SILA DAN SAILA

SILA DAN SAILA
Amarah Leon


__ADS_3

Saila kini berbaring di ranjang Rumah Sakit. Ia baru saja di pindahkan oleh perawat dan dokter yang menanganinya tadi. Ia duduk bersandar di kasurnya dengan jarum infus yang sudah terpasang di pergelangan tangannya.


Sebenarnya, Saila tidak perlu di infus, namun Leon merasa kalau istrinya harus di infus dan meminta dokter melakukan permintaannya itu.


Saila berada di ruangannya bersama Sila yang sejak tadi duduk menemaninya, tepat di samping kirinya.


“Perutmu benar – benar nggak sakit lagi?” tanya Sila yang masih khawatir.


“Udah nggak sakit kok. Kenapa sih kau terus menanyakan itu? Ini sudah ketiga kalinya kau bertanya!” kata Saila.


“Karena aku khawatir denganmu dan bayimu. Apalagi ayah dan ibu menantikan cucu mereka. Tiap hari di omongin terus di rumah. Bahkan mereka sudah menyediakan kamar bayi untuk bayimu itu. Kalau terjadi masalah, mereka pasti akan sangat sedih!” ucap Sila dengan pandangan serius melihat Saila.


Terdengar pintu Ruang Kamar Saila terbuka. Lelaki tampan bertubuh tinggi dan tegap itu masuk ke dalam ruangan menghampiri istrinya. Ia baru saja menyelesaikan masalah administrasi Rumah Sakitnya di luar.


Ia berdiri di samping tempat tidur Saila, memegang kepala Saila dan mengelusnya, kemudian berkata: “Bagaimana perasaanmu sayang?”


Saila tersenyum sambil mengangkat kepalanya. “Aku baik – baik saja,” jawabnya dengan nada lembut.


Sila yang duduk di sebelah Saila, berdiri dari tempat duduknya sesaat setelah mendengar pembicaraan mereka. Ia tidak ingin mengganggu obrolan Saila dan suaminya. Ia merasa kalau Saila tidak bebas bicara dengan Leon kalau masih ada dirinya di tempat itu.


“Saila, Kak Leon. Aku sebaiknya keluar untuk menghubungi ibu dan ayah lagi. Menanyakan mereka sudah sampai dimana?” ucap Sila memandang Saila dan Leon secara bergantian.


Saat bicara, Sila berdiri di samping tempat tidur Saila sambil memegang ponsel di tangannya, menunjukkannya di depan mereka.


“Baiklah, tapi jangan bilang dulu pada ayah dan ibu kalau aku terluka karena masalah tadi. Takutnya ayah marah dan tahu semuanya tentang sandiwara kita selama ini!” kata Saila.


Sila menganggukkan kepalanya. “Oke. Untuk sementara aku tidak akan bilang pada ayah dan ibu, tapi kalau Alexa macam – macam lagi, aku tidak akan tinggal diam. Aku pasti akan membuat perhitungan lagi padanya!” balas Sila.


Leon yang mendengar obrolan mereka baru sadar dan mengingat tentang masalah yang terjadi di Restoran. Itu karena ia sejak tadi hanya fokus dengan istrinya sampai ia tidak bisa menanyakan semuanya pada Sila.


“Sila, tunggu sebentar!” Suara Leon memanggil Sila saat perempuan sexi dan tomboi itu membalikkan badannya untuk pergi.


Sila kembali membalikkan tubuhnya berhadapan dengan Leon.


“Ada apa?” tanya Sila.


“Ceritakan padaku. Apa yang terjadi di Restoran? Dan apa yang di lakukan Alexa sampai Saila jadi begini?” tanya Leon.


Sila bernafas panjang di depan Leon dan Saila, kemudian menceritakan semuanya pada Leon tanpa ada yang terlewatkan sedikit pun. Leon harus tahu semuanya agar ia mengambil tindakan pada Alexa yang selama ini selalu ia anggap sebagai temannya.


Leon sangat marah mendengar cerita Sila. Wajahnya seketika berubah memerah karena menahan amarahnya. Bagaimana ia tidak marah? Sila mengatakan kalau Alexa terus menghina Saila, bahkan mendorong Saila sampai Saila hampir keguguran.

__ADS_1


Dari lorong Rumah Sakit, terlihat Ben yang menarik tangan Alexa menuju Ruang VIP yang di tempati Saila saat ini. Ben menarik paksa Alexa untuk datang menemui Saila dan Sila, namun tampak di wajah Alexa kalau ia tidak sudi mendatangi mereka, bahkan tubuhnya enggan untuk berjalan mengikuti Ben.


Ben pun masuk ke dalam kamar Saila sambil menarik tangan Alexa masuk. Seketika mata ketiga orang yang ada di dalam tertuju pada Alexa dan Ben.


Ben langsung menarik tangan Alexa dengan sekuat tenaga sampai tubuh Alexa terdorong ke depan, tepat di depan Sila.


“Cepat minta maaf!” perintah Ben menatap Alexa dengan serius.


Alexa menoleh, dan berkata: “Ben, aku sama sekali tidak salah. Aku hanya membela diriku saja. Kau dan Leon itu sudah terhasut sama mereka berdua. Sadarlah!”


“Alexa. Aku bilang minta maaf pada Saila sekarang!” kata Ben.


“Tidak akan. Aku datang kesini karena kau memaksaku. Aku tidak akan merendahkan diriku sama orang yang jauh lebih muda dariku!” tolak Alexa dengan wajahnya yang terlihat kesal.


“Cukup!” teriak Leon.


