SILA DAN SAILA

SILA DAN SAILA
Pemandangan Langka


__ADS_3

Kini Saila berada di dalam taksi menuju rumah suaminya. Ia terdiam menatap jendela kaca taksi yang ia naiki sambil memikirkan semua cerita cinta Sila dan Leon. Saila semakin tidak enak hati berada di antara hubungan Leon dan Sila. Ia tidak tahu harus berbuat apa?


Ia merasa sangat bersalah sudah memisahkan dua orang yang saling mencintai. Saila kemudian memegang perutnya dengan kepala menunduk, melihat tangannya mengelus lembut perutnya itu.


“Sayang, ibu minta maaf ya. Kalau ibu tidak bisa memberikanmu keluarga yang lengkap. Ayahmu itu bukan milik kita. Dia milik bibi Sila. Kau tidak akan menyalahkan ibu, kan. Maafkan ibu. Ibu hanya tidak mau memisahkan orang yang saling mencintai hanya karena ikatan pernikahan tanpa cinta. Semoga kau mengerti saat kau besar ya,” Saila mengajak janinnya bicara sambil terus mengelus lembut perutnya.


Tanpa sadar, Saila meneteskan air matanya saat berbicara dengan janinnya, yang baru berusia satu bulan lebih. Begitu sedihnya perasaan Saila sekarang sampai ia menangis di sana. Namun, mau bagaimana lagi? Leon dan dirinya tidak saling mencintai.


Percuma kalau dua orang hidup dalam satu atap, namun tidak ada cinta. Hanya ada rasa hormat di antara suami istri.


Tidak akan ada kebahagiaan di sana. Apalagi perjanjian awalnya saat mereka menikah, mereka memang akan pisah ketika Saila melahirkan. Dan itu semua permintaan Saila sendiri saat bersedia menerima Leon sebagai suaminya.


***


Tak menunggu lama, taksi yang di tumpangi Saila, telah sampai di depan Gedung Apartemen Leon.


Saila menghapus air matanya, kemudian menarik nafasnya dengan pelan. Ia turun dari taksinya setelah ia memberikan ongkos taksi pada supir taksinya.


Saila berjalan masuk ke dalam Apartemen sambil memegang kotak kado yang di berikan Sila tadi, kemudian masuk ke dalam lift menuju lantai Apartemen milik Leon.


Setelah sampai, Sila langsung keluar sesaat pintu lift terbuka.


“Apa Mas Leon sudah ada di rumah? Ponselku mati lagi, jadi tidak bisa menghubungi Mas Leon!” Gumamnya sambil berjalan menuju depan Apartemennya.


Saila membuka pintu Apartemennya setelah ia sudah berada di depan pintu Apartemen. Ia masuk ke dalam Apartemen sambil celingak celinguk mencari keberadaan suaminya.


“Sepertinya Mas Leon belum pulang.” Gumamnya kembali sambil berjalan menuju kamar pribadinya.


Saat di dalam kamar, Saila meletakkan kadonya di atas tempat tidur dan mengisi batrei ponselnya di atas meja nakasnya, kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan semua badannya itu.


***


30 menit kemudian.


Saila keluar dari kamar mandi dengan jubah mandi yang sudah ia kenakan di tubuhnya. Ia melangkah ke arah tempat tidur, kemudian meraih kotak kado yang di berikan Sila tadi.


“Ini isinya apa sih sampai Sila ngotot banget supaya aku pakai tidur, atau jangan – jangan pakaian aneh – aneh lagi yang Sila belikan?” Gumam Saila sambil memegang kotak besarnya, menatapnya dengan curiga.

__ADS_1


Saila menghela nafas, kemudian membuka kotaknya. Ia kaget melihat kado yang di berikan Sila padanya. Ia mengeluarkan kadonya, kemudian memegang barang pemberian Sila dan mengangkat tepat di depan matanya.


Sebuah gaun tidur transparan berwarna merah yang akan memperlihatkan bagian dada dan bagian bawah tubuh pemakainya itu, tampak jelas di mata Saila.


“Astaga, Sila! Kenapa dia memberikanku pakaian seperti ini? Apa dia sengaja mau mengerjaiku?” Gumam Saila sambil menatap aneh baju tidur sexi yang ia pegang.


Tiba – tiba ponsel yang ia letakkan di atas meja nakasnya berbunyi. Saila meraih ponsel, lalu membuka layar ponselnya itu.


Sebuah pesan masuk dari Sila yang mengatakan kalau Saila harus memakai kado pemberiannya itu, kemudian melakukan panggilan VC dengannya agar ia bisa melihat Saila memakainya.


Saila meletakkan kembali ponselnya setelah ia membaca isi pesan dari Sila.


