tanpa peduli pada Leon yang tidak menjawab panggilannya.


Saat ini, ia lebih mementingkan keadaan Sila ketimbang dirinya sendiri. Takutnya kalau Sila melakukan hal – hal yang tidak diinginkan. Bagaimana jika Sila berniat mengakhiri hidupnya karena masalahnya sekarang? Perasaan itu lah yang membuat Saila meninggalkan apartemen Leon tanpa menunggu Leon selesai mandi.


Saila keluar dari apartemennya dan menaiki taksi menuju Rumah Besarnya untuk melihat keadaan Sila. Bahkan Saila tidak peduli jika dirinya sekarang lelah dan lemah demi melihat saudara kembarnya itu.


Di dalam taksi, Saila menghubungi Zidan, menyuruh Zidan ikut datang melihat Sila di Rumah Besarnya.


Tentu saja Zidan mendatangi Rumah Kediaman Mahesa untuk melihat Sila. Apalagi Zidan sudah tahu tentang masalah yang di alami Sila dan Saila selama ini. Ia tahu semua itu dari Riana ketika ia mengantar Riana pulang dari kampusnya tadi.


Ia sangat marah pada Leon yang menghancurkan hidup kedua gadis gembar itu. Bahkan Zidan berencana untuk memberitahu semuanya pada Bima dan Yasmin tentang Leon saat mereka kembali dari liburannya nanti.


***


Kini taksi yang di tumpangi Saila sudah sampai di depan Rumah Kediaman Mahesa. Ia segera turun dari taksi setelah membayar biaya taksinya, kemudian masuk ke dalam Rumah Besarnya.


Ia berjalan cepat masuk ke dalam tanpa peduli dengan para pelayan dan pengawal yang sedang menyapanya.


Saila segera menaiki tangga menuju kamar pribadi Sila. Saat sampai di depan kamar Sila, Saila langsung mengetuk pintu kamar Sila.


“Sila ... buka pintunya. Ini aku, Saila!” panggil Saila sambil terus mengetuk pintu kamar Sila.


Dari dalam kamar Sila, terlihat beberapa barang berserakan di lantai. Setelah bertemu dengan Leon, Sila langsung pulang dan mengamuk di kamarnya, membuat barang – barang di kamarnya berantakan. Dan kini Sila duduk di bawah lantai, tepat di samping tempat tidurnya. Ia duduk diam disana dengan pandangan kosongnya setelah mengamuk dan menangis keras tadi.


Saila kembali memanggil – manggil Sila.


“Sila, buka pintunya. Aku datang untuk bicara denganmu!” teriak Saila.


Sila tidak peduli dengan suara Saila yang memanggil – manggil dirinya. Ia masih diam di sana, menatap lurus ke depan.


Sementara di Apartemen Leon.

__ADS_1


Terlihat Leon yang baru saja selesai berpakaian di Ruang Gantinya. Ia masih belum tahu kalau Saila tidak ada di Apartemen. Pikirnya kalau Saila berada di luar kamarnya sedang bersantai atau sedang berada di dapurnya. Ia berjalan keluar dari kamar menuju dapur untuk mencari keberadaan istrinya, namun ia tidak menemukan Saila di sana. Ia kembali melangkah ke Ruang santainya, melihat apakah Saila sedang menonton TV di sana.


Leon sudah terlihat khawatir ketika berada di Ruang Santai, namun ia tidak menemukan istrinya.


“Saila ... Saila!” Leon memanggil – manggil istrinya sambil berjalan ke Ruang Tamu.


Leon kembali tidak menemukan istrinya disana. Ia segera mengambil ponselnya di saku celana untuk menghubungi Saila.


Suara telfon.


“Dimana kau?” tanya Leon saat Saila mengangkat panggilannya.


“Aku di rumah ayah dan ibu, Mas. Aku melihat keadaan Sila. Sejak tadi dia tidak keluar kamar,” jawab Saila di balik telfon.


