SILA DAN SAILA

SILA DAN SAILA
Datang menjenguk Saila


__ADS_3

Sila menatap Zidan dengan mata berkaca – kaca. Tangisannya belum berhenti disana.


“Kak Zidan, apa aku sudah sangat keterlaluan pada Saila? Aku bahkan menampar wajahnya tadi!” Sambil mengangkat telapak tangannya, menatap tangan yang menampar pipi Saila tadi. “Aku hanya marah padanya, tapi tidak bisa membencinya. Aku mengatakan padanya kalau aku sangat benci padanya, tapi aku tidak tahan kalau harus menyakitinya!” Sila menatap Zidan dengan sedih.


Zidan menghela nafasnya pelan, menatap Sila dengan iba. “Aku tahu kalau kau tidak bisa membenci Saila. Dan aku tahu kalau kau sangat sayang pada Saila. Kau tidak mungkin menyakitinya,” kata Zidan.


“Jika saja aku tahu dari awal pernikahan mereka berdua. Aku tidak mungkin cerita pada Saila kalau aku sangat mencintai Kak Leon. Aku bahkan tertawa bahagia saat aku bercerita di depannya. Betapa bodohnya aku. Dia bahkan tersenyum lebar mendengar ceritaku. Aku sangat marah padanya!” ucap Sila.


“Sila, aku ingin bertanya.” Zidan menatap serius Sila, begitu pun dengan Sila yang mengangkat kepalanya melihat Zidan “Apa kau sangat mencintai Leon?” tanya Zidan penasaran.


“Ya, aku sangat mencintainya. Sangat mencintainya. Dan aku menyesal, karena sudah meninggalkannya dulu. Tapi kata aku mencintainya sudah tidak pantas aku katakan lagi. Dia sudah menjadi saudara iparku, Kak Zidan!” jawab Sila dengan tatapan sedihnya.


Zidan terdiam sejenak. Ia terlihat sedikit cemburu saat Sila mengatakan kalau dia mencintai Leon. Namun, ia hanya bisa diam membiarkan perasaan cintanya tidak diketahui Sila selama ia bisa disisi Sila.


Zidan kembali bicara pada Sila.


“Tapi yang aku dengar kalau Saila tidak mencintai Leon, Sila,” ucap Zidan.


“Kak Zidan, meskipun mereka tidak saling mencintai, tapi mereka sudah menikah, dan Saila pun sudah hamil anak Kak Leon!” jelas Sila.


“Haaaa ... sebenarnya aku sangat membenci Leon yang sudah membuat Saila hamil. Dia menghancurkan masa depan Saila dan juga membuatmu sakit hati begini. Aku ingin sekali memukul habis – habisan lelaki itu!” kesal Zidan.


Sila memegang tangan Zidan, menatapnya dengan serius.


“Kak Zidan, tolong jangan beritahu ayah dan ibu tentang masalah Saila. Kalau mereka tahu. Ayah pasti akan marah besar pada Saila, karena sudah membohonginya. Ayah tidak suka dibohongi!” Sila memohon pada Zidan dengan tatapan kasihan di depan lelaki tampan itu.


“Sila, paman dan bibi harus tahu masalah ini. Kau tidak bisa membela Leon!” ucap Zidan.


“Aku tidak membela Kak Leon. Aku cuma tidak mau kalau ayah marah pada Saila. Kak Zidan tahu, kan, kalau ayah marah seperti apa?” kata Sila.


Zidan menghela nafasnya. “Haaaa!!” Memejamkan matanya di sana, kemudian kembali menatap Sila. “Baiklah. Sesuai permintaanmu. Aku tidak akan katakan pada paman. Kau boleh istirahat sekarang!” ucap Zidan.


“Terima kasih!” balas Sila.


“Aku pulang dulu. Ini sudah malam!” Memegang pipi Sila dengan lembut.


Namun Sila langsung melepaskan tangan Zidan darinya.


“Jangan perlakukan aku seperti Saila. Aku tidak suka!” Sila menatap Zidan dengan pandangan tak sukanya.

__ADS_1


“Oke! Tidak akan kulakukan lagi. Kalau kau butuh sesuatu, kau bisa menghubungi aku. Paman dan bibi menyuruhku untuk menjagamu!” ucap Zidan sambil tersenyum.


“Iya, terima kasih!” balas Sila.


Zidan pun berjalan meninggalkan kamar pribadi Sila. Ia meninggalkan Rumah Kediaman Mahesa menggunakan mobil mewahnya itu.


***


Satu hari sudah berlalu setelah pertengkaran Sila dan Saila. Mereka sama sekali tidak pernah bertemu. Mereka bahkan sama – sama tidak pergi ke kampus, dan hanya berdiam diri di rumah masing – masing.


Dan hari ini, pukul 10:00 pagi.


Sila terlihat berpakaian rapi di kamarnya. Ia keluar dari kamarnya dan turun tangga ke lantai bawah. Hari ini ia berniat datang ke rumah Saila dan Leon bersama Riana. Riana memberitahu pada Sila kalau Saila ijin libur satu bulan dari kampusnya.


