
Sudah tiga hari setelah Sila tak sengaja bertemu dengan lelaki yang merupakan pacarnya. Untuk menghindari pacarnya itu. Ia terpaksa mengambil cuti dari kampusnya. Alasannya pada kedua orang tuanya adalah untuk fokus pada acara pertunangannya dengan Zidan.
Sementara Leon yang kini berada di kantornya, tidak semangat untuk bekerja. Ia termenung mengingat istrinya. Pikirannya selalu tertuju pada Saila yang selama beberapa hari tidak ia lihat, bahkan mendengar suaranya saja tidak pernah.
Tiba – tiba Ben mengetuk pintu ruangan Leon yang membuat Leon langsung sadar dari lamunannya. Ia mengangkat kepalanya melihat ke arah pintu, kemudian menyuruh Ben masuk ke dalam.
Ben pun masuk ke dalam setelah mendapat perintah dari Leon. Ia datang ingin membawakan Leon berkas proyeknya, sekaligus memberitahu Leon kalau ia dan Sila berencana membawa Leon bertemu dengan Saila.
“Ada apa?” tanya Leon serius.
“Aku datang membawakanmu proyek besar!” jawab Ben.
“Simpan saja, nanti aku lihat,” kata Leon tanpa melihat Ben. Wajahnya terlihat jelas tak semangat.
“Hai ... jangan berwajah begitu. Wajahmu kelihatan sangat jelek dan tua sekarang. Kalau Saila melihatnya nanti, dia benar – benar meninggalkanmu bersama pria lain!” kata Ben menggoda sahabatnya.
Leon menatap tajam Ben, kemudian berkata: “Apa maksud ucapanmu itu? Apa kau ingin merasakan pukulanku lagi?”
“Tenanglah sedikit. Jangan emosi terus. Sebenarnya aku datang menemuimu bukan hanya memberikan proyek itu, tapi membawamu bertemu dengan Saila!” jelas Ben dengan serius menatap Leon.
“Bertemu Saila. Apa maksudmu?” tanya Leon bingung dengan ucapan Ben.
“Malam ini kita akan ke rumah istrimu, kita akan menyelinap masuk. Kalau aku tidak membawamu bertemu Saila. Perusahaan ini akan bangkrut nanti, karena kau tidak fokus bekerja,” ucap Ben.
“Terus ... bagaimana caranya? Kau tahu sendiri, kan, kalau selama beberapa hari ini aku berusaha untuk masuk, tapi ayah masih bersikeras tidak membiarkanku masuk, bahkan pengawalnya mengusirku dari sana?” ucap Leon dengan serius.
“Tentu saja kita bisa masuk dengan bantuan mantan pacarmu yang sexi itu!” jawab Ben.
“Sila maksudmu?” kata Leon mengerutkan keningnya merasa tidak yakin dengan Sila.
“Jangan remehkan dia. Dia sudah merencanakan ini beberapa hari untuk membantumu. Pasti dia punya rencana untuk kita bisa masuk ke dalam. Dan perlu kau tahu, kalau istrimu akhir – akhir ini hanya termenung di pinggir jendelanya. Dia selalu menunggu kedatanganmu. Makanya Sila berusaha untuk membawamu bertemu dengan Saila!” jelas Ben dengan serius.
Seketika Leon berdiri dari tempat duduknya dengan wajahnya yang sangat senang.
“Kau benar kalau Sila akan membawa kita masuk ke dalam?” tanya Leon kembali sambil tersenyum senang melihat Ben.
“Tentu saja. Katanya hari ini rumahnya disibukkan dengan rencana pertunangannya, yang diadakan besok malam, jadi kita bisa menyelinap masuk ke dalam. Kau bisa menemui istrimu. Tapi kalau kau tidak bisa. Aku bisa menggantikanmu bertemu dengan Saila!” kata Ben yang kembali menggoda Leon.
__ADS_1
“Hei, berani sekali kau punya pikiran menggantikanku!” balas Leon melihat Ben dengan marah.
“Aku hanya bercanda supaya kau tersenyum dan tidak terlihat tua begitu. Kau itu tidak bisa diajak bercanda sedikit ya!” ucap Ben
“Kalau begitu, ayo ... kita pergi sekarang. Aku sudah tidak sabar mau melihat Saila!” ajak Leon yang langsung melewati Ben di tempatnya itu.
“Hei, jangan terburu – buru. Ini baru jam tujuh malam!” teriak Ben.
Leon menghentikan langkahnya, kemudian menoleh melihat Ben.
“Tidak baik menunda – nunda waktu. Lebih cepat lebih baik. Kau cepat hubungi Sila kalau kita sekarang ingin ke sana!” pinta Leon.
