
Liburan di pantai sudah berlalu. Mereka semua liburan di sana selama satu minggu lamanya. Dan selama satu minggu itu, mereka menjalani hari – harinya di pantai dengan penuh bahagia dan kegembiraan.
Kini Sila dan Saila sudah kembali, menjalani kehidupan mereka masing – masing dengan pasangan mereka.
Sementara Tuan Bima dan Nyonya Yasmin terbang ke Prancis untuk mengunjungi Ansel anak lelakinya yang sedang menempuh pendidikannya di sana. Dan itu semua karena keluhan Angela pada kakaknya yang tidak bisa menangani Ansel, yang memang sifatnya tidak jauh beda dengan Tuan Bima.
***
Universitas, tempat Sila dan Zidan kuliah.
Sila baru saja keluar dari kelasnya setelah ia menyelesaikan mata kuliahnya, namun berbeda dengan Zidan yang masih melanjutkan mata kuliah hukumnya. Zidan memang beberapa hari ini sangat disibukkan dengan kuliahnya yang sebentar lagi akan selesai.
Sila yang berniat bersama Zidan pulang ke rumah, mendatangi kelas Zidan. Namun saat berada di depan kelas Zidan, Sila menghubungi Zidan terlebih dahulu untuk mengajaknya pulang bersama.
Zidan mengatakan pada Sila kalau ia tidak bisa kembali dengannya tepat waktu dan menyuruh Sila kembali dengan pengawal pribadinya. Dengan terpaksa ia masuk ke kelas Zidan untuk menunggunya di sana agar ia tidak bosan seperti tempo hari.
Saat Sila masuk, tanpa sengaja ia melihat seorang gadis duduk di samping Zidan, bahkan asyik mengobrol dengan lelaki ramah itu. Gadis itu bernama Dara, salah satu mahasiswi hukum di kampus mereka. Sila pun semakin mempercepat langkahnya untuk menghampiri Zidan dan Dara.
“Sedang apa kau disini?” tanya Zidan saat ia melihat Sila berdiri di depannya. Saat itu, Sila berdiri dengan tatapan tajam melihat Zidan dan Dara yang duduk bersama.
“Aku mencarimu. Aku tidak mau pulang bersama pengawal ayah. Aku tidak suka dengan mereka. Lagi pula, rumah sepi, tidak ada orang. Jadi aku mau menunggumu sampai mata kuliahmu selesai,” jawab Sila.
“Kalau begitu, kau duduk di belakang sana, menungguku selesai belajar!” pinta Zidan sambil menunjuk salah satu kursi di belakangnya.
“Aku mau duduk disini!” kata Sila dengan suaranya yang terdengar tinggi dan tegas sambil melirik wanita yang duduk di samping Zidan. Ia meninggikan suaranya dengan tegas karena sengaja menyindir Dara yang sejak tadi menatap sambil tersenyum.
“Senior, aku saja yang pindah ke belakang!” sahut Dara sambil tersenyum paksa. Tampak jelas di wajahnya kalau ia merasa tidak enak hati dengan Sila, apalagi ketika Sila menatapnya dengan tatapan permusuhan. Seakan menganggap dirinya sebagai lawan.
Sila pun duduk di samping Zidan ketika Dara berdiri dari kursinya. Ia langsung menyimpan tasnya di meja dengan keras sampai membuat orang yang ada di dalam kelasnya itu, terkejut, begitu juga dengan Zidan yang kaget melihat tingkah Sila, apalagi ketika ia melihat wajah Sila yang terlihat kesal.
“Ada apa denganmu?” tanya Zidan mengerutkan keningnya, merasa bingung dengan sikap Sila.
“Tidak apa – apa. Aku hanya kesal pada seseorang,” jawab Sila.
“Kau cemburu sama Dara?” tanya Zidan yang sadar dengan tingkah Sila. Saat itu, ia tersenyum melihat Sila yang cemberut di sampingnya, apalagi Sila tidak melihatnya ketika Sila menjawab ucapannya.
Sila langsung menoleh, menatap tajam Zidan, “Siapa yang cemburu? Aku sama sekali tidak cemburu. Biasa ajah!”
Sila kembali menggerakkan kepalanya ke depan, tidak mau melihat Zidan yang tersenyum seakan mengejek dirinya.
“Sudah, jangan cemberut begitu. Aku akan menebusnya nanti saat kita pulang. Oke!” kata Zidan sambil mengusap belakang kepala Sila dengan wajahnya yang masih tersenyum melihat Sila di sampingnya.
“Memangnya apa yang bisa kau lakukan selain kuliah, dan belajar. Pacaran saja tidak pernah!” ketus Sila.
“Gini – gini aku bisa melakukan yang di sukai para gadis. Kau lihat saja nanti,” balas Zidan.
“Cih ... sombong sekali!” kata Sila.
“Sudah diam. Dosennya sudah masuk. Kalau dia tahu kau ada di sini. Dia pasti menyuruhmu menjawab pertanyaan yang tidak kau tahu,” bisik Zidan saat ia melihat dosen mata kuliahnya masuk kelas.
Sila pun diam memandang ke depan memperhatikan dosennya yang sudah mulai mengajar.
__ADS_1
30 menit kemudian, Sila sudah terlihat bosan dengan mata kuliah yang di jelaskan dosennya, apalagi ia sama sekali tidak mengerti. Ia menoleh ke samping melihat Zidan yang terlihat fokus dengan pelajarannya.
“Kak Zidan, aku bosan mendengarnya mengoceh tentang pasal – pasal terus. Sampai kapan sih pelajarannya selesai?” tanya Sila yang terlihat lesu.