“Sila, benar – benar mau mengerjaiku. Buat apa aku pakai baju begini? Kalau Mas Leon lihat, dia pasti mikir yang aneh – aneh tentangku. Haaaa ... Sila,” keluh Saila yang kembali menatap baju tidurnya dengan pandangan tak suka.


Namun, Saila terpaksa harus memakai baju tidur pemberian Sila demi menghormati saudarinya itu. Saila hanya berharap kalau Leon tidak akan melihatnya dengan pakaian sexi yang di berikan Sila.


Setelah memakai baju tidur sexi dari Sila, Saila kembali meraih ponselnya, kemudian berjalan masuk ke dalam Ruang Ganti untuk melakukan panggilan VC dengan Sila.


Saila mau melakukan panggilan VC di sana karena tidak mau menunjukkan baju tidurnya pada Leon. Dan setelah Saila menunjukkan baju yang ia pakai nanti pada Sila, ia bisa melepaskannya di sana, menggantinya dengan baju tidur yang lain.


Panggilan VC yang di lakukan Saila pun tersambung. Saila langsung menunjukkan baju yang ia pakai pada Sila di layar ponselnya.


“Kau sengaja mengerjaiku ya. Buat apa aku pakai baju seperti ini, Sila. Aku tidak suka. Semua bagian tubuh ku terlihat tahu. Aku malu memakai baju begini?” Kesal Saila menatap wajah Sila yang tersenyum senang di layar ponselnya.


“Kenapa kau harus malu sih. Lagian, kan. Kau hanya menunjukkan pada suamimu saja bukan pada lelaki lain?” Sambil tersenyum melihat Saila yang terlihat cemberut.


“Aku pakai ini karena kau paksa. Bukan karena aku suka,” ucap Saila.


“Iya, aku tahu. Jangan cemberut begitu dong. Senyum ... senyum, Saila,” ucap Sila sambil menarik bibirnya tersenyum, menunjukkan pada Saila untuk tersenyum.


“Sudah ah. Aku mau buka saja.”


“Eh ... jangan di lepaskan dulu. Kau harus menunjukkannya pada suamimu,” kata Sila.


“Apa?” Saila kaget menatap Sila saat mendengar ucapan Sila. “Kenapa aku harus menujukkannya. Aku pakai hanya untuk menunjukkannya padamu. Dan kenapa sih kau bisa berpikiran untuk memberiku kado pernikahan seperti ini?” Lanjutnya dengan kesal.


Sila tertawa di sana melihat wajah cemberut Saila yang menolak permintaannya, kemudian bicara kembali pada Saila.

__ADS_1


“Di luar negri memang seperti itu, Saila. Kebanyakan orang – orang di sana memberikan kado pernikahan yang bisa bermanfaat untuk mereka yang baru menikah. Salah satunya pakaian sexi yang kau pakai itu. Suamimu pasti akan senang kalau kau berpakaian tidur begitu. Tidak ada pria yang tidak suka hal yang membangkitkan nafsunya!” jelas Sila.


Saila semakin kaget mendengar semua perkataan saudarinya. Bisa – bisanya Sila mengatakan hal – hal dewasa begitu.


“Aku matikan. Tidak mau bicara lagi denganmu.”


“Jangan marah dong, Saila. Itu kan hanya pakaian saja!” ucap Sila.


“Aku tidak marah kok. Hanya kesal denganmu.”


“Sudah lah! Aku matikan. Tapi, pakaiannya jangan di lepas ya. Kau harus pakai tidur. Itu kan pemberianku!” ucap Sila sambil tersenyum.


“Kau-


“Daaaa ... .” Sila memotong ucapan Saila dengan melambaikan tangannya di layar ponsel, berpamitan pada Saila. Ia tak mau lagi mendengar ocehan kekesalan Saila padanya.


Panggilan VC yang di lakukan Sila dan Saila pun mati.


“Sila, benar – benar keterlaluan menyuruhku memakai ini. Apa orang eropa mengajarinya hal – hal aneh seperti ini.” Saila mengomel sendiri setelah bicara dengan Sila.


Tanpa Saila sadari, Leon baru saja pulang dari kantornya. Ia masuk ke dalam kamarnya setelah ia mengetuk pintu, namun tidak dapat jawaban dari dalam kamarnya.


Leon berjalan menuju Ruang Ganti untuk melepaskan semua pakaian kerjanya. Dan ia tidak menyangka bisa melihat pemandangan langkah dari Saila. Leon melihat Saila dengan balutan baju tidur sexi yang baru saja Saila mau lepaskan.


“Saila ... .” Panggil Leon menatap Saila dengan mata terbelalak.


Saila menoleh.


“Haaaa ... .” Wajah Saila kaget sampai mulutnya menganga melihat Leon berdiri menatap dirinya dengan pakaian tidur transparan, yang memperlihatkan semua bagian tubuhnya.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


.


.


__ADS_2