SILA DAN SAILA

SILA DAN SAILA
Belum bisa melupakannya


__ADS_3

Pukul 7:30 malam.


Sila dan Riana kini berada di sebuah Restoran mewah. Mereka duduk di sebuah Bar Restoran menikmati anggur mahal yang sudah Sila minum beberapa teguk.


Setelah dari Rumah Sakit menemui Saila, mereka berdua mampir di Restoran atas permintaan Sila yang ingin menenangkan dirinya, karena semua yang ia lewati hari ini. Termasuk pertengkarannya dengan Alexa, Saila yang sampai masuk Rumah Sakit dan perasaannya yang masih sedikit iri melihat kemesraan Leon dan Saila. Semua masalah itu membuatnya sangat tertekan sampai ia berada di sana untuk mengusir  semua perasaan tertekannya.


Riana yang menemaninya sejak tadi, hanya minum seteguk anggur di gelasnya. Ia hanya menemani Sila karena tahu kalau Sila sengaja mengajaknya minum pasti karena Sila banyak pikiran. Dan tentu saja Riana tidak akan membiarkan Sila minum sendiri di tempat itu.


Riana menatap Sila sambil bernafas panjang, kemudian berkata: “Sila, cukup. Kau sudah minum sejak tadi. Kalau kau pulang dalam keadaan mabuk. Paman Bima bisa marah besar!”


“Aku tidak mau pulang. Malam ini aku tidur saja di rumahmu,” jawab Sila.


“Kau pikir Paman Bima tidak akan tahu kalau kau tidur di rumahku. Ayahku pasti akan memberitahu paman kalau kau mabuk!” kata Riana dengan serius.


Sila menoleh dengan tatapan tajamnya melihat Riana. “Makanya kau tutup mulut bawelmu itu! Apa kau tidak bisa melihatku tenang sedikit? Aku menyuruhmu menemaniku, bukan menceramahiku!” kata Sila.


Sila kembali minum anggurnya setelah bicara pada Riana. Tubuhnya sudah mulai mabuk, begitu pun dengan kepalanya yang sudah mulai pusing, namun ia masih bisa menegakkan tubuhnya di sana.


“Sila ... aku tahu kalau kau merasa tidak bahagia sekarang, tapi tolong jangan menyiksa dirimu dengan minum banyak anggur begini!” kata Riana menasehati Sila.


Sila langsung menghabiskan anggur dalam gelasnya, lalu menuangkan kembali anggur yang ada di botol ke dalam gelasnya itu.


Ia kemudian menoleh melihat Riana, dan berkata: “Riana ... ada rahasia yang ingin kukatakan padamu!”


Saat itu, Sila bicara pada Riana dengan tubuhnya yang sudah terlihat mabuk.


“Apa?” tanya Riana.


“Hatiku tidak sekuat yang dibayangkan semua orang. Aku sangat rapuh, Riana. Hatiku tidak sekuat Saila!” Sila kemudian memegang dadanya. “Aku tidak bisa menghilangkan Kak Leon dari sini. Aku harus bagaimana? Aku sudah berusaha terlihat biasa di depan mereka, tapi kenapa hatiku tidak bisa menerimanya, Riana? Kenapa? Katakan padaku, sebenarnya kenapa dengan hatiku ini?” lanjut Sila.


Seketika Sila meneteskan air matanya di depan Riana, namun dengan cepat juga ia memalingkan wajahnya dari Riana sambil menghapus air matanya, tidak membiarkan air matanya itu jatuh. Ia kembali meneguk anggur di dalam gelasnya dengan sekali teguk.


Sila kembali ingin menuangkan anggur dalam gelasnya, namun dengan cepat Riana merebut gelas yang di pegang Sila, lalu berkata: "Sudah cukup. Kau sudah mabuk, Sila!"


Seketika Sila menjatuhkan kepalanya di atas meja. Riana hanya bisa bernafas panjang melihat sahabatnya sudah jatuh tak sadarkan diri.


Tampak di wajah Riana kalau ia sangat sedih melihat Sila yang masih belum melupakan Leon.


Tiba – tiba ponsel Riana berdering.


Ia segera meraih ponselnya yang ia letakkan di atas meja, tepat di depannya, kemudian melihat siapa yang menghubunginya di layar ponselnya itu.


Sebuah panggilan masuk dari Zidan. Riana pun segera mengangkat panggilan Zidan dan meletakkan ponsel di telinganya saat mendengar suara Zidan dibalik telfon.


“Ya Kak Zidan!”


“Apa kau bersama Sila?” tanya Zidan.

__ADS_1


“Iya, Kak. Memang ada apa?" tanya Riana.


"Aku tadi ke Rumah Sakit, tapi aku tidak melihat kalian berdua," jawab Zidan.


"Aku dan Sila ada di Restoran Kak Zidan. Cepatlah kesini. Sila sedang mabuk sekarang. Aku dan dia tidak membawa mobil!”


“Oke. Kirim lokasi kalian sekarang di ponselku!”


“Oke kak."


Sementara di Rumah Sakit.


Leon kini duduk bersandar di tempat tidurnya bersama istrinya. Ia melingkarkan tangan kanannya di bahu Saila, membiarkan tubuh Saila bersandar di tubuhnya. Dan tangan kirinya memegang sebuah ponsel.


Mereka sedang melakukan panggilan VC dengan Nyonya Serly. Dan mereka sudah melakukan panggilan VC itu beberapa menit yang lalu.