Sejak tadi Leon melihat Alexa dengan tatapan geram. Pandangannya dingin dan tajam pada Alexa. Nafasnya bahkan tidak beraturan karena amarah yang ada dalam dirinya.


Semua orang sangat kaget mendengar teriakan Leon, bahkan Sila dan Saila kaget melihat ekspresi Leon yang baru dilihatnya itu.


Leon yang berdiri di samping kasur Saila, mulai berjalan maju menghampiri Alexa.


“Leon, aku tahu kau adalah atasanku, tapi aku juga temanmu. Kita sudah kenal selama bertahun – tahun. Bukan hanya teman, tapi aku orang yang paling menyukaimu selama ini!” ucap Alexa.


“Kalau begitu, kau bukan lagi temanku. Kau bukan siapa – siapa bagiku. Seorang teman yang terlalu banyak ikut campur, tidak pantas kuanggap sebagai teman. Satu lagi, kau bukan lagi sekertarisku!” kata Leon dengan tegas, suaranya terdengar lantang di depan Alexa.


“Leon, bagaimana bisa kau memperlakukanku seperti ini, hanya karena kedua perempuan penggoda itu. Sadarlah Leon sadar!” teriak Alexa.


Saat Alexa bicara, Leon memejamkan kedua bola matanya, kedua tangannya mengepal menahan amarahnya.


"Leon, jangan terhasut sama perempuan penggoda itu. Kau harus mendengarku. Jangan seperti ini. Aku temanmu. Dan Saila sama sekali tidak pantas untukmu!" lanjutnya kembali dengan suaranya yang keras.


Plak ... suara tamparan dari Leon untuk Alexa seketika menghentikan ocehan Alexa.


Leon tidak bisa lagi menahan amarahnya pada Alexa yang terus mengoceh, membuatnya terpaksa melayangkan tangannya pada seorang perempuan.


Alexa langsung memegang pipinya ketika menerima tamparan dari Leon. Kepala miring dengan rambut yang menutupi sebagian pipinya yang habis kena tamparan Leon, tidak bergerak sama sekali. Ia terdiam disana dengan kaget menerima tamparan Leon.


“Leon, apa yang kau lakukan? Dia perempuan!” kata Ben yang terkejut melihat Leon menampar Alexa.


Leon menoleh ke samping kanannya melihat Ben, kemudian berkata: "Perempuan dan pria tidak ada bedanya, jika sudah melebihi batas maka dia pantas menerima tamparan atau pukulan untuk menyadarkan kalau dia salah!" Kembali menatap Alexa. "Dan dia sudah melebihi batasnya!"

__ADS_1


Alexa kemudian mengangkat kepalanya sambil memegang pipinya, menatap Leon dengan wajahnya yang sedikit ketakutan.


“Leon, kau tega menamparku!” kata Alexa dengan wajah sedihnya.


Saila yang sejak tadi menyaksikan itu ikut terkejut. Bibirnya terbuka lebar dengan mata melotot melihat Leon saat Leon memukul Alexa. Kedua tangannya secara refleks menutup mulutnya itu. Pertama kalinya ia melihat Leon sangat marah, bahkan memukul seseorang.


Saila tidak menyangka Leon seperti itu. Lelaki yang selama ini berwajah hangat, tersenyum manis di depannya, bahkan jarang meninggikan suaranya ternyata bisa memasang ekspresi marah, ekspresi seakan ingin membunuh orang.


Begitu pun dengan Sila yang pertama kali melihat kemarahan Leon di depannya. Ia juga ikut terkejut.


Leon menatap Alexa dengan nafasnya yang cepat naik turun. Amarahnya masih belum reda.


“Ini pertama kalinya aku memukul seorang perempuan, karena kesabaranku sudah habis. Dan itu pun ku lakukan padamu. Aku menamparmu agar kau sadar. Tempatkan dirimu pada posisi yang tepat. Jangan melewati batas. Hari ini, aku tegaskan padamu!" Leon megangkat tangannya, menunjuk Alexa. "Kau dan aku sudah menjadi orang asing!" tegasnya dengan lantang.


"Leon!" suara Alexa yang terus memasang wajah sedihnya di depan Leon.


"Pergi dari sini. Jangan biarkan aku melihatmu disini!” tegas Leon menatap dingin Alexa.


Alexa hanya diam menatap Leon yang terlihat sangat marah padanya. Ia sangat terluka dengan perlakuan Leon padanya di depan semua orang. Ia melihat Saila dan Sila secara bergantian, tatapannya semakin marah pada mereka. Ia merasa malu diperlakukan seperti itu.


Leon pantas marah pada Alexa, karena ucapan Alexa yang tidak ada hentinya mengatai Sila dan Saila, bahkan Alexa tidak mau minta maaf pada istrinya.


Alexa pun akhirnya pergi dengan ekspresi marah, tidak terima perlakuan Leon padanya. Bukan hanya tamparan yang ia dapat, bahkan Leon sudah menganggap dirinya sebagai orang asing.


Bagaimana bisa Leon memutuskan hubungan pertemanannya hanya karena Sila dan Saila yang baru berapa tahun ia kenal? Sedangkan ia sudah bertahun – tahun saling kenal.


Alexa berjalan menyelusuri lorong Rumah Sakit dengan langkah kaki pelan. Ia menatap lurus ke depan dengan kesedihan yang tampak diwajahnya. Air mata yang seketika jatuh di pipinya menambah rasa sakit dihatinya.


Ia tidak menyangka kalau pertemanannya dengan Leon selama bertahun - tahun hilang hanya dalam hitungan detik. Pikirnya kalau Leon tidak akan pernah melakukan itu padanya.


.


.


.


Bersambung


.


.

__ADS_1


__ADS_2