
Dari Ruang Tunggu pasien, tepatnya di depan meja Resepsionis Rumah Sakit, terlihat Alexa yang duduk lesu dengan pandangan kosong di sertai kesedihan di wajahnya.
Ia duduk terdiam di salah satu kursi tunggu pasien untuk menenangkan dirinya yang merasa lelah dan tidak berdaya, karena semua kejadian yang menimpanya.
Setelah terdiam sejenak, Alexa kemudian menatap ponselnya. Ia menekan salah satu nomor di ponselnya, mencoba menghubungi seseorang.
Saat panggilannya tersambung, Alexa langsung meletakkan ponsel di telinganya.
“Halo Alexa!” Terdengar suara lembut dari Nyonya Serly yang merupakan ibu dari Leon.
Alexa seketika menangis saat mendengar suara Nyonya Serly di balik telfon.
“Alexa, kau kenapa?” tanya Nyonya Serly yang kembali bicara saat mendengar suara tangisan Alexa.
“Bibi ... Leon menuyuruhku kembali ke Prancis. Hiks ... hiks ... hiks! Dia sangat marah padaku. Dia bahkan memecatku dan memutuskan hubungan pertemanan kami bibi!” keluh Alexa diikuti suara tangisannya.
“Kenapa bisa begitu? Leon tidak mungkin melakukan itu semua kalau tidak ada alasannya, Lexa! Apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Nyonya Serly.
Alexa tidak menjawab. Ia hanya menangis di telfon dengan suara tangisan yang tiada hentinya.
Terdengar suara Nyonya Serly menghela nafas panjang di balik telfon, kemudian kembali berkata: “Alexa, tenangkan dirimu. Nanti bibi akan bicara pada Leon. Dan bibi tahu ini pasti salah paham. Bibi tahu sifat Leon nak. Dia tidak mungkin melakukan sesuatu sebelum berpikir. Bibi akan mencoba bicara padanya nanti!”
“Baik bi!” balas Alexa.
Sementara di luar Rumah Sakit.
Sebuah mobil mewah seketika berhenti tepat di depan Rumah Sakit.
Terlihat pria paru baya keluar dari mobil setelah seorang asistennya membuka pintu mobil untuknya. Ia berdiri tegap di samping mobil menatap depan Rumah Sakit dengan wajah yang dipenuhi amarah. Ia berdiri disana menunggu istrinya keluar dari mobil.
“Sayang, ayo kita masuk!” ajak Yasmin saat ia sudah berdiri di samping suaminya.
“Leon, benar – benar sudah membuatku marah!” kata Tuan Bima. Ia tidak menanggapi ucapan istrinya malah mengoceh tentang menantu laki - lakinya itu.
“Tenang sayang. Ini bukan salah Leon. Ini adalah musibah!” balas Yasmin mencoba menenangkan suaminya.
Dari dalam Rumah Sakit, seorang pria yang merupakan kepala Rumah Sakit berlari menghampiri Tuan Bima dan istrinya.
“Tuan Bima. Maaf membuat Anda menunggu. Saya baru tahu kalau Anda akan datang ke sini!” ucap kepala Rumah Sakit itu sambil tersenyum.
“Eem ... dimana putri dan menantuku?” tanya Tuan Bima menatap serius kepala Rumah Sakit itu.
“Putri Anda sudah di pindahkan ke Kamar VIP. Kami juga sudah mengatur beberapa pelayanan sesuai permintaan menantu Anda tadi, Tuan,” jawab si Kepala Rumah Sakit.
__ADS_1
Setelah Tuan Bima puas bicara dengan Kepala Rumah Sakit itu, ia pun melangkah masuk ke dalam Rumah Sakit dengan langkah kaki tegaknya itu. Yasmin mengikuti suaminya masuk sambil memegang lengan suaminya.
Kepala Rumah Sakit juga mengikutinya masuk ke dalam, mengantar Tuan Bima dan istrinya. Begitu juga dengan Ken asisten Tuan Bima yang mengikutinya dari belakang.
“Leon sudah mengingkari janjinya. Katanya dia mencintai putriku, dan dia tidak akan membuat putriku terluka, tapi lihat sekarang. Saila hampir saja keguguran. Bagaimana bisa Saila jatuh terpeleset di lantai? Leon sebenarnya dimana? Kenapa dia tidak menjaga istrinya baik – baik?” Tuan Bima terus saja mengoceh, melampiaskan kekesalannya pada Leon. Sesekali ia menoleh melihat istrinya saat ia bicara pada istrinya.
“Sayang, sudahlah. Jangan marah – marah terus. Kalau Saila mendengarnya. Dia pasti akan sedih. Kau harus tersenyum nanti. Dokter bilang kalau Saila itu tidak boleh stress. Kalau kau memarahi menantu kita. Saila pasti akan stress!” kata Yasmin mencoba menenangkan suaminya.
“Iya, tapi ini semua terjadi pasti karena Leon!” ucap Tuan Bima yang tetap kekeh menyalahkan semuanya pada Leon.
“Sayang, Leon tidak mungkin menelantarkan Saila. Mereka itu menikah bukan karena paksaan, tapi karena mereka saling mencintai. Sudahlah, jangan menyalahkan Leon terus!” kata Yasmin memperingati suaminya.
