
Pukul 1:00 siang.
Saila baru saja keluar dari kampusnya. Hari ini ia berencana untuk ke rumah sakit memeriksa keadaannya yang hamil. Kalau bisa, ia berencana untuk menggugurkan kandungannya sebelum perutnya bertambah besar. Ia tak mau kalau kehamilannya membuat keluarganya sampai menanggung malu.
Saila naik mobil Pak Herman menuju rumah sakit. Alasannya pada Pak Herman kalau hari ini ia akan mengunjungi temannya yang masuk rumah sakit. Tentu saja tidak membuat Pak Herman merasa curiga karena selama ini ia mengenal Saila adalah gadis yang jujur.
Sesampainya di rumah sakit, Saila langsung turun dari mobil, kemudian pamit pada Pak Herman untuk masuk ke dalam Rumah Sakit. Pak Herman hanya duduk di dalam mobil menunggu Saila keluar dari Rumah Sakit.
Saila pun masuk ke dalam Rumah Sakit. Ia berjalan menyelusuri lorong Rumah Sakit mencari ruangan dokter kandungan yang akan ia datangi.
Saat sampai di depan ruangan dokter kandungan, ia melihat beberapa ibu hamil sedang menunggu antrian. Ia duduk di kursi antrian sambil melihat ibu hamil yang sedang duduk di sampingnya mengelus perutnya sambil tersenyum.
Saila juga melihat sekelilingnya beberapa gambar bayi mungil nan lucu di gendong ibunya yang menempel di dinding depan ruangan dokter kandungannya.
Timbul perasaan tidak teganya saat ia melihat gambar bayi mungil yang sedang menggenggam jemari ibunya. Janin yang ia kandung sama sekali tidak berdosa, namun ia juga merasa takut kalau ia harus mempertahankan janinnya jika ia memang benar – benar hamil.
Ia takut kalau keluarganya harus menanggung semua masalah yang terjadi padanya. Ayahnya pasti akan murka jika tahu tentang dirinya yang hamil.
Ia sangat bimbang sekarang. Di lain sisih ia tidak bisa menggugurkan janin yang tidak berdosa itu, namun ia juga tidak ingin membuat keluarganya merasa malu.
Setelah lama menunggu, akhirnya, tiba giliran Saila untuk masuk ke dalam ruangan. Salah satu perawat memanggilnya untuk masuk.
Ia menarik nafasnya, mengatur nafasnya dengan baik untuk menenangkan rasa gugupnya, kemudian masuk ke dalam ruangan dokternya.
Sementara Leon sudah berada di jalan.
Ia melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit setelah ia menerima laporan dari orang suruhannya kalau Saila saat ini berada di Rumah Sakit. Pikirnya kalau Saila ke Rumah Sakit untuk menggugurkan kandungannya. Ia sangat panik setelah mendengar kabar itu.
Saat sampai di Rumah Sakit, Leon langsung turun dari mobilnya, kemudian berlari cepat masuk ke dalam Rumah Sakit mencari keberadaan Saila.
Ia dengan panik mencari ruangan dokter kandungan yang di kirimkan orang suruhannya tadi. Setiap kegiatan Saila memang selalu di foto oleh orang yang selalu mengawasi Saila. Jadi setiap yang Saila lakukan semuanya di ketahui dengan gambar yang dikirimkan bawahan Leon.
Setelah mendapati ruangan Dokter Kandungannya, Leon langsung mendorong pintu, menerobos masuk ke dalam. Saat itu Saila baru saja di periksa dokternya.
Saila dan dokternya belum menyadari kedatangan Leon yang hanya berdiri di balik horden putih yang membatasi mereka. Karena pada saat itu mereka berdua fokus dengan pemeriksaan kandungannya.
Dokter pun bicara pada Saila.
“Kenapa Anda hanya datang sendiri ke sini? Apa suami Anda tidak menamani ke sini? Sangat penting jika ayahnya bisa datang ke sini melihat sendiri keadaan kandungan Anda?” tanya Dokternya.
__ADS_1
“Sebenarnya saya datang ke sini karena mau--
Leon langsung membuka hordennya yang membuat Saila tidak bisa menyelesaikan ucapannya. Tatapannya langsung tertuju pada Leon. Ia sangat terkejut melihat kedatangan Leon.
“Aku ayahnya,” ucap Leon sesaat setelah membuka hordennya.
Dokter Kandungannya menoleh ke belakang melihat Leon.
“Anda suaminya,” tanya si dokter.
“Iya,” jawab Leon dengan cepat.
Saila hanya bisa menunduk sambil menghela nafasnya yang saat itu masih duduk di kasur pemeriksaannya. Leon mendatangi Saila di sana, kemudian memegang kedua bahu Saila.
“Saila ... apa yang sebenarnya kau pikirkan? Apa kau berencana menggugurkan kandunganmu? Hah. Janin yang kau kandung itu adalah calon anakku juga!” tanya Leon dengan tegas. Wajahnya terlihat marah melihat Saila.
Dokter kandungan yang mendengar itu merasa kalau mereka memiliki masalah. Ia pun kembali bicara pada Saila dan Leon.
“Sebaiknya kalian selesaikan masalah kalian terlebih dahulu sebelum datang ke sini!” jelasnya.
“Maaf dok!” Balas Leon menatap dokternya serius.
