
Pukul 8:00 pagi, Kediaman Mahesa.
Tuan Bima, Yasmin dan Sila sedang duduk di meja makan untuk sarapan pagi. Mereka terlihat menikmati sarapan mereka masing – masing. Dan saat itu, Tuan Bima baru teringat tentang rencana pertunangan Sila dan Zidan yang sudah mereka bicarakan dengan kedua orang tua Zidan.
“Oh, ya Sila. Ayah, ibu dan kedua orang tua Zidan sudah merencanakan tanggal pertunangan kalian. Satu minggu ke depan kau akan resmi bertunangan dengan Zidan. Ayah dan ibu harap kau bisa siapkan dirimu!” ucap Tuan Bima.
Sila terlihat biasa saja mendengar pertunangannya. Sama sekali tidak ada rasa bahagia ia tunjukkan di sana. Ia hanya sibuk menghabiskan sarapannya tanpa membalas ucapan ayahnya.
“Ibu juga sudah menyiapkan bahan gaun yang akan ibu buatkan untukmu. Kau katakan saja pada ibu, model gaun seperti apa yang kau suka? Ibu pasti akan membuatkan seperti yang kau inginkan!” sambung Yasmin.
“Terserah ibu. Aku serahkan semuanya pada ibu dan ayah,” jawab Sila sambil menundukkan kepalanya, fokus dengan makanan di piringnya. Ia bicara tanpa menatap langsung wajah ibu dan ayahnya.
“Kok gitu sih. Kamu, kan, yang memakainya, Nak. Kamu harus mengatakan pada ibu seperti apa selera gaun yang kau suka? Supaya di hari pertunanganmu, kamu bisa tampil percaya diri!” ucap Yasmin mengerutkan keningnya.
Sila pun mengangkat kepalanya melihat Yasmin.
“Baiklah. Nanti kalau selesai kuliah, aku akan ke butik ibu,” balas Sila.
“Oke, ibu tunggu kamu di sana. Selesaikan sarapanmu! Kita berangkat sama – sama. Kali ini biar ibu yang mengantarmu ke kampus. Dan pulang nanti, ibu suruh orang untuk menjemputmu!” pinta Yasmin.
Sila mengangguk. “Iya.”
Di tengah – tengah obrolan mereka, tiba – tiba Zidan datang dari arah luar Ruang Makan. Ia berjalan masuk ke dalam Ruang Makan Keluarga Mahesa bersama seorang pelayan yang mengantarnya masuk.
“Selamat pagi paman, bibi” sapa Zidan dari arah belakang Tuan Bima. Bima langsung menoleh ke belakang melihat Zidan.
Tuan Bima hanya membalas Zidan dengan menganggukkan kepalanya.
Zidan kembali berjalan mendekati kursi yang di duduki Sila.
“Selamat pagi Sila!” sapa Zidan saat ia sudah berdiri di samping kursi Sila.
“Pagi kak,” balas Sila.
“Duduklah!” perintah Tuan Bima.
“Baik paman,” jawab Zidan dengan sopan.
“Kau mau sarapan apa? Biar bibi suruh pelayan siapkan!” sahut Yasmin
“Tidak usah bibi, aku sudah sarapan pagi di rumah. Aku tunggu Sila selesai sarapan dulu baru ke kampus,” jawab Zidan sambil tersenyum.
“Jadi kau datang untuk menjemput Sila?” tanya Yasmin.
“Iya bibi,” jawab Zidan sambil tersenyum.
Sila tiba – tiba berdiri. “Aku sudah selesai makan. Ayo Kak Zidan!” ajak Sila berdiri menatap Zidan yang masih duduk di kursi.
Zidan pun berdiri dari sana.
__ADS_1
Sila kembali melihat kedua orang tuanya. “Ayah, ibu, aku berangkat ke kampus dulu ya!” pamit Sila pada ayah dan ibunya.
“Iya, hati – hati di jalan sayang!” balas Yasmin.
“Iya,” balas Sila.
“Jangan lupa kau harus ke butik ibumu bersama Zidan!” sahut Tuan Bima.
“Iya aku tahu,” balas Sila.
Sila pun berjalan keluar dari sana bersama Zidan. Ia berjalan cepat keluar dari rumahnya. Dan saat di luar, Sila langsung membuka pintu mobil Zidan tanpa menunggu Zidan yang baru saja mau membuka pintu mobil untuknya.
Zidan hanya menghela nafasnya melihat Sila yang terlihat cuek padanya. Zidan ikut masuk ke dalam mobil setelah Sila sudah duduk di dalam mobil.
Ia melajukan mobilnya meninggalkan Kediaman Mahesa.
Di dalam mobil.
Sila terlihat diam menatap jendela kaca mobilnya sambil menyandarkan kepalanya di sana, sedangkan Zidan sesekali melirik Sila. Ia ingin menanyakan sesuatu pada Sila tentang rencana pertunangannya. Ia penasaran tentang perasaan Sila yang tiba – tiba saja bersedia bertunangan dengannya.
“Sila!” panggil Zidan.
Sila menggerakkan kepalanya menoleh melihat Zidan.
“Ada apa?” tanya Sila.
“Sebenarnya, aku penasaran sama alasanmu yang bersedia bertunangan denganku?” tanya Zidan penasaran. Ia sesekali menoleh ke arah Sila, ingin melihat ekspresi yang di tunjukkan Sila.
“Aku minta maaf Kak Zidan. Kalau aku sudah membuatmu ikut terseret. Aku cuma lelah mengikuti kata hatiku yang selalu membuatku tersiksa. Selama ini aku selalu mengikuti semua yang ada di dalam hatiku sampai aku menjadi seperti ini!” jelas Sila.
