
Kini umur kehamilan Saila sudah menghitung hari waktu untuk kelahiran bayi di dalam perutnya. Ia dan suaminya bersama seluruh keluarga sekarang tengah berkumpul di Ruang Keluarga. Mereka berkumpul di sana untuk menghabiskan waktu kebersamaan mereka di akhir pekan ini, apalagi Tuan Bima, Nyonya Yasmin dan Ansel baru saja pulang dari Prancis.
“Kapan ibumu akan sampai, Leon?” tanya Nyonya Yasmin yang saat itu duduk berdampingan dengan suaminya tepat di depan anak dan menantunya.
“Mungkin besok baru sampai bu, tadi malam saya menghubunginya. Beliau baru mau naik pesawat kemari,” jawab Leon.
“Oh begitu. Ibu pikir hari ini!” kata Nyonya Yasmin.
“Tidak jadi hari ini, karena kemarin beliau masih menyelesaikan bisnis fhasionnya di sana,” jawab Leon.
Saila yang duduk di samping Leon tiba – tiba merasakan sakit di perutnya. Ia pun berdiri dari tempatnya duduk, kemudian berjalan melewati suaminya yang saat itu masih duduk di sofa.
“Saila, kau mau kemana?” tanya Leon.
“Aku mau ke kamar mandi Mas Leon. Perutku sakit sekali,” jawab Saila.
Tiba – tiba Saila merasakan ada cairan yang keluar dari dalam yang membuat ia langsung mengangkat sedikit gaunnya dan melihat cairan apa disana?
Nyonya Yasmin seketika berdiri ketika melihat cairan bening ada di paha dan kaki Saila yang mulai berjatuhan.
“Leon ... istrimu sepertinya sudah mau melahirkan!” kata Nyonya Yasmin yang membuat semua orang syok.
“Apa?” Leon langsung berdiri dengan ekspresi kagetnya, kemudian datang memegang istrinya.
__ADS_1
“Mas Leon ... perutku semakin sakit,” kata Saila yang semakin merasakan sakit perutnya. Saat itu ia membungkuk memegang perutnya, berusaha menahan rasa sakitnya.
Tuan Bima yang ada di sana, langsung menyuruh Ken menyediakan mobil untuk Saila dan yang lain menuju Rumah Sakit.
Setelah mobilnya siap, Leon buru – buru membawa Saila keluar dari rumahnya dan langsung naik bersama istrinya ke dalam mobil menuju Rumah Sakit. Dan saat itu Nyonya Yasmin juga ikut dalam mobil yang di naiki Leon dan Saila.
Leon pun segera menyuruh supirnya melajukan mobilnya dengan cepat menuju Rumah Sakit.
Sementara Tuan Bima dan yang lainnya berada di mobil lain mengikuti anak dan menantunya itu. Di dalam mobil, Tuan Bima segera menghubungi dokter Rumah Sakit dan mengatakan anaknya akan melahirkan.
***
Tak menunggu lama, mobil mereka telah sampai di depan Rumah Sakit. Leon segera keluar dari dalam mobil sambil membantu Saila turun dari mobil.
Mereka membawa Saila masuk ke dalam menggunakan kursi roda diikuti Leon dan seluruh keluarganya.
Para dokter itu membawa Saila masuk ke dalam Ruang Persalinan diikuti Leon yang terlihat khawatir dan panik dengan keadaan istrinya.
Begitu juga dengan Tuan Bima, Nyonya Yasmin, dan Sila yang menunggunya di luar. Seperti biasa Tuan Bima mengomel di luar mengenai persalinan Saila yang dilakukannya secara normal. Kemarin Tuan Bima bersikeras untuk operasi, namun Saila tidak mau melakukannya dan lebih memilih normal. Untung saja ada Nyonya Yasmin yang bisa meyakinkan suaminya dengan keinginan Saila yang melahirkan normal.
Sementara Leon yang berada di dalam, menemani istrinya melahirkan terlihat begitu khawatir saat Saila berteriak kesakitan, bahkan menyuruh dokternya untuk mengoperasi Saila, namun sudah terlambat, karena saat Saila di bawah tadi, sudah ada pembukaan, apalagi Saila tetap mau normal, merasakan bagaimana rasanya menjadi wanita yang melahirkan secara normal?
Terpaksa Leon menuruti dokternya sambil memegang tangan istrinya dan mengusap – usap kepala Saila dengan lembut menenangkan Saila yang sudah mulai mengedan.
__ADS_1
“Nyonya, tahan dulu. Ini belum waktunya Anda untuk mengedan. Tarik nafas dulu perlahan – lahan ya. Ikuti saya. Oke ... saya contoh kan ya!” kata Dokter kandungannya dengan suaranya yang terdengar pelan dan lembut sambil memberikan arahan bagaimana cara menarik nafasnya dengan benar agar Saila tidak mengedan?
Saila pun mengikuti dokter kandungannya itu, begitu juga dengan Leon yang ikut menarik nafasnya di sana seperti Saila.
“Tuan, Anda tidak perlu mengikuti saya. Anda bantu saya saja menenangkan Nyonya Saila!” kata Dokter kandungannya.
“Oke, baiklah!” balas Leon.
“Jangan mengedan ya Nyonya. Ini masih belum waktunya. Tarik saja nafasnya pelan – pelan lalu buang perlahan - lahan, seperti saya!” kata dokternya memperagakan.
“Dok, keluarkan saja anaknya dengan cepat, kenapa harus menunggu lagi? Apa kau tidak lihat istriku kesakitan dari tadi?” keluh Leon yang tidak tahan melihat Saila menahan sakitnya.
“Iya, tuan, tapi memang seperti itu. Harus menunggu dulu saatnya tiba. Kita tidak bisa sembarangan mengeluarkan bayinya begitu saja. Dan itu tidak mudah,” kata Dokter kandungannya memberi pengertian pada Leon.
Leon tampak kesal dan khawatir melihat Saila meringis kesakitan, namun dokter kandungannya tampak biasa – biasa saja. Apa dokter ini mau membunuh istri dan anaknya? Tidak ada sama sekali rasa takut yang di tunjukkan dokternya itu, bahkan terus tersenyum padanya dan Saila. Pikirnya.
.
.
.
.
__ADS_1