
Kini Saila dan Leon sudah berada di perjalanan menuju Apartemen yang akan mereka tempati berdua.
Di dalam mobil, Saila hanya diam menatap jendela kaca luar mobilnya tanpa bicara dengan suaminya. Ia tak tahu harus membicarakan apa pada Leon. Saila lebih memilih duduk diam sambil menikmati pemandangan jalan di jendela kaca mobilnya.
Begitu pun dengan Leon yang sejak tadi diam membisu tanpa sekalipun bicara pada istrinya. Pandangannya hanya lurus ke depan sambil menyetir mobilnya itu. Namun, di balik sikap diam dan kebisuannya itu menyimpan pertanyaan dan rasa penasaran tentang hubungan Saila dan Zidan. Foto tadi sangat mengganggu pikirannya. Ia tidak bisa berhenti memikirkan Saila dengan Zidan ketika ia melihat foto mereka tadi, yang menurutnya terlihat mesra. Padahal jika di lihat, Saila hanya memegang lengan Zidan. Tidak lebih dari itu.
Leon menoleh ke samping melihat istrinya sebentar, kemudian kembali melihat ke depan.
“Apa hubunganmu dengan lelaki yang bernama Zidan itu?” tanya Leon ketika pandangannya lurus ke depan tanpa melihat istrinya.
Saila melihat suaminya sesaat setelah ia mendengar pertanyaan Leon padanya.
“Kenapa Mas Leon menanyakan itu?” tanya Saila pada suaminya, menanyakan maksud pertanyaan suaminya.
“Jawab saja. Aku kan hanya sekedar bertanya,” jawab Leon.
Saila menghela nafasnya pelan sambil memikirkan dirinya dengan Zidan, kemudian menggerakkan kepalanya ke depan.
“Kak Zidan itu sahabatku dari kecil,” jawab Saila dengan santainya menatap lurus ke depan.
“Apa kau punya perasaan padanya?” tanya Leon kembali dengan ekspresi seriusnya, namun pandangannya tetap melihat ke depan.
Saila kembali menghela nafasnya disana, kemudian bicara pada suaminya.
“Iya, sudah sejak kecil aku sudah menyukai Kak Zidan, dan sampai sekarang aku masih menyukainya,” ungkap Saila.
Ia dengan santainya menjawab pertanyaan dari suaminya tanpa ada rasa canggung atau pun malu.
Sementara Leon tampak diam dengan ekspresi kesal ketika ia mendengar pengakuan istrinya tentang perasaannya pada Zidan.
“Dia santai sekali mengatakan perasaannya pada Zidan. Apa dia menganggapku sebagai teman curhatnya. Aku ini kan suaminya?” dalam hati Leon yang mengeluh.
__ADS_1
Tentu saja Saila merasa santai dan tidak malu, apalagi merasa bersalah ketika ia mengatakan itu. Karena pikirnya itu tidak menjadi masalah kalau ia mengatakan perasaannya tentang Zidan pada Leon. Toh, mereka berdua tidak saling mencintai. Mereka menikah hanya untuk janin yang ia kandung.
Yang Saila tahu, kalau Leon mencintai Sila, dan akan lebih baik kalau Leon tahu tentang perasaannya agar Leon tidak merasa bersalah saat mereka pisah nanti, dan agar Leon tidak mengira kalau dirinya punya rasa pada Leon. Pengakuan Saila tentang perasaannya pada Zidan juga menegaskan kalau ia tidak akan jatuh cinta dengan Leon.
Namun, pengakuan Saila itu semakin membuat Leon kesal. Karena perasaan kesalnya itu, ia sampai melajukan mobilnya dengan cepat sesaat setelah ia mengeluh dalam hatinya.
Saila tampak kaget saat melihat Leon melajukan mobilnya dengan cepat.
“Mas Leon ... pelan – pelan dong. Nanti kita kecelakaan,” ucap Saila memperingati suaminya.
“Kenapa, kau takut mati dan tidak bisa menikahi lelaki yang kau sukai itu?” Ketusnya yang melirik Saila dengan pandangan kesal.