“Baiklah!” balas Ben.
Leon pun kembali berjalan diikuti Ben dari belakang. Leon keluar dari perusahaannya bersama Ben, kemudian naik ke mobil yang di kendarai Ben.
Beberapa menit kemudian, mobil mereka sampai di dekat rumah Keluarga Mahesa.
“Kenapa kita berhenti disini, bukan di depan rumah?” tanya Leon heran.
“Kenapa kau bertanya lagi? Tentu saja, aku mau bertemu dengan istriku!" balas Leon
"Ya sudah, kau diam saja. Kita tunggu sampai Sila keluar!" kata Ben.
Leon pun duduk diam di sana menunggu kedatangan Sila. Dan tak lama kemudian, Sila keluar dari rumah membawakan mereka pakaian pelayan untuk mereka pakai. Saat sampai di mobil Ben, Sila langsung menyodorkan pakaiannya itu di depan Leon.
“Apa ini?” tanya Leon bingung.
“Kalau Kak Leon mau masuk, Kak Leon harus pakai itu supaya tidak dikenali. Saat ini, rumah sibuk. Para pelayan sedang mengatur dekorasi pestanya untuk besok. Dan beberapa pelayan baru yang mendekorasi pestanya sudah datang membantu, Kak Leon dan Kak Ben bisa menjadi salah satu dari mereka. Pengawal yang berjaga juga tidak akan curiga dengan kalian!” jelas Sila dengan serius.
“Baiklah. Aku pakai sekarang!” kata Leon menuruti permintaan Sila.
Leon dan Ben pun memakai pakaian yang diberikan Sila, sedangkan Sila langsung membalikkan tubuhnya menunggu mereka selesai pakai baju.
Setelah selesai, Ben dan Leon turun dari mobil, kemudian datang menghampiri Sila.
“Ayo ... aku sudah selesai!” kata Leon yang sudah tidak sabar ingin masuk dan bertemu dengan istrinya.
__ADS_1
“Tunggu sebentar!” ucap Ben
“Ada apa lagi?” tanya Leon menoleh melihat Ben.
“Apa aku harus masuk juga? Aku, kan tidak punya keperluan?” kata Ben.
Leon langsung menarik lengan sahabatnya untuk pergi dari sana. Begitu juga dengan Sila yang pergi dengan wajah kesalnya melihat Ben yang suka main – main dan bercanda.
Saat sampai di depan pintu gerbang, mereka masuk tanpa ada halangan. Itu semua karena Ben dan Leon berusaha menyembunyikan wajahnya ditambah ada Sila yang membawanya masuk. Sila segera membawa mereka berdua menuju kamar Saila, namun ia tidak membawa Leon dan Ben masuk lewat pintu depan rumahnya melainkan melewati jalan samping rumahnya itu.
“Hai, kau mau membawa kita kemana? Kita ini seperti pencuri saja!” keluh Ben.
Sila langsung menoleh, menatap Ben dengan kesal. “Diamlah. Jangan banyak tanya. Kau ikuti saja aku!”
Ben seketika diam, dan Sila kembali jalan bersama Leon diikuti Ben dari belakang.
Setelah sampai di belakang, tepatnya di kamar Saila, Sila pun menyuruh Leon untuk naik melewati jendela kamar Saila.
“Apa kau menyuruhku naik lewat jendela?” tanya Leon melihat kamar Saila yang berada di lantai 2.
“Tentu saja. Memangnya Kak Leon mau lewat mana? Lagi pula aku sudah menyiapkan tangganya. Kak Leon tinggal naik saja. Kami yang akan memegangnya dari bawah!” jelas Sila dengan serius.
Leon memegang kedua pinggangnya, menghela nafasnya sambil menatap kamar Saila yang terlihat tinggi itu, kemudian berkata: “Baiklah. Kalian berdua pegang yang benar. Aku akan naik sekarang!”
“Cepat naik, aku dan Sila pegang dari bawah!” kata Ben.
Leon pun mulai naik ke atas menggunakan tangganya itu. Saat Leon sudah berada di tengah – tengah tangga, ia merasa akan jatuh ke bawah. Ia kembali menoleh ke bawah.
“Hei, apa kalian berdua bisa pegang yang benar. Aku sepertinya mau jatuh?” kata Leon.
Ben terlihat kesal melihat sahabatnya yang banyak tingkah. Ia menghela nafasnya dengan kasar, kemudian berkata: “Turunlah, biar aku yang naik menggantikanmu. Dan kau disini pegang tangganya bersama Sila!”
.
.
.
__ADS_1