
Sila kini berada di kampus Zidan. Ia duduk di koridor kampus sendiri menunggu Zidan selesai belajar. Sudah satu jam, ia menunggu di sana, namun Zidan tak kunjung keluar dari kelasnya. Saat itu, keadaan kampus memang terlihat sepi. Sudah banyak mahasiwa yang pulang, dan sebagaian mahasiswa masih belajar di kelasnya masing – masing.
Sila pun berdiri dari tempat duduknya, kemudian berjalan ke lorong kampus melihat Zidan, apakah sudah keluar atau tidak, namun tidak ada tanda – tanda kalau Zidan akan keluar dari kelasnya.
Dengan terpaksa Sila menghubungi Zidan dan mengatakan kalau hari ini ia akan memberikan jawaban dari lamarannya kemarin.
Tak lama kemudian, Zidan pun keluar dari kelasnya dan menghampiri Sila.
“Sila!” panggil Zidan saat ia melihat Sila berdiri di koridor kampus membelakanginya.
Sila menoleh melihat Zidan.
“Kau sudah disini?” kata Sila.
“Iya, aku langsung keluar kelas saat kau mengirimkanku pesan tadi. Kau bilang mau memberikanku jawaban,” kata Zidan yang terlihat sangat penasaran.
“Iya. Aku mau berikan jawabanku sekarang. Aku bersedia menikah denganmu!” ungkap Sila tanpa basa - basi lagi.
“Benarkah,” seru Zidan yang seketika berwajah ceria di depan Sila. Ia langsung memeluk tubuh Sila dengan erat.
"Aku sangat bahagia mendengarnya Sila. Akhirnya kau setuju untuk menikah!" kata Zidan diiringi dengan senyuman bahagianya.
“Tunggu sebentar. Dengarkan aku bicara dulu!" Sila langsung mendorong Zidan untuk melepaskan pelukan Zidan darinya "Aku belum selesai bicara tadi!” lanjut Sila sambil menatap Zidan dengan serius.
__ADS_1
“Maaf. Aku terlalu bahagia mendengar jawaban darimu. Katakanlah yang mau kau katakan!” ucap Zidan.
“Aku bersedia menikah denganmu, tapi bukan sekarang. Aku mau menikah saat Saila sudah melahirkan anaknya. Kalau anak Saila sudah lahir, baru kita merencanakan tanggal pernikahannya. Bagaimana?”
Zidan terdiam sejenak mencoba mencerna ucapan Sila.
“Sila ... apa kita tidak bisa menikah sekarang? Kenapa harus menunggu Saila melahirkan?” tanya Zidan.
“Kak Zidan. Aku tahu kalau kau ingin buru – buru menikah karena takut aku akan hamil anak David, begitu, kan? Maaf Kak Zidan ... aku tidak akan membiarkan diriku mengandung anak David. Kalau pun aku hamil. Aku pasti akan menggugurkannya, karena aku tidak sudi memiliki anak darinya,” kata Sila.
“Sila, anak itu tidak berdosa. Kenapa kau harus menggugurkannya?” kata Zidan yang tidak terima keputusan Sila.
“Kak Zidan, aku mohon. Tolong jangan bicarakan tentang anak yang sama sekali belum ada di dalam perutku. Mendengarnya saja membuatku jijik. Kalau kau masih bersikeras untuk menikah sekarang. Aku mohon maaf, aku tidak bisa menuruti keinginanmu itu!” kata Sila dengan serius menatap Zidan yang berdiri kaku di depannya.
“Baiklah. Aku setuju dengan keputusanmu itu!” balas Zidan, kemudian memegang kedua tangan Sila. “Tapi, kalau kau sampai hamil, tolong beritahu padaku. Jangan sembunyikan dariku. Kita lewati ini bersama – sama. Oke!”
“Iya, aku mengerti. Aku pasti akan beritahu padamu. Tenang saja,” balas Sila.
"Apa masih ada yang mau kau katakan padaku?" tanya Zidan.
"Tidak ada," jawab Sila.
“Kalau begitu, pulanglah. Aku masih ada mata kuliah nanti. Kalau kau menungguku pulang mungkin akan lama. Sepertinya aku sampai sore disini. Nanti aku menghubungimu setelah mata kuliahku selesai!” pinta Zidan.
__ADS_1
“Oke. Aku pulang. Jangan lupa hubungi aku setelah kau selesai ya!” kata Sila.
“Tentu saja. Pulanglah!” balas Zidan sambil mengelus lembut pipi kiri Saila.
Sila pun membalikkan tubuhnya untuk pergi.
"Sila ... tunggu sebentar!" kata Zidan yang membuat Sila kembali menoleh ke belakang.
Dan sebuah kecupan lembut mendarat di pipi Sila.
"Kak Zidan, apa yang kau lakukan?" kata Sila sambil memegang pipinya tadi yang di cium Zidan.
"Aku masih ada mata kuliah sampai sore. Dan tenagaku sudah habis, jadi aku mengisinya kembali," balas Zidan sambil tersenyum.
"Oooo ... jadi kau mengisi tenaga!" kata Sila, kemudian dengan cepat mendaratkan bibirnya di bibir Zidan. Ia mengecup bibir Zidan yang membuat kedua mata Zidan terbelalak kaget.
"Aku tambahkan lagi supaya kau semangat kuliah," lanjut Sila, kemudian berjalan keluar meninggalkan Zidan yang masih berdiri diam dengan tubuhnya yang kaku menerima kejutan ciuman Sila.
Saat itu, Zidan diam seperti patung, bahkan tidak menyadari kalau Sila sudah berjalan keluar meninggalkannya.
"Dia berinisiatif sendiri untuk menciumku. Hah ... astaga Zidan. Berarti Sila benar - benar sudah mencintaimu Zidan!" gumam Zidan dengan dirinya sendiri sambil menyentuh bibirnya yang habis di cium Sila.
.
__ADS_1