
Seketika Zidan, Saila dan Leon terkejut mendengar teriakan dari Sila, apalagi saat itu Sila berdiri dari tempat duduknya yang membuat mata ketiga orang itu terbelalak kaget, bahkan mematung menatap Sila.
Saila yang melihatnya, langsung memberikannya kode untuk menyadarkan Sila dari tingkahnya itu, Sila yang melihat Saila, kembali tersadar dengan tingkahnya.
Sila pun merubah ekspresi kesalnya menjadi tersenyum menatap Saila, Zidan, dan Leon secara bergantian.
“Hehehehe ... aku memanggil Kak Zidan karena ingin memujinya. Dia suami yang sangat romantis sampai melakukan itu di depan umum!” kata Sila menatap Leon yang masih duduk mematung melihatnya.
“Oooo ... begitu. Aku pikir ada masalah apa,” balas Leon yang kembali melanjutkan makan – makannya. Ia masih saja pura – pura tidak tahu di depan Sila dan Saila dengan tampang bodohnya.
Begitu juga dengan Zidan yang kini duduk kembali di tempatnya, tidak melanjutkan aksinya tadi yang ingin membuat Sila cemburu dan mengungkapkan permainannya, namun kedua wanita itu masih saja berpura – pura.
Mereka kembali melanjutkan acara makan – makannya itu dengan suasananya yang santai. Sila dan Saila berusaha untuk bersikap natural di depan kedua lelaki itu.
.
.
.
Beberapa saat kemudian.
Mereka semua meninggalkan Restorannya itu dengan mengendarai mobil Leon. Rencananya mereka akan pergi ke suatu tempat yang paling romantis di Kota Prancis, baru mengunjungi perkebunan Anggur milik Keluarga Leon, namun Leon tidak melakukan itu. Ia mengendarai mobilnya kembali ke Villa yang membuat kedua wanita itu heran.
“Kok arahnya jalan pulang sih Mas Leon?” tanya Sila yang saat itu duduk depan tepat di samping Leon. Ia masih berpura – pura menjadi Saila.
“Iya, kenapa kita kembali. Kita, kan, masih mau ke tempat yang Kak Leon sebutkan tadi malam?” sambung Saila yang duduk di belakang bersama Zidan.
“Sejak kapan aku mengatakan itu padamu? Perasaan aku hanya mengatakan pada istriku saja!” balas Leon yang membuat Saila langsung tersadar.
“Sa-Saila yang katakan padaku tadi pagi,” jawab Saila dengan gagap.
“Tidak usah kesana. Lebih bagus kita tinggal di Villa saja. Aku dan Leon malah lebih suka menghabiskan waktu di pinggir pantai!” sahut Zidan.
.
.
.
Mobil yang di kendarai Leon telah sampai di Villa mereka membuat Leon tidak lagi melanjutkan obrolannya.
Mereka semua turun dari mobil setelah mobilnya sudah terparkir sempurna. Sila dan Saila langsung berlari menuju pantai yang berada di dekat Villa mereka.
“Hei, sampai kapan kau mengikuti permainan mereka?” tanya Zidan pada Leon.
“Biarkan saja mereka bahagia dulu. Mereka terlihat sangat menikmati permainannya itu,” jawab Leon tersenyum melihat kedua wanita itu tertawa bahagia di pinggir pantai.
“Tapi ... aku sudah pusing menghadapi mereka,” keluh Zidan.
“Kalau begitu kita akhiri saja sekarang. Aku juga sebenarnya sudah mulai pusing,” kata Leon.
Mereka berdua pun berjalan menghampiri Sila dan Saila yang tengah bermain air di pantai.
“Kak Zidan ... ayo kita main Jetski!” ajak Saila yang langsung memegang lengan Zidan.
“Wanita ini membuatku semakin kesal. Awas saja ... aku akan memberikanmu hukuman nanti!” batin Leon yang mulai kesal dengan istrinya.
“Oke, baiklah. Kita main jetski,” jawab Zidan.
__ADS_1
Saila dan Zidan pun berjalan ke arah pinggir pantai dan menaiki jetski bersama yang memang sudah di sediakan.
Sementara Sila dan Leon duduk di pinggir pantai yang jaraknya sedikit jauh dari tempat jetski Saila dan Zidan.
“Sampai kapan kalian berdua bermain?” tanya Leon yang saat itu duduk di samping Sila.
Sila menoleh dengan kaget melihat Leon, kemudian berkata: “Bermain.”
“Iya, aku dan Zidan sudah tahu sejak awal kalau kalian bertukar posisi untuk mempermainkanku dan Zidan,” jawab Leon yang membuat Sila terkejut.
