
Dengan terpaksa, Bima harus menurunkan suaranya saat melihat putrinya yang khawatir dengan sikapnya. Sekarang ini ia lebih mementingkan kebahagiaan putrinya jika memang Saila bahagia dengan lelaki yang ada di depannya itu.
Rasa bencinya pada sikap Leon yang telah menghamili anak kesayangan akan ia buang jauh – jauh selama anaknya itu bisa bahagia. Namun, ia tetap akan memberikan ketegasan pada Leon tentang sikap apa yang akan ia ambil pada putrinya?
“Baiklah, ayah tidak akan melakukan apapun padanya. Tapi biarkan ayah bicara dengannya dulu Saila!” jelas Bima dengan tegas melihat anaknya.
“Iya, Yah.” Saila pun setuju, dan menuruti kemauan ayahnya.
“Silahkan duduk!” perintah Bima.
Bima menatap Leon sambil memberikan kode dengan tangannya menyuruh Leon duduk kembali di sofa.
Leon mengangguk. “Terima kasih om,” jawab Leon. Leon pun duduk di sofa bersama dengan Saila.
Begitu pun dengan Bima dan Yasmin yang kembali duduk sesaat setelah Leon duduk.
Tanpa basa basi, Bima menanyakan tentang masalah putrinya.
“Aku mengundangmu datang kesini untuk menanyakan beberapa hal. Tapi karena Saila mencintaimu, bahkan membelamu di depanku. Jadi aku langsung saja katakan, apa kau juga mencintai putriku?” tanya Bima dengan tegas.
Leon tampak diam, namun ia harus menjawab iya pada Bima agar ia bisa mendapatkan restu dari ayah Saila. Meskipun itu sebuah kebohongan.
“Iya om,” balas Leon dengan serius menatap Bima.
“Apa kau datang kesini, karena ada niat untuk menikah dengan Saila?” tanya Bima kembali dengan nada tegas.
“Iya om, saya berencana untuk menikahi Saila. Saya hanya menunggu kedatangan ibu saya kesini. Dan om tidak perlu khawatir, saya bisa menafkahi Saila. Saat ini saya menjalankan bisnis anggur di Prancis, dan saya baru membangun bisnis baru disini!” jelas Leon dengan sopan.
“Aku tidak memerlukan pria yang punya banyak uang dan harta. Aku tidak akan mempermasalahkan itu, yang aku utamakan sekarang adalah tanggung jawabmu terhadap putriku. Bukan hanya sekedar menikahinya, tapi memberikannya kebahagiaan. Dan perlu kau tahu, aku sangat benci dengan perceraian. Dan aku juga benci dengan pria yang tidak punya pendirian!” jelas Bima dengan tegas.
“Baik om. Saya akan bertanggung jawab dan membuatnya bahagia seperti yang om inginkan. Itu adalah janji saya!” ucap Leon berjanji pada Bima.
Saila syok mendengar ucapan Leon.
“Ya tuhan, kenapa orang ini malah berjanji pada ayahku. Cukup bilang iya kan bisa. Memangnya kita akan hidup bersama selamanya.” Dalam hati Saila melirik Leon.
Bima kembali bicara. “Satu lagi, aku tidak suka melihat anak – anakku menangis, untuk hal apapun. Kalau kau sampai tidak menepati janjimu untuk membahagiakan Saila. Aku sendiri yang akan membuatmu membayar semua yang kau lakukan padanya.” Bima bicara dengan tegas, memperingati Leon agar tidak macam - macam pada putrinya.
__ADS_1
“Baik ... .” Leon menjawab dengan wajah yang begitu meyakinkan kedua orang tua Saila, sedangkan Saila merasa tidak suka melihat Leon yang terlihat serius dengan semua kata – kata ayahnya. Ia merasa kalau Leon sungguh lelaki yang pintar berakting, bahkan dirinya merasakan sendiri keseriusan dalam kata – kata yang di katakan Leon pada ayahnya. Benar – benar pria yang pintar akting. Pikirnya.
Bima melanjutkan kembali pembicaraannya setelah mendengar jawaban Leon.
“Kalau kau memang serius dengan Saila, aku ingin kalian secepatnya menikah. Aku tidak ingin perut Saila semakin membesar. Kalau perlu, aku akan menikahkan kalian beberapa hari ke depan. Kau hanya perlu mengabarkan masalah pernikahanmu dengan keluargamu. Aku yang akan mengatur semuanya. Tapi ingat dengan peringatanku tadi. Aku bukan orang yang akan mudah menerima seseorang masuk dalam keluargaku. Meskipun aku setuju kau menikah dengan putriku, tapi aku masih belum bisa memaafkan perbuatanmu itu yang menghamili Saila. Entah itu alasan kalian yang saling cinta!” jelas Bima dengan tegas menatap tajam Leon.
Leon menganggukkan kepalanya. “Baik om. Saya akan mengingat setiap kata yang om katakan padaku,” balas Leon.
“Jay ... antarkan tamu keluar!” Perintah Bima pada seorang pengawal yang berdiri sejak tadi di dekat sofa.