Saat Yasmin mengatakan itu semua, Alexa tidak sengaja mendengarnya, namun wajahnya tampak bingung, mencerna apa yang di dengarnya.
Tuan Bima kemudian menoleh melihat Kepala Rumah Sakit yang sejak tadi mengikutinya.
“Hei, dimana kamar putriku? Kenapa lama sekali sampainya?” tanya Tuan Bima yang terlihat tak sabaran.
Kepala Rumah Sakit itu langsung maju melewati Tuan Bima, menuntunnya untuk berjalan ke lift yang akan membawanya ke lantai 2.
Ia berdiri tepat di samping lift, kemudian mengarahkan kedua tangannya ke arah lift, mempersilahkan Tuan Bima dan istrinya masuk.
“Silahkan masuk Tuan. Ruang VIP Nona Muda ada di atas!”
Tak menunggu lama, pintu lift yang membawanya ke lantai 2 Rumah Sakit, sudah tiba. Pintu liftnya langsung terbuka. Tuan Bima, Yasmin bersama asisten dan Kepala Rumah Sakit yang mengantarnya keluar dari liftnya.
Mereka berjalan menuju ruangan Saila. Saat berada di depan pintu Ruang VIP kamar Rumah Sakit, Tuan Bima menghentikan langkahnya, kemudian menoleh ke samping kirinya, melihat Kepala Rumah Sakit.
“Lanjutkan pekerjaanmu. Tidak usah ikut ke dalam!” perintah Tuan Bima.
“Baik tuan,” jawabnya.
Tuan Bima kemudian menoleh ke kanan, melihat istrinya.
“Ayo masuk sayang!” ajak Tuan Bima sambil melingkarkan tangannya di belakang bahu Yasmin, menariknya masuk ke dalam.
Dengan sigap, Ken yang merupakan asisten pribadi Tuan Bima, langsung mendorong pintu kamar Saila. Tuan Bima dan Yasmin berjalan masuk ke dalam setelah Ken mendorong pintunya.
Keempat orang yang ada di dalam terlihat kaget melihat kedatangan Tuan Bima dan Yasmin. Itu karena mereka takut kalau Tuan Bima dan Yasmin mendengar masalah pertengkaran Leon dan Alexa tadi, namun melihat ekspresi Tuan Bima dan Yasmin meyakinkan mereka kalau Tuan Bima tidak tahu itu semua.
Leon yang duduk di samping istrinya seketika berdiri saat melihat ayah dan ibu mertuanya masuk, begitu juga dengan Ben dan Sila yang duduk di sofa. Mereka ikut berdiri melihat kedatangan Tuan Bima dan Yasmin.
Sila kemudian berlari menghampiri ayah dan ibunya.
__ADS_1
Sila berdiri tepat di depan ayah dan ibunya, kemudian berkata: “Sejak kapan ayah dan ibu datang? Aku tadi baru mau menghubungi ayah, menanyakan ayah dan ibu sudah dimana?”
“Ayah dan ibumu baru saja sampai Sila!” jawab Tuan Bima sambil mengelus kepala anaknya dengan manja.
Tuan Bima kemudian melangkah maju menghampiri Saila yang tengah berbaring di kasur di temani Leon yang berdiri di samping istrinya. Tuan Bima menghampiri Saila bersama istrinya.
Yasmin memegang lengan suaminya, kemudian berbisik di telinga suaminya: “Sayang, jangan lupa untuk tahan emosimu itu!”
Yasmin kembali memperingati suaminya yang ia katakan tadi di luar. Dan tentu saja Tuan Bima harus mendengarkan istrinya.
“Saila, apa perasaanmu baik – baik saja sekarang, Nak?” tanya Tuan Bima saat ia dan istrinya sudah berdiri di samping tempat tidur Saila.
Dan saat itu, Leon hanya berdiri diam di samping Saila, menatap ayah dan ibunya sambil tersenyum.
“Aku baik – baik saja, Ayah, Ibu. Ada Mas Leon ... Sila ... dan Kak Ben yang menjagaku disini,” jawab Saila. Saat ia bicara, ia sesekali melihat Sila, Ben dan Leon sambil tersenyum.
“Lalu kenapa kau sampai di infus begini Saila? Bukannya Sila bilang kalau lukamu tidak parah?” sahut Yasmin yang masih khawatir.
“Mas Leon yang memaksa dokter melakukannya Bu. Padahal dokter bilang kalau aku tidak perlu di infus begini!” kata Saila.
Tuan Bima dan Yasmin merasa lega mendengar ucapan anaknya. Mereka pun duduk di kursi tepat di samping tempat tidur Saila untuk mengobrol dengan anaknya itu.
Sementara Leon berjalan ke arah sofa yang diduduki Ben dan Sila. Ia duduk disana karena tidak mau mengganggu Saila mengobrol dengan kedua orang tuanya.
.
.
Bersambung
.
.
.
Hai sayang2ku. Yang tunggu kisah Sila dimohon untuk bersabar ya. Ada kisahnya sendiri nanti, dan kisahnya agak sedikit dramatis sih menurut aku, nggak tahu deh menurut kalian. Tunggu beberapa episode lagi baru aku masukin kisah Sila, tapi eh tapi, masih ada Alexa yang akan nongol di kisah Sila.😁
.
.
Jangan lupa vote, like komennya ya. Terima kasih🤗
__ADS_1