SILA DAN SAILA

SILA DAN SAILA
Aku saudara iparmu


__ADS_3

Sila kembali berdiri saat mendengar pengakuan dari Leon, begitu juga dengan Leon yang ikut berdiri menatap Sila. Saat itu, Sila tidak menyangka kalau lelaki yang ia cintai sudah menikah. Bagaimana bisa Leon tiba – tiba saja mengaku sudah menikah?


“Apa Kak Leon menikah dengan Alexa?” tanya Sila menerka – nerka. Wajahnya terlihat kecewa mendengar Leon sudah menikah.


“Tidak. Aku tidak menikahi Alexa, tapi menikah dengan Saila,” jawab Leon tanpa basa basi lagi di depan Sila.


“Apa?” Sila kembali syok mendengar pangakuan dari Leon, namun seketika ekspresi syoknya itu berubah menjadi tawa yang keras di depan Leon.


Sila merasa kalau Leon tengah mempermainkannya saat ini. Karena Leon pasti sudah tahu tentang Saila yang merupakan saudara kembarnya saat Leon mencari keberadaannya. Dan itu Leon jadikan sebagai candaan.


Bagaimana mungkin Leon adalah suami saudara kembarnya? Rasanya lucu sekali, bukan. Pikir Sila.


Leon hanya bisa memejamkan matanya ketika Sila tertawa keras seperti orang gila, namun ia membiarkan saja tawa Sila disana sampai gadis itu menghentikan tawanya.


Sila menatap Leon yang saat itu menatapnya dengan tatapan serius tanpa ada ekspresi main – main di wajahnya. Seketika Sila menghentikan tawanya.


“Apa kau sudah selesai tertawa?” tanya Leon yang terlihat kesal, karena merasa ucapannya dianggap bercanda oleh Sila.


“Apa Kak Leon marah?” tanya Sila yang sudah merasa khawatir dengan tatapan Leon. “Kak Leon bercandanya terlalu berlebihan, jadi aku tertawa. Bagaimana mungkin Kak Leon menikah dengan Saila? Kak Leon pasti sengaja mencari tahu tentangku, kan. Dan melakukan candaan begini?" ucap Sila yang kembali menerka nerka.


“Apa aku terlihat bercanda sekarang. Hah?” tegas Leon.


“Tidak mungkin. Itu tidak benar, kan?” tanya Sila kembali memastikan.


“Sila, tadi aku sudah menjelaskan padamu dengan serius. Sampai kapan kau mau menanggapinya dengan serius kata - kataku itu. Aku sudah bilang padamu. Kalau aku sudah menikah dengan Saila. Aku saudara iparmu. Apa itu masih kurang jelas lagi?” tegas Leon.


Sila sangat syok. “Bagaimana bisa kalian bersama?” tanya Sila, kemudian maju memegang kedua lengan Leon. “Apa yang terjadi sampai Kak Leon bersama dengan Saila? Apa yang terjadi sampai Kak Leon menikah dengannya? Apa Kak Leon dendam padaku sampai Kak Leon menikah dengan Saila?” Sila tak henti – hentinya mengajukan banyak pertanyaan pada Leon sampai Leon tidak punya kesempatan bicara, dan menjawab satu – satu setiap pertanyaan dari Sila.


“Sila, diam lah. Biarkan aku bicara dulu!” pinta Leon dengan tatapan serius melihat Sila.


Sila langsung diam menatap Leon untuk mendengarkan penjelasan dari Leon disana.


“Aku melakukan kesalahan pada Saila. Aku salah mengenali Saila sebagai dirimu sampai aku cemburu dan memperkosanya!” jelas Leon.


Sila sangat kaget.


Plak ... satu tamparan mendarat di pipi kanan Leon.

__ADS_1


“Dasar brengsek!” teriak Sila dengan wajahnya yang marah mendengar penjelasan Leon. Tangannya gemetar sehabis menampar Leon bahkan tubuhnya ikut gemetar tidak menyangka Leon bisa melakukan itu pada Saila.


“Tampar lah. Aku memang sudah salah pada Saila dan juga padamu!” ucap Leon.


Plak ... Sila kembali menampar keras Leon di pipi kirinya. Dan seketika mata Sila merah, menangis dengan wajahnya yang marah.


“Berani sekali kau melakukannya. Kau memperkosa Saila. Hah?” tanya Sila kembali dengan nada yang sedikit gemetar.


