SILA DAN SAILA

SILA DAN SAILA
Rasa Penasaran Sila


__ADS_3

Saila kini sudah berada di depan rumah besarnya setelah ia tahu kabar tentang kedatangan Sila dan kedua orang tuanya. Mereka baru saja datang dari Prancis setelah menempu perjalanan yang cukup panjang.


Saila datang sendiri untuk bertemu Sila tanpa mengajak Leon. Ia merasa belum siap menunjukkan kebenaran pada Sila bahwa orang yang di nikahinya adalah kekasih Sila. Bahkan Saila tidak memberitahu suaminya jika Sila dan kedua orang tuanya sudah tiba dari Prancis.


Saila berdiri diam di depan pintu rumah besarnya, memejamkan matanya sambil menghela nafasnya dengan kasar, mencoba menenangkan perasaannya agar bisa lebih tenang bertemu dengan saudari kembarnya itu.


Ia masuk ke dalam rumahnya sesaat setelah menghela nafasnya. Saat di dalam, Saila bertanya pada salah satu pelayannya, dimana keberadaan Sila dan kedua orang tuanya sekarang? Pelayannya mengatakan kalau Sila sekarang berada di kamarnya, sedangkan Bima dan Yasmin ada di Ruang Keluarganya.


Saila terlebih dahulu menyapa kedua orang tuanya sebentar di Ruang Keluarga, kemudian kembali berjalan menaiki tangga untuk menghampiri Sila yang berada di kamarnya.


Setelah berada di depan kamar Sila, Saila langsung mengetuk pintu kamar saudari kembarnya itu. Tidak menunggu lama, Sila membuka pintu kamarnya dan tersenyum lebar ketika melihat Saila berdiri di hadapannya.


“Saila ... .” Dengan wajahnya yang antusias memanggil Saila.


“Iya, ini aku,” balas Saila.


Sila dengan cepat memeluk Saila dengan erat sambil tersenyum bahagia. Sila begitu bahagia bisa bertemu dengan Saila setelah melewati dua tahun di negri orang. Begitu juga dengan Saila yang merindukan saudari kembarnya itu. Saila ikut membalas pelukan Sila dengan erat, melampiaskan rasa rindunya pada Sila.


Beberapa saat kemudian, Sila melepaskan pelukannya, kemudian memegang tangan Saila.


“Ayo masuk! Banyak sekali yang ingin kubicarakan padamu, Saila!” seru Sila sambil menarik tangan Saila masuk ke dalam kamarnya.


Sila mengajak Saila duduk di sofa tepat di depan tempat tidurnya untuk mengajak Saila mengobrol.


“Kau mau bicara apa?” tanya Saila menatap Sila sambil tersenyum.


“Banyak sekali yang mau ku bicarakan denganmu. Tapi pertama, aku mau menanyakan satu hal dulu padamu,” ucap Sila.


“Apa yang mau kau tanyakan?” tanya Saila kembali.


“Tentu saja suamimu. Kenapa kau tidak mengajak dia datang ke sini? Aku ingin sekali bertemu dengan saudara iparku itu!” ucap Sila sambil tersenyum memegang tangan Saila.


Saila kaget mendengar Sila membahas tentang suaminya. Apa yang harus ia katakan? Tidak mungkin ia mengatakan pada Sila, kalau Saila sengaja tidak mengajak Leon, karena masih belum siap memberitahu Sila tentang kebenaran yang Saila sembunyikan darinya.


“Dia masih ada di kantor. Tidak sempat datang ke sini, Sila,” jawab Saila. Ia harus berbohong pada Sila.


“Oke ... tidak masalah kalau dia sibuk. Tapi ... kau harus janji ya untuk mengajakku bertemu dengannya?” ucap Sila.


“Baiklah, aku janji!” kata Saila.


Sila membalas ucapan Saila dengan tersenyum, kemudian berdiri dari tempat duduknya. “Kau tunggu di sini dulu ya. Aku punya sesuatu untukmu!” ucap Sila.

__ADS_1


“Apa?” tanya Saila penasaran.


“Kado pernikahanmu,” jawab Sila.


Sila pun berjalan ke arah koper yang belum ia buka sejak kedatangannya itu. Di sana ia membuka kopernya, mencari barang yang sudah ia siapkan untuk Saila setelah ia tahu tentang pernikahan Saila.


“Dimana sih barangnya?” Gumam Sila sambil mencari kadonya di dalam koper.


Sila kemudian menengok ke arah Saila sambil meraba ke dalam kopernya itu, mencari barang yang akan ia berikan pada Saila.


“O, ya ... aku belum tahu siapa nama suamimu itu, Saila. Saat kita VC, aku menanyakannya, tapi kau tidak memberitahuku?” tanya Sila, kemudian kembali melihat barangnya di koper.


Saila terdiam sejenak setelah ia mendengar pertanyaan Sila. Ia kaget mendengar Sila menanyakan nama suaminya. Namun, ia tidak bisa terus – terusan menyembunyikan suaminya, apalagi hanya sebuah nama.


“Namanya Mas Leon,” jawab Saila. Akhirnya ia memberitahu nama suaminya pada Sila.


