SILA DAN SAILA

SILA DAN SAILA
Berpisah untuk sementara


__ADS_3

Sila berlari menaiki tangga dengan panik untuk menemui ibu dan saudari kembarnya.


“Ibu!” panggil Sila dengan keras dari arah tangga.


Nyonya Yasmin menoleh ke samping, melihat anaknya berlari menghampirinya, begitu juga dengan Saila yang tengah berdiri di depan kamarnya.


“Ada apa Sila?” tanya Yasmin khawatir.


“Ayah, bu. Ayah memukul Kak Leon. Ibu harus menolongnya bu!” kata Sila dengan nafasnya yang ngos – ngosan.


“Apa?” balas Yasmin kaget, matanya sampai terbuka lebar menatap anaknya.


Saila yang mendengar itu sangat syok sampai ia menutup mulutnya secara refleks dengan kedua tangannya.


Tanpa berkata apa – apa, Saila bergegas melewati ibu dan saudari kembarnya, kemudian berlari turun tangga menghampiri ayah dan suaminya. Ia bahkan tidak menyadari dirinya yang sedang hamil muda, karena kepanikannya itu.


“Saila ... jangan berlari!” teriak Nyonya Yasmin panik melihat Saila berlari menuruni tangga. Ia segera menyusul Saila ke bawah bersama Sila.


Saila yang sudah berada di lantai bawah, buru – buru keluar rumahnya untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi?


Saat diluar, ia kaget melihat suaminya tengah berlutut di depan ayahnya, apalagi saat ia melihat ayahnya tengah memegang tongkat bisbol di tangannya.


Saila langsung berlari menghampiri ayah dan suaminya di sana.


“Ayah ... ayah ...!” teriak Saila memanggil ayahnya.


Mereka semua menoleh melihat Saila yang tengah berlari ke arah mereka.


“Saila, siapa yang membiarkanmu keluar?” kata Tuan Bima dengan suara tegasnya.


Saila melemparkan tubuhnya di pelukan Leon yang saat itu tengah berlutut. Dan Leon langsung menangkap tubuh istrinya memeluk gadis mungil itu dengan erat, melepas rindunya, seakan dirinya dan Saila dipisahkan selama bertahun – tahun, namun kenyataannya, mereka baru beberapa jam yang lalu berpisah. Itu karena Leon sangat takut kehilangan istrinya.


Saila melepaskan pelukannya, dan kaget saat melihat wajah Leon babak belur yang habis di pukul Tuan Bima. Seketika air matanya jatuh melihat wajah Leon. Ia sangat kasihan melihat suaminya yang kesakitan.


Ia memegang kedua pipi Leon, kemudian berkata: “Mas Leon, apa yang terjadi padamu?”


 “Tidak apa – apa sayang. Ini sama sekali tidak sakit!” jawab Leon sambil tersenyum di depan istrinya. Saat itu, Leon mengangkat tangannya, memegang kedua tangan Saila yang tengah memegang pipinya.


Tuan Bima yang menyaksikan itu, hanya bisa mengangkat kepalanya sambil memejamkan matanya, menenangkan amarahnya tadi, namun tetap saja Tuan Bima tidak bisa meredakan amarahnya pada Leon.


Ia sangat kecewa pada menantunya itu. Lelaki yang mengatakan kalau ia menikahi anaknya karena cinta, lelaki yang akan membuat anaknya bahagia. Bagaimana bisa lelaki itu tega memperkosa putrinya sendiri bahkan membohonginya tentang mereka yang saling mencintai?


Ia tidak terima kalau Leon pernah memperlakukan putrinya dengan kasar, meskipun kenyataannya mereka sudah menikah.


Tuan Bima terus berdiri diam dengan kesedihan yang tampak di wajahnya. Ia tidak tega kalau melihat putrinya harus berpisah dengan suaminya, namun ia juga tidak bisa menerima sikap Leon pada Saila.


Saila membalikkan tubuhnya dengan posisi berlutut untuk berhadapan dengan ayahnya. Ia mengangkat kepalanya melihat ayahnya dengan tangisan di wajahnya, kemudian berkata: “Ayah, kenapa ayah memukul Mas Leon?”