“Aku minta maaf!”


“Aaaaaaa!!” Sila berteriak. “Tega sekali kau." Sila memukul mukul dada Leon dengan keras sampai Leon bergerak ke belakang karena dorongan dari Sila. "Jadi kau menikah dengan Saila karena kau memperkosa dia sampai dia hamil. Hah. Katakan!” teriak Sila dengan marah.


Leon memejamkan matanya. Ia tidak menjawab ucapan Sila, namun isyarat wajahnya yang diam sudah mengatakan kalau semua itu benar.


“Kau kejam sekali Kak Leon. Kejam sekali. Hiks ... hiks ... hiks ... hiks!” Sila begitu kecewa dengan perbuatan Leon pada Saila. Ia menangis keras di hadapan Leon, tidak terima semua yang terjadi sekarang.


Bagaimana bisa lelaki yang ia cintai memperkosa Saila, saudara kembarnya sendiri? Hatinya sangat hancur melihat kenyataan di depan matanya itu. Serasa petir sudah menyambar seluruh tubuhnya. Lelaki yang ia cintai sudah menjadi saudara iparnya sendiri bahkan menghancurkan hidup saudara kembarnya.


Sila menjatuhkan tubuhnya di aspal. Merasa sudah tidak kuat menahan tubuhnya yang lemah. Ia masih menangis histeris, tidak terima dengan sikap Leon.


Leon berjongkok di hadapan Sila, kemudian memegang kedua bahu Sila.


Sila berusaha berdiri dari sana setelah mendengar Leon bicara. Tubuhnya yang lemah membuat Sila hampir jatuh kembali. Untung saja Leon memegang lengannya, namun Sila menepis tangan Leon saat ia sudah berdiri tegak. Ia berjalan pelan dengan tubuhnya yang lemah itu


“Kau mau kemana?” tanya Leon khawatir.


Sila menghentikan langkahnya membelakangi lelaki tampan itu.


“Biarkan aku sendiri,” jawab Sila tanpa melihat Leon. Tatapannya sedih, kecewa dan marah saat itu.


Setelah menjawab Leon, Sila kembali melangkah pergi dengan langkah kaki pelannya meninggalkan Leon.


Sementara Leon merasa khawatir melihat keadaan Sila, namun ia juga tidak mau mengganggu Sila yang ingin menenangkan dirinya. Leon tahu kalau di saat seperti ini, Sila butuh waktu untuk sendiri.


Leon hanya bisa mengawasi Sila disana, berdiri melihat Sila berjalan menjauhinya.


Dan dari kejauhan, Leon melihat Sila menaiki taksi yang membuat Leon tidak bisa melihat Sila lagi.

__ADS_1


Seketika Leon memegang wajahnya dengan kedua tangannya, mengusapnya keatas, kemudian memegang erat rambutnya.


Perasaannya kacau dan khawatir, namun ada perasaan lega di hatinya setelah mengatakan semuanya pada Sila. Sekarang tergantung Sila, apa Sila bisa menerima semuanya?


Leon kemudian mengambil ponselnya di dalam saku celananya, mencoba menghubungi Saila, namun tidak tersambung. Ia lalu berganti menghubungi Ben untuk memastikan keadaan istrinya.


“Ada apa?” tanya Ben di balik telfon tanpa basa basi.


“Apa kau sudah menjemput Saila?” tanya Leon.


“Sudah. Dia ada di apartemenmu sekarang.”


“Oke ... Terima kasih.”


“Hei ... jangan tutup dulu!" pinta Ben.


"Ada apa?" tanya Leon.


"Kau bilang tadi, kalau Sila sudah kembali. Apa kau berencana kembali pada Sila?”


“Kenapa kau menanyakan itu?” tanya Leon.


“Kalau kau sudah tidak menginginkan istrimu lagi, sebaiknya kau berikan saja dia padaku dari pada tidak kau perhatikan begitu.” Ucap Ben. Ia sengaja menyindir sahabatnya itu.


“Apa kau mau mati?” kata Leon dengan nada tingginya di telfon.


Ben seketika mematikan panggilannya saat mendengar teriakan Leon. Tak ingin berdebat dengan Leon di telfon.


“Cih ... brengsek. Berani sekali dia mengatakan itu padaku!” Umpatnya.


Leon kembali memasukkan ponselnya disaku celana, kemudian masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya menuju Apartemennya. Memastikan sendiri keadaan istrinya disana.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2