Sila langsung menghentikan kesibukannya, kemudian kembali menoleh melihat Saila.


“Nama suamimu Leon!” ucap Sila kembali memperjelas yang ia dengar.


Saila mengangguk. “Iya.”


“Kenapa nama orang yang kita cintai sama ya? Aku juga punya orang yang aku cintai, namanya juga Leon!” ucap Sila sambil berjalan menghampiri Saila, kemudian duduk di samping Saila.


“Kok bisa kebetulan begitu ya, Saila,” Lanjut Sila sesaat setelah ia duduk di samping Saila.


Saila tersenyum paksa di depan Sila. “A-aku juga tidak tahu.” Saila terlihat gugup tanpa mau menatap Sila. Ia takut kalau Sila sadar dengan ekspresi gugupnya yang akan membuat Sila bertanya terus padanya.


Saat ini, Saila merasa sangat bersalah pada Sila. Apalagi mereka membicarakan orang yang sama. Hati Sila akan hancur kalau tahu Leon sudah menjadi suaminya. Pikir Saila.


Saila terdiam sejenak dengan semua perasaan ketakutannya itu. Ia tidak mau tali persaudaraanya hancur hanya karena satu lelaki. Ia tidak mau kehilangan Sila yang sangat ia sayangi. Saudaranya yang sangat berharga.


Sejak mereka kecil, mereka tidak pernah memperebutkan benda yang mereka inginkan. Tali persaudaraannya lebih penting di banding barang di dunia ini. Itu yang sering di ajarkan kedua orang tuanya sejak mereka kecil. Namun, Saila sudah merebut pacar saudarinya sendiri.


Apa ia harus menjauh dari Sila sampai ia melahirkan, agar Sila tidak akan tahu tentang Leon? Rencana Saila dan Leon kan  mau berpisah kalau Saila sudah melahirkan bayinya. Apa begitu saja, jadi Sila tidak akan tahu? Namun, bagaimana caranya? Pikir Saila dalam benaknya.


Sila menepuk bahu Saila ketika Saila terus terdiam di sana. “Hei, ada apa denganmu?” tanya Sila mengerutkan keningnya.


Saila kaget dengan mata melotot. “Hah ... .”


“Kau sedang memikirkan apa sih?” tanya Sila penasaran.

__ADS_1


“Tidak ada, Sila. Aku hanya pusing saja kok,” jawab Saila sambil tersenyum pada Sila.


“Kau baik – baik saja, kan. Kau tidak sakit, kan?” tanya Sila memegang tangan Saila dengan ekpresi khawatir.


“Iya, aku baik. Tenang saja. Jangan khawatir begitu!” jawab Saila sambil meletakkan tangan kirinya di atas tangan Sila yang memegang tangan kanannya itu.


Sila menghela nafasnya, merasa lega. “Syukurlah ... kalau kau baik – baik saja. Aku pikir kau sakit,” kata Sila. Sila kemudian meraih kadonya yang ia simpan di sampingnya tadi. “Ini kado pernikahanmu. Nanti di buka saat kau di rumah, dan jangan lupa VC denganku saat kau memakainya. Aku ingin melihatmu memakai pemberianku!” ucap Sila.


“Iya, terima kasih kadonya, kakakku sayang,” ucap Saila sambil meraih kado yang ada di tangan Sila, kemudian memeluk Sila dengan erat.


“Hei, apa yang kau lakukan?” tanya Sila mencoba melepaskan Saila darinya.


“Tentu saja memelukmu,” jawab Saila.


“Sudah, cepat lepaskan aku. Aku tidak bisa nafas tahu!” pinta Sila memegang kedua tangan Saila. Namun Saila semakin mempererat pelukannya pada Sila.


Sila hanya pasrah menerima pelukan erat saudarinya, lalu tersenyum disana. Dan tiba – tiba saja, Sila kembali teringat dengan suami Saila.


“O, ya ... Saila,”


“Hem,”balas Saila.


“Aku penasaran. Kenapa dia bisa meluluhkan hatimu. Sejak dulu, kan, kau sudah bersumpah untuk tidak pacaran dengan siapapun. Tapi tiba – tiba saja aku mendengar kalau kau mau menikah dengannya. Aku penasaran saja dengan suamimu yang sudah mengambil hati saudariku?” tanya Sila dengan rasa penasarannya pada suami Saila.


Saila melepaskan pelukannya, kemudian menatap Sila. “Tadi ... kau mau bicara banyak dengan ku, kan. Sekarang ceritakan padaku tentang dirimu selama di Prancis. Jangan tanya tentang aku terus!” ucap Saila.


“Baiklah ... kalau kau mau dengar. Aku akan cerita semuanya denganmu,” jawab Sila sambil tersenyum.


Sila pun menceritakan selama ia tinggal di Prancis pada Saila. Sementara Saila mendengarnya sambil fokus menatap Sila. Saila menatap saudarinya sambil tersenyum melihat Sila serius bercerita.


Semua pengalamannya ia ceritakan pada Saila selama dua tahun tinggal di sana, termasuk cerita tentang hubungannya dengan Leon.


.


.


.


Bersambung


.

__ADS_1


__ADS_2