
Pukul 9:00 pagi.
Tuan Bima dan Yasmin kini duduk di Ruang Keluarganya menunggu Sila pulang. Mereka berdua di temani Ken yang berdiri di samping sofa yang di duduki Tuan Bima.
Terlihat jelas di wajah Tuan Bima kalau ia sekarang tengah marah. Ia duduk di sofa sambil menyilangkan kedua kakinya dan menyandarkan tubuhnya di sofa. Sorot matanya sangat tajam mengarah ke depan. Ia baru saja menerima sebuah Map yang berisi foto salah satu putrinya, bahkan ada sebuah surat diantara foto – foto itu.
Tuan Bima duduk ditemani Yasmin menunggu putrinya, bahkan wajah Yasmin tampak sangat khawatir dan kaget ketika melihat Map tersebut. Mereka berdua memasang wajah kecewa setelah melihat beberapa lembar foto – foto itu.
Dari luar rumah Kediaman Mahesa.
Mobil yang di kendarai Riana sudah memasuki pekerangan Rumah Mahesa. Riana memarkirkan mobilnya tepat di depan Rumah Mahesa. Riana dan Sila turun dari mobil dengan wajahnya yang terlihat serius.
Tadi malam, Rina yang merupakan ibu Riana memang membantu Sila menghubungi Yasmin agar membiarkan Sila tidur di rumahnya.
Namun, sejam yang lalu Yasmin menghubungi anaknya menyuruhnya segera pulang bahkan mengatakan kalau ada masalah yang mendesak. Dan mereka pikir kalau masalah yang mendesak dimaksud Yasmin adalah masalah Sila yang mabuk di Restoran.
“Riana, kenapa kau berdiri saja di sana? Ayo masuk!” ajak Sila.
Riana tersenyum paksa menatap Sila, kemudian berkata: “Sebaiknya aku pulang saja ya. Perasaanku tidak enak, Sila!”
“Dasar penghianat! Kita pergi bersama tadi malam. Kau juga harus menemaniku di dalam!” ucap Sila menatap tajam Riana.
“Aku, kan hanya menemanimu saja tadi malam. Jadi urus saja masalahmu itu. Aku takut berhadapan dengan paman!” kata Riana.
Riana segera masuk ke dalam mobilnya setelah mengatakan itu. Bahkan tidak menunggu Sila membalas ucapannya, karena rasa takutnya.
Ia menyalakan kembali mobilnya dan meninggalkan Kediaman Mahesa. Sementara Sila masih berdiri di depan rumahnya dengan wajahnya yang sedikit takut. Ia menatap depan pintu rumahnya sambil menarik nafasnya dengan pelan sebelum masuk ke dalam rumahnya.
Sila pun masuk ke dalam rumahnya, dan ia sudah di sambut salah satu pelayan rumahnya saat ia berjalan masuk ke dalam.
“Selamat pagi Nona Muda!” sapa pelayannya itu.
“Apa ayah dan ibu ada di dalam?” tanya Sila berbisik pada pelayannya.
Pelayannya menganggukkan kepalanya dan berkata: “Iya nona. Tuan dan Nyonya ada di Ruang Keluarga menunggu Anda!”
Sila berjalan cepat menghampiri kedua orang tuanya. Saat ia sudah berada di depan Ruang Keluarga, Sila seketika mengubah langkah kakinya menjadi pelan dengan kedua tangannya saling menggenggam. Ia begitu takut karena mengira ayah dan ibunya tahu tentang dirinya yang mabuk di Restoran.
Kini Sila berdiri di hadapan kedua orang tuanya. Ia berdiri sambil menundukkan kepalanya karena menyadari kesalahannya, namun bukan masalah mabuk Sila yang membuat Tuan Bima marah dengan putrinya, melainkan ada hal lain yang berhubungan dengan beberapa lembar foto yang ada di depannya.
Dan saat itu, Tuan Bima menatap putrinya dengan tatapan tajam, sedangkan Yasmin hanya bisa menghela nafasnya sesekali karena situasinya yang sangat tegang.
__ADS_1
Tuan Bima masih menatap Sila sejenak tanpa mengalihkan pandangannya, kemudian meraih beberapa lembaran foto di atas meja dan melemparkannya di lantai tepat di depan Sila.
Sila sangat terkejut melihat foto – foto mesranya dengan Leon berserakan di lantai. Ia membuka matanya lebar – lebar melihat foto – fotonya itu yang di ambil ketika ia masih ada di Prancis.
Tuan Bima menatap putrinya kembali, kemudian berkata: “Apa itu kau?”
Sila terlihat ketakutan di depan ayahnya karena hubungannya yang mereka rahasiakan sudah di ketahui ayahnya, bahkan kedua tangannya gemetar dengan keringat dingin ditubuhnya.
“Sila ... .!” Tuan Bima berteriak yang membuat Sila kaget dan langsung mengangkat kepalanya melihat ayahnya. “Apa itu kau dan Leon?” Melanjutkan kembali perkataannya.
“Iya, ayah!” jawab Sila dengan nada pelan di depan ayahnya.
Tuan Bima langsung berdiri sambil memegang sebuah kertas. Ia mengepal kedua tangannya dengan kertas yang ia pegang itu. Amarah yang tampak di wajahnya semakin membuat Sila takut.
