SILA DAN SAILA

SILA DAN SAILA
Tanganmu ini bisa mengobatiku


__ADS_3

Kini Leon sudah berada di dalam lift menuju lantai Apartemen miliknya. Hanya beberapa saat saja, pintu lift Apartemennya terbuka. Leon keluar dari dalam lift, kemudian berjalan cepat menuju Apartemen miliknya. Ia masuk ke dalam Apartemen setelah ia menekan kata sandi Apartemen miliknya di sana.


Dari arah kamar pribadinya, terlihat Saila yang baru saja keluar dari kamarnya. Saila langsung menghampiri Leon saat Saila melihat Leon yang baru saja masuk dan menutup kembali pintunya.


“Mas Leon!” panggil Saila sambil melangkah menghampiri Leon.


Leon menoleh melihat Saila.


“Apa kau sudah makan?” tanya Leon.


“Sudah,” jawab Saila yang sudah berdiri di depan Leon.


Leon memegang atas kepala Saila sebentar, memanjakan gadis yang ada di depannya itu.


“Apa kau masak sendiri?” tanya Leon sambil tersenyum.


“Iya,” jawab Saila.


Saila tersadar dengan kedua pipi Leon yang memerah bekas tamparan Sila.


“Kenapa dengan pipi Mas Leon?” tanya Saila sambil menatap seksama wajah Leon, mengerutkan keningnya di sana.


“Tidak apa – apa,” jawab Leon sambil tersenyum.


Saila menggerakkan tangannya untuk menyentuh pipi Leon, memastikan kenapa pipi Leon bisa seperti itu?


“Auuw!” Leon terdengar meringis kesakitan saat Saila menyentuh pipi bekas tamparannnya.


“Kenapa? Sakit ya?” tanya Saila khawatir melihat wajah Leon yang kesakitan.


Leon mengangguk. “Sakit sekali!” keluh Leon dengan manja di hadapan istrinya.


“Sebentar. Aku akan cari obat untuk Mas Leon. Mas Leon duduk dulu!” perintah Saila menarik tangan suaminya untuk duduk di sofa.


Leon pun duduk di sofa sambil tersenyum melihat kekhawatiran Saila yang di tunjukkan di depannya.


“Mas Leon tunggu disini. Aku akan ambil obatnya dulu!” perintah Saila kembali.


Saila berjalan dua langkah, namun Leon tiba – tiba saja memegang tangannya, menahannya untuk tidak pergi.


Saila menoleh. “Ada apa?” tanya Saila mengerutkan keningnya.


“Aku tidak apa – apa, Saila,” ucap Leon. Ia kemudian menarik tangan dan tubuh Saila sampai Saila duduk di pangkuannya.


“Mas Leon, apa yang kau lakukan?” tanya Saila yang merasa malu dan risih duduk di paha suaminya.

__ADS_1


“Cukup pinjamkan saja tanganmu!” pinta Leon sambil menarik kedua tangan Saila, kemudian menempelkan di kedua pipinya.


Saila kaget. “Mas Leon!”


“Nyaman sekali!” ucap Leon memejamkan matanya, merasakan kehangatan tangan Saila di kedua pipinya.


“Mas Leon, biarkan aku mengompres lukamu dulu!” pinta Saila.


Leon membuka matanya, tersenyum melihat Saila. “Aku tidak memerlukan obat untuk mengobati lukaku. Cukup dengan tanganmu saja.”


“Tapi, tanganku tidak bisa mengobati luka apapun. Cepat lepaskan tanganku!” tolak Saila sambil menarik kedua tangannya, namun Leon menggenggam erat tangannya tidak membiarkan Saila melepaskannya.


“Siapa bilang? Rasa sakitnya berkurang kalau kau menempelkan tanganmu disini. Tanganmu ini bisa mengobatiku!” jelas Leon sambil tersenyum melihat Saila. Ia masih memegang kedua tangan Saila yang menempel di pipinya.


Saila tidak membalas lagi ucapan Leon. Ia terpaksa menuruti kemauan suaminya, namun ia memalingkan wajahnya ke samping saat itu, tidak ingin melihat wajah Leon yang terus tersenyum senang menatap wajahnya.


Tiba – tiba, Saila teringat tentang Sila.


Saila memang memikirkan Sila dan Leon semenjak ia kembali dari kampusnya tadi, namun seketika pikirannya tentang Sila hilang saat melihat kedua pipi Leon yang terluka. Rasa khawatirnya pada Leon membuat ia melupakan hal yang ingin ia tanyakan pada Leon.


Saila kembali menatap serius suaminya.


“Mas Leon!” panggil Saila kembali.


“Eem,” jawab Leon.


Leon juga baru teringat tentang Sila. “Astaga! Aku sampai melupakan sesuatu yang harus kukatakan padamu!” ucap Leon.


“Apa?” tanya Saila yang semakin penasaran.


Leon berpikir sejenak, mengerutkan keningnya melihat Saila. “Darimana kau tahu kalau aku bersama Sila? Apa Ben yang memberitahumu?” tanya Leon.


“Tidak. Aku melihat sendiri Mas Leon membawa Sila pergi dari kampusku,” jawab Saila.


Leon sedikit kaget. “Apa kau marah aku tidak menjemputmu tadi, dan malah menyuruh Ben yang datang menjemputmu?” tanya Leon yang sedikit khawatir dengan perasaan Saila yang ia tinggalkan di kampusnya begitu saja.