Seketika Sila memaksa dirinya untuk tertawa kecil melihat Leon. “Hehehehe ... Kak Leon dan Kak Zidan sudah tahu, tapi kenapa tidak mengatakannya pada kami?” tanya Sila.
“Karena aku mau membiarkan kalian bahagia. Terus ... siapa yang punya ide seperti itu?” tanya Leon yang terlihat penasaran.
“Itu ide Saila,” jawab Sila.
“Saila!” kata Leon yang terlihat heran. “Wanita polos itu yang punya ide?” tanyanya kembali.
“Idenya bukan sepenuhnya darinya sih, tapi ide dari Kak Ben katanya,” jawab Sila.
“Apa kau bilang? Ben memberikan ide seperti itu pada Saila?” kata Leon yang semakin kaget plus kesal.
“Iya,” jawab Sila.
“Sialan. Beraninya dia mengajari istriku yang tidak baik!” umpat Leon yang membuat Sila sedikit khawatir.
Karena kekesalannya itu membuat Leon ingin mengakhiri permainan kedua wanita kembar itu. Ia pun membisikkan sesuatu di telinga Sila untuk menuruti keinginannya, kemudian pura – pura mencium bibir Sila padahal Leon hanya memiringkan kepalanya menutupi wajah Sila dari pandangan kedua orang yang berada tak jauh darinya.
Saila dan Zidan yang melihat adegan itu segera turun dari jetskinya, kemudian berlari menghampiri mereka berdua.
Saila langsung menarik tangan Sila berdiri dan berjalan menjauh dari kedua lelaki tampan itu.
“Harusnya aku yang tanya. Kenapa kau sangat menghayati peranmu sampai berciuman?” kata Saila yang terlihat kesal.
“Lihatlah kedua orang yang kita kerjai. Dia sedang berdiri menatap kita. Mereka itu sudah tahu kalau kita mengerjainya,” jawab Sila.
“Apa?” Saila terkejut, dan langsung menoleh ke belakang melihat Leon yang berdiri menatapnya dengan tajam.
Saat itu, Leon berdiri melipat kedua tangannya di bawah dadanya, begitu juga dengan Zidan. Kedua lelaki itu sama-sama melipat tangannya, menatap Sila dan Saila dengan tajam.
Saila yang melihat tampang kesal mereka, memaksakan bibirnya untuk tertawa kecil seakan dirinya tidak bersalah sama sekali.
Leon dan Zidan segera menghampiri kedua wanita kembar itu, kemudian menarik tangan mereka untuk pergi dari sana.
“Mas Leon ... kau mau membawaku kemana?” tanya Saila.
“Hari ini aku akan menghukummu,” jawab Leon sambil terus menarik tangan Saila masuk ke dalam Villa.
“Mas Leon ... bukannya kita harus ke rumah ibu untuk mengambil Aidan. Dia pasti lapar, membutuhkan susu,” kata Saila yang berusaha mengambil alasan untuk lepas dari suaminya.
“Bukan hanya Aidan yang butuh susu tapi aku juga butuh susu,” jawab Leon yang membuat Saila terkejut.
Sementara Sila yang di tarik Zidan juga terlihat khawatir dengan suaminya yang tampak diam tidak bicara sejak tadi.
“Kak Zidan ... aku tidak sengaja mengerjaimu. Ini semua ide dari Saila. Aku hanya mau menyenangkannya saja makanya aku ikut dengan rencananya,” kata Sila membela dirinya.
“Aku tidak peduli. Kau juga harus dihukum. Pokoknya aku tidak mau tahu, setelah kita pulang, kau harus hamil!” kata Zidan.
Leon dan Zidan pun sama – sama menggendong istri mereka masing – masing ketika sudah berada di lantai 2 kamarnya, kemudian secara bersamaan masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Terdengar teriakan kedua wanita kembar itu saat sudah berada di dalam kamar mereka.
“Kak Zidaaan. Kau merusak baju Saila!” suara keras Sila.
“Mas Leooon ... Ampun, aku tidak akan melakukannya lagi!” suara Saila.
.
.
Jangan menganggap kesalahan yang pernah kau alami sebuah kehancuran dalam hidupmu namun jadikan itu sebagai pelajaran dalam hidupmu.
Dan Masa lalu ada bukan untuk dilupakan, bukan juga dijadikan sebuah beban namun untuk kau kenang bahwa kau pernah mengalaminya sampai menjadikan kau pribadi yang lebih baik.
.
.
Tamat.
.
.
Visual Saila dan Leon
.
.
.
visual Sila dan Zidan
__ADS_1