SILA DAN SAILA

SILA DAN SAILA
Pendapat Riana


__ADS_3

Terlihat Zidan yang berlari menghampiri Sila dan Saila dari pintu masuk kampusnya. Ia baru saja selesai memarkirkan mobilnya di parkiran kampus.


“Apa yang terjadi?” tanya Zidan setelah berada di depan Sila dan Saila.


“Tadi-


“Tidak apa – apa Kak,” jawab Saila yang langsung memotong ucapan Sila. Sila hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar menatap serius Saila yang tidak membiarkannya bicara pada Zidan.


Ya, Saila memang tidak mau kalau Zidan sampai tahu tentang masalah kecil yang menimpanya tadi. Ia tidak mau kalau Zidan khawatir setelah mendengar ocehan dari Sila, karena Saila tahu kalau Sila pasti akan bicara tentang kekesalannya pada lelaki tadi yang akan membuat Zidan ikut kesal.


“Aku pikir ada apa? Tadi aku melihat kalian dari kejauhan?” ucap Zidan sambil tersenyum.


Saila hanya membalas Zidan dengan senyuman tanpa membalas ucapan lelaki tampan itu, sedangkan Sila masih berwajah kesal di sana, namun ia memalingkan wajahnya yang membuat Zidan tidak menyadarinya.


“Oh, ya ... kalian mau ke Ruang Dosen ya?” Lanjut Zidan.


“Iya kak, aku mau temani Sila ke sana,” jawab Saila.


Zidan mengangkat tangannya untuk memegang atas kepala Saila. “Kamu kembali saja ke kelas, biar-


Zidan menghentikan ucapannya saat ia melihat Saila berjalan mundur, menghindari dirinya.


Zidan menatap heran Saila. “Ada apa?” tanya Zidan.


“Mulai sekarang, Kak Zidan jangan memperlakukan seperti ini lagi!” pinta Saila.


“Kenapa? Aku, kan selalu melakukan ini sejak kita kecil. Dan kau tidak pernah permasalahkan ini?” tanya Zidan bingung.


“Tapi sekarang berbeda, aku sudah menikah kak. Aku minta maaf!” ucap Saila dengan wajahnya yang tidak enak hati menolak perhatian Zidan. Namun, Saila harus menghormati Leon yang selalu mengingatkannya, kalau ia wanita yang sudah menikah, tidak boleh dekat dengan pria manapun.


“Baiklah, aku tidak akan melakukannya lagi,” jawab Zidan sambil tersenyum.


Sementara Sila, berdiri diam menatap Saila dan Zidan sambil menyilangkan kedua tangannya di atas dadanya. Wajahnya sudah tidak sabaran untuk meninggalkan tempatnya itu.


“Hei, sampai kapan kalian akan mengobrol. Kita akan telat masuk kelas nanti, kalau kalian terus bicara disini?” sahut Sila mengingatkan Saila dan Zidan untuk menemaninya.


“Oke ... kita pergi sekarang!” ucap Zidan menoleh ke arah Sila, lalu kembali melihat Saila. “Apa kau mau ikut, atau kembali ke kelas?” tanya Zidan pada Saila.

__ADS_1


“Aku mau ikut dengan kalian saja,” jawab Saila.


“Baiklah ... ayo!” Ajak Zidan yang kembali menggerakkan tangannya untuk memegang tangan Saila.


Saila dengan cepat menarik tangannya ke belakang punggungnya, menyembunyikan tangannya di sana. Tidak membiarkan Zidan untuk memegang tangannya itu. Zidan hanya bisa menghela nafasnya melihat tingkah Saila.


Sila yang melihat itu, langsung menggantikan Zidan untuk memegang tangan Saila pergi dari sana.


“Kak Zidan maklumi saja. Saila itu sangat mencintai suaminya. Makanya tidak mau di pegang orang lain.” Goda Sila sambil berjalan memegang tangan Saila.


“Sila, apa – apaan sih kamu,” kata Saila dengan bibir cemberutnya, tidak terima ejekan Sila.


Zidan hanya bisa tersenyum mendengar ejekan Sila pada Saila.


“Aku yakin sekali. Suamimu itu pasti pria yang hidup di jaman kuno sampai dia tidak membiarkan pria lain menyentuhmu.” Sila kembali menggoda saudari kembarnya sambil menggeleng – gelengkan kepalanya, merasa aneh dengan Saila yang membatasi dirinya dengan seorang lelaki.


“Sila!” Panggil Saila dengan nada tinggi sambil menghentikan langkahnya menatap kesal saudarinya.