Itu membuat Sila khawatir dan ingin melihat keadaan Saila sendiri. Apalagi Sila sudah merenungkan semua yang sudah terjadi. Ia tidak bisa terus marah pada Saila hanya karena Saila tidak jujur padanya. Bahkan ia ingin meminta maaf pada Saila, karena sudah memukulnya satu hari yang lalu.


Dan memang saat Saila pingsan kemarin, kondisi kandungannya sangat lemah. Dokter menganjurkan kalau Saila harus banyak istirahat di rumah dan tidak boleh stress. Kalau tidak, itu pasti akan berdampak pada kehamilannya. Jika stressnya berkelanjutan, Saila bisa mengalami keguguran.


Kini Sila berdiri di depan rumahnya menunggu kedatangan Riana. Kali ini mereka tidak mengajak Zidan, karena Riana tahu kalau Zidan benci Leon. Itu semua akibat perbuatannya sendiri yang mengatakan semua masalah Saila pada Zidan.


Mobil Riana sudah tiba tepat di depan pintu pagar Rumah Kediaman Mahesa. Di depan pintu pagar, Sila berdiri menunggu kedatangan Riana disana.


Riana membuka kaca mobilnya.


“Dasar mulut ember!” Gumam Sila. Ia menatap Riana dengan tatapan kesalnya. Ia kesal pada Riana, karena sudah mengatakan masalah Leon dan Saila pada Zidan. Dan pastinya Zidan akan mengatakan pada kedua orang tuanya nanti.


“Kenapa kau menatapku begitu? Cepatlah naik!” ucap Riana.


“Biar aku yang menyetir mobilnya!” pinta Sila.


“Kenapa tidak sekalian saja kau pakai mobil mewahmu itu?” ucap Riana.


“Kalau aku bisa. Aku pasti memakainya, tapi ayah melarangku untuk mengendarai mobil,” jawab Sila.


“Ber ... arti, kau tidak bisa menyetir sekarang!” Kata Riana menegaskan ucapannya.


“Cih!” Sila memalingkan wajahnya, karena kesal.


“Naiklah cepat. Jangan membuatku menunggu disini terus. Kita harus melihat keadaan Saila!” perintah Riana.

__ADS_1


Sila naik ke mobilnya dengan wajahnya yang kesal itu. Bahkan ia menutup pintu mobilnya dengan keras.


“Jangan berwajah cemberut begitu. Kalau Saila melihatnya dia pasti akan sedih lagi dan stress!” ucap Riana.


Sila langsung menggerakkan kepalanya ke samping, menatap tajam Riana.


“Aku tahu kalau aku salah sudah mengatakan pada Kak Zidan, tapi dia yang memaksaku sendiri,” lanjut Riana saat melihat tatapan tajam Sila.


“Sudahlah. Jalankan saja mobilnya!” perintah Sila.


“Oke!”


Riana pun melajukan mobilnya meninggalkan Rumah Kediaman Mahesa untuk mendatangi Apartemen Leon dan Saila.


Selama 45 menit perjalanan mereka. Mobil Riana telah sampai di depan Gedung Apartemen Leon dan Saila. Riana menyuruh Sila turun menunggunya di depan Gedung Apartemen, sementara ia akan memarkirkan mobilnya di parkiran Apartemen Leon.


Tak lama kemudian, Riana keluar dari parkiran, kemudian menghampiri Sila yang terus menatap depan Gedung Apartemen Leon.


“Apa disini mereka tinggal?” tanya Sila.


“Iya, aku juga belum pernah kemari sih. Ini pertama kalinya aku datang,” jawab Riana.


“Ya udah. Yuk masuk. Aku tidak sabar mau melihat keadaan Saila!” ucap Sila sambil menarik tangan Riana masuk ke dalam Apartemen Leon.


Sila dan Riana masuk ke dalam lift menuju lantai Apartemen milik Leon.


“Jangan lupa. Kau harus mengendalikan emosimu itu. Jangan berteriak di rumah orang!” ucap Riana memperingati Sila.


“Cih ... kau itu cerewet sekali. Kalau aku masih marah pada Saila. Aku tidak mungkin datang kemari.” Menatap Riana dengan serius, kemudian memutar bola matanya ke arah lain. “Yaaaaa ... meskipun aku masih mau menampar dan menjambak rambut si bodoh itu,” balas Sila.


Tentu saja si bodoh yang Sila maksud adalah saudara kembarnya sendiri.


“Dasar gadis tomboi!” umpat Riana.


Sila memang memiliki sifat tomboi dan bicaranya kasar, tapi jauh dari dalam hatinya kalau ia sebenarnya gadis yang baik dan penuh perhatian. Ia sangat menyayangi Saila, saudara kembarnya.


.


Bersambung.

__ADS_1


.


Hai sayang2ku. Jangan lupa Vote, komen and Likenya..sayang kalian.


__ADS_2