Leon mengangkat tubuh Saila turun dari kasur pasiennya, kemudian menarik tangan Saila keluar dari sana, sedangkan dokternya hanya menggeleng – gelengkan kepalanya melihat kedua orang itu.
Leon menarik tangan Saila berjalan menyelusuri lorong Rumah Sakit untuk keluar dari sana. Leon menarik Saila menuju parkiran mobilnya. Saat itu, Saila hanya tampak diam dengan wajah menunduk ketika ia di tarik keluar oleh Leon.
Sesampainya di parkiran mobil. Leon membuka pintu mobilnya, kemudian menyuruh Saila masuk ke dalam. Saila pun masuk ke dalam tanpa mengatakan apa – apa pada Leon.
Leon menyusul masuk ke dalam mobil setelah melihat Saila masuk. Saat itu, Saila menggerakkan bola matanya melihat Leon berjalan di depan mobilnya menuju kursi kemudinya dengan ekspresi sedikit takut dengan lelaki itu.
Setelah Leon berada di dalam mobilnya, ia menghela nafasnya dengan tatapannya melihat ke depan, kemudian melihat Saila yang duduk di sampingnya. Ia menarik tangan Saila, memegangnya dengan erat sambil menatap Saila.
“Saila ... aku akan bertanggung jawab dengan janin yang kau kandung itu. Aku adalah ayahnya. Kau tidak bisa menyangkal itu. Dan aku tidak akan menerima penolakan darimu. Aku yang sudah melakukan kesalahan padamu. Jadi kumohon, biarkan aku menikahimu ya!” ucap Leon.
Saila tampak diam dengan wajah menunduk. Apa yang dikatakan Leon memang benar, kalau Leon adalah ayah dari janin yang ia kandung? Ia tidak bisa egois hanya karena tidak ada cinta di antara mereka. Janin yang ia kandung itu tidak berdosa sama sekali. Janinnya tidak bisa digugurkan begitu saja hanya karena keegoisannya.
Leon kembali bicara saat melihat Saila diam tak menjawabnya.
“Apa kau tega menggugurkan janin tidak berdosa itu? Aku tahu kalau kita tidak saling cinta, tapi Saila ... dia berhak hidup. Dia berhak mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Kalau kau ingin menyalahkan orang, salahkan lah aku. Aku yang sudah melakukan kesalahan terbesar padamu. Kalau mau melampiaskan kemarahanmu padaku. Terserah, aku terima. Tapi aku mohon, tolong terima aku. Aku akan menjagamu dan janin yang kau kandung itu!”
__ADS_1
Tiba – tiba Saila menangis saat mendengar semua ucapan Leon. Memang sejak kemarin ia merasa tertekan dengan semua yang ia alami, namun ia tidak bisa mengutarakan perasaannya itu pada siapapun. Entah kenapa ia merasa punya seseorang untuk bersandar setelah mendengar perkataan lelaki yang selalu ia anggap sebagai orang asing.
Leon langsung memeluk tubuh Saila saat melihat gadis itu menangis.
“Tidak apa – apa, tenanglah. Jangan menangis, oke. Aku akan bertanggung jawab padamu. Kita akan menikah,” ucap Leon menenangkan hati Saila.
Saila kemudian mendorong tubuh Leon, menatap Leon dengan serius.
“Aku bersedia menikah denganmu demi janin ini. Tapi setelah dia lahir, aku mau kita pisah,” ucap Saila.
“Kenapa?” tanya Leon penasaran.
“Aku tahu kalau Anda pacar Sila kan. Pertama bertemu, aku tidak tahu kenapa Anda selalu memaksaku. Tapi saat di Villa, Anda memanggilku dengan nama Sila. Aku tahu kalau Anda salah mengira aku adalah Sila. Aku tidak ingin menyakiti perasaan saudariku. Dan ini hanya lah kesalahan. Anda bisa kembali pada Sila kalau bayi ini lahir. Aku juga tidak bisa egois dengan bayi ini, bayi ini tidak berdosa. Dan aku juga tidak bisa egois mengenai saudariku. Jadi ini adalah jalan satu – satunya bagi kita. Aku tidak mau menyakiti siapapun!” jelas Saila.
Leon menghela nafasnya setelah mendengar penjelasan Saila, kemudian menjawab ucapan Saila.
“Baiklah ... aku setuju. Kalau itu bisa membuat perasaanmu tenang aku akan ikuti.” Leon mengikuti kemauan Saila selama gadis itu bersedia menikah dengannya. Ia merasa tenang jika ia bisa bertanggung jawab dengan gadis yang sudah ia hamili itu.
“Kalau tidak ada yang ingin di bicarakan lagi. Aku pulang saja.” Pamitnya.
“Biarkan aku mengantarmu!” pinta Leon sambil tersenyum.
“Tidak usah. Aku punya supir sendiri yang sudah menungguku sejak tadi,” jawab Saila.
“Baiklah.”
Saila pun membuka pintu mobilnya. Lalu tiba – tiba ... Leon memegang tangannya, menahannya untuk turun. Saila langsung menoleh melihat Leon.
“Ada apa?” tanya Saila.
“Aku akan datang secepatnya ke rumahmu. Bicara baik – baik dengan keluargamu. Hem,” ucap Leon diikuti senyuman manis di bibirnya.
“Terserah ... .”
Saila melepaskan tangan Leon dari lengannya, kemudian turun dari mobil. Ia berjalan cepat meninggalkan mobil Leon menuju mobil Pak Herman, supir pribadinya.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung