
Leon dan Saila masih berada di pinggir jalan. Menikmati momen kemesraan mereka. Seketika Saila tersadar saat Leon melanjutkan aksinya mencium leher Saila, dan menggerakkan tangannya untuk melepaskan baju bagian atas Saila.
Saila langsung mendorong tubuh Leon menjauh darinya.
“Ada apa?” tanya Leon dengan ekspresi kagetnya.
“Apa yang Mas Leon lakukan di tempat seperti ini?” tanya Saila sambil menaikkan kembali bajunya yang sempat di buka Leon.
Leon menoleh ke kiri, dan tersadar kalau sekarang mereka berada di pinggir jalan. Ia langsung menundukkan kepalanya sambil memegang jidatnya di sana. Ia memejamkan matanya sejenak lalu menghela nafasnya di depan Saila.
Leon tidak sadar kalau ia sedang berada di pinggir jalan, karena terbawa suasana dengan perasaannya sekarang.
Leon kembali mengangkat kepalanya menatap Saila.
“Maaf sayang, aku lupa kalau kita masih ada di jalan. Ayo kita pulang sekarang!” ucap Leon mengajak Saila pulang.
Saila hanya menganggukkan kepalanya.
Leon pun kembali memasang sabuk pengamannya, lalu melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu dengan laju yang cepat.
Beberapa menit kemudian, mobilnya sampai di depan Gedung Apartemennya. Leon langsung memarkirkan mobilnya di parkiran apartemen, kemudian menggendong Saila masuk ke dalam Gedung Apartemen.
“Turunkan aku. Aku bisa jalan sendiri!” tolak Saila sambil menarik – narik kemeja suaminya.
“Sudah, jangan bawel. Kalau kau jalan sendiri, kita lama sampai di rumah. Kau jalannya lambat sekali sayang!” ucap Leon.
“Tapi semua orang melihat kita,” balas Saila.
“Siapa yang lihat? Hanya ada satpam saja yang berjaga. Kalau kau malu, kau tutup saja matamu!” ucap Leon.
“Tapi-
Leon langsung memotong ucapan istrinya. “Sudahlah. Turuti aku!” pinta Leon.
Saila pun hanya bisa menuruti suaminya. Ia melingkarkan kedua tangannya di leher Leon sambil menyembunyikan kepalanya di dada Leon. Sementara Leon kembali melangkah masuk ke dalam Gedung Apartemennya.
Leon berjalan dari parkiran Apartemen menuju lift ke lantai atas Apartemen miliknya sambil terus menggendong Saila. Sama sekali tidak terlihat ekspresi lelah di wajahnya, bahkan hanya senyuman senang yang ia tunjukkan di sana.
Tak lama kemudian, Leon sampai di Apartemen miliknya. Ia langsung keluar dari dalam lift, kemudian kembali melangkah masuk ke dalam Apartemennya.
“Kita sudah sampai. Cepat turunkan aku!” pinta Saila.
“Sudah diam!” balas Leon.
“Mas Leon mau menggendongku kemana?” tanya Saila.
“Tentu saja ke kamar,” jawab Leon.
“Apa?” Saila terlihat kaget melihat suaminya.
Leon menghentikan langkahnya tepat di depan kamar. “Kenapa kau kaget begitu?” tanya Leon sambil tersenyum menatap Saila.
“Tidak apa – apa,” jawab Saila.
__ADS_1
Saila bicara pada Leon sambil memalingkan wajahnya, karena malu menatap mata suaminya yang tersenyum melihatnya.
“Kalau gitu, kau bantu aku buka pintunya!” perintah Leon.
“Makanya turunkan aku saja!” ucap Saila.
“No ... no ... no!” ucap Leon sambil menggeleng – gelengkan kepalanya.
"Baiklah, aku buka pintunya," balas Saila.
Saila pun membuka pintu kamarnya, dan Leon kembali berjalan masuk ke dalam kamaranya. Ia menurunkan Saila di kasur dengan pelan, kemudian ikut berada di atas tempat tidur, tepat di atas tubuh istrinya.
“Ma-Mas Leon mau apa?” tanya Saila dengan gagap dan dengan ekspresinya yang malu.
“Melanjutkan yang tadi di mobil,” jawab Leon sambil tersenyum manis menatap istrinya.
Tiba – tiba saja rasa malu Saila bertambah ketika Leon tak berhenti menatap wajahnya. Apalagi Leon menatapnya dengan senyuman manis membuat gadis itu semakin malu. Saila langsung menutup wajah malunya dengan kedua tangannya.
“Kenapa kau menutup wajahmu begitu?” tanya Leon.
“Aku malu. Mas Leon jangan tatap aku terus,” jawab Saila.
Leon kemudian memegang kedua tangan Saila, menyingkirkan tangan Saila dari wajahnya, namun Saila tetap saja memejamkan matanya di depan Leon.
Leon langsung mendaratkan ciumannya di bibir Saila membuat Saila langsung membuka matanya sampai melotot karena kaget.
Semakin lama Leon mencium Saila. Saila pun ikut menikmati ciumannya. Dan ia ikut mencium suaminya dengan mesra.
“Saila, aku sudah mengungkapkan perasaanku padamu, tapi kau belum mengatakan isi hatimu,” ucap Leon.
“Aku, kan sudah bilang tadi, kalau aku suka sama Mas Leon,” balas Saila.
“Kau belum mengatakan cinta pada suamimu. Aku ingin mendengar itu dari bibir manismu ini,” ucap Leon sambil menyentuh dengan lembut bibir Saila dengan jari telunjuknya.
“Apa harus kukatakan?” tanya Saila.
“Tentu saja. Aku mau mendengarnya sekarang,” jawab Leon.
Saila menghela nafasnya dengan kasar sambil memejamkan matanya, karena merasa sedikit kesal dengan keingianan suaminya, namun ia memang harus mengatakan itu pada Leon.
Saila kembali membuka matanya melihat Leon, dan tersenyum manis di sana.
“Aku mencintai Mas Leon, bukan hanya suka, tapi aku cinta sama Mas Leon.” ungkap Saila dengan suaranya yang terdengar tegas.
Saila kemudian memegang dadanya. “Mas Leon sudah ada sini. Gimana? Apa Mas Leon sudah puas sama apa yang kukatakan?” tanya Saila dengan serius.
“Aku puas sekali!” balas Leon sambil mengangguk – nganggukkan kepalanya, merasa sangat senang mendengar ungkapan isi hati istrinya.
Dan seketika Leon kembali mencium bibir Saila dengan lembut, mesra dan penuh gairah.
Saila ikut menikmati ciuman suaminya. Ia bahkan memeluk leher suaminya dengan mesra.
Leon melanjutkan aksinya dengan menurunkan kepalanya di leher Saila, mencium leher, telinga dan meraba dadanya, menurunkan baju Saila dengan kedua tangannya, kemudian mencium dada istrinya.
__ADS_1
Leon kembali mengangkat kepalanya, menegakkan tubuhnya di depan Saila, kemudian membuka kemeja dan menurunkan resleting celananya.
Dan saat itu, Saila merasakan detak jantungnya kembali berdetak cepat, merasa sedikit gugup seakan ia baru pertama kali melakukannya dengan Leon.
Leon kembali menurunkan tubuhnya di depan Saila, menatapnya dengan tatapan manisnya, kemudian memegang rambut Saila, mencium harum rambut Saila di sana.
“Tenang saja sayang. Aku tidak akan melakukannya dengan paksa seperti yang kulakukan dulu!” ucap Leon.
Saila mengangguk.
Leon kemudian memegang kepala Saila, mengelusnya dengan lembut.
“Aku tidak akan membuat istriku tersayang merasakan sakit yang pernah kuberikan dulu. Aku hanya akan memberikanmu kelembutan saja, hem!” jelas Leon sambil tersenyum.
Saila kembali mengangguk di depan Leon.
Leon menurunkan tubuhnya sampai di perut Saila. Ia mengelus perut Saila, kemudian mencium perut istrinya dengan mesra.
"Kau belum lahir, tapi papa sudah mencintaimu nak!" ucap Leon pada bayinya.
Leon kembali memajukan tubuhnya sampai wajahnya berhadapan dengan wajah Saila.
Ia langsung mencium bibir Saila, mencium setiap jengkal Saila dengan pelan dan lembut, sampai Saila hanya mengeluarkan suara lembut dan desahan nafasnya tanpa mengeluarkan rintihan sakit dalam dirinya.
Leon menurunkan kepalanya sampai ke bawah, mencium semua bagian tubuh istrinya sampai ia puas.
Ia kembali mengangkat tubuhnya, kemudian memegang kedua paha istrinya dengan pelan, menaikkan kedua paha Saila di pahanya. Ia kembali menurunkan tubuhnya, menatap Saila.
“Saila, aku ingin mendengar sekali lagi kau bilang mencintaiku!” pinta Leon.
“Mas Leon, aku mencintaimu!” ungkap Saila.
Leon langsung mendaratkan bibirnya di kening Saila, mencium kening Saila dengan lembut, mencium mata, dan mencium ujung hidung Saila, kemudian melakukannya di sana. Tubuh kedua insan yang saling mencintai itu kembali menyatu dengan cinta yang mereka miliki.
Leon menyentuhnya dengan kelembutan dan cinta membuat Saila tidak merasakan sakit dan perih di tubuhnya, bahkan ia semakin bergairah dengan sentuhan yang di berikan Leon padanya.
.
.
.
.
Bersambung.
.
.
Udah sayang2ku nggak boleh terlalu vulgar. Segitu ajah ya...hehehe🤭🤭
Gua sengaja batasin adegan2nya. Nggak boleh terlalu vulgar adegannya. Dilarang sayang2ku sama MT🤧.
__ADS_1