“Satu jam lagi, sayang,” jawab Zidan tanpa melihat Sila dan hanya fokus ke depan.
“Apa, satu jam?” teriak Sila yang membuat semua orang menoleh melihatnya. Karena kaget mendengar ucapan Zidan, membuat Sila secara refleks berteriak di dalam kelasnya itu.
“Kenapa kau berteriak?” bisik Zidan.
Sila langsung menundukkan kepalanya, menyembunyikan dirinya ketika ia menyadari kalau orang – orang tengah memperhatikannya, apalagi dosen yang mengajar tadi langsung menatap ke arah mereka berdua.
“Hei, gadis yang pakai jaket merah muda. Cepat berdiri!” perintah dosennya itu memanggil Sila.
Sila tidak mengangkat kepalanya, karena tidak menyadari kalau dirinyalah yang di panggil saat itu.
Zidan pun mendekatkan kepalanya di telinga Sila, kemudian berkata: “Jangan menunduk. Dia sedang memanggilmu sekarang!”
“Siapa yang memanggilku?” tanya Sila yang masih menunduk.
“Hei, kau yang pakai jaket merah muda. Cepat berdiri!” sahut kembali dosennya.
Sila yang sadar dengan panggilannya, segera berdiri, kemudian menegakkan kepalanya melihat dosennya itu.
“Saya pak,” jawab Sila.
“Ya ... kamu. Kau sepertinya tidak perhatikan pelajaran yang kuberikan tadi. Kalau begitu, Bapak punya pertanyaan yang gampang untukmu. Apa tindakanmu saat kau diberi tugas oleh firma hukum untuk membela seseorang yang di tuduh melakukan pembunuhan?” tanya dosennya itu.
“Kenapa bapak malah menanyakan hal seperti itu pada saya? Tentu saja saya akan memasukkan dia ke dalam penjara. Dia kan, seorang pembunuh, masa mau di bela lagi sih!” kata Sila yang membuat teman – teman di dalam kelasnya langsung tertawa keras.
Sila terlihat heran melihat semua orang malah menertawakan dirinya di sana. Ia hanya bisa menundukkan kepalanya merasa malu dengan dirinya sendiri.
“Kau bukan jurusan hukum ya. Kenapa kau bisa berada di kelas ini?” sahut Dosennya kembali, bertanya pada Sila.
Sila kembali mengangkat kepalanya, kemudian berkata: “Saya mengikuti pacar saya kesini pak.”
“Siapa pacarmu?” tanya dosennya lagi.
“Dia,” kata Sila sambil menunjuk Zidan yang duduk tegak di sampingnya.
“Zidan, berdiri!” perintah dosennya itu.
“Ya pak!” balas Zidan sambil berdiri di tempat duduknya.
“Apa benar dia pacarmu?” tanya dosennya lagi melihat Zidan.
Zidan menoleh melihat Sila sebentar, kemudian kembali melihat dosennya yang berdiri agak jauh dari mereka.
“Tunangan saya pak,” jawab Zidan.
“Bapak tahu kalau kau di sibukkan dengan pelajaran – pelajaranmu, sampai mungkin kau tidak punya waktu untuk bersenang – senang, tapi kau tidak perlu berkencan juga di dalam kelas!” kata dosennya yang menceramahi Zidan.
__ADS_1
“Baik pak,” jawab Zidan.
“Duduklah dengan tenang!” perintah dosennya dengan tegas.
“Baik,” jawab Zidan.
Zidan dan Sila pun akhirnya duduk kembali. Mereka melanjutkan pelajarannya yang tertunda tadi. Tentu saja Sila hanya bisa diam kaku di sana tanpa berani bicara lagi dengan Zidan, meskipun ia adalah orang yang tidak sabaran, namun ia harus menahannya kalau ia ingin pulang bersama Zidan.
Namun dibalik diamnya itu, ia tidak enak hati dengan Zidan yang merasa kalau ia hanya datang untuk mempermalukan dirinya saja, apalagi Zidan tidak pernah melirik dirinya sejak tadi.
Satu jam kemudian, pelajaran mereka pun akhirnya selesai. Dosen yang mengajar sudah meninggalkan tempatnya. Para murid juga sudah mulai keluar satu persatu dari kelas.
Sila menoleh melihat Zidan yang sibuk merapikan bukunya ke dalam tas.
“Kak Zidan!” panggil Sila.
“Emm,” balas Zidan yang sibuk memasukkan buku - bukunya.
“Apa kau malu tadi?” tanya Sila.
Zidan menoleh, “Aku malu kenapa?” kata Zidan.
“Yaaa ... karena aku sudah membuatmu malu tadi di depan teman - temanmu,” jawab Sila.
“Sama sekali tidak. Aku bahkan khawatir denganmu. Kau pasti malu di tertawakan mereka tadi. Mereka semua tertawa karena pertanyaan yang kau jawab adalah pertanyaan yang sangat gampang. Dan itu ditujukan untuk junior yang baru masuk mata kuliahnya!” jelas Zidan.
Sila terlihat cemberut mengingat kejadian tadi.
“Tidak usah di pikirkan. Ayo, kita pulang. Aku mau membawamu ke suatu tempat yang kau sukai!” ajak Zidan.
“Kemana?” tanya Sila penasaran.
“Masih rahasia. Ini adalah kejutan, jadi kau tidak boleh tahu dulu,” jawab Zidan.
“Baiklah. Terserah kau!”
Sila dan Zidan pun berdiri dari kursinya masing – masing, kemudian berjalan keluar bersama – sama. Mereka berjalan bergandengan tangan sambil sesekali melihat satu sama lain dengan wajah mereka yang sama – sama tersenyum.
.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
.
__ADS_1