Setelah puas dengan pembicaraannya itu, ia langsung menyuruh pengawalnya untuk mengantar Leon sampai depan rumahnya. Buat apa Leon harus berlama - lama di rumahnya. Kalau saja Bima menyukai Leon, mungkin Bima masih menahan Leon di rumahnya, namun ia orang yang tidak gampang suka pada orang asing yang baru di temuinya.
“Baik,” jawab si pengawal sambil membungkuk hormat, kemudian berjalan menghampiri Leon. “Mari tuan!” Ajaknya saat ia berdiri di dekat sofa yang di duduki Leon dan Saila.
Tentu saja Leon harus berdiri dari sana setelah melihat pengawal itu berdiri di dekatnya. “Kalau begitu saya permisi om, tante!” pamit Leon sambil membungkuk di depan Bima dan Yasmin.
Namun, Bima langsung memalingkan wajahnya ke samping. Ia masih belum sepenuhnya menerima Leon menjadi menantunya. Ia masih kesal dengan lelaki itu. Tidak mudah baginya untuk bisa bersikap baik pada Leon, meskipun ia sudah menyetujui Leon menikah dengan Saila.
Saat itu, Saila ikut berdiri dari sana.
“Tidak perlu, ada Jay kan yang mengantarnya,” balas Bima dengan tegas.
“Sayang, biarkan saja Saila mengantarnya sampai ke depan. Kau sudah menyetujui mereka menikah kan. Tidak masalah kalau Saila mengantarnya, lagi pula hanya di depan rumah sayang.” Sahut Yasmin melihat suaminya.
“Terserah lah!” balas Bima menuruti ucapan istrinya.
Yasmin pun memberikan kode dengan menganggukkan kepalanya pada Saila untuk mengantar Leon sampai ke depan.
Saila memegang tangan Leon, menariknya untuk pergi dari sana sesaat setelah ia mendapatkan persetujuan dari ayah, ibunya.
Saat sudah di depan rumahnya, Saila kembali bicara pada Leon.
“Kenapa Anda bilang seperti tadi?” tanya Saila dengan suara pelannya agar tidak ada yang mendengar ucapannya itu.
“Hai, sampai kapan kau akan memanggilku dengan Anda terus. Kalau ayah ibumu mendengarnya, mereka pasti akan curiga dengan hubungan kita?” Leon tak menjawab pertanyaan Saila. Ia malah menanyakan tentang panggilan Saila padanya sambil tersenyum melihat gadis itu.
Saila memalingkan wajahnya ke samping, tak ingin melihat wajah tersenyum Leon kepadanya. Ia merasa canggung sendiri dengan senyuman pria itu padanya. “Lalu aku harus memanggil Anda dengan panggilan apa?”
__ADS_1
“Mas Leon!” Bisik Leon di telinga Saila.
Saila langsung membalikkan wajahnya, menoleh ke arah Leon. Saat menoleh, bibir mereka hampir bersentuhan yang membuat wajah mereka kaget, mereka sama – sama canggung. Saila langsung menutup mulutnya, kemudian memundurkan tubuhnya menjauh dari Leon.
Saila kembali bicara pada Leon sesaat setelah ia menjauh dari Leon. “Kenapa aku harus memanggil Anda dengan sebutan Mas Leon?” tanya Saila.
Leon memajukan kepalanya di depan wajah Saila. “Kau mengakuiku sebagai pacarmu. Tentu saja kau harus memanggilku dengan panggilan yang pantas. Apa kau pernah mendengar seorang pacar memanggil kekasihnya dengan Anda? Tidak pernah, kan?” jelas Leon sambil tersenyum manis di depan Saila.
“Baiklah. Aku akan memanggil Anda dengan sebutan Mas Leon. Tapi aku memanggilnya hanya untuk meyakinkan ayah, ibuku. Tidak ada maksud apa - apa?” balas Saila sambil memutar bola matanya melihat ke arah lain, tanpa melihat tatapan mata Leon yang kembali tersenyum padanya.
Leon menegakkan tubuhnya saat Saila menjawabnya, kemudian memegang atas kepala Saila dengan lembut.
“Iya, aku tahu Saila."
Saila langsung melihat Leon saat kepalanya di pegang Leon. Ia merasa canggung dan malu melihat lelaki itu memegang kepalanya.
Leon kembali bicara, melanjutkan ucapannya. "Aku pulang ya. Aku akan menghubungimu setelah sampai di rumah!” Pamitnya pada Saila.
“Iya, silahkan!” balas Saila sambil melihat Leon dengan tatapannya yang terlihat biasa.
Leon pun pergi meninggalkan Saila yang masih berdiri di sana. Ia melangkahkan kakinya menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri bersama Saila.
Ia masuk ke dalam mobil, kemudian membuka kaca mobilnya, dan tersenyum melihat Saila yang masih berada di tempatnya tadi. Saila membalas senyuman yang di tunjukkan Leon kepadanya, melihat mobilnya melaju meninggalkan rumahnya.
Meskipun Leon pernah bersikap kasar padanya, namun ia harus bersikap lapang dada. Menerima kebaikan, dan senyuman yang di berikan Leon. Itu semua karena Leon bersedia bertanggung jawab dengan bayi yang ia kandung.
.
.
.
Bersambung
.
.
__ADS_1