Setelah Nyonya Serly bicara dengan Alexa sore tadi. Ia pun menghubungi Leon dan menanyakan semua apa yang terjadi. Nyonya Serly sempat memarahi Leon karena sudah memperlakukan Alexa seperti itu, namun Leon mencoba menenangkan ibunya dan membuat ibunya mengerti tentang keputusannya memecat Alexa. Dan Leon bahkan menceritakan tentang Saila yang terluka karena Alexa. Hal itulah yang membuat Nyonya Serly ingin melakukan panggilan VC bersama menantunya untuk melihat keadaan Saila.


“Saila, kau benar – benar tidak merasakan sakit lagi?” tanya Nyonya Serly.


“Iya bu. Aku baik – baik saja. Mungkin besok sudah diijinkan pulang sama dokternya,” jawab Saila.


“Ibu  sudah tiga kali menanyakan itu. Ibu lihatlah sekarang kalau menantu ibu baik – baik saja. Dan cucu ibu juga masih sehat!” sahut Leon.


“Iya, tapi ibu masih khawatir, Leon,” kata Nyonya Serly menatap anaknya dengan serius.


Nyonya Serly terlihat menghela nafas panjang di layar ponsel milik Leon, kemudian berkata: “Saila ... ibu tidak menyangka kalau Alexa bisa sampai berbuat begitu padamu. Mungkin karena selama bertahun – tahun dia hanya bergantung pada Leon dan pada ibu. Dia sama sekali tidak memiliki orang tua yang bisa mengajarinya sopan santun. Dan ibu juga sudah bersalah, karena membiarkan dia hidup bergantung pada Leon. Jangan terlalu pikirkan dia. Pikirkanlah bayi dalam kandunganmu itu. Jangan sampai kau terluka lagi yang akan berdampak pada bayimu. Ibu yang akan mengurus Alexa agar dia tidak menyakitimu lagi!” jelas Nyonya Serly.


“Iya bu. Tidak apa – apa. Aku bisa mengerti!” balas Saila.


“Sudah ya. Ibu tutup telfonnya dulu. Dan kau Leon, jaga istrimu baik – baik. Jaangan sampai terluka lagi!” kata Nyonya Serly.


“Iya bu. Tenang saja. Aku pasti akan menjaga Saila dengan baik!” balas Leon, kemudian mencium pucuk kepala istrinya di depan ibunya.


Nyonya Serly hanya tersenyum bahagia, kemudian melambaikan tangannya untuk pamit pada anak dan menantunya itu.


Sementara di Restoran.


Zidan baru saja sampai di depan Restoran dimana Sila dan Riana berada?


Ia memarkirkan mobilnya dan langsung keluar dari mobil, kemudian berlari masuk ke dalam untuk menjemput Sila di dalam.


Saat di dalam, Zidan melihat sekeliling Restoran, mencari keberadaan Sila dan Riana. Saat matanya sudah tertuju pada Sila, Zidan segera menghampiri mereka berdua. Setelah sampai di depan meja yang diduduki Sila dan Riana, Zidan langsung memegang kedua pinggangnya sambil mengatur nafasnya yang ngos – ngosan karena berlari tadi.


Dan saat itu, Riana langsung berdiri dari kursinya ketika Zidan sudah berada di depannya.


“Kak Zidan ... kau sudah disini? Cepat kau bawa dia pulang sekarang!” perintah Riana.

__ADS_1


“Aku harus membawanya pulang kemana? Kalau pulang ke rumahnya. Pasti paman marah besar!” kata Zidan.


“Kalau begitu, antar kami pulang ke rumahku dulu. Tapi kita harus sampai di rumah sebelum ayahku kembali dari Kediaman Mahesa!” pinta Riana.


“Baiklah! Aku antar kalian sampai ke sana!” kata Zidan.


Zidan pun maju dua langkah dan memegang lengan Sila, kemudian menggendongnya keluar dari Restoran.


Saat di luar Restoran , tepat di depan mobil Zidan, Zidan menyuruh Riana membantunya membuka pintu mobilnya. Riana segera membuka pintu mobil. Sementara Zidan langsung memasukkan tubuh Sila dengan pelan, kemudian membantu Sila memasang sabuk pengamannya.


“Saila ... maafkan aku!” terdengar suara Sila yang mengigau memanggil nama Saila.


Seketika Zidan menghentikan aksinya yang tengah memasang sabuk pengaman untuk Sila. Ia menoleh melihat wajah Sila yang terlihat tidak sadarkan diri dari mabuknya.


“Sila, apa kau baik – baik saja? Kenapa kau minta maaf pada Saila?” tanya Zidan sambil memegang pipi Sila.


“Maafkan aku karena tidak bisa melupakan Kak Leon. Maafkan aku, Saila!” Sila kembali mengigau dengan air mata yang seketika jatuh di ujung matanya.


Zidan menatap Sila dengan kesedihan yang tampak di wajahnya. Ia menghapus air mata Sila dengan lembut, kemudian mengelus lembut kepala Sila.


"Sila, kau pasti bisa melupakannya, emm!" gumam Zidan.


“Kak Zidan!” panggil Riana.


Dengan cepat, Zidan kembali menegakkan tubuhnya di samping mobil saat mendengar panggilan Riana, kemudian menatap Riana.


“Ada apa?” tanya Zidan.


“Apa kita bisa pulang sekarang? Ayahku sebentar lagi kembali!” kata Riana.


“Ya, tentu saja. Kau masuklah ke mobil. Kita pulang!” pinta Zidan.


Riana pun masuk ke dalam mobil, begitu juga dengan Zidan yang masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan Restorannya itu.


.


.


Bersambung.


.


Bab selanjutnya tentang Tuan Bima. Silahkan ya yang mau tebak. Apa ini tentang Sila atau tentang Leon dan Saila. Monggo sayang2ku.......


Jangan lupa berikan like, komen dan votenya ya


.

__ADS_1


.


__ADS_2