__ADS_1


Tuan Bima menghela nafasnya dengan kasar, kemudian menjawab: “Ayah sudah tahu semua perbuatannya padamu selama ini. Kalian semua sudah membohongiku. Ayah tahu kalau kau hamil karena dia memperkosamu, Saila. Ayah tidak akan pernah terima lelaki yang sudah melecehkanmu!” kata Tuan Bima dengan tegas.


Saila kaget mendengar ucapan ayahnya. Jadi yang membuat ayahnya marah besar pada Leon, karena masalah Leon yang memperkosa dirinya. Pikirnya kalau Tuan Bima marah, karena masalah Alexa kemarin.


Saila kemudian menundukkan kepalanya dengan tangisan yang mengalir jatuh di kedua pipinya. Karena kaget, ia tidak tahu harus mengatakan apa pada ayahnya, dan lebih memilih diam menangis di sana.


Sementara Nyonya Yasmin dan Sila sekarang berlari keluar rumah menghampiri mereka. Nyonya Yasmin terlihat panik melihat suaminya memegang tongkat bisbolnya.


Ia menghentikan tubuhnya saat sudah berada di samping suaminya. Ia memegang lengan suaminya, kemudian berkata: “Sayang, apa yang sedang kau lakukan? Kendalikan amarahmu itu! Apa kau mau membunuh menantu kita?”


“Aku memang mau membunuh ******** itu!” jawab Tuan Bima dengan tegas.


Sila hanya bisa berdiri diam di samping ibunya menyaksikan itu semua tanpa berani bicara.


Yasmin kembali bicara, “Coba kau lihat. Kau sudah memukuli wajahnya sampai berdarah. Bagaimana pun juga dia sudah menjadi suami Saila? Apa kau tidak bisa mengendalikan amarahmu itu?” Yasmin terlihat marah pada suaminya.


Tuan Bima hanya bisa terdiam mendengar ocehan istrinya, namun ia tetap masih marah besar pada Leon.


Saila yang menundukkan kepalanya tadi, kembali mengangkat kepalanya melihat ayah dan ibunya.


“Ayah, aku mohon maafkan Kak Leon. Maafkan kami. Kami salah sudah berbohong pada ayah. Tapi, masalah kami yang berbohong, itu aku yang merencanakannya. Aku hanya ingin pernikahan kami disetujui ayah dan ibu, jadi aku sengaja berbohong pada ayah. Jangan salahkan Mas Leon. Aku sangat mencintainya, ayah. Jangan sakiti suamiku. Aku mohon!” kata Saila memohon dengan sedih.


Leon menarik tangan istrinya, memegangnya dengan lembut. Dan Saila langsung menoleh melihat suaminya.


“Mas Leon!” Ia memanggil suaminya dengan tangisan dan kesedihan yang ia tunjukkan.


“Saila, tidak apa – apa. Aku memang salah, dan pantas menerima apapun yang akan dilakukan ayah. Selama itu bisa menggantikan semua kesalahanku, dan bisa berdiri lagi di sampingmu. Aku tetap akan duduk tegak disini menerima pukulan dari ayah. Aku bisa menyerahkan tubuhku untuk menggantikan perbuatanku!” kata Leon menatap istrinya dengan serius.


“Ini kesalahanku! Aku akan bertanggung jawab atas kesalahanku itu! Silahkan ayah lakukan apapun padaku. Kalau ayah ingin membunuhku sebagai pengganti perbuatanku pada Saila. Silahkan!” kata Leon menundukkan kepalanya memohon ampunan. Ia memejamkan matanya di sana, menyiapkan dirinya di depan Tuan Bima.


“Mas Leon ... hiks ... hiks ... Mas Leon, apa yang kau lakukan?” ucap Saila memegang lengan suaminya sambil menangis. Saila kemudian menatap ayahnya. “Ayah ... ayah. Maafkan Mas Leon, Ayah!” Terdengar suara Saila yang lemah dan tak berdaya di hadapan kedua orang tuanya.


Tuan Bima kembali mengangkat kepalanya, memejamkan matanya sambil menghela nafasnya. Ia tidak tega melihat putrinya yang manja itu, berlutut memohon di depannya, apalagi tangisan yang terus mengalir di pipi putri kesayangannya itu.