“Sila, kadang hati memang sering salah, tapi cinta yang kau miliki sama sekali tidak pernah salah. Aku tahu kalau kau masih mencintai Leon, dan kau bertunangan denganku, karena kau tidak mau Saila terus merasa bersalah padamu. Aku benar, kan?” tanya Zidan sambil melihat Sila.
Sila diam sejenak, kemudian menghela nafasnya.
“Haaa!” Sila kembali menoleh melihat Zidan. “Sekali lagi aku minta maaf. Kalau Kak Zidan tidak bersedia untuk bertunangan, Kak Zidan bisa membatalkannya. Aku tidak memaksa. Aku hanya menuruti kata ayah dan ibu, bukan berarti Kak Zidan juga harus memaksakan sesuatu yang tidak diinginkan!” jelas Sila.
Timbul perasaan di hati Zidan untuk mengungkapkan perasaannya selama ini pada Sila, apalagi sebentar lagi mereka akan bertunangan. Seketika Zidan membelokkan stir mobilnya dan menghentikan mobilnya menepi di pinggir jalan.
Saat berhenti, Zidan langsung menoleh ke arah Sila, kemudian menarik tangan Sila, memegangnya di sana.
Sila langsung kaget melihat tingkah Zidan yang baru pertama kali ia lihat itu.
“Sila, aku sama sekali tidak keberatan. Kalau kau terpaksa, atau hanya menjadikanku sebagai pelarian saja. Aku bersedia mengikuti keinginanmu. Selama kau bahagia melakukannya!” jelas Zidan.
“Kenapa kau mengatakan ini padaku?” tanya Sila.
Zidan menghela nafasnya perlahan – lahan sambil menaikkan kepalanya ke atas, memejamkan matanya sejenak di sana untuk menenangkan hatinya, kemudian kembali menatap Sila.
“Sila ... sejak kita kecil aku tidak pernah menganggapmu sebagai teman wanitaku saja, tapi sebagai wanita yang aku suka!” ungkap Zidan.
__ADS_1
Sila semakin kaget mendengar pengakuan Zidan, matanya sampai melotot melihat wajah Zidan.
“Kau suka padaku?” tanya Sila memperjelas apa yang ia dengar dari Zidan?
“Iya, sebenarnya aku tidak pernah berniat untuk mengatakan semuanya padamu, karena aku tidak mau persahabatan kita selama bertahun – tahun hancur hanya karena perasaanku, tapi karena kita sudah mau bertunangan, aku harus mengatakan semua yang ada di dalam hatiku!” ucap Zidan.
Sila menarik tangannya dari Zidan, menundukkan kepalanya.
“Maaf Kak Zidan, aku tidak bisa menerima perasaanmu itu!” Sila kembali mengangkat kepalanya, menatap serius Zidan. “Aku minta maaf!”
Zidan tersenyum. “Tidak perlu minta maaf. Aku mengatakannya bukan menyuruhmu untuk menerima perasaanku. Aku cuma mau kau tahu isi hatiku, itu saja. Aku tidak meminta lebih, Sila. Sama sekali tidak. Aku tetap sahabat kecilmu. Meskipun kau sudah tahu perasaanku, tapi aku ingin kita tetap seperti biasanya. Dan aku sama sekali tidak akan membatalkan pertunangannya. Meskipun kita menikah nanti, aku tidak akan memaksamu untuk mencintaiku, Sila. Kita akan selalu menjadi sahabat, selamanya!” jelas Zidan.
Sila tersenyum. “Terima kasih. Kau sangat mengerti perasaanku. Sekali lagi aku minta maaf!”
“Iya, tidak masalah. Selama kau masih menganggapku temanmu,” balas Zidan.
Sila kembali tersenyum. “Aku tetap akan menganggap Kak Zidan sebagai temanku. Dan aku berharap, aku tidak akan pernah mendengar hal ini lagi dari Kak Zidan!”
Zidan kembali memejamkan matanya, merasa terluka dengan ucapan Sila itu, Namun ia tetap harus menunjukkan wajah senyumnya di depan Sila. Dan ia kembali melihat Sila sambil tersenyum.
“Baiklah. Aku tidak akan mengatakannya lagi,” kata Zidan.
“Terima kasih!” balas Sila.
“Sila, aku akan tunggu sampai kau bisa melupakan cintamu. Sampai kapanpun akan aku tunggu. Mulai sekarang, aku akan berusaha agar kau bisa melupakannya!” dalam hati Zidan yang terus menatap wajah Sila.
“Kak Zidan!” panggil Sila.
“Ya,” balas Zidan.
“Apa ada lagi yang mau kau katakan?” tanya Sila.
“Tidak, tidak ada,” jawab Zidan sambil menggeleng - gelengkan kepalanya. “Kita jalan sekarang!” lanjut Zidan.
Zidan kembali menyalakan mobilnya dan meninggalkan tempatnya itu menuju kampusnya. Dan mereka sama sekali tidak mengobrol lagi di dalam mobil. Mereka hanya diam saja disana.
***
Perasaan Zidan sekarang sudah sedikit lega, karena ia sudah mengungkapkan perasaannya pada Sila, dan Sila tidak membencinya sama sekali, bahkan masih menganggapnya sebagai teman masa kecilnya. Meskipun Sila tidak menerima cintanya, bahkan menyuruhnya untuk tidak mengatakan hal cinta lagi padanya.
.
.
.
Bersambung.
.
__ADS_1
Kisah Saila dan Leon masih ada sayang2ku. Masih ada konfliknya sedikit ya. Jangan lupa vote, like and komen ya.
Terima kasih