“Jadi, kalian semua membohongiku ya. Sila, beraninya kau menyembunyikan ini semua dari ayah dan ibumu!” kata Tuan Bima.
“Ayah ... aku tidak bermaksud membohongi ayah dan ibu. Biarkan aku menjelaskan semuanya pada ayah!” kata Sila dengan suaranya yang terdengar gemetar.
“Kau tidak perlu menjelaskan pada ayah. Semua yang kalian sembunyikan ada di surat ini!” kata Tuan Bima menolak penjelasan putrinya.
Yasmin maju dan memegang lengan suaminya, kemudian berkata: “Sayang, biarkan Sila bicara dulu. Tidak ada salahnya kalau kau mendengarkan penjelasan putri kita. Kali ini dia pasti tidak membohongi kita lagi. Mungkin saja yang ada di surat itu tidak sepenuhnya benar!” sahut Yasmin memberi pengertian pada suaminya.
Tuan Bima hanya terdiam memalingkan wajah amarahnya. Ia sama sekali tidak membalas ucapan Yasmin.
Sila melihat ayahnya dengan ekspresi yang terlihat sedih.
“Ayah ... Sila memang pernah punya hubungan dengan Kak Leon, tapi Sila yang duluan meninggalkannya. Dan ma-masalah ... Kak Leon dan Saila menikah, itu benar - benar nyata, mereka menikah karena mereka benar – benar saling mencintai!” jelas Sila dengan suaranya yang terdengar gagap.
Mendengar penjelasan Sila membuat Tuan Bima tidak yakin sepenuhnya tentang yang ia ketahui masalah saila dan Leon. Ia bahkan semakin marah karena mengira kalau Sila masih menyembunyikan sesuatu darinya. Ia terus mengepal tangannya karena amarahnya, namun ia tidak bisa memukul putrinya sendiri dan memilih untuk menahan amarahnya di depan Sila.
“Ken!” teriak Tuan Bima.
Lelaki paruh baya itu segera menghampiri Tuan Bima dan Yasmin.
“Ya tuan!” jawabnya.
“Siapkan mobil. Aku ingin pergi ke Rumah Sakit membawa putriku pulang. Dan memberi pelajaran pada lelaki kurang ajar itu!” perintah Tuan Bima dengan tegas.
“Baik tuan!” jawab Ken.
Ken segera menyuruh salah satu bawahannya yang ada di sana untuk menyiapkan mobilnya di depan. Hanya sebentar saja, mobilnya sudah terparkir di depan dan sudah siap untuk pergi. Tuan Bima dan Ken pun berjalan keluar rumahnya. Dan saat itu, Tuan Bima melarang keras istrinya untuk ikut dengannya ke Rumah Sakit. Ia menyuruh Yasmin menemani Sila di rumah.
__ADS_1
Sementara Sila terlihat sangat khawatir dan ketakutan tentang ayahnya yang tiba – tiba ingin ke Rumah Sakit, namun ia sama sekali tidak bisa berbuat apa - apa selain berdiri seperti orang bodoh di sana. Ia kemudian maju dua langkah dan memegang lengan ibunya.
“Ibu, bagaimana ini? Apa yang akan dilakukan ayah, Bu?” tanya Sila ketakutan saat ia sudah melihat ayahnya berjalan menjauh dan tidak terlihat dari pandangannya.
Yasmin terdiam sejenak menatap lurus ke depan.
"Ibu ... lakukan sesuatu!" Sila kembali bicara pada ibunya saat ibunya hanya berdiri diam. Ia menggoyang - goyangkan lengan Yasmin, menyuruh ibunya melakukan sesuatu.
“Ibu akan menyusul ayahmu. Kau disini saja!” kata Yasmin.
“Tapi, ayah melarang ibu ke sana!” balas Sila.
“Tidak masalah. Leon dan Saila lebih penting sekarang!” kata Yasmin.
"Aku juga mau ikut bu!" rengek Sila.
"Baiklah. Tapi, kau tidak boleh melakukan apapun di sana, Ya!" kata Yasmin memperingati anaknya.
Sila hanya mengangguk dengan wajah sedihnya itu.
Yasmin pun buru – buru keluar rumahnya bersama Sila. Mereka berdua menyusul Tuan Bima ke Rumah Sakit. Dan Yasmin sama sekali tidak peduli jika suaminya melarangnya pergi ke Rumah Sakit. Ia hanya mementingkan amarah Tuan Bima yang akan dilampiaskan pada menantunya.
Sementara di tempat lain.
Alexa tengah bicara pada seseorang di telfon.
“Kau beritahu pada lelaki itu keberadaan Sila sekarang. Dan jangan katakan tentang diriku. Kau mengerti!” ucap Alexa pada orang suruhannya di telfon.
“Baik nona!” jawab seorang pria di balik telfon.
Alexa tersenyum licik saat telfonnya mati. Terlihat di wajahnya kalau ia sekarang tengah puas dengan sesuatu yang ia rencanakan.
“Sila ... Sila ... karena sifatmu yang gonta ganti itu membuatku dengan mudah menemukan kelemahanmu. Mungkin saat ini Saila menerima kejutanku. Dan kau Sila, tunggu beberapa hari kejutan dariku. Kalian berdua akan menerima balasannya, karena sudah berani melawanku!” ucap Alexa diiringi senyuman penuh kepuasan di bibirnya.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1
.
.