
Satu bulan semenjak pertemuan Saila dan Leon. Saila tidak pernah bertemu lagi dengan Leon, namun Leon selalu menghubunginya setiap hari. Saila sama sekali tidak pernah mengangkat telfon dari Leon. Menurutnya, kalau masalahnya dengan Leon sudah selesai. Buat apa lagi ia berurusan dengan lelaki yang sudah berumur 33 tahun itu.
Beda halnya dengan Leon. Dengan rasa tanggung jawabnya yang sangat besar pada Saila membuat ia harus mengetahui setiap kegiatan yang dilakukan Saila. Ia sampai menyewa seseorang untuk mengikuti Saila kemana pun Saila pergi.
Menurut Leon, kalau ia harus mengawasi gadis itu, takutnya kalau Saila melakukan hal yang bisa menyakiti dirinya sendiri, apalagi Ben selalu mengatakan padanya kalau pikiran seorang gadis sangat rumit. Sering berubah – ubah, susah untuk di tebak.
Dan semenjak kejadian di Villa ketika Leon menodai Saila. Leon sama sekali tidak pernah melupakan hal itu, bahkan ia terus mengingat ketika ia meniduri Saila, mengingat semua kenikmatan yang ia alami saat bersama dengan Saila, dengan gadis yang baru pertama kali ia tiduri. Entah apa yang terjadi padanya? Namun, Leon berpikir kalau ia terus memikirkan Saila karena merasa bersalah dengan Saila. Dan ia juga merasa kalau hal itu adalah hal biasa seorang lelaki normal memikirkannya.
Hari ini Leon telah mengetahui sesuatu yang membuatnya sangat gelisah. Orang suruhannya telah melaporkan bahwa Saila telah mampir di sebuah Apotik untuk membeli tes pack berdasarkan informasi yang di dapatkannya dari petugas apotiknya. Leon sudah memastikan kalau Saila pasti hamil anaknya, dan itu membuatnya harus bertindak untuk menikahi gadis itu secepatnya.
Ya, beberapa hari yang lalu, Saila memang sering mengalami mual – mual. Bahkan ia sudah terlambat haid bulan ini. Hal itu membuat Saila harus tes pack untuk mengetahui apakah ia hamil atau tidak. Saila sudah di penuhi dengan rasa khawatir dan gelisah jika saja ia sampai hamil. Apa yang akan ia lakukan?
***
Kini Leon berada di Apartemennya. Ia merasa gelisah setelah mengetahui tentang Saila dari orang suruhan. Dengan rasa gelisah yang menghantui Leon tentang keadaan Saila. Ia kembali meminta pendapat sahabatnya tentang apa yang harus ia lakukan selanjutnya?
Ia memanggil Ben datang ke Apartemennya, memberikan solusi apa yang harus ia lakukan, mengingat Saila sama sekali tidak mau bertemu dengannya.
Ben duduk di sofa, sedangkan Leon berdiri di depannya.
“Apa yang harus kulakukan sekarang?” tanya Leon dengan serius melihat Ben.
“Kau hubungi saja dia. Aku sudah memberikanmu nomornya, kan,” jawab Ben.
“Gadis itu tidak mau mengangkat nomorku. Aku sudah mengatakan padanya kalau aku mau bicara baik – baik, tapi dia sama sekali tidak membalas pesanku,” ucap Leon.
Ben berpikir sejenak, kemudian kembali mengangkat bola matanya melihat Leon.
“Kalau menurut pemikiranku. Aku yakin, kalau Saila kali ini pasti akan mau bertemu denganmu Leon,” ucap Ben.
“Kenapa kau bisa yakin?” tanya Leon mengerutkan keningnya menatap sahabatnya itu.
“Kau bilang kalau dia hamil, kan.”
Leon mengangguk. “Iya...”
“Kau ancam saja dia kalau dia tidak mau bertemu denganmu,” kata Ben.
__ADS_1
Leon menghela nafasnya dengan kasar mendengar ucapan Ben.
“Kau ini sebenarnya teman atau bukan sih,” kesal Leon pada sahabatnya.
“Apa maksudmu?” tanya Ben menatap Leon serius.
“Kau menyuruhku untuk mengancamnya. Bukannya membuat dia mau bertemu denganku, tapi pasti dia akan melaporkanku ke polisi,” jawab Leon.
“Dengarkan dulu penjelasanku. Aku tidak menyuruhmu untuk mengancamnya dengan hal yang bukan – bukan. Tapi aku menyuruhmu untuk mengancamnya dengan nama baik keluarganya. Karena dari informasi yang dulu aku dapat kalau dia gadis rumahan. Jarang sekali keluar bergaul dengan teman – temannya. Sepertinya dia sangat menjaga nama baik keluarga besarnya. Kalau kau memakai itu untuk bisa bertemu dengannya. Aku yakin, kalau dia pasti akan bersedia bertemu denganmu!” jelas Ben dengan serius.
Leon mulai menemukan titik terang tentang apa yang harus ia lakukan pada Saila. Perasaan gelisahnya tadi sudah mulai berkurang setelah mendapat solusi dari sahabatnya.