“Tidak sama sekali,” jawab Saila.


 “Aku minta maaf ya,  karena tidak menjemputmu. Tadi waktu aku ada di depan kampus, aku bertemu dengan Sila, dan sempat berdebat sedikit di sana, jadi aku membawa dia ke sebuah tempat sepi. Di sana aku menjelaskan semua kesalahpahaman yang terjadi di antara kita!” jelas Leon.


Saila terkejut mendengar penjelasan Leon.


“Berarti Sila sudah tahu kalau aku istri Mas Leon?” tanya Saila yang semakin penasaran.


“Iya,” jawab Leon.

__ADS_1


Saila langsung menggerakkan badannya untuk berdiri dari sana.


“Kau mau kemana?” tanya Leon sambil menahan tubuh Saila untuk tidak berdiri dari pangkuannya.


“Aku mau bertemu dengan Sila. Aku juga harus menjelaskan padanya. Dia pasti sakit hati dan benci padaku!” ucap Saila dengan ekspresi khawatir dan takut.


Leon memegang pipi Saila, kemudian menariknya sampai wajah Saila berhadapan dengannya.


“Biarkan dia sendiri dulu. Dia butuh waktu untuk mendinginkan pikirannya. Saat ini dia masih emosi. Kalau kau datang sekarang. Itu malah menambah bebannya, menambah emosinya. Kita berikan waktu untuk memikirkan semuanya. Lagi pula aku sudah menjelaskan semuanya tadi!” jelas Leon.


“Tidak bisa Mas Leon. Aku harus menemuinya. Aku harus bicara dengannya!” ucap Saila yang kekeh untuk bertemu dengan Sila.


“Saila ... kali ini dengarkan aku ya. Besok kita akan datang bersama untuk bertemu dengan Sila. Hem!” pinta Leon.


Saila tidak peduli dengan omongan Leon. Ia tetap mau bertemu dengan Sila sampai ia melepaskan tangan suaminya yang memeluk pinggangnya, kemudian berdiri dari pangkuan Leon.


“Maaf Mas Leon, tapi aku harus bicara dengan Sila. Aku harus mengatakan padanya kalau kita menikah hanya karena memenuhi tanggung jawab pada bayi ini, setelah bayi ini lahir kita akan pisah. Aku harus mengatakan itu padanya,” ucap Saila memohon di depan Leon. Saat itu, Saila sudah berdiri di hadapan Leon yang masih duduk di sofa.


Ekspresi Leon langsung kesal saat ia mendengar ucapan Saila yang kembali mengungkit kata pisah di depannya. Ia diam menatap Saila dengan ekspresi kesalnya itu.


Saila kembali melangkah dari tempatnya untuk menemui Sila.


Dan saat itu, Leon langsung berdiri. “Saila!” teriak Leon dengan ekspresi marah melihat Saila yang sudah berjalan beberapa langkah di depannya.


Saila terkejut dan langsung menghentikan langkahnya, kemudian menoleh melihat suaminya.


“Apa kau tidak mau mendengarku?” teriak Leon saat Saila menoleh ke arahnya. Wajahnya marah melihat tingkah istrinya yang tidak mau menurutinya.


“Bukan begitu.” Mata Saila mulai berkaca – kaca karena mendengar bentakan Leon padanya, apalagi dengan pandangan marah Leon melihatnya. “Aku cuma mau meluruskan kesalahpahaman pada Sila,” Lanjut Saila yang tiba – tiba saja menangis di depan Leon.


Ya, bagaimana tidak menangis? Saila memang sudah sedih sejak kepulangannya dari kampusnya tadi, namun ia masih bisa menahannya. Apalagi Sila sekarang sudah tahu tentang kebenaran dirinya yang menikah dengan Leon. Dan di tambah bentakan dari Leon yang selama ini baru ia lihat semenjak ia menikah. Tentu saja gadis itu menangis.


Leon terlihat kaget melihat Saila menangis. Ia baru sadar kalau ia sudah membentak Saila hanya karena kesal dengan ucapan Saila. Leon pun berjalan menghampiri istrinya, kemudian memeluknya sambil mengusap belakang kepalanya.


“Jangan menangis, Oke. Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk membentakmu. Aku cuma tidak mau kau sampai bertengkar dengannya di sana. Saat ini Sila butuh waktu untuk sendiri. Setelah dia tenang baru kau bisa menemuinya dan bicara baik – baik dengannya. Kau pasti tahu kan sifat Sila yang suka emosian. Jadi kita biarkan dia tenang dulu, ya!” jelas Leon sambil terus mengusap kepala Saila.


“Iya,” jawab Saila yang masih mengeluarkan air matanya.


Leon memang tidak ingin membiarkan Saila untuk bertemu dulu dengan Sila. Takutnya kalau mereka berdua bertengkar akan membuat Saila stress dan berdampak pada kehamilannya. Apalagi Saila masih hamil muda. Sangat gampang terjadi masalah dalam kandungannya.


Leon melepaskan pelukannya, kemudian menatap wajah Saila sambil mengusap air mata di pipi istrinya. Setelah itu, Leon memejamkan matanya sambil mencium pucuk kepala istrinya dengan lembut, membiarkan bibirnya beberapa detik menempel di pucuk kepala istrinya, agar hati Saila yang terlihat sedih kembali tenang.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


.


__ADS_2