“Apa?” Saila tampak bingung mendengar ucapan suaminya. “Mas Leon, kenapa sih dari tadi bicara aneh terus? Dari sejak kita di kamar, Mas Leon kesal sampai sekarang. Apa Mas Leon masih khawatir dengan keadaan Sila?”ntanya Saila dengan serius melihat suaminya. Pikirnya kalau Leon seperti itu karena Sila yang habis kecelakaan di luar negri.
Leon tampak diam tanpa membalas pertanyaan istrinya tentang Sila. Ia hanya fokus menyetir dengan pandangannya yang lurus ke depan tanpa sekalipun melirik Saila.
Saila kembali bicara saat ia melihat Leon diam. “Mas Leon tenang saja. Sila baik – baik saja kok. Lukanya tidak parah sama sekali. Apalagi ayah dan ibu akan menjemputnya langsung di Prancis untuk kembali ke sini,” ucap Saila.
Leon lagi – lagi tidak menjawab ucapan istrinya. Ia hanya menghela nafasnya dengan pelan di sana.
Leon berjalan masuk ke dalam Gedung Apartemennya sambil menarik koper milik Saila, sedangkan Saila hanya bisa diam mengikuti suaminya masuk ke dalam Gedung Apartemennya. Leon dan Saila menaiki lift menuju lantai 5 Apartemen milik Leon.
Tak menunggu lama, pintu lift yang mereka naiki terbuka ketika mereka sudah sampai di lantai 5 Apartemennya.
“Ayo,” ajak Leon ketika ia sudah keluar dari lift dan masih melihat Saila berdiri mematung di dalam lift.
Saila pun keluar dari sana sesaat setelah mendengar ajakan suaminya. Ia mengikuti suaminya berjalan menuju Apartemen pribadi Leon. Setelah berada di depan pintu Apartemennya, Leon langsung membuka pintunya menggunakan kartu akses miliknya. Ia membuka pintu Apartemennya dengan lebar sambil berjalan mundur ke samping, memberikan jalan untuk Saila agar Saila bisa masuk ke dalam.
Saila masuk ke dalam Apartemen suaminya sambil melihat sekeliling ruangan Apartemen Leon dengan seksama. Terlihat luas nan mewah ruangan yang ia lihat.
Leon menutup kembali pintu Apartemennya, kemudian mengajak Saila menuju kamar pribadi yang akan mereka tempati sambil menarik koper milik Saila.
__ADS_1
Tentu saja Saila mengikuti suaminya masuk ke dalam kamar tanpa mengatakan apapun. Dan ketika mereka berdua di dalam kamar, Leon menyimpan koper istrinya di dalam Ruang Ganti diikuti Saila dari belakangnya.
“Kau bisa menyimpan pakaianmu di sana.” Menunjuk salah satu lemari pakaian yang ada di depannya itu.
“Iya,” Balas Saila.
Saila pun berjalan maju untuk membuka kopernya, kemudian merapikan isi kopernya ke dalam lemari, sedangkan Leon kembali berjalan keluar kamarnya menuju dapur miliknya untuk memasak makanan yang akan mereka makan nanti malam. Leon mulai memasak beberapa makanan di dapur dengan santainya.
Tak lama kemudian, Saila keluar dari kamarnya dan berjalan menghampiri Leon yang sibuk di dapurnya. Di sana ia berdiri menatap punggung Leon dari belakang.
"Mas Leon perlu bantuan," ucap Saila.
Leon menoleh ke belakang melihat Saila.
"Tidak usah. Kau duduk saja depan Tv, menungguku selesai masak."
"Tapi mas- ...
Kalimat Saila terpotong ketika Leon langsung memegang kedua bahunya, kemudian memutar tubuhnya untuk meninggalkan dapurnya itu.
"Kau tunggu saja di luar ya. Aku akan menyelesaikan ini dengan cepat. Oke," ucap Leon.
Saila menghela nafasnya melirik ke belakang untuk melihat Leon yang masih memegang kedua bahunya dari belakang.
"Baiklah, kalau itu maunya Mas Leon," jawab Saila.
Saila kemudian berjalan meninggalkan Leon menuju Ruangan depan TV-nya. Ia duduk di depan TV menunggu Leon selesai masak beberapa makan malam.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.