Menurutnya, ia harus memakai solusi dari Ben, mengingat Saila yang tidak mau bertemu dengannya. Hanya itu jalan satu – satunya ia bisa menemui gadis itu.
***
Sementara di Rumah Kediaman Mahesa.
Saila baru saja melakukan tes pack pada dirinya. Ia berada di kamar mandinya sambil menutup matanya, tak mau melihat hasil tes pack yang sudah ia pegang.
Namun, ia harus tetap melihat hasilnya, mengingat dirinya yang sudah sangat penasaran dengan hasil tes packnya.
Saat membuka matanya, ia begitu terkejut mendapati dua garis merah yang ada di tes packnya itu. Ia sangat syok sampai berjalan mundur ke dinding tembok belakangnya. Ia langsung bersandar di dinding sambil menjatuhkan dirinya di lantai.
Ia berjongkok di lantai dengan ekspresi tak percayanya melihat kenyataan di depan matanya. Seketika ia menangis di sana sambil memegang jidatnya menahan rasa sakitnya. Hatinya tambah sakit saat mengetahui dirinya yang tiba – tiba saja hamil.
Apa yang harus ia lakukan sekarang? Bagaimana ia harus menghadapi keluarganya jika ia ketahuan hamil? Pasti keluarganya akan malu dengan dirinya.
Di tengah – tengah suara tangisannya di dalam kamar mandi, tiba – tiba saja Yasmin mengetuk pintu kamarnya yang membuat Saila kembali kaget.
Ia dengan sigap, bangun dari sana, kemudian berjalan keluar dari kamar mandinya menghampiri ibunya. Tanpa sadar, ia terus memegang tes packnya di tangan kanannya.
Saat berada di depan pintu kamarnya, ia baru menyadari dengan tes pack yang ia pegang. Dengan sigap, ia melempar tes packnya di bawah tempat tidurnya, kemudian membuka pintunya untuk ibunya. Ia melihat ibunya berdiri di depan pintu sambil tersenyum kepadanya.
“Ada apa bu?” tanya Saila dengan ekspresinya yang masih kaget.
“Di bawah ada Zidan sedang mencari kamu sayang,” jawab Yasmin.
__ADS_1
“Aku sedang tidak enak badan bu. Katakan saja padanya untuk kembali,” ucap Saila dengan wajahnya yang tiba – tiba saja terlihat sedih. Ia sedih mendengar kedatangan Zidan. Rasanya ia rindu sekali dengan lelaki tampan itu, namun ia merasa tidak pantas untuk menemui Zidan.
Yasmin melangkah maju saat melihat anaknya berwajah sedih, kemudian memegang lengan anaknya.
“Kamu sakit sayang,” tanya Yasmin kepada anaknya.
Saila hanya menganggguk sambil melihat ke arah lain. “Iya.”
“Baiklah ... ibu akan bilang padanya kalau kamu tidak enak badan. Sekalian ibu panggilkan dokter ya,” ucap Yasmin sambil memegang kepala anaknya dengan wajahnya yang tersenyum kepada Saila.
Sonta saja membuat Saila kaget mendengarnya. “Tidak usah bu. Aku hanya sakit perut karena haid pertama. Bukan masalah besar kok,” jawab Saila dengan cepat.
“Benar kah.”
Saila mengangguk dengan cepat mengiyakan ucapan ibunya.
Yasmin kembali bicara. “Apa sakit perutnya parah sayang?” tanya Yasmin.
“Tidak bu ... tidak. A-aku hanya butuh tidur saja. Butuh istirahat bu,” jawab Saila dengan cepat dengan suaranya yang terdengar gugup. Itu karena ia jarang sekali ia berbohong pada ibunya.
Selama kenal dengan Leon, ia baru berani berbohong kepada ibunya, karena takut kalau orang tuanya tahu tentang hubungannya dengan seorang pria yang baru ia kenal.
Tentu saja Yasmin merasakan ada hal aneh yang terjadi kepada putrinya, namun ia tidak bisa menanyakan lebih jauh lagi tentang hal yang mengganjal pada anaknya.
Menurutnya, ia tidak bisa menanyakan hal itu mengingat anaknya yang kesakitan butuh istirahat. Ia akan menanyakan lagi kalau Saila sudah merasa baikan. Ia akan membiarkan Saila istirahat untuk sementara.
“Baiklah ... istirahatlah sayang. Ibu akan turun beritahu pada Zidan ya,” ucap ibunya pamit pada Saila.
“Ya bu ... .”
Yasmin pun pergi meninggalkan Saila yang masih berdiri depan pintu kamarnya yang terbuka lebar.
Saat Yasmin pergi, Saila langsung bernafas lega karena merasa kebohongannya pada ibunya berhasil dan tidak ketahuan.
Namun yang ia pikirkan sekarang adalah kehamilannya. Apa yang harus ia lakukan? Apakah ia harus melakukan aborsi agar tidak mempermalukan nama baik keluarganya. Saila sangat frustasi tentang apa yang harus ia lakukan pada dirinya yang sedang hamil?
.
__ADS_1
.
.