Dengan terpaksa ia menahan amarahnya. Ia membalikkan badannya membelakangi anak dan menantunya.


“Bawa anakmu masuk sekarang!” perintah Tuan Bima melirik istrinya.


Setelah mengatakan itu pada istrinya, ia langsung berjalan meninggalkan mereka semua dengan amarahnya yang masih ada dalam dirinya.


Seketika Yasmin menghela nafasnya dengan lega, kemudian berjongkok di depan Saila dan Leon yang saat itu tengah menunduk.


“Saila, ayo masuk ke dalam!” ajak Yasmin.


“Apa ayah sudah memaafkan Mas Leon, Bu?” tanya Saila penasaran. Kesedihan masih nampak di wajahnya.


“Masuklah duluan sama Sila. Ibu akan bicara dulu pada suamimu. Oke!” kata Yasmin.

__ADS_1


“Tapi bu-


“Saila!” Yasmin langsung memotong ucapan anaknya dengan tegas.


Yasmin kemudian mengangkat kepalanya melihat Sila. “Sila, masuklah bersama Saila. Antar dia ke kamarnya dulu!” pinta Yasmin.


“Baik bu,” jawab Sila.


Sila membungkukkan tubuhnya, kemudian memegang lengan Saila, membantunya bangun dari sana, namun Saila masih tidak mau berdiri dari tempatnya.


Seketika Leon memegang lembut tangan istrinya, kemudian berkata: “Masuklah sayang. Aku pasti menyusulmu!”


Leon terpaksa mengatakan itu, agar Saila menuruti keinginan ibunya untuk masuk ke dalam.


Saila pun menuruti kata suaminya. Ia berdiri, lalu berjalan masuk ke dalam bersama Sila. Sesekali Saila menoleh melihat Leon dengan tatapan sedihnya, dan Leon langsung melemparkan senyuman pada istrinya.


Saat Sila dan Saila sudah masuk, Yasmin langsung memegang kedua bahu menantunya yang masih berlutut di sana.


“Leon, mungkin hari ini kau tidak bisa membawa istrimu kembali!” kata Yasmin.


“Aku tahu. Ayah belum memaafkanku, tapi aku tidak akan pernah meninggalkan Saila, Bu. Apapun yang terjadi, aku tidak akan meninggalkannya!" kata Leon melihat ibu mertuanya dengan sedih.


“Ayahmu itu orang yang sangat keras kepala, Leon. Tapi, dia tidak akan pernah membuat anak – anaknya menderita. Ibu memang sangat kecewa padamu, tapi ibu tidakakan bisa memisahkan orang yang saling mencintai. Ibu bisa lihat kalau kau sangat mencintai Saila. Dan ibu akan membantumu bicara pada ayahmu. Tapi untuk saat ini, dia butuh waktu menenangkan dirinya. Dia masih emosi, karena perbuatanmu itu. Apa kau bisa mengerti kata – kata Ibu?” kata Nyonya Yasmin memberi penjelasan dan pengetian pada menantunya.


“Aku mengerti!” balas Leon.


Nyonya Yasmin mulai menggerakkan tangannya memegang lengan menantunya, membantunya untuk berdiri.


“Ayo berdirilah!” pinta Yasmin.


Leon pun menggerakkan tubuhnya untuk berdiri dari tempatnya itu.


“Terima kasih bu!”


“Pulanglah. Dan obati lukamu itu!” kata Yasmin.


Leon mengangguk. “Baik.”


Ia membungkukkan setengah badannya, berpamitan pada ibu mertuanya, kemudian membalikkan badannya untuk meninggalkan Rumah Kediaman Mahesa.


Sesekali ia menoleh melihat ke dalam rumah dengan raut wajah sedihnya, berharap ia bisa melihat Saila sebelum pergi. Rasanya sangat berat ia melangkah pergi meninggalkan Saila di sana, namun bagaimana lagi? Situasi yang memaksanya begitu. Ia dan Saila harus berpisah untuk sementara waktu sampai Tuan Bima kembali merestui mereka.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


.


.


__ADS_2