“Aku hanya bercanda, Saila. Kau ini sensitif sekali sih. Tapi ... memang benar sih, kalau suamimu itu pria kuno," ucap Sila yang terus - terusan menggoda Saila.


"Iya ... iya. Aku tidak akan bicara lagi. Ayo cepat jalan!” ajak Sila menatap Saila dengan santai.


Mereka kembali melangkah menuju Ruangan Dosen yang ingin mereka datangi.


Saat masuk ke dalam, Sila langsung melapor di sana di temani Zidan dan Saila. Dan beberapa saat kemudian, mereka kembali keluar dari ruangan dosennya itu. Mereka kembali masuk ke dalam kelasnya masing – masing.


Di kelas, Riana sudah duduk menunggu Saila untuk menanyakan hubungan Sila dan Leon, yang baru ia ketahui dari Saila.


Dan saat masuk kelas, Saila langsung duduk di samping Riana mendengar perkataan dari sahabat karibnya itu. Ya, Saila memang menceritakan tentang Leon dan Sila pada Riana setelah Saila mendengar cerita cinta Leon dan Sila dari Sila.


Dan menurut pendapat Riana, kalau Saila harus mengatakan secepatnya tentang Leon pada Sila agar Sila tidak salah paham dengannya.


“Jadi, maksudmu. Aku harus mengatakan pada Sila sekarang?” tanya Saila.


“Tentu saja. Yang penting, Sila harus mendengarnya dari mulutmu sendiri. Bukan dari orang lain,” balas Riana.


“Tapi Ri, aku takut kalau Sila sakit hati dan benci denganku setelah aku mengatakannya,” ucap Saila khawatir.

__ADS_1


“Saila, menurutku, Sila akan lebih sakit hati kalau kau terus menyembunyikan kebenaran padanya. Dan kau sama sekali tidak bersalah. Kalau di pikir – pikir, ini takdir yang mempertemukanmu dengan Leon. Saat kau cerita semuanya kemarin di telfon. Aku sempat menyalahkan Kak Leon, tapi kalau di pikir lagi. Ini bukan salah siapa – siapa. Ini sudah takdir kalian berdua, dan Sila juga tidak bisa menyalahkanmu kalau dia tahu semuanya. Aku mengatakan ini karena kalian adalah sahabat terbaikku. Jangan sampai gara - gara kau terus menyembunyikannya dari Sila, hubunganmu dengan Sila hancur!” jelas Riana dengan serius menatap sahabat karibnya.


Saila menghela nafasnya ketika mendengar penjelasan dan pendapat dari sahabatnya. Ia memikirkan kalau perkataan Riana memang ada benarnya, kalau ia harus mengatakan semuanya pada Sila tentang Leon yang sudah menikah dengannya, agar Sila tidak tambah sakit hati.


Untung saja Saila mengatakan rahasianya itu pada Riana. Hingga Riana bisa membuat gadis polos itu mengerti, jika Saila tidak boleh menyembunyikan hubungannya dengan Leon pada Sila.


Saila kemudian berdiri dari tempat duduknya untuk menghampiri Sila di kelasnya yang berada di sebelah.


“Kau mau kemana?” tanya Riana serius menatap Saila yang berdiri di sampingnya.


“Aku harus menemui Sila sekarang dan mengatakan semuanya,” jawab Saila.


“Hai cantik ... sebentar lagi kita akan belajar. Kalau kau kesana sekarang, yang ada kau


membuat semua orang panik,” ucap Riana.


“Tapi, bukannya kau bilang kalau aku harus mengatakannya sekarang?” tanya Saila melihat sahabatnya itu.


“Aku bilang sekarang, tapi bukan berarti kau harus mengganggu pelajaran orang. Gimana kalau kau jelaskan saat kita pulang nanti, sekalian pertemukan Sila dan Kak Leon. Kak Leon, kan, selalu menjemputmu di kampus?” tanya Riana pada Saila tentang pendapatnya itu.


“Oke ... aku akan lakukan seperti yang kau katakan!” balas Saila menyetujui pendapat dari Riana.


Saila kembali duduk di samping Riana menunggu kedatangan dosen pengajarnya. Tak menunggu lama, dosennya masuk kelas memulai kegiatan belajar mengajarnya.


Saila bukannya fokus dengan mata pelajarannya, namun ia melamun memikirkan tentang apa yang harus ia katakan pada saudari kembarnya nanti? Ia takut sekali kalau Sila sampai membenci dan salah paham padanya.


.


.


.


Bersambung


.


.

__ADS_1


__ADS_2