Leon menghela nafasnya sambil memejamkan matanya. “Kenapa kau tidak menungguku selesai mandi dulu baru pergi?”


“Aku tadi memanggil Mas Leon, tapi Mas Leon tidak dengar, jadi aku pergi karena tidak bisa menunggu lagi. Aku takut kalau terjadi sesuatu pada Sila. Maaf  Mas Leon!” jawab Saila.


“Tunggu disana. Aku datang menjemputmu!” pinta Leon.


“Iya,” jawab Saila.


Leon segera keluar dari Apartemen miliknya menuju rumah mertuanya untuk menyusul Saila.


***


Di Rumah Kediaman Mahesa.


Saila masih berada di depan kamar Sila. Ia berdiri disana menunggu pelayannya mengambil kunci cadangan kamar Sila.


“Ini kuncinya, Nona!” Pelayannya menyerahkan kunci cadangan kamar Sila di tangan Saila.


Dan pada saat itu, Zidan baru saja tiba. Ia langsung menaiki tangga menuju kamar Sila.


“Saila!” Panggil Zidan melihat Saila yang ingin membuka pintu kamar Sila.


“Kak Zidan!” Saila memanggil Zidan dengan suaranya yang terdengar pelan diikuti pandangan biasa menatap lelaki tampan itu berjalan ke arahnya.


“Bagaimana dengan Sila?” tanya Zidan langsung tanpa basa – basi.

__ADS_1


“Aku sudah memanggilnya sejak tadi, tapi dia tidak meresponku,” jawab Saila.


“Berikan kuncinya. Biar aku yang membuka kamarnya!” pinta Zidan.


“Ini!” Menyerahkan kunci ke tangan Zidan.


Zidan maju membuka pintu kamar Sila, kemudian masuk ke dalam dengan cepat disusul Saila dari belakang.


Zidan dan Saila syok saat masuk mereka melihat kamar Sila berantakan dengan barang – barang yang berserakan di lantai. Mereka bisa tahu kalau tadi Sila pasti habis mengamuk.


Saila berjalan cepat mencari Sila yang saat itu duduk di lantai sambil bersandar di tempat tidurnya.


Saila langsung berjongkok di depan Sila sambil memegang tangan saudara kembarnya itu, sedangkan Zidan berdiri di dekat mereka berdua, membiarkan Saila bicara dengan Sila. Dan saat itu, Sila hanya duduk diam melamun tanpa mengalihkan pandangannya pada Saila dan Zidan yang ada di dekatnya.


“Sila, kau baik – baik saja kan?” tanya Saila menatap Sila dengan kasihan.


Sila masih diam tidak bicara. Hanya pandangan kosong yang ia tunjukkan di depan saudara kembarnya itu.


“Sila, bicara lah! Jangan membuatku takut. Aku disini. Katakanlah! Jangan diam saja!” pinta Saila yang sedih melihat Sila diam membisu seribu bahasa.


Sila masih diam. Perasaannya masih kacau memikirkan lelaki yang ia cintai dan saudara kembarnya sudah menikah.


"Sila ... aku mohon tolong jawab aku. Katakan sesuatu padaku. Jangan diam saja. Aku mohon, Sila!" Saila memohon - mohon di depan Sila dengan pandangan mata sedih melihat Sila yang tidak menanggapi semua ucapannya.


Seketika air mata Saila jatuh melihat Sila diam saja di depannya. Hatinya sangat sesak ketika Sila diam membisu di depannya. Ia bisa merasakan sakit yang dialami Sila.


"Sila, maafkan aku! Hiks ... hiks ... hiks ... hiks ... Maafkan aku!" Saila memegang kedua lutut Sila, menggenggamnya erat dengan kepala menunduk di depan Sila. Seakan dirinya meminta pengampunan dari saudara kembarnya itu.


.


.


.


Bersambung.


.


Maaf ya sayang2ku. Aku cuma bisa up date satu doang. Mohon pengertiannya ya sayangku.

__ADS_1


Terima kasih. Love you selamanya untuk kalian. Emmuach......


__ADS_2